Apr 062019
 
IMG-20190401-WA0054

Satgas Yonif 711/Rks menggelar kegiatan bakti sosial, khitanan massal gratis di Negeri Latu, sekaligus menanamkan kembali nilai-nilai persaudaraan dan kebersamaan, sebagai bagian dari proses rekonsiliasi konflik antara Negeri Latu dan Hualoy, Provinsi Maluku.

Ambon, Jakartagreater.com – Sebagai bagian dari proses rekonsiliasi konflik antara Negeri Latu-Hualoy, Satgas Yonif 711/Rks kembali menggelar kegiatan bakti sosial, khitanan massal gratis di Negeri Latu, sekaligus menanamkan kembali nilai-nilai persaudaraan dan kebersamaan.

Hal tersebut disampaikan Dansatgas Yonif 711/Rks, Letkol Inf Fanny Pantauw, M.Tr.Han.,M.I.Pol., dalam rilis tertulisnya, pada Senin 1 April 2019 di Ambon.

Diungkapkan Dansatgas, Satgas Yonif 711/Rks pasca konflik telah melakukan beberapa kegiatan dalam rangka rekonsiliasi damai seperti pengobatan gratis, trauma healing (pemulihan trauma) kepada anak-anak yang terdampak dari konflik tersebut serta memberikan hal-hal positif seperti pelatihan kesenian Marawis kepada para pemuda kedua negeri.

“Kali ini kembali dilaksanakan khitanan massal pada Minggu 31-3-2019, sebagai wujud kepedulian Satgas Yonif 711/Rks kepada anak-anak di kedua negeri ini,”ujar Letkol Inf Fanny Pantauw.

“Kami Satgas Yonif 711/Rks melakukan agak berbeda yaitu Baksos dengan mengedepankan kearfian lokal berupa khitanan massal, gratis, yang diawali dengan Tahlilan dan kirab hadrah tabuhan rebana dan alunan shalawat,”jelas Letkol Inf Fanny Pantauw, kelahiran Manado ini.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk lebih mengakrabkan suasana, kirab ini didampingi oleh kakak angkat dari anggota Satgas Yonif 711/Rks. “Selain membantu kesulitan masyarakat, alunan shalawat dan Tahlilan serta munajat doa warga dapat mendorong terwujudnya rekonsiliasi kedua negeri ini,” harap Letkol Inf Fanny Pantauw.

Pada kesempatan ini, Letkol Inf Fanny Pantauw, juga mengungkapkan bahwa semua agama mengajarkan anti kekerasan dan selalu cinta damai. “Demikian juga adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur, memiliki tujuan yang baik. Untuk itu, kita harus menjaga, memelihara dan melestarikannya sebagai budaya bangsa,”tegasnya.

IMG-20190401-WA0051

“Damai bukanlah pernyataan menyerah, tapi damai adalah pernyataan kemenangan keikhlasan dan kesadaraan hati bahwa katong samua saudara,” tandas Letkol Inf Fanny Pantauw. Sebelum dilakukan khitanan massal dilakukan ritual adat dan mengarak anak-anak yang akan dikhitan mengelilingi kampung, dengan diiringi marawis serta dilakukan tahlilan/pembacaan doa.

“Arak-arakan tadi, juga menunjukan bahwa anak yang disunat telah baligh dan warga yang melihat atau menyambutnya pun turut bahagia dan mendoakan untuk anak itu,”tambah Letkol Inf Fanny Pantauw. Sementara itu, salah satu pejabat Negeri Latu, Bapak Abu Bakar Patty menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial seperti itu baru pertama kali dilaksanakan di Negeri Latu.

“Semuanya lengkap, mulai dari pengobatan, penyuluhan Kamtibmas dan bakti sosial khitanan massal. Ini menujukkan ketulusan dan keseriusan Bapak-Bapak Satgas 711/Rks serta sayang kapada kami (Latu dan Hualoy), seperti saudara mereka sendiri,”tuturnya.

“Kami tidak bisa memberikan apa-apa, doa kami untuk Satgas, semoga kebaikan yang diberikan dibalas oleh Allah SWT,” tutupnya. Diakhir acara ditampilkan hiburan kesenian Marawis gabungan Satgas Yonif 711/Rks dengan pemuda dan Ibu- Ibu Majelis Ta’lim Negeri Latu. (tniad.mil.id)