Feb 232014
 
KFX C103 twin engine

KFX C103 twin engine

23/02/2014 – Angkatan Udara Korea Selatan menyatakan ketertarikannya dengan konsep KFX twin engine, sebagai pesawat yang akan dibangun Korea Selatan. Disain dari pesawat twin engine,memungkinkan untuk ditingkatkan kemampuan tempurnya di kemudian hari dan sesuai dengan visi budget jangka panjang Korea Selatan.

Pro kontra sempat terjadi ketika KAI mengusulkan konsep single engine C501, bekerjasama dengan Lockheed Martin dengan untuk mengembangkan T-50. Namun setelah melalui perdebatan cukup panjang, ROKAF menunjukkan posisinya, mendukung pengembangan KFX/IFX twin engine C-103, untuk dikembangkan kemampuan tempurnya.

Indonesia pun mengandalkan pengembangan KFX / IFX ini, dan menyumbang 20 persen pendanaannya. Namun di tengah tersendat dan molornya pembangunan KFX/IFX, Saab Swedia menawarkan pesawat tempur Gripen NG dengan opsi tambahan, ToT 100 persen bagi Indonesia.

Lalu apa kira kira langkah yang diambil Indonesia, untuk proyeksi Angkatan Udaranya dalam 10 – 15 tahun ke depan, di saata konflik dan situasi di Asia Tenggara dan sekitarnya semakin memanas. Berikut wawancara dengan sejumlah warjager:

Seperti apa anda melihat tantangan Indonesia ke depan, terkait polemik KFX/IFX dan tawaran Saab Gripen ?

Alugoro:
Waktu kita hanya sedikit, hanya enam tahun sebelum China lebih agresif lagi dan Australia cs lebih menekan lagi karena memaksa kita berpihak penuh kepada mereka. Target China 2020 adalah Taiwan bergabung dengan mainland secara sukarela seperti Hongkong.

Kabarnya rakyat Taiwan tidak ada keberatan hanya di kalangan tentara saja yang belum setuju. jika flashpoint muncul di tahun 2020 aset kita apa?

Kemungkinan 1sq Su-35, 1sq su27/30, 36sq f-16 (quality ?). Apakah siap menghadang FPDA ? Apalagi China ?. Apakah kita hanya berandai-andai dengan keberhasilan kfx yang baru masa produksi di atas tahun 2020 ? Prioritaskan alutsista yang modern, irit dan murah (sebagian diproduksi di Indonesia baik suku cadang maupun assembly).

Bagaimana anda melihat proyek KFX/IFX:

Assamata:

KFX/ IFX dengan biaya yang begitu murah namun kita mengharapkan untuk mendapatkan pesawat tempur cangggih. Sudah berapa tahun wacana IFX berlangsung namun tarik ulur tetap terjadi.

Mengandalkan IFX bukanlah sebuah solusi. Pertama kali saya mendengar berita IFX sekitar 3 tahun yang lalu, prototipe jadi pada tahun 2016 dan sekarang ngaret jadi 2020. Bagaimanapun Swedia memiliki ilmu tentang pespur lebih baik dari PT DI.

Indonesia membutuhkan banyak pesawat tempur. Dengan wilayah seluas daratan Eropa apakah menunggu IFX merupakan keputusan yang baik ?.

Misalkan sukhoi 35 BM sudah datang (kemungkinan penempatan di Madiun), namun tetap masih banyak wilayah kosong yang belum terisi pesawat tempur.

Lihat saja Bandara Halim Perdanakusuma. Apakah ada fighter yang cukup mumpuni untuk menjaga daerah ibukota dan sekitarnya ?. Apa lagi kalau kita membicarakan Papua, wah masih kosong melompong.

Plan B, plan C sangat dibutuhkan negeri ini. Selain kerjasama dengan Korea, kerja sama dengan Swedia ataupun mengembangkan pesawat tempur secara mandiri (dalam negeri) sangat dibutuhkan.

Ingat China bukan teman, tidak ada jaminan mereka tidak menusuk kita (konflik tinggal sebentar lagi). Ingat Australia bukan musuh
namun provokasi mereka membuat gerah dan kita perlu berjaga-jaga agar status quo tetap terjaga (membuat mereka berpikir ulang).

Kebutuhan pespur (pesawat tempur) cukup mendesak, jadi membuka kran air lebih dari 1 mungkin lebih bijaksana. Seperti halnya roket selain kerja sama dengan Korsel (propelan) kerja sama China (guide) ataupun kerja sama dengan Jerman bahkan Iran sekalipun saya setuju (dengan Israel/ Yahudi saja tidak masalah, masak hanya karena Syiah jadi masalah).

OrangLogis:
Saya setuju dengan Bung Alugoro, apa lagi hanya dengan budget kecil ingin bisa bikin pesawat tempur sendiri 100%. Kayaknya nggak mungkin, bukan kayaknya lagi tapi jelas mustahil, untuk riset mesin jet saja China menggelontorkan duit sampai 150 triliun rupiah lebih.

Jangan terlalu berharap berlebihan dengan kfx/ifx, tempatkan pada tempat yang sewajarnya, optimis boleh saja tapi kita juga harus realistis.

Antonov:
Sepertinya ada salah persepsi tentang ToT. Misalnya utk KFX/IFX, nantinya prediksi saya kita akan sebatas β€˜tukang jahit’ saja semacam NC-219.

Airframe fuselage sayap dan ekor mungkin bisa dibuat kalau kita punya jig + machining tools. Sisanya diimpor dan dipasang: kokpit, radar, avionik, ECM, landing gear, servo, fuel tanks, dan engine. Mau produksi sendiri? Terbentur intellectual property rights dan economic of scale. Untuk Gripen kasusnya sama.

STMJ:
Sebenarnya tawaran ToT Gripen SAAB sangat patut dipertimbangkan mengingat secara teknologi sudah cukup canggih & Indonesia belum mempunyai kapabilitas dalam membuat/mengembangkan pesawat tempur.

Poin utamanya bukan masalah ToT karena Indonesia sudah memiliki program pengembangan pespur definitiv. Melainkan pemenuhan kebutuhan pespur yang aman dari embargo, murah, handal serta kompetitif. Demikian karena melalui ToT tersebut Indonesia menjadi memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan/reparasi sendiri, ditambah ilmu dalam pembuatan pespur gen 4+, dan itu menjadi nilai plus yang sangat penting.

Namun yang menjadi permasalahan dalam ToT SAAB adalah indikasi ToT tersebut tidak termasuk mesin jet pesawat, sebab mesin Gripen NG menggunakan mesin F414 buatan ASa. Pada akhirnya ToT tersebut akan menjadi mubadzir, sebab mesin jet adalah unsur terpenting dari pespur yang masih sangat sulit dikuasai oleh Indonesia. Dan kembali lagi ke awal, Gripen menjadi tidak lagi 100% aman dari embargo, tanpa mesin tiada burung besi yang dapat terbang.

Tapi, meskipun Gripen bisa dikatakan sudah sangat layak sebagai pengganti F-5. Tetap saja mengadopsi Gripen dapat menjadi langkah blunder bagi Indonesia secara jangka panjang. Kedepannya mengakibatkan TNI akan mengoperasikan terlalu banyak jenis pesawat yang pada akhirnya berimbas pada manajemen tempur yang semakin rumit.

Pada situasi konflik nyata, keadaan ini menjadi sangat tidak menguntungkan sebab setiap alat tempur membutuhkan perlakuan yang spesifik. Seperti yang dicontohkan oleh Perancis pada masa PD II, Perancis mengoperasikan beraneka macam alat tempur, sekilas tampak gagah dan keren tapi ketika perang meletus, semuanya menjadi amburadul.

Setiap alat membutuhkan onderdil spesifik & cara pengoperasian yang berbeda, sehingga manajemen operasional tempur menjadi sangat tidak ringkas dan tidak praktis. Maka ketika Jerman melancarkan Blietzkrieg, pontang pantinglah Perancis sehingga dapat digulung Jerman hanya dalam 3 hari.

Nampaknya negara-negara barat & Rusia berkaca pada pengalaman Perancis itu sehingga mereka merampingkan variasi-variasi dalam alat-alat tempurnya, demi tercapainya manajemen tempur yang efektif dan efisien yang pada akhirnya menunjang kemampuan durasi/ketahanan tempur.

grippen-ng-pic

Kalau tidak mengambil Gripen apakah KFX/IFX bisa diandalkan ?

Nowyoudont:
Bagi saya pribadi sampai saat ini, sepertinya program IFX adalah program β€œbelajar”, bukan program pemenuhan kebutuhan. Hasilnya tidak bisa dilihat seketika melainkan 10-20 tahun ke depan, jumlahnya juga tidak signifikan.

100% mandiri rasanya kecil kemungkinan di jaman sekarang apalagi masa depan, pasti selalu ada komponen-komponen dari luar yang bisa diembargo. Untuk memperkecil kemungkinan itu ada beberapa jalan yang bisa dipertimbangkan. Misalnya memilih sumber teknologi tersebut (katakanlah, Russia dan China), serta faktor politik/ekonomi.

Untuk memenuhi kebutuhan pespur, kita masih tetap butuh produk luar. Tapi walau bagaimanapun program IFX harus terus berlanjut, banyak manfaat yang bisa didapat walau dari 1,5 miliar USD πŸ˜€ , tapi hendaknya kita tetap realistis memandang proyek ini. Saya yakin pemerintah juga punya Plan B dan C.

Sebagai perbandingan, belum lama ini Singapura mengeluarkan dana 2,4 miliar USD hanya untuk upgrade pesawat saja.

Alugoro:
Saya hanya mengingatkan bahwa janganlah terlalu berharap berlebihan dari kfx. Tempatkan pada tempat yang sewajarnya. avionik dan radar di kfx saja belum bisa dibikin oleh Korea Selatan. Apalagi sampai mission system dan detail-detil yang lain.

Di KFX setidaknya kita punya pengalaman dari nol tentang filosofi dan design pespur. Bermodal itu bisa dilakukan penyesuaian untuk desain dengan skema multi sourcing. Hanya saja apakah produsen avionik dan radar dan hal-hal lain mau berbagi source codenya ?. Itu pertanyaan besar di kita ?. Perkembangan pespur semakin hari lebih banyak ditentukan oleh desain dan avionik (electronis & software)nya. Mesin ya masih tetap sama paling banter ber tvc. Mau ToT mesin ? resiko lebih besar dengan dana jauh lebih besar dibanding pespurnya sendiri. lebih baik bersikap realitis.

Kalau KFX/IFX belum bisa dijadikan pegangan dalam waku menengah, seberapa strategiskah pengadaan Grippen atau Typhoon ?

Donnie:
Konsepnya begini:
Plan A.
Air force : Disadur dari komentar bung Nowyudon :
1. Su-35SI Super Flanker : 64 = $5.1 bn USD
2. JAS-39 Gripen NG: 44 = $4.8 bn USD
3. EF Typhoon (refurbished+new): 36 = $3.5 bn USD
4. Su-34 Fullback: 48 = $2.4 bn USD
5. Erieye: 10 $1.3 bn USD
Total AU = $ 17.1 bn USD dapet= 202 unit.

Plan B.
Alokasi anggaran grippen + typhoon dialihkan ke keluarga flanker :
1. Su-35 $79 = 64+60 = 124 Su-35
2. Su-34 $50 = 48+70 = 118 Su-34
3. Erieye tetap 10 unit
Total AU = $ 17.1 bn USD dapet= 262 unit

Kita asumsikan data di atas itu valid dan akan terealisasi, tapi mari kita lihat sebagai berikut :

– Jadual IFX masuk produksi 2020-2025 (kemungkinan),
– Kebutuhan Kuantitas Pespur.
– Resiko kepemilikan Pespur yang beragam.
– Manfaat lebih dari Pespur itu sendiri
– Beban biaya maintenance jangka Panjang.
– Kombinasi Pespur FPDA: F-35, F-18, F-15, F-16

Berdasarkan spesifikasi Su-35 yang lebih superior dibanding Typhoon dan Gripen, sementara kebutuhan Workhorse sebetulnya masih tercukupi dgn kehadiran F-16 Hibah, F-5, Hawk 209 dan lain-lain.

Kalaupun harus berperang dengan China, lantas apa yang diharapkan dari keberadaan Typhoon dan Gripen jika kalah dalam air superiority ?

Kalau saya diberikan pilihan, baik kondisi perang atau damai, dengan dana anggaran yang sama, maka saya pilih plan B, lebih gahar dan menghasilkan kuantitas yang lebih banyak.

One:
Pengadaan super flanker 200 unit dalam 5-7 tahun, sangat sulit. karena negara produsen flanker juga tengah melakukan penambahan kekuatan matra udara mereka, dan produsen pun memiliki banyak order dari negara lain disaat yang sama.

Sekalipun melalui joint produksi tentunya butuh persiapan infrastruktur dan SDM, khususnya SDM kita masih perlu kesiapan tenaga dan keahlian tersendiri, tentunya akan memakan waktu yang cukup lama.

Pola pengadaannya selalu mix antara bekas dan baru, tentunya berpengaruh nantinya dalam time frame pemakaian secara berkala dan bertahap keluar dari inventory, di sisi lain juga melihat perkembangan IFX.

Bicara deterence, sekalipun pespur dengan list gado-gado di atas, saya yakin juga bikin gentar siapapun khususnya negara tetangga jika dalam waktu 5-7 tahun ke depan, Indonesia memiliki tambahan 200 unit pespur baru lengkap dengan teknologi dan mengadopsi doktrin tempur baru.

Posisi Indonesia adalah mengejar ketertinggalan kuantitas tapi sebisa mungkin dipenuhi dalam waktu yang singkat dan juga terus mendorong persiapan industri dalam negeri, sehingga muncullah program percepatan.

Di tahun 2025 kelak, produk pespur generasi baru misalnya PAKFA, F35, J22 atau bahkan KFX akan sudah dalam kondisi persaingan di level market. Sehingga di saat itu Indonesia dengan program IFX diharapkan cukup siap secara teknologi dan SDM bersaing dalam hal pembangunan kemandirian militer, bisa melalui skema joint production skala raksasa ataupun meningkatkan kemampuan IFX menjadi setara dengan produk lainnya.

Terlihat jelas gambaran rencana pengadaan pespur yang aneka ragam adalah situasi sekitar Indonesia 2020. Dengan membeli ke berbagai produsen pesawat maka untuk memenuhi kuantitas minimum misalnya 200 pesawat baru dalam kurun waktu 5-7 tahun akan lebih mudah dibanding mengandalkan satu produsen saja. dan akan berubah situasinya kelak jika KFX/IFX berhasil terbang dan memenuhi harapan.

Memang selalu jadi hal yang menakutkan, masalah maintenance, logistik dan sparepart, akan seperti apa. Namun jika saya sebagai pihak TNI maka mau tidak mau opsi ini yang harus diambil, karena memang jelas secara kuantitas jumlah unit masih minim dan semakin kuatnya potensi konflik di sekitar NKRI. Apalagi dengan diharuskannya syarat ToT dalam setiap kerjasama dengan asing, maka Indonesia akan punya banyak source teknologi sekaligus SDM yang komplit untuk menuju kemandirian alutsista nasional.

Awan:
Riset dan pengembangan diperoleh dengan biaya cukup besar dan waktu yang tidak sebentar. Mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan bila waktu tidak mencukupi bila sudah diambang perang.

Ibaratnya berapa persen puzzle yang mampu kita buat saat musuh sudah datang ?. Menyiasati hal itu, alangkah baiknya pemerintah membuat skala prioritas riset yang diperoleh dari ToT. Skala prioritas ini pun juga bisa digunakan untuk mendukung pengembangan alutsista lain.

Misal pengetahuan mesin dan radar akan membantu penguasaan teknologi roket dan uav yang sudah dirintis. Proyek KFX/IFX maupun ToT dari manapun layak untuk disambut apabila sudah sesuai prioritas. Keterbatasan memang bagus untuk mencari jalan keluar. Seperti saat Perancis mengembargo pesawat Israel, akhirnya Mossad mencuri blueprint Mirage langsung dari kantor di Perancis.

Alugoro:
Waktu kita hanya sedikit, hanya enam tahun sebelum China lebih agresif lagi dan Australia cs lebih menekan lagi karena memaksa kita berpihak penuh kepada mereka. Target China 2020 adalah Taiwan bergabung dengan mainland secara sukarela seperti Hongkong.

Kabarnya rakyat Taiwan tidak ada keberatan hanya di kalangan tentara saja yang belum setuju. jika flashpoint muncul di tahun 2020 aset kita apa ?. Semoga kita siap. (JKGR/ 23/02/2014).

  60 Responses to “Strategi Pengadaan Pesawat Tempur TNI AU”

  1. buruan belanjain pespur dr mbah ruski aj, sebelum kawasan disekitar nkri bergejolak
    om mendukung 1.000.000 % buat pengadaan pespur dr mbah ruski

  2. sejarah telah membuktikan rusia menggelontor persenjataan di jaman soekarno. kita harus berkiblat pada rusia untuk alutsista sebagai standart senjata indonesia. jaminan keamanan dari rusia kemungkinan besar diberikan seperti di suriah. ingat embargo barat!!!!!!!!! menyakitkan.

  3. Numpang ikutan..era Bung Karno alutsista seabreg dari uni soviet/rusia

  4. Menunggu tahapan utk sampai prototype KFX/IFX selsai pd th 2020 blm lg kalau ada kekurangan shg hrs ada perbaikan dan sampai tahap produksi yg diperkirakan trjadi antara 2025 atau 2030, sdgkan PAK 50 FA msh lama waktu produksinya, dan krn negara2 tetangga spt singapura dan australia msg2 mrncanakan akn membeli 100 unit F35, shg bgaimanapun pemerintah hrs berani cari cara utk anggarkan pngadaan SU 35 paling tdk belasan skuadron.

    Jangan hanya 1 skuadron, krn kalau 1 skuadron atau beberapa unit, dikhawatirkan tdk sampai 1 jam atau dlm hitungan jam, langit Indonesia berhasil dikuasai oleh negara tetangga, slain itu SU 35 diperlukan dlm rangka air superioritas, nah selain pengadaan belasan skuadron SU 35, tdk ada salahnya Indonesia jg memiliki 7 skuadron SU 30 MKI yg tlah dimodifikasi dan yg dpt dipersenjatai rudal brahmos, 8 skuadron SU 34.

    Tidak ada salahnya jg indonesia mengadakan 6 skuadron Rafale yg telah teruji kemampuannya apalagi perancis teruji tdk ikut campur urusan internal negara lain, dan jg perancis pernah memberikan ToT kpd PT. Pindad ttg membuat panser, yg kmdn telah dikmbngkan oleh PT. Pindad menjadi Panser Anoa, dan yg telah diproduksi hingga ratusan unit, kmdn indonesia jg perlu utk mengadakan paket rudal pertahanan udara, krn jumlah alat, baterai n rudal terbatas, dan yg selama ini diadakan adlh paket rudal pertahanan rudal jarak dekat, sudah saatnya bg indonesia utk mengadakan paket rudal pertahanan udara jarak menengah dan jauh milik Rusia, Cina, Iran dan India serta Israel. Tdk ada salahnya mengadakan dr israel, yg terpenting adl cari alutsista yg terbaik dr baik dlm menjaga,mengamankan dan mempertahankan kedaulatan negara.

  5. INGAT AUSTRALIA ADALAH MUSUH YG NYATA BG INDONESIA…..INGAT KASUS TIM-TIM, KASUS IRIAN BARAT,….JANGAN RAGU LGAUSTARLIA ADALAH MUSUH.

  6. Saya TIDAK SETUJU bila pembelian alutsista dari amerika serikat dengan syarat yang MENCEKIK Indonesia
    Saya TIDAK SETUJU bila kita membeli alutsista dari china dengan syarat harus bersekutu dengan China dan menyediakan pangkalan militer china disini,
    Saya Tidak setuju bila kita membeli alutsista dari Rusia tetapi kita harus bersekutu dengan Rusia
    MENDEKAT ke Rusia saya juga suka dengan alutsista nya yang GAHAR tetapi bila kita harus bersekutu dengan Rusia ..tidak mungkin

    Saya juga Tidak suka bila kita beli alutsista dari Amerika mengingat betapa sakitnya mengenang susahnya kita di embargo,Tetapi saya lebih tidak suka bila kita menyatakan musuh dengan Amerika.
    Saya juga tidak suka bila kita menyatakan musuh terhadap china seperti kata mbah bowo berkaitan dengan isu LCS. Saya juga tidak suka bila kita menyatakan musuh terhadap rusia.

    Selain kita akan melanggar konstitusi dengan bersekutu dengan suatu negara, Warjager juga harus membayangkan bagaimana susahnya Indonesia bila menyatakan bersekutu dengan china atau rusia maka semua negara tetangga akan menganggap Indonesia manjadi MUSUH. Kita tidak akan dihormati diasean dan selalu dicurigai dan berakibat dengan ekonomi kita

    Demikian juga bila kita menyatakan bersekutu dengan Amerika maka china dan rusia akan membidik kita sebagai MUSUH dan tidak akan menjual senjatanya kepada kita,menarik semua bantuannya

    Indonesia NON BLOCK titik,,,
    Kita boleh bersahabat dengan seribu negara tetapi tidak untuk bersekutu.
    Kita boleh membeli alutsista dari seribu negara tetapi tidak untuk membuat suatu pakta pertahanan
    Kita boleh benci dengan alutsista dari seribu negara tetapi tidak untuk menyatakan MUSUH terhadap suatu negara.

    Bila ada yang menginvasi Indonesia itu adalah MUSUH kita bersama. Biar bung bung disini memberikan seribu alasan ,,itu sama saja menyesatkan rakyat Indonesia. arena sudah jelas sesuai KONSTITUSI UUD 1945 kita berpolitik luar negeri Bebas dan Aktif,

    Apakah BIJAK? bila kita sekalian aja mengusulkan ke DPR untuk merubah UUD 1945 tentang politik luar negeri bebas dan aktif dirubah menjadi bersekutu dengan china,atau Rusia atau dengan amerika
    Jangan merubah Konstitusi. Karena akan banyak PENYUSUP yang mengompori kita menjelang pemilu dan pasca pemilu (Ingat prediksi bung Nyai) untuk menarik rakyat Indonesia berpihak kepada salah satu blok

    CUKUP berteman saja …perkara nanti teman tapi mesra atau apalah namanya itulah kecerdikan Indonesia,
    Oke Warjager semoga semakin cerdas

    • Idem bae lah…
      bagi Rakyat yg penting aman, damai dan sejahtra.. πŸ™‚

    • Mantab tu om Satrio, setuju 1000%

    • Benar bung, kita ini pemuda ganteng yg byk menarik janda kaya utk mendekat. Kalau kita dekat dgn janda kaya tertentu saja pasti akan rugi kecuali kalau kita sdh cukup mandiri baik dari segi alusista dan ekonominya.

    • Den karung, kan skarang “PEMUDA TAMPAN” lagi masa-masa mudanya menuju kedewasaan, jelas ini tak mungkin akan memilih para janda kaya tersebut yang akan mengorbankan masa depanya, dan mungkin akan menjalin hubungan TTM kepada pada para janda kaya agar dapat menggapai cita-citanya untuk NKRI(menjadi negara maju dan mampu swasenmbada alutsista)

      PEMUDA TAMPAN lagi giat-giat belajar dan belorah raga agar semakin cerdas dan badanya atletis berotot, kalau semuanya dapat terwujud tentunya para teman dan sahabat(negara seluruh benua asia dan juga amerika dan juga eropa tentunya) akan smakin merapat dan menaruh rasa hormat dan segan terhadap kharismatik sang “PEMUDA TAMPAN”

      Daya tawar yg paling ampuh adalah militer yg kuat dan juga ekonomi tentunya berbanding lurus dg pertumbuhan ekonomi terhadap NKRI

    • @ bung satrio
      ahahaha kyknya ada yg ketularan semangatnya kang SARKEM nie ehehehe πŸ˜€
      ane lebih suka jgn bingung memilih siapa yg bakal melindungi kita, knp gk kita sendiri aja yg berusaha melindungi diri kita, sedang utk musuh dalam selimut biarkan saja hilang melalui seleksi alam, selama kita berpatokan :
      1. memperbaiki diri n menempa diri menjadi lebih bae n banyak bermanfaat utk org banyak.
      2. jangan menyalahkan orang laen kenapa menjadi seperti ini? ( tidak mawas diri/ ngerogoh jitok’e dewe ), dalam artian apakah saya telah pantas n layak?serta apa yg telah saya lakukan utk bangsa ini?
      3. percaya ato tidak, fasafah n sejarah akan berulang, entah kenapa, tapi memang sudah menjadi kultur mayoritas bangsa ini dalam menyelesaikan masalah, yaitu NGALAH, NGALIH & NGAMUK, cuma pada saat ini kesabaran bangsa ini telah mencapai titik baliknya, tinggal apakah marah tersebut terarahkan dengan benar atau tidak ( ngamuk yg memiliki aturan dan adat istiadat ). intinya bila kembali ke pancasila n UUD’45 pasti akan ketemu semuanya…

      ***
      ” ….jangan tanyakan bagaimana dia mati, tapi tanyakan bagaimana dia menjalani hidupnya (perjuangan n pengorbanannya) “

    • Setuju sekali dgn Om Satrio..

      Berteman dgn siapa saja sah-sah saja dah harus.. namun ttp dgn kewaspadaan.. karena menurut saya… semua bermuara pada 1 kata ” KEPENTINGAN”.

      AS, Russia, Cina, atau Negara manapun itu psti punya kepentingan, begitu juga Indonesia.

    • NON BLOCK / NETRAL / Apa pun nama nya itu adalah sama dgn LEMAH akan tetapi tidak mau mengakui bahwa kita LEMAH!!!!

  7. Semua option sudah dibuka … tinggal pilihan anda yang mana … tentu saja tergantung uang yang anda miliki ….

  8. Saya suka dan sepakat sekali dgn komentar Bang Satrio. Luar biasa cerdas. Kita boleh berteman mesrah dgn siapa saja, tp BUKAN BERSEKUTU!!! Kita boleh jadi Singa berbulu domba, tp bukan utk menerkam dr belakang. Kita boleh jd SINGA BERBULU DOMBA NAN SANTUN dan BERSAHABAT DGN SIAPAPUN…!!!
    Bung Satrio, MENCERDASKAN….!!!!!

  9. mantap ngebayangin kita punya mainan begini:
    1. Su-35 $79 = 64+60 = 124 Su-35
    2. Su-34 $50 = 48+70 = 118 Su-34
    3. Erieye tetap 10 unit
    4. Plus TeOteh
    mudah-mudahan menjadi kenyataan secepatnya.

    • masih kurang itu bung, membayangkannya adalah, gimana caranya melawan 11 kapal induk usa. beserta armada tempurnya dengan kekuatan matra udara.

      • masih kurang juga itu bung one, sambil menghadapi kekuatan agresor yang akan menyerang, kita juga harus mengirimkan satuan militer terbaik untuk menghajar agresor di tempat asalnya.

        Seperti periode perang tiga kerajaan kuno china, saat satu kerajaan di serang dan hampir kalah, negara yang diserang ini mengirimkan satuan kavaleri terbaiknya untuk menyerang ibukota kerajaan tersebut dan berhasil menguasai istana raja penyerang. Akhirnya raja penyerang memerintahkan bala tentaranya untuk mundur kembali..

        begitu juga saat perang nanti bila terjadi, kita harus memiliki satuan militer terbaik untuk dapat menjangkau ibukota2 negara agresor ataupun negara lain yang turut serta dalam agresi ke negara kita.

        Dan adalah lebih baik lagi bila dalam kogabwilhan memiliki satuan tempur khusus yang tugasnya memang “hanya” untuk menghajar negara agresor di negaranya, dengan jumlah kekuatan yang setara dengan kekuatan untuk menangkis agresi di negeri kita.

        Dan perlu dilakukan simulasi agresi ke negara lain, bukan hanya simulasi perang bertahan melawan agresor yang telah mencapai garis pantai kita.

        JANGAN MAU MEDAN PERANG HANYA TERJADI DI NEGARA KITA, MEDAN PERANG HARUS KITA BAWA JUGA KE NEGARA AGRESOR, AGAR MEREKA JUGA MERASAKAN PAHITNYA KEHILANGAN ORANG YANG DICINTAI, HANCURNYA RUMAH YANG SUSAH PAYAH DIBANGUN DALAM PULUHAN TAHUN, DAN PEDIHNYA DIHINAKAN……….

        • yup setuju banget..!!
          masih jaaauuuh kurangnya.

          China sekitar 2300-an pespur Au nya belum Plan, Pla nya.dan masih bikin terus menerus.
          AS sekitar 7000-an pespur, belum yg ngejogrok di Amarc bisa diservice, sekitar 14.000-an pespur.
          India juga ribuan stock pespur nya.

          menurut buku putih kita, idealnya 1.890 pespur, khusus air superiority (analisa kondisi saat ini).

          Perang model skrg akan lebih saling Genocide satu sama lain, biar ga bisa bales dikemudian hari,

          “Loe punya Nuklir..gue juga ada, terus mau apa.??”
          enak deh kalo udah bisa ngimbang begini.

          πŸ˜€

  10. Saya masih berpendapat sama, 1,5 milyar untuk belajar bikin pesawat tempur, bukan untuk pengadaan. Pengadaan jarak pendek dan sedang kan masih melirik produk Russia. Kemandirian alutsista tidak berarti 100% bebas dari kebutuhan produk luar.

    India sudah mampu membuat rudal balistik masil beli rudal Barrack dari Israel. US juara drone masih beli UAV Israel. Tapi Israel sendiri butuh pesawat US dan kapal selam Jerman.

    Usul saya, cobalah pemerintah menggelontorkan dana 1-2 milyar USD juga untuk “belajar” bikin rudal πŸ™‚ hasilnya akan lebih terlihat daripada 5M IDR. Kemasannya, bilang saja belajar bikin rocket pembawa satelite πŸ™‚ ga ada yang bisa protes walau pasti semua curiga

    • yups..setuju bung @ Nowyou..

      untuk IFX berikan waktu yg cukup, biarkan mateng alami. Baru belajar jadi Chef’s sudah diarepin untuk Pemasak dalam Event Besar. kaya di kejar Hantu z πŸ˜€

      Tapi begitupun dgn tema totet Grippen, jika 100% pun hanya karoseri dgn kualitas ke-ilmuan dibawah IFX, juga tetap memerlukan waktu yg lebih kurang akan sama dgn jadual IFX nongol beda-beda 2-3 thn lah (perkiraan). dlm hal ini kita asumsikan imbang..gedek.

      Jadi memang yg diperlukan adalah Pespur Kualitas Unggulan dgn Harga kompetitif serta Jumlah yg signifikan, sehingga memberikan jaminan Power cukup kepada TNI AU bahkan jauh setelah IFX dirilis, dgn begitu semua pihak merasa adem, Warjager adem, Panglima Adem,tetangga Adem.
      tinggal gue potong ayam tanda syukuran…xixixi

  11. datangkan yg lebih efisien dulu seperti penangkis udara jarak menengah dari rusky sebelum membangun skuadron* tempur sukhoi dari seri 30 sampai seri 35 apakah masih bermain supaya rakyat menjadi pesimis dengan kekuatan TNI AU dan masih mempunyai semboyan musuh datang mendekat lalu digebuk(sudah tidak jamanya lagi )

    Teknologi senjata pesawat telah berkembang dengan pesat. Musuh tidak perlu lagi menghampiri sasaran untuk melakukan penghancuran. Apakah kondisi ini harus dihadapi satuan darat Indonesia, dengan mencoba melindungi diri sendiri mengandalkan rudal panggul jarak pendek/manpads …?

    Banyak rakyat sudah berkoar-koar agar dephan membeli rudal jarak menengah,Pengadaan rudal jarak menengah sebenarnya telah masuk ke dalam daftar belanja alutsista TNI tahun 2011. Namun rudal yang dipilih belum jelas,tampaknya harus menjadi keniscayaan bagi modernisasi alutsista TNI. apakah rudal tersebut akan dibeli….?

    Suatu negara besar bila terjadi perang dan musuhnya mempunyai Armada perang yang canggih lalu apa yg harus dibutuhkan untuk menjaga NKRI…? NKRI membutuhkan β€œUmbrella”, agar bisa berfungsi dengan maksimal alutsistanya.

    Arhanud juga telah mengusulkan dilengkapinya peralatan mereka dengan rudal anti-udara jarak menengah.
    Apakah kekosongan pertahanan udara itu akan tetap dibiarkan ?. Akankah pesawat pesawat asing dengan seenaknya melintasi wilayah RI …??

  12. * Reduksi Opini Pembelian Alutsista = Bersekutu, Hibah pun Harus yg Cetar.. *

    Walau sulit, tapi hal ini menjadi tantangan bagi Diplomasi Luar Negeri Kita.
    Bila kita memutuskan Pembelian alutsista dari negara mana pun, maka tugas pakar Diplomasi kita menjelaskan bahwa hal itu bukan INDIKASI BERSEKUTU.
    kenapa bisa begitu..?? diluat alutsista pun katakanlah ketergantungan consumer goods bisa dijadikan SENJATA, contoh Gas Weapon -nya Rusia + Syria, Minyak Bumi nya Iran, yg seharunya Gold mountain di Indonesia jadi Senjata Mumpuni, letak geografis pun bisa menjadi senjata.

    Indonesia harus bisa dan mampu mereduksi ANGGAPAN/ASSUMSI pembelian senjata adalah KEBERPIHAKAN, karena semua dari kita bebas membeli Pisau Dapur entah dari Super Market atau Pasar traditional sekalipun, hal ini terutama kepada Janda2 tua yg suka cerewet, ngiri pada urusan dapur tetangga nya.
    Dan tindakan kita pun tetap harus mendasarkan diri kepada kepentingan nasionalis NKRI, bukan penghambaan kepada kepentingan Negara Asing

    ** Maka hal yg paling masuk akal adalah Pembelian senjata dgn spesifikasi Unggul minimal dalam komparasi teknis jika belum ada label Battle proven **

    Adalah tidak masuk akal membeli alutsista dgn spesifikasi lebih rendah (sesuai uji komparasi) dgn harga lebih tinggi, hanya untuk mengejar MENYENANGKAN PERASAAN negara lain, yg sejak kapan pula perduli dengan negara dan bangsa ini.??

    Analogi :
    Jika anda punya rumah gedung bagus dgn koleksi mobil2 sport terkini (Lamborgini, Ferrari, Bentley, Roll Royce, Mustang) maka jika ada kolega anda memberikan hadiah mobil lainnya, mustahil dari jenis Oplet tua si Doel. paling tidak Hammer kek..Evo-X kek…

    Rumah Reyot :
    dgn Mobil pegeout 60-an yg mogok, dikasih Oplet Tua si Doel juga sudah harus berterima kasih juga yg penting jalan (menurut si Pemberi nya)

    Posisi Indonesia :
    Rumah sudah Bagus tapi masih memiliki mobil butut.
    Belilah Jaguar, Bentley, Roll Royce..untuk mendapatkan Hammer, Evo-x ..jangan mau dikasi Oplet Tua si Doel, malu2in z.

    πŸ˜€

    • bung @donnie, gara2 bung Satrio, warjagers hanya faham analogi janda πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ heads up!

      Pada janda muda bahenol sehat walafiat, para lelaki hidung belang ga bakalan pelit demi mendapat perhatian, sementara janda tua dan peot sudah akan untung jika mendapat ongkos pulang πŸ˜†

      Sementara ibaratnya kita ini janda muda bahenol yang mau diajak berendam di jacuzzi asal dibeliin swim suit, coba bayangkan ….. jejaka hidung belang mana yang ga bakal sariawan jual kambing dan kebun

      • Bung @Now
        Kalo cuma modalnya sebagai janda muda bahenol kemungkinan akan kalah bersaing dengan banyaknya gadis muda cantik bahenol yg lebih menggiurkan. Jangankan jejaka, om2 hidung belangpun bersiap mencicipi dan lebih mau keluar duit yg lebih banyak lg.
        Kalo saya punya saran, lebih baik tetap berpredikat sebagai jejaka tampan yg akan dikerumuni baik dari gadis ABG labil bahenol maupun janda bertubuh sintal, baik yg kaya maupun yg kere…heheheh. Walaupun tetap jomblo tetapi pasangan selalu berganti2 setiap malam minggunya sesuai selera. Tinggal dibuatkan jadwal kencan…. πŸ™‚
        Pasti bung @Satrio setuju…. πŸ˜€

        • πŸ˜€ tuh kan, faham kalo analoginya janda. bung @RUSKYE, jika menikah mungkin gadis lebih menarik for some, tapi jika hanya ‘selingkuh’ jelas janda lebih aman. mencolek gadis kita bisa-bisa terjerat pernikahan alias aliansi yang mengikat

      • Bung Satrio harus di SIDANG masalah PERJANDAAN..:D πŸ˜€

        qiqiqiqi

        gue ga ikut2an..belum pengalaman soalnya..:D

        • Pada lupa ama JARGON nya yaaa
          Jangan mengaku Ganteng kalau belum pernah dengan Janda..

          Yang penting
          Jangan ada janda diantara kita.
          hehehehe

        • see? saya bilang juga apa πŸ˜€

          • Oke lah kalo begitu….
            mari sama2 kita merayu janda .. πŸ˜€

          • Namanya juga PROPAJANDA

            Bdw selamat ya bung Now tuk artikel pertamanya
            nanti berbagi tugas anda dan warjager lainnya mengulas alutsista saya tinggal mengulas kewiraannya agar rakyat Indonesia semakin cerdas.

            keuntungan bagi Warjag/bung Diego
            akan banyak artikel yang genuine dari pemikiran warjager
            bukan hanya artikel copy paste saja tetapi ada ide ide briliant warga negara yang tersalurkan di warung bung diego ini.

            Nanti kalau iklannya meningkat bisa buat merehab warung ini agar fasilitasnya semakin bertambah..ada fasilitas Japri/PM dll (colek bung diego)

            Yang paling penting semoga ide ide yang genuine ini DIDENGARKAN oleh para pengambil keputusan dan MENCERDASKAN bangsa ini
            amien

          • thanks bung @Satrio, dengan dimuatnya artikel pertama sekarang sudah bukan perawan lagi πŸ˜€

          • betul bung satrio, saya turut senang dan bangga, krn warjag ini spesial berbeda dgn forum/blog2 lainnya, karena banyak komentar2 pemikiran dari temen2 di warjag mjd artikel2 yg bermutu ( dari artikel dari pemikiran bung satrio, bung nowy, bung antonov, bung jalo, dulu ada dexter dan melektech dst dan banyak lagi dari teman2 yg lain)
            Terima kasih sekali bung diego, saya sendiri koment/pemikiran saya juga pernah dinaikkan kalau nggak salah 3 kali…. terima kasih.
            Semoga hal ini memicu semangat dan kreatifitas teman2 yg lain dan semoga ide ide yang pemikiran brilian dari teman2 ini didengarkan oleh para pengambil keputusan demi kemajuan bangsa dan negara yg tercinta ini

          • Siap Bung Satrio. Akan saya pikirkan caranya. Sorry baru baca.

  13. berarti dari skg udah nyisihkan gaji nih buat beli SPR Pindad. semoga aja ane yg dari civil ga dipersulit beli senjata πŸ™‚

  14. Ketika Deng Xiao Ping menggagas 30 tahun masa ke depan China akan menjadi negara adi daya, banyak yang meragukan hal tersebut dapat dilakukan oleh sebuah negara komunis. Metoda yang sama dilakukan pula pada masa presiden soeharto. Hasilnya, berbanding jauh jika dilihat kurun waktu ini. Tapi apakah hal tersebut menjadi sia-sia semata? Ternyata tidak. Ada sendi-sendi pula yang dapat kita bangun.

    Demikian pula dengan rancang kembang kemajuan kedirgantaraan kita. Menumpukan IFX untuk sesuatu yang esensial pasti tidak sepadan. Ada beberapa hal yang ingin dikejar lewat proyek mulia tersebut. Yaitu saujana kedua negara untuk tampil sebagai negara yang strategis di tahun-tahun kemudian. Apakah tidak menggelitik ketika kemudian pada masa lalu pengembangan industri pesawat kita berarahan dari industri perancis (eurospatiale) dan jerman (Messerschmitt-BΓΆlkow-Blohm). Lalu kemudian terputus begitu saja? Tiba-tiba kita yakin industri korea sanggup merangkul banyak pihak juga di dalam perjalanan berhasil menarik hasrat negara lain untuk terlibat. Tidak logis bukan? Pemerintah Indonesia pasti harus lebih pandai.

    Mata rantai yang ada jangan sampai dilupakan, apa yang dibangun sekian lama itu, Kini kita mendapat kepercayaan sebagai mitra MBDA. Lalu akses apa yang kita nafikan ketika kita tiba-tiba beralih mengakuisisi Bae-system-Saab Gripen? Tentu dalam TOT ada hal-hal yang coba diraih dengan belajar keahlian-keahlian bertahap dan peningkatan standar serta kepandaian tinggi dalam kepesawat tempuran.

    Lalu apa yang bisa diteruskan dalam pembelajaran General Electric F414, PS-05/A radar pulse-doppler, buatan Ericsson dan GEC-Marconi, sesuatu yang sophisticated untuk dipelajari tapi tidak dijalur pembelajaran sumber daya pespur buat kita sendiri (bung satrio pernah menyampaikan Prototipe srikandi ya?). Jadi yang wajar tentu kita mengakuisisi produk MBDA dan atau yang menggunakan kelengkapan produk mereka.

    Tiba-tiba juga kanselir Angela Merkel menyampaikan kesediannya mengakomodasi kepentingan Israel di negara muslim dimana Israel tidak memiliki kedutaan. Jangan-jangan ada kehendak pemerintah untuk melengkapi jigsaw yang diperlukan untuk mendesain pesawat yang berkualitas dari kedekatan dengan Industri Rusia (kalau tidak salah sukhoi pesanan baru dikerjakan di IAPO)-Industri Eropa (terutama MBDA) dan Israel(?)…

  15. Semua alternatif diatas tidaklah mungkin untuk pengadaan pesawat tempur dalam jumlah ratusan dalam tempo lima tahun, kecuali kalo kita memproduksi sendiri.

    Warning Pengadaan pesawat tempur saat ini sudah lampu merah, mengingat perilaku espansi militer cina yang sudah melampaui batas; cara cerdas pengadaan pesawat tempur dalam waktu segera adalah seperti yang dilakukan malaysia, yaitu LEASING.

    Selai tidak menunggu dalam tempo yang tidak terlalu lama, juga tidak perlu memikirkan pusing2 boikot sparepartnya, toch dalam 5 tahun kedepan technologi fighter sudah bermunculan baru.
    Janganlah berpikiran seperti sopir angkot, beli kendaraan yg bisa bertahan 20-30 tahun supaya hasilnya tambah banyak.

  16. Seandainya kita mengadakan pembelian pesawat, katakanlah seperti yang disebutkan diatas yaitu 124 SU-35 ? Kira-kira dengan kapasitas produksi sukhoi sendiri, berapa lama delivery pesanan kita tersebut ?

    Daripada Gripen dan Typhoon, saya lebih condong untuk memilih Rafale. Apalagi saat ini produk Prancis tsb masih belum ada pembeli dan kontrak yang real, selain militer Prancis sendiri.

    Sehingga, sebagian kita pesan ke Prancis, sebagian ke Russia. Sukhoi (27,30,34,35), dan kemudian Dasault Rafale, dan F16 hasil hibah dari Amerika.

    • Ada statement mbah pur,
      Rusia menyatakan kesanggupan menyediakan berapapun jumlah flanker untuk Indonesia,
      kita percaya kapasitas produksi Industri Rusia mampu begitu massive jika dibutuhkan.
      Sekalipun assembling bersifat Hand made, dgn jumlah tenaga kerja terlatih rusia yg juga massive, hal tsb bukan masalah, hal ini lebih cenderung karena pengalaman perang dingin, USSR mampu mengimbangi seterunya dlm hal jumlah pengadaan alutsista.

      • Katakanlah menurut article disini kita punya target hingga 2025 memiliki 200+ pesawat tempur. Kemudian pilihan jatuh semua nya ke Sukhoi Flanker Family. Dalam jangka waktu sepuluh tahun artinya adalah setahun mereka bisa mengirimkan 20 pesawat tempur kepada kita. Padahal, dari salah satu berita: http://en.ria.ru/military_news/20131225/185923384/Russian-Air-Force-Received-12-Su-35-Fighter-Jets-in-2013.html

        Russia aja meneriman setahun hanya 12 Sukhoi SU 35. Saya sanksi dengan pernyataan bahwa Sukhoi bisa memenuhi kebutuhan kita. Apalagi, jika pembelian hanya ke Russia dengan Sukhoi nya, maka prinsip bebas dan aktif itu sendiri tidak valid lagi. Semua negara akan melihat kita berkiblat pada Russia.

        Makanya alternatif pesawat tempur lainnya itu perlu. Mengapa Rafale ? Karena dari pengakuan militer India, Swiss, Brazil dan Korea juga generasi pesawat 4++ yang paling baik saat ini. Kalah tender di Swiss dan Brazil gara2 milih yang lebih ekonomis dengan Gripen, dan di Korea Selatan kalah dengan F-15 karena tekanan politik Amerika.

        Di India menang tender 126 pesawat tempur, tapi masih terkendala masalah TOT. Disinilah kita bisa bermain, jangan terlalu demanding seperti India, sedikit lebih lunak asal industri pesawat nusantara dapat kontrak sebagian untuk mengerjakan komponen nya sudah cukup, sama mereka kasih beasiswa sekolah S2 dan S3 untuk 1000 orang lulusan terbaik dari Indonesia.

        Sehingga profil kekuatan pesawat tempur nantinya jelas; Sukhoi Family sebagai air combat nya, Rafale dengan omni role dan lebih ekonomis, kemudian hibah F-16 yang bisa dapat lebih cepat, dan seandainya proyek IFX jalan, akan digantikan oleh proyek pesawat kita sendiri dengan Korea di tahun 2015.

        Melihat Dasault yang tertekan dengan minim nya penjualan, kita bisa lah bermain cantik untuk mendapatkan harga yang lebih murah, tapi kita juga tidak bertele tele seperti India yang pengen sebagian besar Rafale di bangun di India. Sebesar apapun kemauan mereka untuk TOT, tetap aja teknologi canggih di pesawat tidak mudah untuk di bagi bagi, kalau tidak dikatakan mustahil.

        • Sorry typo: maksud saya 2025 ketika proyek IFX selesai dengan Korea. Semoga !

        • # Phoenix, trimakasih responnya.

          xixi..jika permasalahannya SEBERAPA BESAR kapasitas Produksi sukhoi flanker, tentu yg paling kompeten menjawab adalah Ceo Rosoboron sendiri.
          Penerimaan Au Rusia tidak bisa dijadikan patokan, atas dasar :
          – Rusia dalam keadaan krisis pespur..?
          – Kebijaka Au Rusia sendiri.

          justru sebagian kalangan mempercayai market su-35 harus digenjot untuk mendapat modal pengembangan lebih advance pak fa.
          semua perusahaan pastinya menginginkan setiap line up produknya LAKU dipasaran international.
          Dan kita juga tidak ada keharusan memenuhi semua pespur dari type Su-35, knapa tidak ikutan memixing dgn pak fa juga..?

          Jika satu Hanggar mampu merakit 10 unit/thn, bagaimana dgn 10, 20 hanggar hanggar assembling..? Bagaimana dgn skema sub kontrak perakitan ?
          ga ada cerita orderan ditolak kan..? πŸ˜€

          pada dasar mau sukhoi, mau grippen atau typhoon jika kita membeli dgn TUNAI pun sama2 memerlukan waktu yg kurang lebih sama dlm waktu produksinya (Pesen dulu baru dibuat).

          gue kira masalah kapasitas produksi bukan masalah terlalu mendasar, justru keunggulan spesifikasi teknis dan perfomance produklah yg mesti kita kritisi,

          Masalah Pengkiblatan, ini masalah Asumsi saja, bahkan banyak opsi sebagai pengimbangnya, jika matra Udara kita cenderung ke Timur coba dari Matra lain condong ke Barat, atau kombinasi lainnya, flexibel (seperti opininya bung Nowyoudon).

          yg jelas lebih bijak jika menyandarkan pembelian berdasar keunggulan spesifikasi teknis-perfomance setiap item-nya bukan pada perasaan KETIDAK ENAKAN negara lain, buat apa juga.? πŸ˜€

          # that’s my opinion.

          • Aku pikir artikel ini kan opini ya. Saya cuman mengutip dari salah satu pendapat Bung One:

            Jadi saya cuman menegaskan bahwa 200 unit Flanker dalam sepuluh tahun sangat susah terealisasi. Karena faktanya, dari link yang udah saya berikan sebelumnya Russia sendiri saja hanya menerima 20 SU 35 di tahun 2013. Apakah Sukhoi bisa meningkatkan produksi dalam waktu singkat ? That’s a wishful thinking.

            Analisis-analisis disini keren-keren semua. Termasuk dari Pendapat Bung Donnie mengenai Plan A dan Plan B. Tapi jujur saya harus bilang, itu susah terealisasi. Kebanyakan model tidak menguntungkan bagi biaya perawatan, hanya satu model Sukhoi tidak mungkin dalam 10 tahun ke depan (hanya jika memang kita punya anggaran untuk pengadaan 200+ pespur) karena kapasitas produksi mereka sendiri.

            PAKFA adalah salah satu pespur idaman saya; Tapi itu masih prototype, jadi terlalu jauh mengandai-andai nya jika di bicarakan sekarang. Kita bicara yang real saja, dengan sebuah premise awal dalam diskusi ini: Dalam 10 tahun kedepan, sampai dengan 2025, Indonesia membutuhkan 200+ pespur. Dan saja pribadi, setuju sekali dengan pendapat itu :))

  17. Setahun lagi, jawaban resmi tentang kekuatan udara kita akan terjawab… Semoga impian warga warjag bisa segera terealisasi, amieeen

  18. Saya setuju dengan Bung@Satrio.
    Politik kita adalah non blok tetapi BEBAS AKTIF.
    Tanpa ngeblok-pun kita bisa berbuat banyak asal BEBAS AKTIF.
    Buktinya kita bisa beli macam2 alutsista blok Barat/ Timur, pemimpin ASEAN , aktif berusaha menyelesaikan masalah regional/LCS dll.
    Asalkan jangan lagi kelihatan tidak tegas, memble 1000 kawan 0 musuh.

  19. sangat setuju.. dengan bahasan bahwa kita tidak pernah akan bersekutu alias non – blok.. karena semakin meruncing nya situasi yang memaksa untuk itu, kita akan sadar betapa tinggi nya kita diatas prisma yang begitu mengerucut namun sakit bila terinjak.. dan begitu jatuh nya pun licin dan sangat terasa sakit..
    Berikan batasan.. agar negara ini tetap penting dikawasan.. dan mereka tahu akan itu..
    tanks a lot.. he..3x

  20. Salut bung satrio ulasan mantaf deh, pasti bung satrio jadi salah satu pendidik di lemhanas kita deh he he he he….
    Tapi sayang kenapa mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila di SD koq dihapus ya??
    Ada yg masih ingat Lagu Garuda Pancasila
    Mari kita nyanyikan :

  21. kalau saya sih lebih baik keluarga family SU-27/30/35, kita akan lebih pokus untuk pengadaan suku cadangnya. dari pada produk barat yang rawan emabrgo

  22. Hemat saya Pak PUR, udah kita merapat k blok Rusia aja beli peralatan militernya, dari pada k barat yang rawan EMBARGO

  23. maju terus indonesiaku

  24. terima aja hibah tanpa syarat..preteli lalu pelajari buat sendiri component penting,kembangkan ..lalu produksi buat negara kita…

 Leave a Reply