Feb 252018
 

S-400, sistem pertahanan udara generasi baru Rusia. © Vitaliy Ragulin via wikimedia.org

JakartaGreater.com – NATO masih belum menerima permintaan dari pihak Turki untuk mengintegrasikan sistem pertahanan rudal S-400 asal Rusia, dengan blok pertahanan Pan-Atlantik, tutur Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, sebagaimana di lansir dari laman Hurriyet Daily.

“Saya sadar bahwa Turki telah membuat kesepakatan atau mereka telah mengumumkan niat untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia. Itu keputusan nasional Turki. Yang penting bagi NATO adalah apakah akan diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan udara NATO. Tetapi tidak ada permintaan untuk itu”, kata Stoltenberg.

Stoltenberg menjelaskan bahwa tak perlu dikatakan bila ini akan menjadi masalah yang rumit, karena sistem pertahanan udara itu Rusia tidak akan dapat dioperasikan dengan sistem pertahanan udara NATO.

Setelah menyatakan keprihatinan atas kesepakatan sistem S-400 dengan Rusia, kepala militer NATO mengingatkan bila langkah Turki untuk bekerja sama dengan dua sekutu Eropa-NATO untuk sistem serupa pada November tahun lalu.

Turki telah menandatangani letter of intent (LoI) dengan pemerintah Prancis dan Italia untuk memperkuat kerjasama dalam proyek pertahanan. Sebagai langkah awal untuk itu, konsorsium EUROSAM Prancis-Italia dan perusahaan Turki akan mengembangkan sistem yang berbasis pada sistem rudal SAMP-T.

Tetapi pada saat yang sama Stoltenberg menyambut baik kenyataan bahwa Turki juga telah menandatangani sebuah MoU dengan konsorsium industri Italia-Prancis, yang di sebut Eurosam yang sekarang sedang mengembangkan atau melihat peluang menjual sistem pertahanan SAMP-T ke Eropa.

Bagikan: