Sep 172018
 

Jakartagreater.com – Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg mengakui bahwa perselisihan AS-Turki atas sistem pertahanan udara Rusia kini dapat diselesaikan, dirilis Sputniknews.com pada Minggu 16-9-2018.

Keputusan Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia adalah “keputusan nasional”, ujar Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada 14 September 2018.

“Ini adalah tantangan dan sudah diketahui bahwa ada perselisihan antara Turki dan Amerika Serikat dalam masalah ini,” kata Jens Stoltenberg di lembaga think tank Heritage Foundation konservatif di Washington DC, menurut Hurriyet.

Pemimpin NATO mencatat bahwa, sejauh menyangkut aliansinya, satu-satunya hal yang penting adalah bahwa “sistem yang berbeda dapat padu bekerja bersama.”

Jens Stoltenberg mencatat bahwa “Turki adalah sekutu yang sangat penting bagi NATO, karena banyak alasan,” dan menekankan pentingnya mengakui kontribusi Ankara bagi AS dan operasi yang dipimpin aliansi di seluruh dunia.

“Turki juga penting ketika berhadapan dengan krisis migran dan pengungsi. Mereka menampung jutaan pengungsi, dan mereka penting untuk menerapkan kesepakatan antara UE dan Turki dalam mengelola aliran migran di Laut Aegea,” kata Jens Stoltenburg.

Dia juga mencatat bahwa Turki telah menderita, dengan jumlah besar, jumlah serangan teroris tertinggi, serta upaya kudeta yang gagal.

“Jadi, ya ada masalah, ada tantangan, dengan keputusan membeli S-400 yang dikombinasikan dengan F-35. Saya menyambut baik dialog, tetapi pada saat yang sama penting untuk mengenali pentingnya bahwa Turki bermain ke seluruh aliansi, “tambah Jeans Stoltenburg.

Pada bulan Juli 2018, Senat AS meloloskan undang-undang yang membatasi penjualan Jet tempur siluman F-35 buatan AS ke Turki karena keputusan Ankara untuk membeli sistem S-400. Para penentang di AS dari kesepakatan S-400 berpendapat bahwa pembelian sistem Rudal anti-pesawat buatan Rusia akan menarik Turki lebih dalam ke dalam lingkup pengaruh Moskow yang semakin meningkat di Timur Tengah.

Menurut laporan Washington Times, keputusan untuk membeli sistem Rusia dibuat sebagian karena frustrasi Ankara atas dukungan Washington terhadap kelompok militan Kurdi yang memerangi Daesh di Suriah.