Sep 182018
 

Rudal balistik jarak pendek (SRBM) Fateh-110 buatan Iran © National Interest

JakartaGreater.com – Korps Garda Revolusi Islam Iran menembakkan tujuh rudal permukaan ke permukaan ke markas kelompok oposisi Kurdi di Irak pada tanggal 8 September. Serangan itu, difilmkan oleh pesawat tak berawak IRGC, menunjukkan bahwa Iran dapat melaksanakan serangan presisi.

Ini merupakan sinyal yang jelas bagi kelompok oposisi Kurdi dan juga pendukung Baghdad di Washington, bahwa Iran akan terus melakukan operasi di Irak sebagai bagian dari kebijakannya untuk melakukan pengaruh diwilayah tersebut. Ini juga menampilkan ketepatan program rudal balistik Iran.

Menurut National Interest, IRGC memilih sasaran Kurdi setelah berbulan-bulan meningkatnya bentrokan antara sejumlah kelompok oposisi bersenjata Kurdi dan IRGC di wilayah sebelah barat Iran. Partai Demokratik Kurdistan Iran (PDKI), didirikan tahun 1945 dan berjuang melawan pemberontakan terhadap Republik Islam Iran setelah tahun 1979.

Meningkatnya pemberontakan Kurdi di Iran datang dalam konteks sanksi AS dan Washington memilih meninggalkan kesepakatan nuklir Iran. Mustafa Hijri, pimpinan PDKI, berada di AS pada bulan Juni dan mengatakan dia berharap Amerika dan kekuatan dunia akan “membantu PDKI menghadapi rezim Iran”.

Dua rudal Iran menghantam kompleks Koya milik kelompok oposisi Kurdi di Irak © National Interest

Sejak itu, PDKI telah berusaha menunjukkan bahwa mereka relevan dan layak didukung. Pada markas yang disebut Koya, PDKI melatih para pejuang yang disebut peshmerga dan mereka juga telah berlatih di pegunungan dekat perbatasan Iran. Para kader pria dan wanita mereka hanya memiliki senjata kecil dan RPG.

Berdasarkan wawancara baru-baru ini dan perjalanan ke perbatasan dengan patroli dari PDKI, mereka mengatakan bahwa jumlah rekrutmen telah meningkat empat kali lipat baru-baru ini. Mereka beroperasi di sepanjang perbatasan meskipun artileri Iran telah menargetkan operasi mereka dan menyelundupkan rute yang menghiasi pegunungan.

Perbatasan berpori dan basis IRGC, beberapa di antaranya direnovasi baru-baru ini menurut Kepala PDKI, adalah pemandangan yang umum meskipun Iran semakin banyak menggunakan drone yang dapat terdengar berdengung di atas gunung, PDKI menyeberang dengan mudah ke Iran di sepanjang lebih dari 100 km dari perbatasan Irak Utara.

Teheran melenturkan otot-ototnya di Irak utara ketika Irak terus menghadapi kekacauan politik di Baghdad, dengan pihak-pihak yang tidak dapat mencapai kesepakatan koalisi 3 bulan setelah pemilihan. Sehari sebelum serangan rudal, pengunjuk rasa Irak di Basra menargetkan konsulat Iran dan membakarnya.

Para pengunjuk rasa mengamuk karena kurangnya layanan, tapi kemarahan mereka diarahkan pada partai dan target yang terkait Iran. Protes-protes tersebut terhadap pengaruh Iran di Irak selatan dan serangan lintas-perbatasan Iran di utara. Iran melihat Irak sebagai “near abroad“, yaitu wilayah kepentingan keamanan nasional Iran di mana Teheran ingin memproyeksikan pengaruh dan kekuatan untuk menciptakan zona penyangga terhadap ancaman.

Tapi, mengapa IRGC memilih untuk menyerang sekarang?

Kelompok-kelompok Kurdi yang menentang IRGC telah memiliki markas di Irak utara selama beberapa dekade. Namun, sebagian besar kelompok menghentikan operasi ofensif mereka pada 1990-an setelah Iran melakukan serangkaian serangan terhadap mereka, termasuk serangan artileri dan pembunuhan.

IRGC melalui media pemerintah Iran mengatakan bahwa telah melakukan serangan baru-baru ini, “setelah pemimpin kelompok teroris mengabaikan peringatan serius oleh pejabat wilayah Kurdistan Irak dan tekad Republik Islam untuk membongkar markas mereka”.

Ini menunjukkan bahwa tujuan Iran adalah sebuah pesan ke daerah otonomi Kurdistan di Irak yang memungkinkan kelompok-kelompok oposisi untuk beroperasi dapat mengacaukan daerah kantong Kurdi yang relatif stabil dan kaya secara ekonomi. Iran membuktikan bahwa semua itu bisa mengguncang wilayah Kurdi sebelumnya ketika komandan Angkatan Darat Qasid Qasem Soleimani membantu menengahi perampasan pemerintah federal atas Kirkuk yang kaya minyak pada bulan Oktober 2017.

IRGC membanggakan kemampuannya dalam serangan Koya dan menyiarkan rekaman drone yang menunjukkan rudal balistik jarak pendek, Fateh-110 yang menyerang salah satu sasaran mereka, markas besar KDP-I, sebuah cabang dari PDKI.

IRGC juga mengatakan bahwa serangannya berasal dari Aerospace Force bekerjasama dengan unit pesawat tak berawak Angkatan Udara Iran. Ini menunjukkan bahwa IRGC Iran siap untuk membela perbatasan negara. Menyerang hingga 60 mil di wilayah Irak ini, jauh melampaui apa yang pernah dilakukan Iran di masa lalu.

Penggunaan rudal balistik Fateh-110, menampilkan senjata presisi mematikan mereka. Teheran meluncurkan generasi baru rudal Fateh-110 pada tanggal 14 Agustus yang lalu dan melakukan pengujian pertama lebih dari setahun yang lalu. Warga sipil di Iran dekat Tabriz memfilmkan roket yang ditembakkan. Roket-roket tersebut menghantam sebuah ruangan tempat pertemuan tingkat tinggi sedang berlangsung di sebuah bangunan besar seperti benteng, milik KDP-I yang mengontrol Koya.

Menteri Pertahanan Iran, Jenderal Amir Hatami berada di dekat rudal Fateh-e Mobin © Iran MoD via Tasnim News

Kemampuan IRGC untuk menyerang ruangan khusus meeting, dari ratusan kamar yang berada di kompleks itu untuk pertama kalinya sebagai penterjemah kemampuan “di atas kertas” Iran ke dalam keefektifan di dunia nyata. Selama ini banyak negara meremehkan kemampuan rudal buatan Iran, namun kini mereka dapat mengetahui apa yang dimiliki Iran.

Program rudal balistik IRGC ini dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah AS saat ini dan Departemen Keuangan AS telah memberi sanksi kepada anggota IRGC yang terkait dengan program rudal dan Pasukan Quds.

Penampilan publik Teheran tentang kemampuan rudalnya merupakan pesan yang sangat jelas bagi Washington bahwa Teheran tidak merasa tertekan dengan semua sanksi yang ada. Ini juga menunjukkan kecakapan dan kecerdasan, karena mampu menyerang pertemuan dan sasaran tersebut dengan akurat.

Tanpa konfrontasi oleh Amerika dilapangan, Tehran merasa memiliki celah untuk beroperasi di Irak, meluncurkan roket di siang bolong. Iran juga dituduh oleh sumber-sumber intelijen barat akan mentransfer rudal ke milisi Syiah di Irak pada bulan Agustus, termasuk rudal Fateh-110.

Menewaskan 17 peserta meeting di Irak utara, Iran memberikan pesan khusus. Bahwa Irak ini adalah zona penyangga keamanan Iran dan setiap upaya yang dilakukan AS dalam menciptakan pemerintahan pro-Washington di Baghdad harus mempertimbangkan hal itu.

Bagikan:

  4 Responses to “Serangan Rudal Koya, Menunjukkan Strategi Teheran”

  1.  

    Mau disebut tiruan, mau disebut kopian, yg penting akurat. titik

  2.  

    Katanya negarA pemegang otoritas nuklir… tapi koq malah buat rudal kecil2 … itupun mirip2 dgn oroginalitas baesystem n lockheedmarteen.ato mungkin mental republik agamais yg satu ini hy dikhususkan utk minoritas kurdi n isis saja ??

 Leave a Reply