Senator AS: Turki Melewati Garis Merah ketika Mulai Uji S-400

Washington, Jakartagreater.com – Turki telah melewati ‘garis merah lain’ dengan memulai pengujian sistem deteksi radar yang dibeli dari Rusia sebagai bagian dari sistem pertahanan Rudal S-400, kata Senator AS untuk Maryland Christopher Van Hollen.

“Dua minggu setelah kunjungan WH [Gedung Putih] -nya, (Presiden Turki Recep Tayyip) Erdogan “thumbing his nose” (tidak respek) pada Trump, AS + NATO, dan melewati garis merah lain pada S-400,” kata Van Hollen dalam sebuah posting Twitter, melampirkan artikel tentang masalah ini, dirilis TASS, 26-11-2019.

“Hukum yang ada mengharuskan Trump untuk menjatuhkan sanksi. Pompeo juga harus menghadapi Turki tentang pelanggaran ‘zona aman’ terbaru dan serangan terhadap Kurdi,” tambah senator AS itu.

Pentagon menolak mengomentari apakah personel AS mengambil bagian dalam uji coba sistem S-400 Turki, yang sebelumnya dimulai dengan menggunakan Jet tempur F-16 buatan AS.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada 19 November 2019 dia memberitahu Presiden AS Donald Trump bahwa Ankara tidak akan menyerahkan sistem S-400 buatan Rusia.

Rusia mengumumkan pada September 2017 bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan 2,5 miliar dolar dengan Turki untuk pengiriman sistem Rudal anti-pesawat S-400 ke Ankara. Berdasarkan kontrak, Ankara akan mendapatkan satu set Resimen Sistem Rudal pertahanan udara S-400 (2 Batalion). Kesepakatan itu juga mempertimbangkan transfer sebagian teknologi produksi ke pihak Turki.

Turki adalah negara anggota NATO pertama yang membeli Sistem Rudal pertahanan udara dari Rusia. Pengiriman sistem pertahanan udara S-400 ke Turki dimulai pada 12 Juli 2019.

Amerika Serikat dan NATO berusaha mencegah Turki membeli Sistem Rudal S-400 Rusia. Washington memperingatkan bahwa mereka mungkin akan menjatuhkan sanksi pada Turki, jika Ankara mendesak maju dengan kesepakatan S-400.

3 pemikiran pada “Senator AS: Turki Melewati Garis Merah ketika Mulai Uji S-400”

  1. Mungkin memang S-400 benar2 ampuh, atau USA yang terlalu kawatir atau memang karena USA tidak mau pangsa pasar militer mereka terdegradasi akibat pembangkangan Turki… benar2 rumit… sedangan Russia terlihat baik2 saja meskipun sudah berusaha di tekan habis2an oleh USA… Apa yang terjadi di Suriah benar2 antiklimaks terhadap USA, bahkan akibat dari konflik Suriah justru berakibat Turki malah merapat kepada kompetitor abadi mereka… mungkin seharusnya USA bereaksi cepat seperti ketika Arab Saudi tertarik membeli S-400 dari Russia, USA langsung bereaksi menyetujui penjualan THAAD kepada Arab Saudi… tapi mungkin untuk kasus Turki semuanya sudah terlambat… yang pasti dalam kasus Turki Russia yang menang banyak… apalagi dengan kasus Aramco Arab Saudi seperti membuat promosi gratisan bagi sistem pertahanan Russia yang di Suriah terlihat lebih mampu…

Tinggalkan komentar