Nov 132016
 

Jet-Tempur-Sukhoi-TNI-AU

Solo – Pengoperasian pesawat Sukhoi untuk patroli udara ataupun misi lainnya membutuhkan biaya operasional yang tinggi. “Untuk menerbangkan pesawat sukhoi satu jam biayanya sekitar 500 juta,” ujar Kepala Seksi Bimbingan dan Penyuluhan Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogjakarta, Letkol AU Sus Yuto Nugroho saat memberikan Kuliah Umum kepada Mahasiswa Universitas Sebelas Maret UNS Solo, (11/11/2016) di gedung dr. Prakosa UNS.

Menurutnya, ancaman illegal visit, dan pelanggaran perbatasan bukan hanya terjadi di wilayah lautan ataupun daratan tetapi juga di wilayah udara.

Alutsista canggih untuk melakukan patroli udara sangat penting meski operasionalnya untuk mengejar dan denda tidak imbang. “Misal mencegat pesawat asing, itu terbang satu jam 500 juta, tapi dendanya ke pesawat yang dicegat hanya 60 juta,” ujarnya.

Akan tetapi, hal tersebut tidak menjadi masalah demi menjaga wibawa Indonesia. “Jangankan biaya , jiwa raga dikorbankan,” tegasnya.

Keberadaan angkatan udara sangat penting untuk menjaga Indonesia berada dalam wilayah yang sangat luas. Total daratan dan lautan mencapai sekitar 7,9 juta km, sehingga rentan terhadap berbagai ancaman. TNI sejauh ini berupaya merangkul dan melibatkan seluruh elemen bangsa untuk mengatasi ancaman yang bertujuan merapuhkan integrasi bangsa.

Sumber : Solo.tribunnews.com

jakartagreater.com

  183 Responses to “Satu Jam Terbang Sukhoi Rp 500 Juta”

  1.  

    Super tukimin lebih irit lagi cuma mesti isi ulang beberapa kali buat nyamain daya jelajah sukhoi.

  2.  

    pengalaman dan sejarah perang mayoritas selalu menjadi kuburan pesawat2 buatan rusia / sovyet, kasus INA vs Aussie sih latihan bro……

  3.  

    @posumah : Memang benar bung…
    Pespur Uni Sovyet / Rusia memiliki life time yang lebih pendek dari Amerika dan Eropa.
    Akan tetapi pespur Uni Sovyet / Rusia adalah anti dot daei pespur Amerika dan mengenai life time pespur Uni Sovyet / Rusia jika para konsumennya dapat mengikuti perkembangan UpGrade dari perusahaan pembuat produk tersebut, sudah pasti pespur tersebut masih layak tempur, contoh : MIG-29 dan SU-24.
    Sebenarnya ini adalah kamuflase bahasa sales, hal tersebut jika saya mencontohkan F-16 hibah dari Amerika yang di terima oleh Indonesia.
    F-16 bekas tersebut di UpGrade mesinnya menjadi Block 52id.
    Coba perhatikan kembali, statmen dari pihak Indonesia, ” F-16 hibah yang Indinesia terima adalah pesawat bekas serasa baru.”
    Anyway jika konsumen tidak dapat mengikuti perkembangan UpGrade karena dana atau pun embargo atau lain sebagainya, mungkin F-16 Indonesia sudah tidak layak terbang, atau setidaknya jauh dalam teknologi.
    Lalu bagai mana dengan pespur Uni Sovyet / Ruusia?
    Cobalah kita menoleh ke aetikel yang sudah di muat mengenai kuburan pespur di Belarusia.
    Lalu bagai mana dengan Eropa?
    Indonesia pernah di embargo oleh salah satu negara di Eropa dan jika saya tidak salah, Eropa tetap akan tunduk dengan kepentingan Amerika.
    Karena sumber penghasilan no 1 Amerika adalah hak paten penjualan alutista.

    •  

      bung @wangsa seharus IFX di buat 2 tipe yaitu tipe ekspor (AESA) & tipe yg tdk di ekspor (PESA) anti dotx siluman

      •  

        @tukang tebak : Menurut saya pribadi, pespur hanyalah perantara untuk lebih mendekatkan muatan (rudal) ke tujuan.
        Jika berbicara anti dot, biaya yang paling murah adalah radar darat dan rudal SAM.
        Oleh karena itu Amerika, Rusia, China dan Eropa berlomba mengembangkankomponen radar dengan frekuensi rendah untuk menditeksi pespur siluman / gen 5.

  4.  

    kesimpulan nya

    1.anti dot pesawat USA/NATO ya sukhoi , karena jika mau melawan kekuatan udara USA dan NATO percuma jika hanya mengandalkan F16 jeni apapun..karena sejak tahun 1990 , pesawat standart USA/NATO adalah F16 yang merupakan urutan paling bawah dari kasta pesawat tempur USA/NATO….

    2.harga mahal wajar kok… mercy masa mau di bandingin sama avanza.
    dobel engine jgn sama kan dengan single engine..

    3.jika mau murah ya satu satu jalan perbanyak anti misil anti serangan udara jarak jauh pasang di titik terluar pulau.maka hemat karena misil tidak perlu avtur buatpatroli..cukup radar yg bekerja.

    4.kedaulatan tdk bisa di nilai dengan uang berapa pun…makanya perlunya kemandirian bangsa untuk mengejar ketingalan dengan negara lain dalam hal teknologi.

    5.jika ingin damai siaplah berperang,jika ingin menang perang perbanyak lah latihan..jika banyak latihan maka banyak biaya keluar.

    •  

      Ini paparan yg cerdas sekali,saya setuju dengan anda 1000 %,apalagi dengan poin no.3 diatas.

      •  

        Kalau ane malah gak setuju no.3
        Pesawat untuk patroli dan intercept tetap dibutuhkan. Gak mungkin pesawat asing yg nyelonong masuk ke wilayah RI langsung di rudal xixixixi

        •  

          @Sigma Lover : Seminimnya kita butuh 1 Skuad untuk pespur heavy fighter dengan kelengkapan rudal yang bervariasi.
          Setelah itu kita jug butuh pespur medium fighter dengan flexibelitas yang tinggi, contohnyadari rudal dapat dipakai oleh pespur dengan seri yang beda (F-15, F-16, F-18, FA-50, IFX, dll)
          Minimalnya untuk patroli.

          Tidak dapat dipungkiri juga bahawa negara luas seperti Indonesia membutuhkan radar yang kualitas baik serta payung udara dengan rang jauh berkualitas terbaik sebagai alat pengamandan terakhir negara kita.

          Saat ini kan masih banyak tumpang tindih untuk fungsi pespur kita.
          Banyak diantara warjag yang sulit membedakan antara pespur ujung tombak (1st layer) dengan pespur second striker (2nd layer)

          Oleh sebab itu mereka hanya berteriak irit tanpa mengetahui fungsinya.
          Jika ingin irit, No Pespur..!

          Only Radar and SAM.

          Di jamin kita tidak akan bicara oprational yang kangkung genjer ini itu.

          Ada sedikit cerita ketika armada laut kita kesulitan mengejar kaprang negara tetangga kita, ataupun ketika F-16 mengintersepct F-18 USAF.

          •  

            F-16 vs F-18 US Navy yg di bawean tahun 2003 ya? Wah itu cerita masa lalu yg sangat miris.
            Tapi semenjak kita beli sukhoi di tahun yg sama, sampai dengan sekarang sepertinya mereka tidak berani mengulanginya lagi.

          •  

            @SL : Menurut hemat saya, yang utama adalah alatnya (pespurnya) minimalnya kita harus punya kelas heavy fighter + variasi untuk di cantelkan di hard pointnya.

            Mereka (Amerika, Rusia, Inggris, Australia, China dan lainnya) mempunyai sekema agresi militer untuk kepentingan “Minyak.”

            Banyak kejadian aneh dahupu dan sekarang, contoh : Perang antara Iran vs Irak, dahulu Iran adalah cs Amerika, sekarang?
            Lalu Australia dengan Timor Leste, bersengketa lahan minyak.
            China menginvasi LCS hanya untuk unsur alam dan salah satunya minyak.

            Masih ingat pesan Ir Soekarno dan Panglima TNI akan kekayaan alam Indonesia?

            Lalu apa hubungannya dengan pespur?

            Kekayaan sumber apam Indonesia tidak akan habis oleh oprasional 1 juta jam pespur heavy fighter…!

            Indonesia hanya krisis kepercayaan diri untuk mengelola sumber alamnya dengan berbagai macam ancaman seperti embargo.

            Negara sekelas Korea Utara dan Iran buktinya dapat berkembang dalam alutista militernya dan bahkan melebihi Indonesia.

            Oleh karena itu dengan adanya sekema ToT adalah cara paling bijak untuk mencapai Indonesia mandiri.
            Karena Indonesia sangat menghargai hasil riset, waktu, dedikasi untuk loyalitas, biaya dan sebagainya dari prodak yang dimiliki luar.

            Sebenarnya Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli, meskipun terbatas.
            Contoh : Ada orang WNI yang menciptakan teknologi LED dan hak paten dia dan perusahaannya adalah 40 persen dari teknologi LED yang ada di dunia ini.
            (Nama orangnya saya lupa, tapi dia pernah tampil di acara Kick Andy)

  5.  

    saya setuju. ayo rakyat indonesia, semuanya vote ke gripen E , the adaptable smart fighter. jembatan menuju kemajuan pertahanan nasional.

    •  

      Sales gripen detected!
      Saya tetep vote SU-35, nanti kalau udah kebeli 8/9/10 SU-35, baru deh saya dukung beli Gripen, tipe NG tapi yah

    •  

      @eki kalsel : Saya pernah baca komentar dari bung @eki, bahwa pespur Gripen dapat mengalahkan Sukhoi SU-27, jika boleh tahu dari mana sumber beritanya?
      Jika dari yotube, mohon maaf jika saya kurang percaya, karena besar kemungkinan hanya berupa hoax belaka.
      Karena saya coba mencari beritanya tidak ada.
      Maaf, mungkin saya kurang informasi, hingga SU-27 dapat di patahkan Gripen.

      Mohon pencerahannya…

  6.  

    pake tejas aja plus rudal dari iran dijamin irit

  7.  

    Ini yang harus jadi pertimbangan kita……keseimbangan ALUTSISTA buatan barat dan timur, untuk mengantisipasi jika ada salah satu blok MENG EMBARGO lagi TNI tidak loyo spt saat Amerika dan konco2nya melakukan embargo. Senjata2 barat juga tetap hrs kita miliki…..nah dari kedua teknologi persenjataan tersebut anak anak bangsa bisa berkreasi dan meningkatkan kemampuan penguasaan teknologinya….

  8.  

    Tes

  9.  

    Boros banget ya bos? Kayaknya Gripen bisa jd alternatif untuk efisiensi biaya patroli udara sekaligus mendukung kemandirian Indonesia, Krn proposal yg diajukan Gripen memang sangat menarik untuk dipertimbangkan pemerintah.