May 012014
 

Lapan atau Lembaga Penerbangan dan Antariksa lahir pada tahun 1963. Ada tiga kronologi pembentukan Lapan yaitu Pada 31 Mei 1962 dibentuk panitia Astronautika oleh Menteri Pertama RI, IR. Djuanda selaku Ketua Dewan Penerbangan RI dan R.J. Salatun selaku Sekertaris Dewan Penerbangan RI. Yang kedua pada 22 September 1962 terbentuk Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) Afiliasi AURI dan ITB. Dan terakhir 27 November diterbitkan Kepres Nomer 236 Tahun 1963 tentang Lapan.

Sputnik 1

Untuk dapat memahami kondisi terbentuknya Lapan, mari kita ke tahun 1957-1958 yg merupakan tahun Geofisika Internasional (International Geophysical Year atau IGY), dimana untuk pertama kali negara-negara sedunia melakukan penyelidikan lingkungan alam secara stimultan dan terkoordinasi. Hasilnya, pada tahun 1957 satelit pertama buatan manusia “Sputnik 1” berhasil diorbitkan. Satelit Sputnik 1 dengan teknologi sederhana dan kemampuannya pun hanya memancarkan sinyal dengan frekuensi 20,005 dan 40,002 MHz.Sputnik dilontarkan dengan roket dua tingkat R-7 Semyorka Uni Soviet.

R-7 Semyorka

Kejadian tersebut merangsang imajinasi masyarakat dengan demam antariksa. Demam antariksa ditandai dengan timbulnya “gendrang peroketan” serta munculnya kelompok-kelompok bereksperimen salah satunya di Indonesia yaitu mahasiswa dan ABRI.

Sebagai tanggapan atas perkembangan zaman serta merintis aktifitas keantariksaan , pada tahun 1962 Ketua Dewan Penerbangan (alm) Ir. H. Djuanda membentuk Panitya Astronautika yg dusahkan pada 14 Desember dan aktif awal tahun 1963. Kepanitian ini terdiri dari para wakil departemen :

  • AURI oleh Letkol Imam Sukotjo dan Mayor Kirono
  • Perhubungan Udara oleh Ir. Karno Barkah dan Drs M. Sukanto
  • Urusan Riset Nasional oleh Dr The Pik Sin
  • Perguruan tinggi dan Ilmu pengetahuan oleh Prof Sutardi Mangundojo
  • Dan Luar Negeri oleh Mr. Nugroho

Ada 5 tugas pokok yg diberikan termasuk mengejar ketertinggalan Indonesia di antara negara-negara berkembang lainnya dalam hal keantariksaan. Dan perlu diketahui dalam pembatasan-pembatasan di panitia Astronautika terungkap bahwa program IGY negara kita dimasukan dalam kategori “black area” atau daerah hitam. Sementara itu, beberapa negara berkembang seperti India, Pakistan dan Mesir sudah lebih dulu melangkah ke bidang antariksa seperti Mesir yg dibantu sarjana-sarjana Jerman dalam bidang roket balistik dan satelit .

DSC_0267

Pada 22 September 1962 berdiri PRIMA (Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal) yg diisi afiliasi AURI dan ITB. Pembentukan PRIMA karena penundaan studi roket Kappa-8 buatan Jepang karena masalah di devisa ekspor. Akhirnya tim PRIMA mengembangkan secara swasembada dan berhasil  membuat Kartika I, roket dengan booster berdiameter 235 mm yg dikerjakan di oleh mesin extrusi milik Pindad. Pembiayaan PRIMA dibebankan pada anggaran belanja AURI. Untuk sistem telemetri Kartika I dikembangkan depot Elektronika AURI Margahayu.

Sementara Kartika I dikerjakan, sebagai pimpinan pertama Lapan adalah Dirjen Lapan Komodor Udara Nurtanio Pringgoadisurjo, Wakil Dirjen Letkol Imam Sukotjo, Wakil II Dirjen Ir. Karno Barkah, Wakil III Dirjen Dr Kusumanto Purbosiswojo dan Wakil IV Dirjen Prof Ir Suhakso.

Roket Kartika

Pembuatan Kartika I menghabiskan waktu selama 7 bulan dan pada 14 Agustus 1964 roket ini meluncur mulus dari Pameungpeuk. Dalam uji cobanya Kartika I hasilnya berhasil merekam siaran satelit cuaca Tiros milik Amerika. Menurut majalah Electronics terbitan Amerika, Indonesia adalah negara kedua setelah India yang berhasil merekam siaran Tiros dengan alat penerima buatan sendiri.

Hideo Itokawa with the Kappa-8L Rocket (1962)

Saat tim PRIMA sedang dibuat sibuk dalam pengerjaan roket Kartika I, upaya mendatangkan teknologi asing yakni Roket Kappa-8 makin menemukan titik kejelasan.  Hubungan baik dengan Prof Dr. Hideo Itokawa-Ilmuwan Jepang perancang pesawat tempur yg kemudian menjadi perintis peroketan Jepang kemudian direstui (alm) Ir. H. Djuanda.

Kappa-8 meluncur pada Agustus 1965 dengan mencapai ketinggian 364 km dan merupakan roket pertama di bumi Indonesia yg berhasil memasuki wilayah antariksa. Roket ini juga memberikan makna lain setelah data ilmiahnya disumbangkan kepada program International Quiet Sun Year (1964-1965).

Berikut adalah sejarah kelahiran Lapan, ada satu kiasan dari mantan Presiden India Abdul Karim (2002-2007) : “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai antariksa”. Visi Lapan yaitu Terwujudnya Kemandirian dalam Iptek Penerbangan dan Antariksa untuk meningkatkan Kualitas Kehidupan Bangsa. Jika nantinya Lapan berhasil mengorbitkan sendiri Satelit karya anak bangsa maka bangsa kita akan diperhitungkan dunia Internasional.

Perbedaan Anggaran Lapan dengan Malaysia dan India

Untuk itu diperlukan komitmen Nasional agar pengembangan ini bisa tercapai baik Pemerintah, Peneliti, Industri Strategis dan tentunya adalah masyarakat Indonesia. Saat ini sebagai penulis saya sangat sedih dengan kenyataan yg terjadi seperti adanya Political Will dalam pengembangan, anggaran yg tidak menunjukan komitmen dan kurangnya pengetahuan masyarakat kita tentang ilmu antariksa. Yuk kita berdoa, semoga para peneliti kita diberikan ketabahan untuk terus mengembangkan dan mengejar ketinggalan kita dan juga menjadikan negara kita sebagai bangsa yg diperhitungkan. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan yg baik dan selalu menjaga peneliti kita, Amiieenn…

(Jalo and Friends)

 Posted by on May 1, 2014  Tagged with:

  94 Responses to “Peristiwa Kelahiran LAPAN”

  1. Pertamax,., yesssss

    • Salam kenal para sesepuh n warga JKGR.numpang pertamak

    • @ bung jalo : artikel yg sangat bagus,
      sekarang ini teknologi roket di indonesia sudah cukup maju,., dari pihak universitas pun sekarang sudah banyak yg menyelenggarakan kontes roket antar pelajar, tetapi roket air, bukan roket beneran. itu bertujuan untuk mengenalkan dunia roket kepada para pemuda indonesia agar tertarik untuk menekuni dunia peroketan.

      salam kenal bung jalo,.,

      SR mode on,.,

  2. Nice info

  3. ketigax tks bung jalo artikelnya mencerahkan \m/

    • Terima kasih bung Jacky…
      “Jasmerah” bung…

      • bung jalo dengan dana segitu mepet indonesia bisa dibilang lumayan dalam hal roket-meroket jika dibandingkan dengan malaysia yang sampai saat ini saya belum mendengar proyek mengenai peroketan mereka kecuali si taming sari itu, bung jalo kira2 anda tau gk apa j yang sudah dihasilkan malaysia dengan anggaran dana yang lumayan besar jika dibanding indonesia tersebut

      • Oiya bung jalo kalo pada thn 1965 aja dah roket kita sudah mencapai 364 km kok knp r-han masih blm smp ke tiga digit ya bung? ada apakah? apakah blue printnya di hancurkan bung jalo maav yah kalo sy tanya agak oot nih 🙂

  4. Mantap Bung Jalo….

  5. Ijin share bung Admin…
    Maaf nyampah lagi :mrgreen:

    Buat warjager…
    “A Vision Is An Achievable dream,”

    • Artikel ini biar teman2 warjag tahu kenapa kita telat, ada yg membandingkan kita dengan India atau negara2 maju lainnya. “Jasmerah” bung, lihat komitmennya Pemerintah India apalagi dari segi anggaran. komitmen pemerintah kita saya rasa sangat kurang, atau mungkin mereka malah gak tahu tentang manfaat teknologi antariksa.

      Dulu untuk Roket Kappa-8 seharga $100.000 dollar itu susahnya minta ampun. Tapi waktu itu dimalumi karena kita negara baru dan masih merampungkan kebijakan2 termasuk devisa ekspor. Nah sekarang, kok masih lupa dengan teknologi antariksa, makanya perlu dibangun komitmen bersama.

      Dulu Jenderal Montgomery mengatakan bahwa negara harus mementingkan matra udara dan antariksa. “If you lost in the air, you lost the war. And you lost it very quick,”

      • amat disayangkan bung @jalo perhatian pemerintah terhadap pendidikan, penelitian & pengembangan serta mahasiswa berprestasi masih kurang. pemerintah masih berkesan pada pembangunan fisik semata padahal kemajuan suatu sangat dipengaruhi oleh pembangunan nonfisik. kalo boleh saran para sesepuh…. maaf orang bloon….. apa boleh orang penting pemerintahan disentil sedikit supaya paradigma berpikir berubah, sehingga pembangunan SDM dan perhatian terhadap para peneliti dan mahasiswa berprestasi jadi lebih baik, amin.

        • Boleh Bung Braja, saya sudah capek ribut terus dengan mereka yg mengaku mewakili rakyat itu. Saya sudah 2 kali dikirim surat ke kantor saya karena ribut dengan mereka.

          • jgn di sentil… kasian…

            sebaiknya mereka di BINA…

            ps: bina means.. BINASAKAN…

            ngacir… mach 5… wuss…..

        • mereka lebih terhormat daripada kita spertinya..sehingga haram untuk disentil

        • enak aja… jgn dong, bung jalo..
          mereka itu jgn di sentil… lah wong urat malunya mereka sudah putus..

          sebaiknya mereka di BINA saja..

          ps : BINA means… BINASAKAN…

          wuzzz… ngacir….mach 5……….

    • sedih juga ya bung melihat perbedaan anggarannya..dengan negara jiran saja sepertinya koq jauh..semoga capres2 kita juga bisa melihat hal seperti ini..

  6. Bung Jalo, tanya donk dengan perbedaan anggaran yg lumayan jauh dari Lapan, apa yang sudah di raih Malaysia?

    • Wah saya gak berkompeten membandingkan kita dengan tetangga kita. Intinya Badan Antariksa atau lapan bukan saingannya Angkasa Malaysia. Mereka malah belajar ke negara kita, di kita untuk Teknologi Penginderaan Jauh termasuk kuat di kawasan Asia-Pasifik.

      Terakhir yg saya tahu mereka mengembangkan teknologi roket Roket TEDUNG-KILAT yg dilakukan oleh unit Space Application and Technology Division (SATD) Angkasa dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Daya roket ini sekitar 150 N atau 1.5m/s. Tapi saya dengar nih proyek bermasalah. Mungkin ada yg mau menambahkan…

      Tapi saya ada cerita nih, ada negara yg doyan banget mengklaim dia mengklaim sudah barhasil membuat satelit, kenyataannya malah 90% kandungan didalam adalah beli dan dirakit orang lain. Untuk 10% itu hasil kerjasama mitra dengara lain. Di komunitas Internasional nih negara sangat malu karena kejadian itu. dan negara kita membantu mereka dan sekarang belajar di kita dan dosen2 di kampus mereka yg ahli banyak juga dari negara kita.

  7. Walaupun dana cekak lapan terusla berkarya tuk ina

  8. salam kenal bung jalo , benar2 artikel yang bagus.di tunggu juga hoax2nya , biar silent-silent rider seperti saya pada nongol ,ga betah pengen liat langsung petuahnya.Bung Nara lama ga keliatan ,masih belum jadi ya hoax nya bung ,ngebet banget soale biar nati klo rondo( jaga malem) betah melek hehehe….

  9. Salam kenal bung jalo
    Nice artikel

  10. Mohon izin nyimak…..

  11. Indonesia negara yang besar, tidak mustahil untuk menguasai seluruh antariksa, walau sekarang banyak kendala yang dihadapi tapi yakin kalau kita pasti bisa… Jaya Indonesia.

    thanks bung Jalo..

  12. Lamknl bung jalo artikel bgs buat kmi2 yg orng awam semoga rudal nasional cpt terrealisasi dan jayalah indonesiaku……

  13. Wah sungguh sgt memprihatinkaan belaanja riset lapan dgn india cuma 4%nya belanja riset india. Tapi tahun 1965 lapan cukup membanggakan juga sdh berhasil meluncurkan tiga digit 364 km tapi skg kok malah tidak bisa ya sejauh itu seharusnya lebih maju lagi bukan tambah mundur setidaknya bisa mencapai 1000 km lebih.

    Kapan-kapan pingin lihat parade militer pada waktu hut TNI dimana ada missile balistiknya. TNI so stroooong.

  14. Artikel yang sangat bagus bung Jalo.

    Bung Jalo, menurut sejarah Indonesia sudah bisa membuat Roket Kartika I yang canggih pada tahun 1964an, tetapi setahu saya baru mengembangkan lagi Roket R-HAN pada tahun 2000an. Kenapa diantara rentang waktu tersebut Lapan seolah-olah vakum dalam membuat Roket???

    Padahal seandainya proses R&D itu dilakukan secara terorganisir, kita seharusnya bisa membuat Roket yang lebih canggih dari R-HAN atau bahkan sudah bisa membuat peluru kendali, Rudal balistik seperti India, pakistan dan korea utara yang notabennya kawan-kawan se-perguruan kita di Uni Soviet dulu.

    Namun, tidak ada kata terlambat untuk memulai program Roket nasional, Lapan saat ini berusaha mengejar ketertinggalan dengan mengembangkan R-HAN. Sangat patut di apresiasi keberhasilan Lapan yang membuat negara tetangga gelisah dan khawatir. Apalagi dengan anggaran yang cekak, tetapi menghasikan hasil yang luarbiasa.

    #JustMyOpinion

    • terima kasih penjelasannya Bung jalo,

    • Jujur om Jalo.. perut jadi mules.. melilit.. kalau ingat proyek antariksa kita. Semoga kedepan proyek ini harus diperhatikan oleh pemerintah, dari untuk bail out B**k C*****y kan mending duitnya untuk bikin roket hehehe..
      Tapi kalau boleh sedikit pendapat ngawur, saya kok kurang setuju pada poin yang “pertama tidak ada negara yg mau berbagi ilmu peroketan” sebab kalau memang mau pada waktu itu kita bisa mencari (baca:mencuri) ilmu asal pemerintah mendukung pengembangan roket..
      Yang saya sangat setuju adalah “ada negara dan sekutunya yg gak mau kita maju dan parahnya penghambatan teknologi ini dibantu oleh anak bangsa kita sendiri sampai sekarang“.
      Ada masalah politik yang mengharuskan menyutik obat tidur pada penelitian roket.
      Selama pemerintahan SBY, LAPAN bergeliat lagi, entah Presiden kita besok, bertipe “Yes Sir” atau tidak.. kalau iya maka proyek ini akan kembali tidur.
      Maaf ini hanya ngawurnya saya saja.

  15. Aamiin

  16. Amiin ya robbal alamin..!!! Semoga sukses & maju trs LAPAN..Kami semua rakyat INDONESIA men do’a kannya..!! “Tidak ada yg tidak mungkin di dunia ini’

  17. bung Jalo . boleh nanya dulu kan sudah ada kappa 8 dan sudah ada sampai ke ruang angkasa dan sudah maju kenapa jd mundur lg ya . skarang mau luncurkan satelit numpang ke india maaf klo salah . krn awam suwun .

    • Bung Newbie, jawabannya sudah di nomer 14 ya… thanks

      • Ada perbedaan antara roket lama dengan yg modern baik itu strukturnya, sistem telemetrinya, hingga ke bahan bakar contohnya kalau dulu roket Kappa-8 itu menggunakan Carboxyl-terminated Polybutadiene sekarang di modern sudah hydroxyl toluen poly butadiene (HPTB).

        Nah negara2 lain itu tidak mau berbagi ilmu bahan bakar, jadi Lapan dengan anggaran seadanya pelan-pelan mengembangkan sendiri. Itu baru satu contoh, masih banyak lagi yg lain seperti control gain, sirip, booster, propelan, dll…. Itu anggaran bisa dibandingkan sendiri, kalau roket lama jaman pak dr. R. Sunaryo sekita tahun 80-an kita sudah uji sampai 300 km. kalau cuman terbang aja saya yakin sekarang lapan juga bisa, masalahnya yg dibuat sekarang itu roket yg bisa membawa muatan hingga berton-ton atau sonda dan bisa bermanuver. :mrgreen:

  18. Luar biasa..! Terima kasih untuk artikelnya, bung Jalo..! Saya gak lihat anggarannya, karena cuma bisa bikin sedih dan prihatin. Saya cuma lihat hasil karyanya, karena cuma itulah yang bisa membuat kita bangga. Meskipun anggaran Lapan sangat jauh berada di bawah anggaran Malaysia, tapi saya percaya dengan kemampuan ilmuwan kita yang berada jauh di atas kemampuan ilmuwan mereka. Saya tahu maksud anda tentang negara yang doyan klaim bisa buat satelit sendiri, dan saya juga tahu fakta sebenarnya. Di situ ada puluhan orang Indonesia yang sengaja dipekerjakan di bawah naungan para pensiunan jenderal ATM. Ketika karya mereka berhasil dirilis, maka nama sang jenderal itulah yang disebut dan melejit, sedangkan nama sang ilmuwan, tidak satupun yang disebut. Licik banget cara mereka..!

    • Siap terima kasih Bung yayan, mereka adalah dosen yg bekerja membantu mengenalkan ilmu antariksa ke Universitas2 di negara tersebut. Popularitas Jenderal tersebut sudah bisa dilhat, dan saya juga masih bingung dengan situs Angkasa. saya baca tulisan2 disitu dan rata2 kok semua tentang popularitas. Jadi bisa disimpulkan, skrg mereka sangat malu karena ulah mereka karena dikucilkan di komunitas. Dan banyak negara yg minder menjadi mitra kerjasama mereka, karena tetangga ya udah kita bantu. Saya sering bertemu beberapa orang yg belajar di kita, dan dia selalu mengeluh ulah pejabatnya. 😀

      • Betul bung..! Malaysia memang sedang kekurangan minat terhadap bidang science and technology. Jadi kementerian Risteknya berusaha untuk merangsang para pelajar untuk meminati bidang ini. Malaysia sedang melewati moment transformasi ekonomi. Mereka mencoba untuk keluar dari middle income trap. Salah satu hal yang akan menolong Malaysia adalah inovasi. Sedangkan inovasi hanya bisa diraih melalui penguasaan teknologi. Untuk itulah pemerintah di sana berusaha mengemas Iptek menjadi sesuatu yang menarik. Pengiriman cosmonot mereka ke ISS beberapa waktu lalu, semata-mata untuk menciptakan efek ‘Woooow..!’ tidak sunguh-sungguh dijadikan sebagai media pembelajaran. Buktinya, jurnal yang merangkum hasil penelitian sang cosmonoutnya, sampai hari ini gak selesai-selesai. Hehehe..! Sangat memalukan..!

        • Iya bung, sampai sekarang saya menunggu modul hasil plesiran tuh orang di luar bumi. Sampai sekarang bener belum ada perkembangannya, 😀

          minat terhadap bidang science and technology di negara kita juga sama bung Yayan. Masyarakat sekarang lebih berminat menjadi model, artis, jadi penyanyi, dll. Sekarang ada beberapa perguruan tinggi menunggu tindak lanjut Kemendikbud terkait program science and technology. Saya bingung, program yg diajuin sejak 2008 belum ada langkah pasti dari ini Kementrian. Dengan adanya program tersebut mudah2an bisa membantu pengenalan science and technology kepada generasi kita.

          • Korban industri hiburan bung Jalo, departemen pendidikan & kebudayaan saja tidak berkutik. Lihat saja tayangan di tipi, cara berpakaian & tingkah laku anak jaman sekarang, semuanya terkesan westernisasi. Saya benar – benar tepok jidat, apakah generasi kita benar sudah kehilangan jati diri kita?! Padahal lucunya, yang namanya artis walau kemasannya heboh nan ruar binasa, tetap saja sama sejatinya profesi penghibur (WTS juga penghibur lho. Dan anak-anak muda ini mengidolakan profesi penghibur lalu berlomba-lomba menjadi penghibur. Yang paling konyol, Ariel zinah dipuja-puja, Aa Gym nikah poligami resmi dihujat,… Lho jadi curhat haha

          • Iya bung, mungkin karena anak-anak sekarang dicekokin tayangan hiburan TV setiap hari, jadi mereka pada ngebet pengen kayak orang yang ada dalam TV itu. Siapa sih yang gak pengen punya wajah ganteng atau cantik, muda, kaya, pinter, rumah kayak istana, mobil mewah, bisnis dimana-mana, dan bla bla bla..! Tapi itu kan cuma sinetron..! Semoga kedepannya akan semakin banyak program pendidikan yang lebih bermanfaat. Zaman dulu, kita masih punya pak Habibie yang bisa dijadikan panutan oleh kaum muda. Mungkin sudah saatnya kita juga memunculkan tokoh-tokoh yang lebih muda untuk dijadikan figur baru dalam dunia pendidikan kita. Apa salahnya kalau kita angkat orang sekelas Ricky Elson, Ignatius Jonan, Emirsyah Satar, Anis Baswedan dan tokoh-tokoh muda lainnya yang berprestasi. Biar anak-anak kita tahu mau tumbuh seperti apa dan seperti siapa?

          • betul@bung stmj…
            di indonesia…orang yg nikah resmi ke dua kali di cemooh…giliran yang jadi “porno star” laku keras dan di sanjung,,,lucunya ga ada rasa malu nya…

            mirip koruuptor yang pas di tangkap..tersenyum manisbagai bintang film…dan di kawal bagai artis yang ga boleh lecet sedikit pun..

          • Bung STMJ : Itulah bung, setelah ekonomi sudah mulai turun perannya, asing menyerang kita melalui industri ini.

            Bung yayan : Benar bung yayan, saat ini saya sudah mulai lihat gelagat bahaya operasi plastik di negara kita. Saya mulai takutkan gaya Korea Selata yaitu operasi plastik bakalan ditiru masyarakat kita. Saat ini klinik seperti ini mulai ramai, saya cuman menunggu peran pemerintah aja karena info yg saya dengar ada yg mau menjadikan oeprasi plastik di UU-kan. bahayaaa.

            ya tokoh2 yg anda sebutkan benar, saat ini kita miskin tokoh tidak seperti di era 60-an.

          • Kali ini saya banyak mengamini om Jalo di artikel ini.. Saya setuju om, saya ingin pendidikan elektronika dasar sudah dikenalkan sejak SD dan menjadi mata pelajaran wajib. Baik siswa laki-laki atau perempuan mestinya paham akan elektronika dasar.

            Kalau yang hobi atau minat bisa dilanjut ke elektronika lanjutan, saat mereka masuk kejenjang setingkat SMP dan seterusnya (bisa digital, robotik, frekwensi, elektromekanik atau elektronika lanjutan yang lain).

            Yang tidak hobi/minat dengan elektronika, minimal saat mereka dewasa kelak, tahu perangkatnya rusak bagian apa.. jadi tidak ditipu oleh bengkel reparasi.. hehehe..

            Ini salah satu yang belum kesampaian ingin buat tempat kursus elektronika untuk anak setingkat sekolah dasar. Elektronika itu menyenangkan.. Dan perlunya memberi edukasi ke orang tua bahwa bekal pemahaman elektronika itu penting. Dulu waktu saya smp sudah bisa bikin pemancar, keponakan saya yang sma sekarang, elco singkatan apa dia tidak ngerti.. haduh..

            Maaf ngawur lagi 🙂

          • Saya sangat terharu dengan niat anda Bung STMJ. Saya sama seperti anda pengen membangun sekolah tapi sekarang masih mengumpulkan dulu, yang penting niat. Saat ini saya sedang sekolah lagi mengambil Teknik Penerbangan khusunya rancang bangun Pesawat Terbang. Ilmu yg saya dapat saya bagi lagi di kegiatan ekstrakulikuler di beberapa sekolah di Jabodetabek. Meski niat memiliki sekolah belum kesampaian, tapi mengajar itu ternyata mengasikan.. Sukses terus untuk niatnya Bung STMJ

          • Bung Jalo jika anda terharu saya malah tergugah dengan upaya anda, anda sudah mempraktikan ujung cita-cita anda, saya belum sama sekali. Harapan saya, jika setiap orang dari kita memberikan yang terbaik dalam bidang masing-masing, katakanlah apa yang dapat menghambat negeri ini untuk maju terdepan. Sukses selalu untuk tujuan anda bung Jalo, saya benar-benar mendoakan.

            Salam

          • Yang terpenting semangat bung STMJ, “A Vision Is An Achievable dream,”

            Saya juga selalu berdoa agar tujuan bung STMJ bisa terwujud. Amieen

          • Bung Jalo. Setuju.
            Sekedar komentar, nilai tambah ekonomi dari sektor services (termasuk di dalamnya mislanya industri pendidikan, wisata, hiburan, keuangan, produk kreatif) amat besar.
            Yang membuat banyak masyarakat dan terutama para pembuat kebijakan di sini keliru adalah, sektor itu berkembang pesat di negara maju mengikuti semacam pola sekuensial dan overlap, yakni dari negara agraris, berkembang ke industri (dimulai dari revolusi industri), dan sekarang ke services (mis: industri film, makanan cepat saji, departmen store).
            Artinya ketika mereka bergeser dari agro ke industri, agro mereka kuat, dan ada bagian industri yang berupa agro industri. Demikian pula ketika masuk ke services, industri mereka kuat dan ada bagian services yang menguatkan industrinya.
            Jadi kaki-kaki mereka kuat semua. Ini yang banyak dilupakan para pembuat kebijakan. Kita industrialisasi tapi agronya ditinggal. Hasilnya, bermacam produk pertanian sampai sekarang diimpor (di luar konteks kepentingan mafia impor). Sekarang mengembangkan ke services, lagi-lagi industri penuh dengan kandungan impor.
            Jadi, mau tidak mau, jika tak ingin terperangkap di middle income country, wajib penguatan industri, agro, dan services melalui penguasaan iptek, karena sumber keunggulan bangsa maju dari penguasaan iptek di semua bidang.

          • @bung Jalo, bung STMJ and Bung Ghi
            Saya kok kirang setuju dengan pendapat bahwa anak jaman sekarang lebih suka ke hiburan, model, celeb dll.
            Tidak boleh “gebyah uyah”…., sekarang khan kita juga sudah sangat sadar pendidikan berbasis kompentensi, kalau memang bakatnya acting, nyanyi, model dan seni menurut saya tidak masalah. Kita bisa meniru Korea dengan budaya KPOP nya bisa menghasilkan devisa yg luar biasa.
            Banyak juga anak-2 sekarang yg gila Bola, gila internet/hacker, gila Musik, dan banyak juga kok yang gila Belajar. Sekali kali googling gimana score nilai NEM UN anak-anak pintar itu hampir mendekati sempurna bukan hanya satu orang tapi banyak orang. Anak saya 3 orang mempunyai 3 kekuatan yg berbeda, 1 suka di science, 2 peraih ban kuning taekwondo usia 6 tahun, nomor 3 gemar balet n musik….. its OK ..

          • Bung Senopati, coba dibaca lebih teliti. Yang saya bilang, pembuat kebijakan tidak bisa mengembangkan suatu hal tanpa memperkuat yang lain. Saya tulis, nilai tambah di bisnis jasa semacam hiburan, wisata, keuangan, dll adalah amat besar. Tapi agar ekonomi kuat, strukturnya harus lengkap: agro, manufaktur, services, meski akan ada yang menjadi leading sector nya. Misalnya, amerika dikenal sebagai negara industri dan jasa, tetapi pertanian mereka juga kuat (meski tetap ada subsidi). Petani mereka hidup layak. Imo.

          • Jadi kurang lebih yang saya kira juga Bung Jalo ingin katakan (moga2 nggak salah .. hehe) adalah: ada yang kurang berimbang.
            Makanya saya tulis, bagaimana industri di sini masih tinggi import contentnya, bahkan pertanian bahan pangan harus impor. Menyoroti ketakseimbangan bukan berarti kita berayun pada kutub yang lain. Rasanya kita sama kok, tidak gebyah uyah. Wong saya dulu ingin jadi peman band .. heheh .. Imo.

        • Hehehe..! Maaf bung Kecik kalau selama ini mungkin anda menganggap saya cuek dengan sikap M’sia. Bukan cuek bung, tapi saya lebih suka menempatkan sesuatu pada tempatnya. Saya suka dan selalu siap untuk berdebat, tapi saya gak mau kalau hanya debat kusir. Gak ada gunanya..! Kebetulan tadi saya udah kirimkan artikel baru, semoga layak orbit dan bisa menjawab keraguan bung Kecik atas sikap cuek saya. Saya yakin nanti bung Kecik akan menilai saya sangat lain. Hehehe..! Kita tunggu aja jam tayangnya ya..

    • betul bung@yayanh..ga usah dalam bidang roket.. untuk ilmu kedokteran, teknik,fisip pun orang malaysia masih byk berguru dengan kuliah di indonesia, sebut saja ITB,UNPAD,disana byk mahasiswa malaysia belajar kedokteran dan teknik. boleh dibilang untuk tokoh tokoh politik malaysia sendiri rata rata belajar ilmu politik nya di indonesia.
      sedangkan ITB mereka mengambil teknik tambang dan perminyakan.

      jika ada waktu bung@yayan atau bung@jalo jln jln ke bandung ke dua kampus yang saya sebutkan diatas, pasti heran byk mahasiswa/mahasiswi malaysia kuliah dengan jurusan misal ilmu kedokteran dan ilmu politik UNPAD..mereka jika ditanyapasti akan menjawab lebih bergensi kuliah di indonesia daripada di malaysia.

      • Betul sekali bung..! Kebetulan saya punya seorang kenalan dari negara bagian Perak, Malaysia. Dia seorang politisi kondang di daerahnya. Di awal perkenalan saya, saya udah yakin duluan bila dia seorang lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Di depan nama dia tercantum titel Ir. (insinyur). Setelah saya usut, ternyata benar dia lulusan ITB. Dia masuk ITB melalui program khusus yang dijalin antara Dirjen Dikti dengan Kementerian Ristek Malaysia. Tujuh tahun kuliah, dia baru bisa lulus. Kalau di Malaysia, waktu tujuh tahun katanya udah bisa kuliah sampai post graduate atau S2, atau Master. Hehehe..! Tapi hanya dengan bergelar Ir dari ITB, dia masih merass lebih pintar dengan para lulusan dari universitas manapun, termasuk dengan adiknya yang lulusan Inggris..! Luar biasa bung..!

        • betul bgt bung@yayan..satu lagi..byk loh jajaaran petinggi UMNO itu lulusan indonesia,,,apalagi jajaran kementerian luar negeri nya..rata rata itu lulusan UI dan UNPAD ….dan mereka bangga bisa kuliah di indonesia..cuma saya heran kok skrng byk artis artis kita kuliah di malaysia dengan bangga hanya untuk ambil S1 jurusan komunikasi…ya..hahahaha 🙂 jas merah

          • Kalau kata orang sini yg penting gengsi

          • betul bung@jalo….cuma klo orang indonesia,,yang prnting wani piro…urusan lancar hehehhe

          • Selain gengsi, masuk perguruan tinggi di Malaysia gak ada ujian masuknya. Semua serba mudah. Yang ada cuma ujian untuk kelulusan. Kalau belum lulus, kita bisa terus mengikuti remidial teaching, sampai lulus atau sampai dosen pembimbing kita bosan. Kalau udah bosan, nanti dosen akan bilang, udah deh kamu lulus. Banyak perguruan tinggi di Malaysia yang cuma numpang kesohor pada PT yang ada di UK. Mereka cuma nyediain kelas untuk belajar. Kalau laboratoriumnya, saya jamin masih lebih bagus laboratorium di STM Pembangunan, Bandung. Hehehe..! Maaf, kebetulan saya pernah mewakili paman saya yang menyekolahkan anaknya di STM Pembangunan Bandung, Jalan Leuwigajah, Cimahi. Saya kaget, STM aja luasnya hampir sama dengan perguruan tinggi. Seandainya, sekolah-sekolah di Indonesia bisa seluas itu, saya yakin akan begitu banyak karya anak bangsa yang mengorbit di angkasa. Kalau dengan anggaran yang sudah 20% dari APBN, saya yakin bukan hal yang susah jika pihak Diknas mendirikan sekolah minimal sekelas STM Pembangunan Bandung itu di setiap Kabupaten. Gak usah muluk-muluk, setiap tahun minimal 5 sekolah aja. Udah lumayan tuh, lama-lama jadi banyak juga. Sayang, saya bukan mendikbud..

        • Sekedar isu dari Puterajaya saja. Menekan Indonesia dalam kasus TKI sebenarnya hanya taktik Malaysia, untuk mengupgrade kualitas SDM Indonesia yang dikirim ke Malaysia. Mereka ingin yang datang itu para ahli yang terdidik, yang mereka tahu sangat banyak terdapat di Indonesia. Selain itu, mereka juga iri, kenapa tenaga-tenaga profesional kita gak menjadikan Malaysia sebagai negara pilihan mereka untuk berkarya. Sepengetahuan pemerintah Malaysia, tenaga profesional kita lebih memilih Singapore, Jepang, Korea, Taiwan, Australia, Brunei, Eropa dan Timur Tengah. Jadi sebenarnya mereka itu agak berkecil hati dengan sikap para profesional kita, merasa gak dilirik..! Hehehe..!

        • Bung Yayan, betul nggak kira-kira kalau kelebihan orang Malaysia adalah kemampuan mengemas, mengelola. Dan di situ juga secara relatif kita masih kalah. Plus satu, kalau kita bisa tekan korupsi, rasanya tinggal tunggu waktu bangsa ini akan leading menuju empat besar negara dengan ekonomi terbesar.

  19. Bung yayan jangan sewot, kalau kita bekerja pada orang lain itu resikonya.ibarat kalau tuan makan daging kita dapat tulang.makanya usaha sendiri oke!

    • Siiip..! Setuju bung..! Maju terus pantang mundur. Kalau bisa jangan alon-alon, biar cepat kelakon. Hehehe..! Salam hangat bung..!

  20. salam kenal semua penghuni JKGR dan sesepuh..ikut nyimak ulasan2 nya..saya pecinta militer sayang kurang bisa berkomentar..

  21. Ajib.. LAPAN Dr tahun 1963 pe 2014 belum menghasilkan apa2, cm prototype2 doang. Ga tau LAPAN-nya yg stagnan apa pemerintah yg pelit ngasih dana penelitiannya (duitnya lebih di utamakan utk parpol)?

    • bung@nino….siapa bilang dari tahun 1963-2014 LAPAN belum menghasilkan apa apa?dan cuma prototipe…coba baca lagi artikel artikel di mbah gogle….jika hanya prototipe tidak akan di uji coba dan di kembangkan dengan banyak versi. berikut “mainan” yang telah dihasilkan LAPAn
      1.satelit nano,satelit cuaca,satelit radar sipil,militer,satelit A1 ,A2,sadewa,
      2.roket RHAN /RX 110,220,350,420,450,550,,roket peluncur satelit,rudal jarak pendek dan menengah
      3.UAV tanpa awak.
      4.rudal jarak jauh 100-1000km
      5.sistem radar penginderaan jarak jauh

      dan masih byk lagi yang bukan prototipe…..

      • 4.rudal jarak jauh 100-1000km —> yg ini anggap aja masih prototipe bung Telik… :mrgreen:

        Intinya bung Nino, ada satu roket yg sudah bisa terbang sampai segitu (nah ketinggian dan jarak berapa saya gak tahu :mrgreen: )cuman yg dikembangkan skrg itu yg bisa bawa muatan (sonda) berton-ton dan bisa manuver :mrgreen: kan kita mau bawa satelit 50-100 kg (untuk satu roket satelitnya lebih dari 2) 😀

  22. wah.. pingin lihat penampakan rudal 100-1000km
    nya lapan bung TS..pasti mantap…

  23. @bung jalo
    untuh Rhan apakah diproduksi pindad? kalo emang dibawah pindad apakah ga keteteran dengan banyaknya proyek yang ditangani pindad? setau saya lapan kan hanya sampai pengembangan saja, dan konsorsium roket yang terdiri dari beberapa instansi tugasnya sejauh mana,
    sayang sekali kalo proyek 1000 roket terkendala di bagian produksinya.

    maap kalo pertannyaan nya udah pernah dibahas..

    • Iya bener di produksi Pindad dibantu PT Dahana, PT KS, dan beberapa mitra lainnya yg tergabung dalam konsorsium roket nasional. Jadi ghini bung, di Pindad itu ada Divisi2nya, seperti untuk militer ada divisi Senjata, kendaraan militer, amunisi dan divisi Roket dan rudal. Lalu untuk non-militer ada produk Air brake prods, Peralatan kelautan, dll.

      Jadi sudah ada bagian masing2 yg mengurus itu, seperti TNI AU mengurus lini udara, TNI AL mengurus masalah laut dan TNI AD mengurus di wilayah darat kita. Setahu saya masalah yg dihadapi sekarang adalah masalah komponennya, karena rata2 materialnya masih import.Rencananya PT KS mau membantu menyediakan material tersebut tapi harus RnD atau ToT dengan negara lain. Sayangnya hingga kini belum ada respon dari pemerintah pusat, lalu rencana mau buat pabrik propelan di PT Dahana, hingga kini belum disetujuin oleh DPR.

      • thanks bung jalo, jadi pindad SDMny masih OK ya dengan banyaknya proyek/target? saya berpikiran gimana kalo produksi untuk beberapa komponennya diberikan ke pihak swasta tapi perakitan akhir tetap oleh pindad untuk mempercepat produksi dan memberdayakan industri lokal jadi industri pertahanan bisa lebih diminati lagi, tapi kalo emang masalahnya belum ada respon dari pusat (peraturan/UU) ya mau apa lagi…

        • SDM-nya juga perlu diperhatikan terutama yg memiliki kompetensi khusus dan juga memang SDM pindad juga terbatas. Nah yg saya tulis diatas soal mitra2 lain disitu termasuk swasta. Jadi bahasanya untuk masalah produksi Pindad diberikan tanggung jawab sebagai Lead Integrator dan merangkul beberapa perusahaan lain bisa swasta atau negeri. 😀

 Leave a Reply