Jun 052019
 

Kongo, Jakartagreater.com  –   Patroli khusus yang dilakukan Satgas Indo RDB, telah mendamaikan 2 kelompok etnis yang bertikai yaitu etnis Bafullero dan etnis Twa yang berada di wilayah Desa Kisonja, Propinsi Tanganyika.

Hal tersebut disampaikan Dansatgas TNI Konga XXXIX-A/RDB MONUSCO Kolonel Inf Dwi Sasongko, dalam rilis tertulisnya di Republik Demokratik Kongo pada Senin 3 Juni 2019.

Diungkapkan Dansatgas, kegiatan mediasi dan mendamaikan 2 etnis tersebut, dipimpin langsung Komandan Kompi B Mayor Inf Nuriman Siswandi dengan menggelar patrol khusus di Area of Responsibility (AOR) Combat Operation Base (COB) Bendera.

“Dengan kekuatan 35 personel yang dipimpin langsung oleh Danki B Mayor Inf Nuriman Siswandi tersebut, bergerak menuju Desa Kisonja yang berjarak sekitar 62 Km dari COB Bendera.” ungkap Dwi.

“Kehadiran Kompi B Satgas Indo RDB di Desa Kisonja tersebut bertujuan untuk mencegah eskalasi yang lebih luas terhadap dampak yang ditimbulkan akibat perselisihan antara etnis Bufellero dan etnis Twa,” jelasnya.

Kejadian pertikaian antara 2 etnis ini, menurut Dwi, dilatarbelakangi oleh adanya pergantian Kepala Desa Kisonja bernama Issac kepada Kepala Desa yang baru bernama Elia, oleh ketua group Kepala Desa Kwabulangga.

“Pergantian tersebut disebabkan saudara Issac terbukti sebagai provokator perselisihan antara etnis Bufellero dan etnis Twa pada kejadian sebelumnya, sehingga kedua kelompok etnis tersebut saling menyerang,” jelasnya.

Menurut ketua kelompok etnis Twa, awal pertikaian sebenarnya dimulai pada tahun 2017, dimana etnis Twa dan Bufellero saling menyerang dan mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia dari kedua belah pihak.

Sementara itu dari kelompok Bufellero menerangkan bahwa pertikaian dan saling serang antara keduanya menyebabkan penderitaan yang sangat berat.

Perselisihan tersebut, berlangsung selama 2 tahun dan dapat diselesaikan pada Februari 2019 saat Satgas Indo RDB mendirikan Standing Combat Deployment (SCD) di Desa Kisonja.

“Keberadaan SCD di Desa Kisonja mampu menfasilitasi dan mendamaikan pertikaian di antara kedua etnis tersebut, dengan cara mempertemukan ketua kelompok Bufellero Mr. Holo Holo dan ketua kelompok Twa Mr. Pygmee,” ujarnya.

“Hasil yang dicapai pada pertemuan tersebut adalah penandatanganan kesepakatan damai, kedua belah pihak berjanji untuk tidak saling serang, tidak mudah terprovokasi, dan apabila terdapat masalah akan dibicarakan bersama Satgas Indo RDB dan FARDC,” pungkasnya.

Selanjutnya diutarakan Dwi, dengan melaksanakan patroli khusus dan mampu mendamaikan 2 etnis yang bertikai. Satgas TNI Konga XXXIX-A/RDB MONUSCO telah melaksanakan mandatnya yaitu Protection of Civilian (POC) atau perlindungan warga sipil di daerah penugasan.

Hadir dalam kegiatan mediasi Kepala Desa Kwabulanga, Kepala Desa Kayumba, Kepala Desa Kisonja, Civil Society, Komandan kompi FARDC serta tokoh masyarakat lainnya. (tniad.mil.id)