Jun 282019
 

CN-295, Pesawat Angkut Sedang Tambah Kekuatan Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma

Jakarta, Jakartagreater.com   –   Proses acara serah terima ditandai dengan pemecahan kendi di nose wheel pesawat CN-295 oleh Pangkoopsau I Marsda TNI Fadjar Prasetyo S.E., M.M.P., dilanjutkan dengan pembukaan tirai logo Skadron Udara 2 dan dilanjutkan peninjauan di dalam pesawat oleh Pangkoopsau I beserta tamu undangan.

Dalam kesempatan tersebut Pangkoopsau I Marsda TNI Fadjar Prasetyo S.E., M.M.P., juga menerima cinderamata miniatur pesawat CN-295 dari Direktur Niaga PT.DI Ade Yuyu Wahyuna sebagai tanda penyerahan pesawat.

Prosesi penyerahan pesawat diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh Pangkoopsau I selanjutkan diserahkan kepada Komandan Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma Mayor Pnb Donny Eko Prayogo S.T.

Hadir dalam penerimaan pesawat CN-295 beberapa pejabat dari PT.DI, Kemhan, Mabesau, Koopsau I, Danlanud Halim Perdanakusuma dan Danwing I Lanud Halim Perdanakusuma.

Pesawat CN-295 merupakan pengembangan dari pesawat CN-235, dimana badan pesawatnya (fuselage) diperpanjang 3 meter yang mampu membawa 50 penumpang dan menggunakan mesin terbaru turboprop Pratt & Whitney PW127G yang dilengkapi 6 bilah baling-baling Hamilton Standard 586-F.

Pesawat CN295 mampu mengakomodasi 3 console, dilengkapi dengan Search Radar yang dapat mendeteksi target yang kecil sampai 200 NM (Nautical Mile) dan merupakan pesawat transport medium yang dapat mengangkut 71 pasukan dengan Lateral Seat Installed.

Pesawat CN-295 dilengkapi Automatic Identification System (AIS), sistem pelacakan otomatis untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal lain untuk memperoleh gambaran perintah operasi lawan dan mengetahui posisi objek yang mencurigakan dan juga dilengkapi dengan IFF Interrogator dan Satellite Communication, sistem identifikasi yang dirancang untuk mengetahui lawan atau kawan dan sistem komunikasi satelit. (tni-au.mil.id)

  11 Responses to “Serah Terima Pesawat CN-295 ke Skadron Udara 2”

  1.  

    The EADS CASA C-295 is a twin-turboprop tactical military transport aircraft, and is currently manufactured by Airbus Defence and Space in Spain. The C-295 is manufactured and assembled in the Airbus Military facilities in the San Pablo Airport, in Seville, Spain. It is a development of the Spanish – Indonesian transport aircraft CASA/IPTN CN-235, but with a stretched fuselage, 50% more payload capability and new PW127G turboprop engines. The C-295 made its maiden flight in 1998. The first order came from the Spanish Air Force.
    https://www.youtube.com/watch?v=TKSY62-rp34

  2.  

    Kapan indonesia punya pesawat AEW&C karena singapura yg memiliki wilayah udara tdk terlalu luas memiliki pesawat AEW&C.

  3.  

    Pesawat AEW&C.Singapura itu mau terbang kemana.? Wong luas wilayah udaranya aja ciput, cuma seluas jakarta. Ada 10 pesawat tempur mengudara aja sdh bingung, takut saling tabrakan klo manuver diudara diatas wilayah mereka sendiri. Sementara diutaranya sdh wilayah udara malaysia, di baratnya kena bogem Indonesia, di Timur masuk wilayah Malaysia lg dan keselatan malah kena tonjok Indonesia lg. Wong ente berdiri aja dibatam bawa 10 kawan ente sambil semua manggul SHORAD itu aja sdh kebingungan pesawat mereka mau terbang kok. Makanya banyak aset mereka dititipin ke negara lain yg jauh. Tp begitu konflik pecah, apa sempat aset yg dititipin itu membantu, sementara wilayahnya sdh babak belur kena.hiujanan roket jarak jauh.?
    Anggaplah sempat, tp gak bisa pulang semua tuh pesawat, krn pesawat tangkernya keburu dijatuhkan musuh. Mau mendarat dimana mereka.?

    Jd gak usah pusingkan singapore yg punya aset banyak tp mubazir itu. Dia beli aset tempur banyak itu sekedar spy gak jadi bulan2an negara tetangganya aja……xicixicixicixi

  4.  

    @Ruskye, sebenarnya yg mau dibahas ama dik Whiteflag itu bukan Singapura nya Dik. Tapi Indonesianya. Masak luas wilayah kayak Eropa atau USA gak punya radar terbang. Masak mau ngandalin MPA melulu. Kan radarnya gak cukup kuat buat mengkover area yg sangat luas.

  5.  

    Ya bertahap toh mbah.
    Gini loh mbah ceritanya, singapore punya pesawat AEW&C namun perangkat komunikasi (satelite militer) msh disupport AS bahkan British krn sekutu mereka.
    Lha kita mau pake tuh pesawat jalur komunikasinya minjem sama siapa satelitenya.?

    Punya dulu Satelite militer sambil mempersiapkan infrastuktur CCB dan NCW nya, baru semua itu bisa berfungsi. Masa punya pesawat AEW&C tp komunikasi dan datanya lewat handy talky…hali..halo.roger…roger…musuh kemana., kan gak lucu…..xicixicixi
    Makanya pemerintah blom persiapan utk pesawat AEW&C.dlm waktu dekat msh konsen di CCB dan NCW serta satelite militer.

    Sama jg dng rudal, paling cepat bisa buat yg IR seeker atau rudal yg dipandu radar. Kalo mau ciptakan rudal jelajah yg dipandu GPS harus punya satelite GPS sendiri spt Rusia, AS dan China. Kalo gak punya trus dituntun.pake apa itu rudal jelajah. Mau numpang? Lha kalo gak diijinkan apa bisa fungsi itu rudal.?……xicixicixi
    Ujung2nya semua kembali ke dana, mana dulu yg prioritas

  6.  

    Pesawat aew&c bukan hanya utk mndeteksi peswat tetapi jg utk mengatur peswat tempur yg sedang diudara karena terkadang sulit utk mengetahui keberadaan pswt jk jaraknya jauh dan tdk sedikit rudal yg dipasang dijet tempur bisa ditembakkan dari jark jauh contohnya rudal AmRaam yg dipakai pakistan utk menembak jatuh jet tempur india selain itu pakistan jg menggunakan pswt aew&c utk mengetahui posisi jet tempur india.saat ini rudal amraam sdh dimiliki au singapura australia dan mereka jg memiliki pswt aew&c.

  7.  

    Betul banget bung whiteflag.
    Namun mengaturnya kan harus menggunakan komunikasi data link. Kalo gak ada alat komunikasi mau ngirim perintahnya gmn setelah terbaca radar.? Sementara penunjang komunikasi yaitu satelitenya blom punya bung. Itu sebabnya prioritas pemerintah satelitenya dulu beserta infrastruktur spt pusat komando di bangun. Baru pesawat AEW&C bisa berfungsi maksimal utk mengirim data ke pusat komando.

  8.  

    @Ruskye, bukannya satelit militer lagi dipesan ya.

  9.  

    Kan setidaknya bisa pinjem transponder punya satelit pemerintah atau BUMN. Telkom, palapa.

  10.  

    Dipesan sdh, tinggal nunggu diluncurin, katanya tahun ini klo gak ada halangan.

    Sementara pinjam slot di satelite BRI. Kslo Telkom kan sdh penuh slotnya disewa.

  11.  

    Di satelite BRI buat persiapan selagi bangun gedung Network Centric nya mbah. Tp kalo cuma ngarepin satelit BRI ya nanti gak bisa digunakan utk NCW mbah. Krn satelite induknya jg ditunjang oleh satelite kecil dng orbit rendah.
    Masa kaya tetangga sebelah pake balon mbah.?…xicixicixi