Seperti Apa Wujud Tank ‘Misterius’ Buatan Pindad?

74
88

Liputan6.com, Bandung – Pemerintah menyiapkan 7 program kemandirian industri pertahanan (inhan) yakni Pengembangan Pesawat tempur (KFX/IFX), Roket dan Rudal Nasional, Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR), Kapal Selam, Pembangunan Industri Propelan, Radar Nasional dan Tank Nasional.

Sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Inhan, untuk Lead Integrator dipercayakan kepada perusahaan pelat merah yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Industri Strategis. Salah perusahaan tersebut adalah PT Pindad, yang dipercayakan menangani program Tank Nasional.

Direktur Operasi Produk Hankam PT Pindad, Tri Hardjono mengatakan, pihaknya telah menyiapkan konsep pembuatan kendaraan tempur lapis baja menggunakan roda rantai ini.

Konsep awal akan dilakukan untuk membangun tank ukuran sedang bersama sejumlah mitra luar negeri, salah satunya Perusahaan Kontraktor Militer FNSS asal Turki. Sesuai dengan kondisi geografis, bobot tank dipilih tidak boleh lebih dari 30 ton.

“Tank medium itu kita diminta untuk mengkoordinir seluruh aktivitas, desain engineering maupun sourching itu yang kita lakukan dengan FNSS. Rencananya itu adalah penelitian bersama dan produk sharing bersama. Harapannya Pindad punya pakar, baik di dalam negeri maupun kawasan sekitar,” ucap Tri kepada Liputan6.com di kantornya, Bandung, Jawa Barat.

Untuk Turret system, PT Pindad sudah menyiapkan 3 pilihan yaitu Cockerill Maintenance & Ingenierie (CMI) Belgia, Oto Melara asal Italia dan Denel Land System asal Afrika Selatan. Sedangkan untuk mesin pemilihan dari Negara di Eropa salah satunya dari industri pertahanan Perancis.

“Ini juga ada beberapa alternatif, karena kita sudah putuskan medium tank ini menggunakan 105mm, kita punya tiga alternatif yang bisa menyuplai 105 mm. Ada CMI, Oto Melara, Ada denel. Itu juga kita ajukan kepada pihak kementerian kepada KKIP, kepada user, terkait kelebihan dan kekurangan dari masing-masing kanon turret ini,” papar Tri.

“Teman-teman sudah memiliki beberapa alternatif. Itu ada 3 pilihan untuk engine. Sesuai dengan pengalaman, kita lebih mudah menggunakan produk Eropa. Di sana mereka telah memiliki berbagai varian, di mana engine itu juga digunakan untuk komersil,” imbuh dia.

Selain bobot yang menjadi syarat utama, sejumlah pra-syarat juga harus dipenuhi desainer PT Pindad dan FNSS seperti Silhouette (bayangan). Hal ini dilakukan agar tank mudah bersembunyi saat berada di medan perang.

“Konsep produknya dari Pindad, kita sudah memberikan desain-desain bahwa tinggi tidak boleh lebih dari 2,5 meter di atas kanon kayak gitu-gitu dari Pindad. Kemudian, performance seperti apa itu juga dari Indonesia. Itu yang kita mengembangkan kerjasama dengan mereka, bahwasanya penentuan sumber sourching contohnya Power Pack, Engine. Itukan sangat menentukan pada saat nanti kemudian maintenance dan sebagainya. Itu juga kita memberikan masukan,” terangnya.

Tank medium buatan Pindad ini akan selesai pada Tahun 2016. Pindad berharap tank medium dapat membantu kebutuhan alat utama sistem alat utama sistem senjata (alutsista) TNI yang telah berumur uzur.

“Bapak KSAD juga sudah mengharapkan Pindad segera mengeluarkan roda rantai, karena penggunaan dan kebutuhan berbeda. Medium tank, karena ini pendanaan dari Negara ya dari Kementrian harapannya dalam 3 tahun APBN itu bisa diselesaikan,” tandas Tri. (Ein)

(Rizki Gunawan)

Sumber : Liputan6.com

74 COMMENTS

  1. Perkiraan saya, kalo menggunakan meriam kal.105 mm, maka pasti sama dengan model meriam yang di pergunakan tank medium amx yang sedang di up-grade oleh PT PINDAD sekarang ini. Karena akan lebih memudahkan dalam hal maintenance juga menggunakan peluru yang sama sehingga peluru tersebut dapat diproduksi masal. Bukankan PT PINDAD juga sedang proses kerjasama untuk membuat peluru 105 mm? Just my opinion ,,,

  2. kalau pake teknologi meriam dari otto melara pasti jd gahar nih tank medium pindad, wlw cm 105mm tp yg menakutkan itu tembakannya itu loh gak nahan, auto loadingnya sanggup menembak berkali2 tanpa jedah hingga hbs satu magazin, wow hebat.. trs peluru cal 105mm sdh bisa diproduksi pindad di desa turen malang jatim dgn hny satu line produksi bisa dihasilkan sehari 1,5 ton bubuk peledak/tnt yg jk dibuatkan ke peluru meriam cal 105mm dpt menghasilkan sekitar 700an peluru HE. utk jenis peluru anti armor (armour-piercing fin stabilized discading sabot) apfsds semoga pindad jg segera memproduksinya wlw msh terkendala dari bahan baku piercingnya yg seperti linggis terbuat dari titanium diperkeras bs diimport dari china yg lbh murah atw sekalian sj lgsg import ketambangnya om putin yg melimpah dgn kandungan titanium di rusia. akhir kata, Maju trs pindad dan industri dalam negeri kita utk kemajuan Indonesia tercinta. salam dari anak negara..

  3. Dlm triumvirat desain tank ada tiga hal yg menjadi patokan:daya pukul (kaliber meriam),kecepatan (mesin dan olah gerak) dan daya tahan (armor)…ketiganya saling bertolak belakang namun saling berkaitan…kita cm bs mengutamakan dua hal namun harus mengorbankan satu hal…

    Kalau kita memilih tank yg gesit kita dan berdaya pukul maksimal kita harus mengorbankan armornya agar ringan…

    Jika kita memilih daya pukul dan armor kita harus mengorbankan kecepatannya…

    Jika kita memilih kecepatan dan armor maka kita harus mengorbankan daya pukulnya…

    Dari uraian di atas dgn bobot 30 ton tampak TNI mengutamakan daya pukul dan kecepatan…maka sdh dapat dipastikan armornya yg dikorbankan….

  4. otomelara hitfact 105

    HITFACT® 105-120MM
    Share
    HITFACT® 105-120mm
    HITFACT® is a three-man, power operated turret armed with a 105mm/52 calibre or 120mm/ 45 calibre low-recoil force gun, intended for installation on light or medium weight tanks and wheeled or tracked tank destroyers. Due to its light weight and the low recoil force of the gun, the turret can provide the fire power of a main battle tank with great accuracy, without impairing the tactical and strategic characteristics of mobility of the vehicles.

    A hydraulic, recoil-counter-recoil system and a multi-baffle, high efficiency muzzle brake minimize the recoil force and prevent any excessive stress on the turret structure.

    The turret frame is made of ballistic aluminium alloy; steel armour plates and composite material are installed to reach the required protection level. The main armament consists of either a 105mm/52 calibre or 120mm/45 calibre gun, both responding to NATO standard ballistic. The 105mm barrel is rifled with right hand twist and the 12Omm barrel is smooth bore. The barrel is autofrettaged. A bore evacuator, for quick self-cleaning of the barrel after each fire action, and a thermal jacket to avoid strains due to temperature variations, complete the barrel configuration.

    The turret is fitted for receiving a secondary armament composed of a 7,62mm machine gun coaxially mounted, a 7,62mm or a 12,7mm machine gun pintle mounted, and a set of Smoke Grenade Launcher (SGL) (option).

    The HITFACT® digital FCS includes gunner’s self-stabilized Day and night IR thermal cameras with integral eye-safe laser rangefinder, a meteo and a vertical reference sensor suite, a Laser Warning (LW) (option) and a Day optical sight, as a back-up.

    The Commander can control the turret and gun movements and can perform the target search and detection, irrespective of the turret traversing movements, through either the self stabilized Panoramic sight with Day TV camera and IR Camera including situational awareness and full hunter capability modules or the Turret on Turret (optional) which combines the Day and Night vision with the remote use of a 7.62mm machine gun.

    The turret is open to install different types of panoramic sight, tailored according to customer needs.
    http://www.otomelara.it/products-services/landsystems/hitfact-105-120mm

    CMI – Belgium Cockerill CT-CV 105HP

    The benchmark in large calibre weapon systems

    The Cockerill CT-CV 105HP turret integrates the Cockerill 105mm high-pressure gun with an advanced autoloader to deliver high lethality at very light weight. Able to fire the long-range Falarick 105 Gun-Launched Anti-Tank Guided Missile (GLATGM) and possessing unusually high gun elevation range, the system is designed to deliver a remarkably broad spectrum of operational capability.

    Accurate – Innovative – Powerful

    The Cockerill 105mm high pressure gun provides commanders with a wide choice of ammunition to suit the tactical situation; it fires all NATO-standard 105mm types and the Falarick 105 GLATGM. Elevating to +42° this weapon delivers exceptional engagement capability in complex terrain, an indirect-fire HE capability to 10km range, and the GLATGM permits heavy armour to be defeated at ranges in excess of 5 km. The main gun is employed using a high performance, digital, fully-stabilised, day/night weapon control system. Turret weight is kept low through the use of a bustle-mounted autoloader, which permits a two-person crew.

    The Cockerill CT-CV 105HP turret delivers highly flexible, precise, organic fire-support to high-mobility forces. Applicable to both tracked and wheeled vehicles, the system provides direct and indirect engagement when moving, by day and by night. Organic fire-support vehicles are an essential component of the modern high-mobility force. In meeting this requirement, the combined mobility, lethality, engagement envelope and operational flexibility of the Cockerill CT-CV 105HP turret is unrivalled.
    http://www.cmigroupe.com/en/p/cockerill-ct-cv-105hp

    Denel Land System
    GT 7 Tank Gun

    A Low recoil 105 mm gun suitable for lighter vehicles.
    The standard production Reumech OMC Rooikat (8 x 8) armoured car used by the South African Armoured Corps is armed with the LIW 76 mm gun (GT 4) which is covered in a later entry.

    For the export market a version of the Rooikat armed with a 105 mm rifled gun designated the GT 7 has been developed to the prototype stage with the first vehicle commencing trials early in 1992.

    By 1999, two prototypes of the Rooikat 105 mm armoured car had been built and tested but no firm orders have so far been placed for this vehicle.

    The GT 7 long recoil gun uses the standard L7 barrel mated to a new long recoil system developed by LIW, with the L7 monobloc forged barrel being autofrettaged for enhanced service life.

    The rifled GT 7 barrel is fitted with a lightweight glass fibre thermal sleeve and a fume extractor, it fires all standard types of 105 mm tank gun ammunition which are fired by the original UK L7 tank gun and its US version, the M68.

    Although the first application of the GT 7 is the Rooikat, it has been designed to be installed in other vehicles. The welded cradle assembly will fit most turret interfaces and provides for an auxiliary sight and a 7.62 mm coaxial machine gun. The guardrail incorporates an anti-rotation plate.

    The recoil system is of a unique compact concentric hydropneumatic design with the core of the system being a hydropneumatic recuperator which uses a bladder type accumulator and a barrel sleeve with different diameters fore and aft of the recoil piston.

    The accumulator is precharged to a pressure that keeps the gun in battery at any elevation. Upon firing, the recoil causes the barrel sleeve to displace oil into the accumulator, compressing the gas in the bladder. The pressurised gas then provides the energy to push the gun back into battery.

    Routine maintenance is limited to the regular checking of the gas pressure and visual inspection for leaks.

    The GT 7 has a recoil length of 600 mm which can be further reduced by fitting a muzzle brake.

    The 105 mm GT 7 gun and its associated turret are now being offered for installation on other chassis, tracked and wheeled. Complete details of the turret are given in the AFV turrets and cupolas section later in this volume.

    The Rooikat 105 mm turret, for trials purposes, has recently been fitted on an ASCOD tracked armoured personnel carrier chassis and in the future it may be installed on the chassis of the Alvis Vehicles Warrior.

    Variant
    LIW is now looking at an even lower recoil version of the 105 mm GT 7 for vehicles in the 10 tonne range, this will have a recoil length of 900 mm and will be mounted on a 4.5 tonne turret.

    Status
    Development complete. Ready for production.

    Specifications
    Property
    Value
    Main weapon caliber (mm)
    105
    Length (mm)
    6243
    Width (mm)
    1141
    Height (mm)
    387
    Weight (kg)
    2330
    Recoil force (kg)
    20000
    Recoil stroke (mm)
    600
    http://www.army-guide.com/eng/product3094.html

  5. Menurut sy lebih baik mengorbankan armor dan mengutamakan kecepatan dan daya pukul, utk armor bs ditingkatkan dg menggunakan ERA dan ring baja di sekitar body seperti bradley-nya us,lumayan buat menjinakkan rpg,desain hull jg menentukan proteksi thdp IED,turret sementara cukup 105mm,tapi bs ditambah 4 atgm di sekitar turret (koaksial),ditambah mitraliur 30mm disamping kanon utama,machine gun 12,5mm dan CIS AGL40mm dg RCWS,sistem loading dipilih yg self propelled dan jammer utk pernika

  6. Kalo MBT sy stuju yg pntg armor dan daya pukul, tp klo light dan medium tank musti bs ngebut krn fungsinya emang recon,hit and run,apalagi kalo ketahuan MBT,musti lari sekenceng2nya sambil nge-jammer optronik MBTnya,sambil tetep coba tembakin piercing sabot atawa atgm

  7. bang nopies..
    sekenceng2nya ntu berapa km/jam seh?
    paling mentok 100 km/jam, ntu pun kalo sendirian dijalan tol lurus n dipaksain..kalo dalam kota ato hutan disuasana perang mana bisa..

    soal bradley, coba bandingkan dng anoa..cari gambar yg pintu belakang kedua binatang ntu lage terbuka, ente pasti paham yg ane maksud berlapis..ente bisa ngira2 mana yg akan langsung masuk kalo kena basoka..

    sori kalo mleset, koneksi ane kayak kampret bikin malas riple..

  8. hehe,

    mending ngapalin lirik lagu anang deh,

    Separuh Jiwaku Pergi
    Memang indah semua
    Tapi berakhir luka

    Kau khianati
    Kau curangi aku
    Kau dustai hati

    ada kemungkinan terjadi desersi abad ini, itu lho, PAN…

LEAVE A REPLY