Sekilas Serangan Kejutan – Pearl Harbour 7 Desember 1941

Kekuatan Perang AL & Para Komandan

Pihak AS :
Terdiri dari 8 kapal perang, 8 kapal penjelajah, 30 kapal perusak, 4 kapal selam, dan 49 kapal lainnya..

Komandan :
Admiral Husband Kimmel, Mayor Jenderal Walter Short

Pihak Jepang :
Terdiri dari 6 kapal induk, 2 kapal perang, 2 kapal penjelajah berat, 1 kapal penjelajah ringan, 9 kapal perusak..

Komandan :
Laksamana Isoroku Yamamoto

Sekilas Latar Belakang – Serangan ke Pearl Harbour

Pada akhir tahun 1930-an, opini publik Amerika mulai bergeser ke arah perlawanan terhadap Jepang sebagai bangsa yang melakukan perang secara brutal di China dan menenggelamkan sebuah kapal perang Angkatan Laut AS. Kekhawatiran semakin meningkat terhadap kebijakan ekspansionis Jepang. Maka pada bulan Agustus 1941, Amerika Serikat, Inggris, dan Hindia Belanda mulai melakukan embargo minyak dan baja kepada Jepang. Embargo minyak oleh AS menyebabkan krisis di Jepang yang sangat bergantung pada minyak AS sebesar 80%. Jepang dipaksa untuk memutuskan diantara apakah menarik pasukan dari China, melakukan bernegosiasi untuk mengakhiri konflik, atau pergi berperang di tempat lain untuk mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan.

Dalam upaya untuk mengatasi situasi ini, Perdana Menteri Jepang, Fumimaro Konoe telah meminta Presiden Franklin Roosevelt untuk bertemu untuk membahas masalah yang dihadapi. Akan tetapi Jepang telah diberitahu bahwa pertemuan / konferensi tersebut tidak dapat dilangsungkan hingga Jepang angkat kaki dari China. Selagi Konoe sibuk mencari solusi diplomatik, militer mereka mulai melihat dan mencari ke arah selatan ke Hindia Belanda dengan sumber daya mereka yang kaya akan minyak dan karet. bila serangan di wilayah ini dilakukan maka dipercayai AS akan menyatakan perang. Dan mereka (Jepang) mulai merencanakan untuk kemungkinan seperti itu. Pada tanggal 16 Oktober, setelah melakukan perdebatan untuk mengulur lebih banyak waktu bernegosiasi, Konoe mengundurkan diri dan digantikan oleh pro-militer Jenderal Hideki Tojo.

Admiral Isoroku Yamamoto
Commander-in-Chief,
Japanese Combined Fleet.

Merencanakan Serangan

Pada awal 1941, Laksamana Isoroku Yamamoto, komandan Armada Gabungan Jepang, telah menginstruksikan para perwiranya untuk memulai perencanaan serangan preemtive terhadap Armada Pasifik AS di pangkalan baru mereka di Pearl Harbor, Hawaii. Ia percaya bahwa pasukan Amerika harus dinetralisir terlebih dahulu sebelum invasi ke Hindia Belanda bisa dimulai. Belajar dari sebuah pengalaman serangan Inggris yang sukses di Taranto tahun 1940, Kapten Minoru Genda menyusun rencana dan menyerukan pesawat tempur dari enam kapal induk untuk menyerang pangkalan Pearl Harbour.

Pada pertengahan tahun 1941, pelatihan untuk misi itu berlangsung dan segala usaha dilakukan untuk mengadaptasikan torpedo agar bisa berguna dengan baik di perairan dangkal Pearl Harbor. Pada bulan Oktober, Staf Umum AL Jepang (KSAL) menyetujui rencana akhir Yamamoto yang menyerukan serangan udara dan penggunaan 5 kapal selam Tipe-A midget. Pada tanggal 5 November seiring usaha diplomatik terhadap AS cenderung gagal, Kaisar Hirohito memberikan persetujuan untuk misi penyerangan. Kaisar memiliki wewenang untuk memberikan izin, Ia pun berhak untuk membatalkan misi jika upaya diplomatik berhasil. Setelah negosiasi terus mengalami kegagalan, maka Ia memberikan otorisasi terakhirnya pada tanggal 1 Desember.

Dalam misi penyerangan, Yamamoto berusaha untuk mengeliminasi ancaman terhadap misi Jepang ke selatan dan meletakkan dasar strategi untuk meraih kemenangan cepat sebelum AS dapat memobilisasi kekuatan industrinya untuk perang. Pengerahan dari Tankan Bay, Kepulauan Kuril, kekuatan serangan utama terdiri dari kapal induk Akagi, Hiryu, Kaga, Shokaku, Zuikaku, Soryu serta 24 kapal perang pendukung yang berada di bawah komando Laksamana Madya Chuichi Nagumo. Mengarungi lautan pada tanggal 26 November, Nagumo menghindari jalur pelayaran utama dan berhasil menyeberangi Pasifik utara tanpa terdeteksi.

“Tanggal di mana Kenangan Buruk Akan Selalu Diingat”

Dalam pergerakan Nagumo tersebut, sebagian besar armada pasifik Laksamana Husband Kimmel berada di pelabuhan (Pearl Harbor) meskipun tiga pesawat induknya nya berada di laut. Meskipun ketegangan dengan Jepang semakin meningkat, namun serangan di Pearl Harbor sangat tidak terduga. Meskipun sebelumnya mitra Kimmel, yaitu Mayor Jenderal Walter Short, telah mengambil tindakan pencegahan anti-sabotase. Salah satunya termasuk penjagaan ketat parkir pesawatnya di lapangan udara di pulau itu. Di laut, Nagumo mulai melancarkan gelombang serangan pertamanya dari 181 pembom torpedo, pengebom selam torpedo, pesawat pembom dari udara, dan pesawat tempur pada sekitar pukul 06:00 tanggal 7 Desember.

Dalam upaya mendukung pesawat, kapal selam midget juga telah diluncurkan. Salah satunya terlihat oleh kapal penyapu ranjau USS Condor pada pukul 3:42 diluar Pearl Harbor. Setelah mendapat peringatan dari Condor, kapal perusak USS Ward segera bergerak untuk mencegat dan menenggelamkan KS midget tersebut sekitar pukul 6:37. Seiring armada pesawat Nagumo yang mendekat, dan telah terdeteksi oleh stasiun radar baru di Opana Point. Namun sinyal salah dinterprestasikan sebagai pesawat-pesawat pembom B-17 yang tiba dari Amerika Serikat. dan pada pukul 07:48, pesawat Jepang tiba di Oahu.

Sementara pesawat pembom dan pesawat pembom torpedo diperintahkan untuk menyerang target yang bernilai tinggi seperti kapal perang dan kapal induk, maka pesawat tempur diperintahkan untuk menyerang lapangan udara sebagai upaya untuk mencegah pesawat tempur Amerika melakukan serangan balik. Dalam misi penyerangan ini, gelombang pertama menghantam Pearl Harbor serta lapangan udara di Ford Island, Hickam, Wheeler, Ewa, dan Kaneohe. Mendapat efek kejutan secara lengkap, pesawat Jepang yang menargetkan delapan kapal perang armada pasifik. Dan dalam beberapa menit, tujuh kapal perang yang bersandar sejajar sepanjang Ford Island telah di bom dan di torpedo.

Setelah USS West Virginia tenggelam dengan cepat, USS Oklahoma terbalik sebelum meyentuh dermaga. Sekitar pukul 08:10, bom armor-piercing menembus bagian depan USS Arizona dan menghasilkan ledakan dahsyat sehingga menggelamkan kapal dan menewaskan 1.177 orang. Sekitar pukul 08:30 ada jeda tenang dalam serangan itu sebagai gelombang pertama. Meski mengalami kerusakan, USS Nevada berusaha untuk bisa bergerak maju dan keluar dari pelabuhan seiring gelombang serangan kedua dari 171 pesawat pun tiba. Dan cepat menjadi fokus dari serangan Jepang, USS Nevada mendamparkan dirinya di Hospital Point untuk menghindari pemblokiran pintu masuk yang sempit di Pearl Harbor.

Di pertempuran udara, perlawanan Amerika telah terabaikan karena Jepang telah menyerbu habis pulau tersebut. Sementara unsur-unsur gelombang kedua menggempur pelabuhan, yang lain terus menghancurkan pangkalan udara Amerika. Serangan gelombang kedua ini menarik diri sekitar pukul 10.00 pagi, Genda dan Kapten Mitsuo Fuchida melobi Nagumo untuk melancarkan gelombang ketiga untuk menghancurkan gudang amunisi dan area penyimpanan minyak, serta fasilitas-fasilitas perbaikan. Namun Nagumo menolak permintaan mereka karena kekhawatiran bahan bakar yang terbatas, lokasi kapal induk AS yang tidak diketahui keberadaannya dan fakta bahwa armada mereka berada diluar jangkauan pembom darat.

Hasil Akhir…

Dalam upaya pemulihan pesawatnya, Nagumo meninggalkan daerah itu dan mulai ke arah barat menuju Jepang. Dalam serangan tersebut Jepang kehilangan 29 pesawat dan lima kapal selam midget. Sementara korban tewas berjumlah 64 dan satu tertangkap. Sedangkan di Pearl Harbor, 21 kapal Amerika telah tenggelam atau rusak parah. sementara kapal perang Armada Pasifik, sejumlah 4 kapal perang tenggelam dan 4 kapal rusak parah. Seiring dengan kerugian dan kehancuran yang dialami angkatan laut, total 188 pesawat telah hancur dan sebanyak 159 rusak. Korban di pihak AS mencapai 2.403 tewas dan 1.178 terluka.

Meskipun kerugian yang dialami sangat besar, kapal-kapal induk AS yang telah hadir dan tetap sedia untuk melanjutkan perang. Disamping itu fasilitas-fasilitas di Pearl Harbor yang sebagian besar tidak mengalami kerusakan dan mampu untuk mendukung upaya penyelamatan di Pearl Harbor maupun misi operasi di luar. Beberapa bulan setelah serangan itu, para personel Angkatan Laut AS berhasil mengangkat banyak kapal yang kalah dalam serangan itu. Selanjutnya mereka kirim ke galangan kapal, untuk diperbaiki dan diperbarui untuk kembali beraksi. Beberapa kapal perang yang kembali beraksi memainkan peran kunci dalam Pertempuran Teluk Leyte tahun 1944. Bersambung… (by PapaAugusta)

sumber: militaryhistory

Tinggalkan komentar