Sukhoi Su-27 TNI AU. (photo: TNI AU)

Bogor, Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M memberikan Executive Lecture (kuliah umum) kepada mahasiswa dan dosen Pascasarjana Universitas Pertahanan di auditorium Unhan, Kawasan IPSC Sentul Bogor, Jawa Barat, pada Senin 28 Mei 2018 dirilis situs TNI AU.

Kasau mengatakan sesuai yang diamanahkan Undang-undang No 34 Tahun 2004 pasal 10 TNI Angkatan Udara melaksanakan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan internasional yang telah diratifikasi, selain itu melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara.

Dikatakannya, sistem pertahanan maritim membutuhkan angkatan laut yang kuat dan juga perlu kekuatan angkatan udara yang kapabel, sehingga penguasaan ruang udara oleh kekuatan udara, dapat menjamin terwujudnya supremasi kekuatan maritim.

Terwujudnya kebijakan pembangunan TNI AU yang handal dan disegani serta berkelas tidak terlepas dari kebijakan Tripilar yaitu kesiapan operasional, profesionalisme dan kesejahteraan prajurit.

Sedangkan empat program pembangunan kekuatan mancakup dukungan :

  1. Kesiapan matra udara.
  2. Modernisasi alutsista dan non-alutsista.
  3. Peningkatan profesionalisme personel matra udara.
  4. Penyelenggaraan manajemen dan operasi matra udara.

Renstra III (2014-2019) TNI AU

Pada Rencana Strategis (Renstra) III (2014-2019), jajaran TNI Angkatan Udara mengalami validasi organisasi yaitu:

  1. Penggabungan Kohanudnas dan Koopsau menjadi Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas),
  2. Pembentukan Koopsud III sebagai kelanjutan dari rencana pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan).
  3. Restrukturisasi Kodikau menjadi Kodiklatau, Dispamsanau menjadi Pusintelau, pembentukan Spotdirgaau dan Disopslatau,
  4. Pembentukan skadron udara tempur baru, angkut, helikopter intai strategis, dan Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA).
Kasau Marsekal TNI Yuyu Sutisna, Bogor, Jawa Barat, 28-5-2018. (photo: TNI AU).

Renstra IV (2019-2024) TNI AU

Pada Renstra IV (2019-2024) TNI AU merencanakan pembentukan:

  1. Empat Pangkalan Udara Militer  (lanud) tipe C (Batam, Saumlaki/Selaru, Wamena dan Sorong),
  2. Enam Satuan Radar Baru,
  3. Dua Resimen Pertahanan Udara (Hanud),
  4. Lima Detasemen Hanud pembentukan Detasemen/Satuan Peluru Kendali Jarak Sedang dan Jarak Jauh,
  5. Pembentukan Depo Pemeliharaan 80 (dengan 3 sathar) untuk pemeliharaan tingkat berat pesawat tempur, Depo Pemeliharaan 90 (dengan 3 sathar) untuk pemeliharaan tingkat berat helikopter, sathar 24, 34, 43, 54, 55 dan 65,
  6. Pembentukan dua skadron teknik baru di Lanud Supadio Pontianak dan Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang.
Bagikan:

25 COMMENTS

  1. Skuadron Helikopter dari PTDI.

    Skuadron angkut diisi hercules C130J.

    PTTA diisi Wing Loong campur TBA.

    Skuadron intai strategis diisi C295 dengan kelengkapan sistem intai dari ehem ehem.

    Kemungkinan skuadron intai strategis dicampur dengan MPA Pxxxxxxx.

    Skadron udara tempur diisi Viper 3 skadron.

    Oerlikon bakal ditambah lagi selain tambahan 11 fire unit yang sudah diorder April lalu.

    NASAMS bakal tambah lagi, untuk jarak jauh kemungkinan PAC-3 plus HQ-9.

    Bye bye Russian arms.

    Edisi Sotoy ala Woof Woof 😛

      • Udah dijelasin di komentarku kalo komentar gue sotoy, lha kok tanya aneka blueprint segala…

        Xixixixixi

        Kalau mau blueprint, cartridge-nya diisi warna biru semua, lalu dipakai untuk ngeprint, dijamin tuh keluarnya blueprint.

        Xixixixi

        😛

        • Loh kok suruh sy yg nyoba?? Kalau maunya sy bukan pake F 16 tapi pake pespur yg punya Kemampuan special strike menggunakan ASMP-A biar sekalian itu si Hongqi sm pulaunya lenyap wkkkkk…

          Lagian situ ini kok selalu ngotot banget mau membandingkan teknologi senjata asu & rusia sm cina… Memang kenyataannya 2 Negara itu lebih kemampuannya bikin senjata lebih mature dibanding Cina kok… Ambil contohlah HQ-9 ini yg di gadang setara kemampuannya dng S-300, Lah rusia sekarang sudah punya S-400… Kalaupun cina suatu saat nanti berhasil membuat kw yg setara S-400 rusia masih punya S-500 dan mungkin telah mengembangkan eS yg lain lagi… Jadi tetap aja cina masih mengekor terus dari belakang ga pernah di depan xixixi…

          • klu mengenai teknologi persenjataan china, tanya saja ama hermanto kw, tapi hermanto kw lg mmburu pria yg masih dirahasiakan aming lee,kenapa masih dirahasiakan

            hahhaahaaaa

  2. Dari pada S400 lbh baik sabar tggu insinyur china berhasil menyempurnakan S400 mgkn 4 -5 th sudah berhasil dan dg teknologi terbaru yaitu anti si slumun…

    Akan lbh byk keuntungan jka banyak memakai alutsista china…
    Kekuatan china sudah didpn mata dan geografis china berbatasan lgsg dg asean…

    Tidak lama lg pengaruh china di asean akan menggeser usa…
    Utk apa china membangun kapal induk melebihi usa punya…

    Sesama negara nuklir tak akan berperang kecuali dkt kiamat ntar..
    Yg ada negara negara dg militer lemah dan tanpa beckiing yg akan menjadi korbannya…

    Dan yg pasti kl cari becking jangan rusia..
    Faarrah sekali suriah jd sekutu rusiah padahal taruh 2 biji bom nuklir aja di suriah beres smua tu urusan dr awal gak sampai hancur lebur bgtu…

    Ha ha ha

LEAVE A REPLY