Dec 142017
 

ilustrasi : Helikopter Chinook

Jakarta – Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima Wakil Direktur Global Sales and Marketing Boeing Defence Space (BDS) Mr. Yeong Tae Pak, Rabu (13/12/2017) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membicarakan tentang kerja sama pengadaan Alutsista yakni terkait dengan pengadaan helikopter serbu Apache dan juga penawaran helikopter angkut besar Chinook.

Wakil Direktur Global Sales and Marketing Boeing Defence Space menyampaikan ucapan selamat kepada Indonesia yang dalam waktu dekat akan menerima helikopter serbu Apache pesanan TNI AD. Pihaknya menjamin bahwa Apache adalah helikopter terbaik saat ini.

Selain itu pihak Boeing juga menjanjikan akan memberikan pelatihan dan dukungan yang terbaik. “Jadi terkait dengan dukungan suku cadang dan pemeliharaan sudah dibicarakan dengan pihak PT DI”, ungkapnya.

Terkait dengan penawaran helikopter Chinook, Wakil Direktur Global Sales and Marketing Boeing Defence Space lebih lanjut menjelaskan apabila Indonesia berminat, maka pihak Boeing akan memberikan penawaran dengan skema pembiyaan dan harga yang terbaik.

Helikopter Apache AH-64E Guardian TNI AD. © Taz Imansyah

Boeing juga bersedia memberikan penjelasan selengkap – lengkapnya bagaimana sistem offset-nya yang sesuai dengan keinginan Indonesia untuk memajukan industri pertahanan dalam negeri.

Lebih lanjut dijelaskannya, helikopter Chinook memiliki multi fungsi karena dapat digunakan untuk mendukung berbagai macam tugas kebutuhan mulai dari operasi militer khusus, hingga penanganan bencana alam dan kebakaran hutan.

Sementara itu menanggapi penawaran tersebut, Menhan RI menyampaikan akan berkomunikasi dengan pihak pengguna dalam hal ini TNI AD atau TNI AU. Karena dalam setiap proses pengadaan Alutsista, didasarkan kepada kebutuhan pengguna. (Kemhan.go.id).

Berbagi

  91 Responses to “Segera Serahkan Apache, Boeing Tawarkan Chinook ke Indonesia”

  1.  

    Woof

  2.  

    Sudah ambil aja Chinook yang banyak, didistribusikan untuk :

    AD
    AL
    AU
    BASARNAS
    POLRI
    KEMEN PU
    KEMEN BUMN

    Sehingga saat ada bencana Chinook terdekat lokasi bisa langsung dipakai untuk evakuasi atau drop logistik dan alat berat.

  3.  

    Udah dijelasin lengkap, gimana offset, gimana ToT. Gak perlu pake nego ToT, offset dan bayar pake kerupuk kayak Sales Sebelah.

    Hhhhhhhhhh

  4.  

    heli tempur terbaik ya….
    dalam kapasitas bertahan apa penyerangan…

  5.  

    Yg pasti dipesan utk AD. Kalo pun ada penambahan utk AL.

  6.  

    Gambar d sebelah ada yg pke konde. Emang beneran tuh ad versi konde NY?

  7.  

    Mi 26 gk dilirik ya??

  8.  

    Nih apache dapat tot apaan sih?

  9.  

    Intinya apapun barangnya yang penting penmbahan alutsista. mau MI ke mau Chinook ke. kalau bertambah terus tentu lebih baik kan?

  10.  

    oh rame yah,..

  11.  

    Ngapain chinook yg rawan embargo AS, dg s&k berjubel ga bs dipake kl melanggar “ham” versi asu. mending ngambil dr rusia yg dh jelas nganggap negara sahabat sm Indonesia.

    •  

      Lho emang Chinook mau dibeli untuk melanggar HAM ?

      Kok nggak ingat sama statement Menhan kalau musuh utama kita itu :

      Bencana alam dan terorisme.

      Chinook itu mau dibeli untuk penanganan SAR dan penanggulangan bencana alam.

      Singapore yang negara kecil seperti itu punya paling sedikit 18 unit Chinook.

      RI yang negara besar kagak punya satu pun ? Mestinya RI punya paling sedikit 24 unit Chinook agar penanganan bencana dapat segera dikerjakan.

      Mi26 terlalu besar dan jika pun diakuisisi paling hanya 3 – 4 unit.

      •  

        Soal hrg gmn bung, chinook brp? mi 26 brp?

      •  

        Yg dipertimbangkan itu bukan hanya harga beli tetapi juga :

        1. biaya operasional (bbm, pemeliharaan dll),
        2. ketersediaan suku cadang, semakin banyak populasinya semakin lebih mudah bisa diperoleh suku cadangnya, walaupun diembargo sekalipun bisa lebih mudah dapat suku cadang daripada yg sedikit populasinya (Chinook lebih dari 1200 unit, jauh lebih banyak populasinya daripada Mi26 yg hanya 300an unit)
        3. jarak jangkauan (baik normal, combat range maupun ferry range), ferry range Chinook 2252 km, jadi lebih jauh daripada Mi26 yang hanya 1920 km.
        4. bisakah mendarat lebih dekat ke area tempur atau mesti harus mendarat jauh-jauh dari area tempur karena terlalu gede, Chinook ada combat rangenya sedang Mi26 nggak ada combat rangenya sebab Mi26 takut mendekat ke area tempur.
        5. Service ceiling (ketinggian yg dapat dicapai), Chinook lebih tinggi terbangnya dari Mi26, Mi26 ketinggian yg bisa dicapai hanya 4,6 km lebih mudah dijangkau manpads daripada Chinook yg punya ketinggian 6,1 km.
        6. bisakah mendarat di permukaan air (Mi26 kayak kambing takut air nggak bisa mendarat di air walaupun hovering, sedangkan Chinook bisa mendarat di air walaupun hovering)

        Itu lho detail yg harus dipertimbangkan.

        •  

          Makanya saya usulkan kalau Chinook jangan hanya dibeli oleh AD dan AU saja tetapi juga dibeli oleh AL, BASARNAS, BAKAMLA, POLRI, Kemen BUMN, KKP, pemda, Kemenhut, Kemen PU.

          Semakin banyak lembaga pemerintah yang beli bisa lebih murah harga belinya asal pembelian disatukan dan semakin mudah dapat lisensi pembuatan helikopter maupun suku cadangnya.

          Jika mentok karena diembargo, suku cadang bisa diambil dari punya institusi sipil.

          •  

            Masak Pemda beli Chinook juga?? Emangnya boleh??

          •  

            Indonesia saja lagi tegang dalam hubungan dengan kondisi di Israel… jelas bukan masalah mudah memutuskan sesuatu… ketegangan dengan Israel pasti akan berdampak pada hubungan Indonesia – USA…
            Yang dilakukans selama ini sudah bagus, tidak mutlak barat semua dan tidak barat Russia semua, untuk mengantisipasi segala kondisi yang bisa saja terjadi…
            Sejarah itu untuk di jadikan pengalaman dan jangan sampai seperti keledai, yang melakukan kesalahan yang sama lebih dari sekali…

          •  

            Gak ada hubungannya beli alutsista dg masalah Yerusalem. Kalo emang kayak gitu malah jadinya pemerintah kita terlihat lemah dan sentimentil.

          •  

            Terserah… dikasih tahu ngeyel mulu, saya tidak peduli dengan situasi di Israel – Palestina, tetapi Indonesia di akui paling vokal diluar Timur tengah… jadi kalau Indonesia tegang dengan Israel begitu juga dengan USA

          •  

            Bung Yuli, di dalam diplomasi luar negeri. Yang perlu dibangun adalah hubungan timbal balik yg sama2 menguntungkan atau bahkan persahabatan yg baik antar negara. Emosi sesaat atau karena hal tertentu harus ditahan agar tidak terjadi hal yg tak diinginkan. Indonesia selalu mengupayakan perundingan dalam menyelesaikan masalah termasuk masalah perbatasan. Kekuatan militer hanya untuk penegas bila tetangga juga mengerjakan militer lebih dulu. Kasus Yerusalem dan hubungan Indonesia-USA juga begitu. Kita ttp menentang keras tapi bukan berarti membekukan hubungan diplomatik dg USA apalagi menghentikan pembelian alutsista. Itu konyol namanya dan saya yakin gak ada diplomat kita yg berpikir seperti itu. Bukankah hasil OKI udah menggambarkan posisi dan pernyataan Indonesia juga?? Masak iya kita ada masalah dg tetangga, begitu gak bisa diselesaikan sendiri lalu ngajak berantem atau saling diam. Malah bisa tambah parah itu. Kan ada pak RT/Pak RW dan kalo gak bisa baru polisi, selesaikan lewat hukum.

          •  

            Masa hubungan LN di ibaratkan ada hirarki rt-rw-polisi? Trus rt rw nya siapa? Apa polisi nya itu amrik? LCS dikuasai china si amrik cuma diem bingung gak berkutik kok haha

          •  

            Tetapi kenyataanya kan berseberangan… USA mendukung Israel, Indonesia mendukung Palestina… dalam situasi seperti itu apakah akan dibilang baik2 saja tidak terjadi apa2???

          •  

            Pemda boleh beli helikopter jika ada alasan yg masuk akal. Asal tidak diberi senjata ya bisa saja.

            Apa lagi yang kapasitas angkutnya besar.

            Dulu BTP ingin beli helikopter supaya memudahkan evakuasi bagi rakyat di kepulauan seribu jika ada bencana di situ.

            Untuk evakuasi rakyat butuh heli besar apa kecil ?

          •  

            Nggak ada hubungannya antara konflik di luar dengan hubungan bisnis itu. Hubungan bisnis itu tetap jalan seperti apa adanya.

            Contohnya :

            F16 tetap diantar tuh.

            Apache RI tetap dikirim tuh.

            Itu baru namanya profesional.

            Yang konflik orang lain kok hubungan bisnis jadi tegang.

            Itu namanya paranoia akut.

          •  

            Ya pasti dikirimlah… barang sudah deal dipesan dan sudah dibikin masak ga dikirim… yang jelas ketegangan yang terjadi jelas bukanya tidak menimbulkan efek apapun…

      •  

        Klu penjualan alutsista dr US lbh kental kepentingan. Politiknya, klu tdk sejalan dgn kebijakan politik US maka berbagai sangsi siap menanti, ingat ms embargo sampe F16 yg sudah dibeli aja gak jd dikirim bgt jg yg menjalani perbaikan dsn. Klu Pemda jg membeli kok gak difikirkan pembiayaan untuk operasional dan perawatan klu hanya untuk alasan penangan bencana kan Basarnas lbh berhak!

  12.  

    Bukannya tni juga mau akuisisi mi26 agar bisa gotong si macan hitam ya?

    •  

      Ketertarikan kepada Mil Mi-26 ya karena sapi terbang…kargonya seluas kargohercules, kemampuan angkut sudah jelas tidak ada yang menandingi untuk kelas Helikopter, dan jenis Helikopter Mil itu sudah sangat familier untuk Indonesia. dari Mi-35 dan Mi 17…
      Mengoperasikan Mil Mi 26 tentu tidak akan kesulitan, dan cenderung menjadikan ajang untuk meningkatkan kemampuan untuk merawat Helikopter dengan mesin yang lebih besar

  13.  

    Kok ga nawarin F15 sm F 18 sih?? Daripada siluman gendut ane lebih senang indonesia punya F15 atawa F18 buat deter tetangga yg udah punya… kalau F35 mah buang aja kelaut xixixi…

 Leave a Reply