Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII

LHD Canberra Class

Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII 1

Australia merupakan negara paling selatan di belahan bumi ini dan boleh dibilang terisolir dari dunia luar. Indonesia sejatinya merupakan satu-satunya negara besar yang melindunginya dari serangan dunia luar. Seharusnya dengan berdamai dan menjadi sekutu/mitra yang baik dengan Indonesia maka Australia dipastikan akan aman sejahtera. Namun entah kenapa negeri kangguru ini lebih cenderung menganggap Indonesia sebagai musuh. Militer Australia telah merencanakan memiliki sedikitnya 4 kapal LHD Canberra Class yang didesain untuk melakukan serangan amfibi dengan Helikopter Serbu dan bisa saja ada rencana terselubung untuk mengisinya dengan F35C. Rencana terselubung ini bisa dibaca dari adanya Ski Jump pada LHD Canberra Class yang dapat difungsikan untuk mendukung F-35 Lightning II bisa take-off dengan beban maksimum.

F35B take-off dari kapal Induk

Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII 2

Indonesia hingga saat ini satu-satunya negara yang memegang teguh prinsip Non-Block. Kalo sekedar mau cari aman saja sebenarnya cukup condong ke kanan maka Amerika dengan FPDA akan “melindungi.” Ancaman NKRI melalui Langit Nusantara kedepan dapat timbul dari proyeksi koleksi pesawat tempur Australia yang setidaknya meliputi F 35 berbagai varian, F/A-18 Super Hornet dan EA-18G Growler, Singapura yang memiliki setidaknya F35 berbagai varian, F15 varian Strike Eagle dan Silent Eagle, belum lagi koleksi pesawat tempur milik New Zealand, Malaysia dan Amerika yang disiagakan di seputar Australia dan Kapal Induk.

Varian F 35C

Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII 3

Melihat potensi konflik dikawasan asia yang semakin besar terutama dikaitkan dengan gejolak klaim LCS oleh China dan serangan dari selatan maka diperlukan segera perubahan manajemen KOOPSAU yang saat ini boleh terbilang sangat rentan. Sebaran dan kualitas radar milik TNI AU perlu segera ditambah dan dilakukan peremajaan serta penjagaan oleh PASKHAS dengan peralatan yang mumpuni seperti Skyshield, Starstreak, dan S300 family (S400 dan S500).

Pembagian wilayah KOOPSAU

Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII 4

Jangkauan Radar NKRI

Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII 5

Australia sendiri hingga saat ini masih mengoperasikan radar Jindale (Radar Over The Horizon) yang dapat meliputi wilayah Indonesia. Apabila suatu ketika terjadi perang terbuka antara militer Indonesia Vs Australia maka sekalipun Skadron Sukhoi TNI AU dapat meladeni Dog Fight namun dengan komposisi koleksi pesawat tempur saat ini akan kesulitan meladeni puluhan bahkan ratusan serangan pesawat tempur dari Australia plus FPDA.

Jangkauan Radar “Over The Horizon” Jindalee Australia

Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII 6

Bilamana suatu ketika terjadi eskalasi konflik dengan tetangga sebelah selatan maka strategi terbaik adalah melakukan pukulan telak dengan melakukan Preemtive Strike ke pusat komando militer, Radar, kapal LHD dan kapal permukaan milik militer Australia. Melakukan serangan pukulan telak ke Singapura atau Malaysia adalah hal yang paling mudah dilakukan oleh TNI, namun serangan dadakan ke jantung musuh di selatan akan menjadi pengingat bagi negara kawasan agar tidak macam-macam dengan NKRI. Agar Indonesia disegani dikawasan Asia dan dapat menjalankan fungsinya sebagai Leader dari negara-negara Non-Block maka minimal segera memiliki 2 skadron SU 27/30, 4 Skadron SU 35, 2 Skadron Strike Bomber SU 34, 1 Skadron SU 33 dan 1 Skadron Siluman SU T-50 PAK FA. Melihat jangkauan misi operasi yang cukup jauh maka disamping penambahan tangki eksternal pesawat yang melakukan Preemtive Strike masih diperlukan dukungan beberapa Pesawat Tanker.

Jangkauan Radar dan Jarak Tempuh Pesawat

Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII 7

Apabila suatu ketika Indonesia menyerang Australia maka anggota FPDA tidak akan tinggal diam. Dalam siaran wawancara TVRI Jakarta dengan Duta Besar Rusia Mikhail Yurievich Galuzin menegaskan “Jika terjadi penyerangan bersama Sekutu (AS, Inggris, Australia, New Zealand, Singapura, Malaysia dan Papua Nugini) tanpa diminta maka Rusia tahu apa yang harus dilakukan untuk sahabat kami Indonesia, ini sikap resmi Pemerintah Rusia.” Dia melanjutkan “Jika Indonesia menghadapi sebuah Persekutuan maka Rusia adalah sahabat Indonesia yang akan melakukan tugas sebagai sahabat yang baik yang tidak akan membiarkan sahabatnya diserang dalam sebuah ketidakadilan, Indonesia adalah sahabat kami yang tempatnya LEBIH TINGGI DARI SEBUAH SEKUTU. Dan tentu kami melakukan HAL YANG LEBIH dari apa yang kami lakukan terhadap sekutu kami, melindungi dan membantu Sahabat, adalah idiologi kami.”

Lokasi Rencana penempatan F35 series milik Australia

Scenario Preemptive Strike at Worst Level (2) – Garuda Asia VII 8

Artikel ini ditulis tidak dengan maksud membuat panas kawasan namun didedikasikan untuk menggugah kesadaran akan sejarah dan potensi konflik kedepan dikawasan dan skenario yang perlu diambil. Potensi Konflik Head to Head bisa saja terjadi dari Utara ataupun Selatan. Menjadi Negara Non-Block bukanlah pilihan yang mudah. Pernyataan Petinggi Militer Indonesia yang mengatakan hanya akan menambah Peralatan/Alutsista SAR bisa jadi hanya pernyataan terselubung mengingat tatkala Presiden SBY hendak membeli Kilo Class saja negara FPDA sudah pada “Nguping.” Si Vis Pacem Para Bellum yang berarti Kalau Mau Damai Maka Bersiaplah Untuk Berperang perlu diperhitungkan dengan matang baik Skenario, Strategi maupun kesiapan dan kelengkapan Alutsista yang Deterent.

Diposkan : Ayoeng_Biro Jambi

Leave a Reply