Serma Rama Wahyudi Gugur akibat Serangan Milisi Bersenjata

Jakartagreater  –  Saat itu, satu tim dari Satgas Kizi TNI Konga XX-Q/Monusco yang berjumlah 12 personel di bawah pimpinan Serma Wahyudi berangkat dengan menggunakan kendaraan Prime Over Nissan, bersama mobil Tangki Air dan dump truck ke daerah Halulu, Kongo, dalam rangka melaksanakan tugas pergeseran pasukan, dukungan logistik dan perbaikan alat berat.

Tim tersebut dikawal oleh dua APC Malawi Batalyon, dengan melaksanakan konvoi selama 3 jam perjalanan hingga sampai ke tujuan dengan selamat.

Baca Juga:

Rusia Segera Pamerkan Tiga Jenis Sistem Pantsyr

Selain Jet Tempur, India Butuh Tank T-90 dan Kapal Selam Kilo Rusia

Pasukan Gunung India Dikerahkan, Kuasai Medan Terjal Bersalju

Usai melaksanakan tugas, dalam perjalanan kembali ke Central Operation Base (COB) di Mavivi, sekitar pukul 15.45 LT, terjadi penghadangan terhadap rombongan yang dihujani tembakan ke arah konvoi kendaraan.

Tim dari Satgas Kizi TNI Konga XX-Q/Monusco yang berjumlah 12 personel di bawah pimpinan Serma Wahyudi

Serangan mendadak itu mengakibatkan Komandan Tim, Serma Rama Wahyudi mengalami luka tembak di bagian dada dan perut, sedangkan pengemudi kendaraan, Pratu M. Syafii Makbul mengalami luka sobek akibat serpihan tembakan dan pecahan kaca.

Sementara itu, para prajurit TNI lainnya bersama dua personel Malawi Batalyon berhasil menyelamatkan diri dengan belari ke dalam kendaraan pengawal APC.

Baca Juga:

Armada F-22 Raptor AS Kekurangan Mesin

Yunani dan Israel Kerja Sama Bangun Korvet Themistocles Class

Wow, Dua Carrier Strike Group AS Beroperasi di Laut Filipina

Setelah bergabung, jumlah personel yang ada ternyata kurang satu yaitu Serma Rama Wahyudi. Selanjutnya tim TNI bersama Malawi Batalyon kembali untuk menjemput Serma Rama Wahyudi.

Serma Rama Wahyudi Gugur akibat Serangan Milisi Bersenjata

Dalam waktu 10 menit tim berhasil mengevakuasi korban yang ditemukan dalam kondisi tertembak tidak sadarkan diri, sedangkan senjata dan perlengkapan lainnya berhasil dibawa lari oleh milisi yang diduga Allied Democratic Forces (ADF), yang merupakan milisi bersenjata dari Uganda yang masuk ke wilayah Kongo.

Proses pemulangan jenazah Serma Rama Wahyudi memasuki tahap pemeriksaan Covid 19 dan akan diterbangkan ke Rumah Sakit United Nation (UN) di Uganda untuk dilakukan Otopsi dan proses Administrasi. Diperkirakan tanggal 1 Juli 2020 jenazah akan di berangkatkan ke Tanah Air dengan menggunakan pesawat Qatar Air atau Euthopia Air.

Kemungkinan jenazah akan tiba tanggal 2 Juli 2020 dan rencana akan dimakamkan di Pekanbaru, yang merupakan kediaman almarhum dan sesuai permintaan keluarga. Sementara itu kondisi Pratu M. Syafii Makbul yang mengalami luka sobek dapat segera pulih kembali dengan menjalani perawatan di Rumah Sakit UN di Goma.

Hal ini disampaikan oleh Komandan PMPP TNI Mayjen TNI Victor H. Simatupang , didampingi Kapuspen TNI Mayjen Sisriadi dalam Konferensi Pers, Jumat 26-6-2020, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta.

Serma Rama Wahyudi gugur dalam penyerangan oleh milisi bersenjata pada tanggal 22 Juni 2020, di wilayah Makisabo, Kongo, Afrika.

Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi menyampaikan ucapan turut berduka cita dan rasa belangsungkawa kepada keluarga Almarhum Serma Rama Wahyudi.

Serma Rama Wahyudi

Peristiwa tersebut tidak diharapkan dan sangat disesali, karena sebagai pasukan misi penjaga perdamaian PBB yang melaksanakan misi kemanusian di Kongo mendapat serangan dari milisi bersenjata. Ke depan, hal ini akan menjadi bahan evaluasi untuk penugasan berikutnya khususnya dalam hal pengamanan.

Kapuspen TNI juga menjelaskan bahwa prajurit TNI yang gugur di medan tugas akan mendapat hak-haknya berupa Asabri maupun santunan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2010.

Disamping itu juga akan mendapat santunan dari PBB yang dinilai dari hasil investigasi, jika dinyatakan bukan kesalahan yang bersangkutan maka setiap prajurit peacekeeper yang gugur dalam tugas mendapat bantuan dari UN.

TERPOPULER

4 pemikiran pada “Serma Rama Wahyudi Gugur akibat Serangan Milisi Bersenjata”

  1. daerah konflik seharusnya SOP nya lebih rapat dan terkordinasi,kelalaian atau standar SOP tidak memenuhi standar.
    seharusnya bisa dijadikan pelajaran berharga agar kedepanya lebih baik,baik dalam memenuhi tugas atau dalam menjaga keselamatan petugas operasional sendiri.

  2. bantu jawab ya.. Setiap anggota UN dari setiap Negara pasti di bekali perbekalan standar lapangan seperti rompi anti peluru, topi baja anti peluru, jumlah peluru ( amunisi ), jumlah minimal personil, formasi iringan kendaraan UN dll. namun untuk tembakan terukur, tentu saja rompi anti peluru tidak akan berguna. yg perlu di ketahui adalah peluru itu bersarang dibagian apa. kalau di dada, di sebelah mananya dada yg terkena peluru. perlu verifikasi dan informasi lebih detail untuk mengetahui apakah Almarhum saat tertembak masih bernafas atau sudah wafat. bertanya apakah setiap personil yg menjadi korban penyerangan tidak dibekali rompi anti peluru ? jawabnya sudah dan sangat siap. mohon doanya agar setiap putra putri terbaik bangsa yang bertugas membawa nama harum Indonesia diberikan kesehatan dan keselamatan..

Tinggalkan komentar