Jun 022017
 


Sebuah render Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) India (Aermech.in)

Menjadi kekuatan militer terbesar ke-4 di dunia, India mengoperasikan berbagai jet tempur mulai dari kelas ringan hingga kelas berat. Disaat China mulai memproduksi pesawat tempur “Next-Gen” J-20 sendiri, India juga buru-buru ingin memperoleh jet tempur canggih untuk dapat melawan langkah tersebut, seperti dilansir dari Defence Update.

Angkatan Udara India (IAF) telah lama jatuh cinta dengan burung besi buatan Perancis, oleh karena telah berpengalaman dalam menangani dan membuat manuver tempur. Itulah sebab mengapa India memilih untuk membeli Rafale dibanding Typhoon. Namun kenaikan biaya memaksa telah memaksa pemerintah India hanya mampu membeli 36 unit saja.

Jet tempur tersebut mampu memenuhi banyak peran, dalam beberapa layanan, serta tidak terbatas pada superioritas udara, serangan darat dan pengintaian. Rafale ini juga memiliki varian kapal induk. Jenis tempur ini akan membentuk mayoritas armada udara dan harus berfungsi sebagai “worhorse” yang tak kenal lelah.

Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA) kerjasama Sukhoi dan HAL adalah pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan oleh India dan Rusia sebagai proyek turunan dari PAK FA (Sukhoi T-50) yang dikembangkan untuk Angkatan Udara Rusia.

Penyelesaian FGFA ini mencakup 43 perbaikan pada T-50, termasuk kemampuan siluman, super jelajah, sensor canggih, jaringan dan avionik tempur. Jet tempur multiperan FGFA di rancang untuk superioritas udara dan peran menyerang serta pertahanan darat dan laut.

Sebuah laporan dari Moskow menyebut bahwa proyek FGFA mungkin kandas, disebabkan karena kurangnya minat Rusia terhadap proyek tersebut. India sebenarnya telah membuat kontrak penelitian dan pengembangan yang bernilai US $ 6 miliar.

Apabila FGFA kandas, lantas adakah opsi lainnya?

Rafale dan F-35 bisa mewakili ide tersebut.  Baik F-35 maupun Rafale, melambangkan jenis jet tempur “multirole“, mengikuti jejak pesawat F-4 Phantom II. F-35 mengambil beberapa langkah dengan menambahkan fitur siluman dan varian STOVL, dimana keduanya terbukti menjadi tambahan kontroversial.

Terlepas dari memiliki tujuan desain serupa, pesawat ini sangat berbeda. Tidak hanya dalam desain, tapi juga konstruksi dan filosofi mereka. Jet tempur F-35 adalah usaha multinasional dengan investor dan pembeli potensial dari seluruh dunia. Bagian-bagian dari F-35 dibangun di seluruh dunia. Hal ini dilakukan untuk menurunkan biaya dan mempromosikan investasi ke dalam program.

Sebaliknya, Rafale dirancang dan dibangun di Perancis. Semua komponen sistem termasuk mesin, radar, sensor, pernika dan sebagian besar senjatanya bersumber dari Perancis.  Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga perusahaan pertahanan dan kedirgantaraan di Perancis sebagai ujung tombak.

Mungkin F-35 lebih baik tapi ada begitu banyak permasalahan teknis yang dihadapi bahkan hingga saat ini. F-35 adalah pesawat siluman dan itu adalah utama satu-satunya keuntungan bila dibandingkan dengan Rafale.

Kedua pesawat tersebut menggunakan rudal AAM dan AGM yang sama serta radar mereka berada pada level yang sama untuk memudahkan deteksi target dengan teknologi siluman.

Untuk pertarungan 1 lawan 1 jarak dekat sudah pasti F-35 tidak punya kesempatan melawan Rafale. Rafale lebih gesit, lebih baik rasio bobot dan daya dorongnya, dan memiliki peluang lebih banyak untuk menang. Sedang F-35 hanya bisa menang melawan Rafale bila si burung besi buatan Perancis belum bisa mendeteksi ancaman.

Rafale adalah pesawat yang terbukti lebih baik. Bukan hanya secara rutin digunakan untuk membom sasaran kelompok ISIS di Irak dan Suriah, tetapi secara teratur terlihat di langit Afghanistan, menjatuhkan bom dipandu laser buatan AS seberat 250 kg, untuk membantu pasukan darat NATO di Afghanistan.

Sementara F-35 tidak digunakan di medan perang namun hanya terbang berputar di langit Jepang dan bermain petak-umpet dengan radar China.

Jet tempur Rafale Angkatan Udara Perancis, 9 Oktober 2015 © French Air Force

Dassault Rafale

Dassault Rafale adalah jet tempur bermesin ganda, sayap Canard Delta dan multiperan yang dirancang dan dibangun oleh Dassault Aviation untuk berbagai misi jarak pendek dan jarak jauh, pengintaian, serangan udara dengan akurasi tinggi, serangan darat dan laut, dan juga sebagai pencegah nuklir.

Pesawat tersebut dikembangkan untuk Angkatan Udara dan Angkatan Laut Perancis. Saat ini Angkatan Bersenjata Perancis memiliki 180 jet tempur Rafale, 132 pesawat dioperasikan angkatan udara dan 48 dioperasikan oleh angkatan laut.

Rafale dengan kemampuan “omnirole“-nya, adalah jawaban yang tepat untuk pendekatan kemampuan yang dipilih oleh sejumlah negara yang terus meningkat. Jet tempur Rafale ini sepenuhnya sesuai dengan persyaratan untuk melakukan peran terluas meskipun dengan jumlah pesawat terkecil.

Selanjutnya, Rafale memiliki kemampuan nuklir dan akan menggantikan Mirage 2000N di dalam layanan Angkatan Bersenjata Prancis sebagai pembawa rudal nuklir ASMP/A yang baru di upgrade.

Rafale juga mampu menembakkan rudal AM-39 Exocet, yang memberikannya kemampuan anti kapal yang tidak dimiliki pesaingnya. India juga tertarik untuk memasang rudal jelajah supersonik BrahMos ke berbagai jenis pesawat tempurnya dan Rafale tampaknya sanggup membawanya.

Secara teknis dan teknologi, Rafale adalah jet tempur terbaik yang bisa dibeli dengan uang. Avionik dan teknologi data fusi yang baru dikembangkan untuk F-35 AS, sebenarnya telah hadir pada jet tempur Rafale dan Gripen selama lebih dari satu dekade yaitu SPECTRA.

Jet tempur siluman F-35 Amerika Serikat. © Lockheed Martin

Jet Tempur Siluman F-35

Lockheed Martin F-35 Lightning II adalah keluarga jet tempur multirole siluman bermesin tunggal. Pesawat tempur generasi kelima yang dirancang untuk melakukan serangan darat dan misi pertahanan udara.

Jet tempur siluman F-35 memiliki tiga varian:

  1. F-35A dengan kemampuan lepas landas dan mendarat secarat konvensional (CTOL)
  2. F-35B dengan kemampuan lepas landas dilintasan pendek dan mendarat vertikal (STOVL)
  3. F-35C dengan kemampuan lepas landas dari kapal induk menggunakan teknologi Catapult Assisted Take-Off Barrier Arrested Recovery (CATOBAR)

Jet tempur F-35 diturunkan dari pesawat X-35, pemenang desain dari program Joint Strike Fighter (JSF). Tim industri kedirgantaraan yang dipimpin oleh Lockheed Martin merancang dan memproduksinya.

Mitra industri F-35 utama lainnya termasuk Northrop Grumman, Pratt & Whitney dan BAE Systems.

F-35 terbang perdana pada 15 Desember 2006. Amerika Serikat berencana membeli 2.663 unit jet tempur ini. Pengiriman F-35 untuk militer AS dijadwalkan hingga tahun 2037 dan masa kerjanya diproyeksikan hingga tahun 2070.

Berdasarkan data diatas ada beberapa skenario di mana F-35 akan berguna bagi IAF, meski dengan semua permasalahnnya. Telah sejak lama IAF mempertahankan MiG-25R Foxbats dengan perawatan tinggi untuk pengintaian wilayah musuh dari luar jangkauan rudal darat-ke-udara atau SAM.

IAF dapat mempertimbangkan satu atau dua skuadron F-35 Lightning II, untuk mendobrak pintu dalam pertempuran beberapa hari pertama, melumpuhkan sistem pertahanan udara lawan, pusat logistik, atau pesawat AEW&C dan juga tanker.

Tetapi, mengapa ini mungkin menjadi ide yang buruk adalah bahwa MiG-25 bisa digantikan bukan oleh pesawat lain tapi dengan penggantian tidak langsung yaitu melalui satelit militer, sementara peran F-35 dapat dilakukan oleh rudal.

India sudah mengoperasikan rudal BrahMos yang diluncurkan dari darat. Versi peluncuran udara seharusnya tersedia dalam beberapa tahun ke depan, yang punya jangkauan 300 km. Kombinasi satelit militer dan rudal jauh lebih murah untuk menembus hingga jauh ke dalam wilayah musuh tanpa harus mengambil risiko kehilangan pesawat terbang atau pilot.

Memang, rudal tidak dapat melakukan semua hal yang bisa dilakukan oleh pesawat terbang, namun bahkan jika rudal jelajah mampu memberikan cakupan parsial, biaya untuk menjaga skuadron pesawat khusus dan para pilot tidak dapat dibenarkan.

Pada akhirnya, F-35 tidaklah satu generasi didepan Rafale. Sebaliknya, ini permainan kejar-kejaran secara teknologi. Hal utama dari F-35 ada di atas Rafale adalah fitur siluman. Tetapi ini juga merupakan kelemahan utama yang sebenarnya.

Desain F-35 yang buruk menghasilkan aerodinamis yang buruk pula, sehingga lebih rentan dibanding pesawat yang akan digantikannya, serta membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak per kilometernya.Perawatan juga menjadi lebih sulit dan lebih rumit, sebagai contoh militer AS mengalihkan perawatan F-35 kepada tim Lockheed Martin agar bisa menghemat biaya pelatihan teknisi mereka sendiri.

Biaya operasional F-35 per jamnya bisa 2 atau 3 kali lipat dari Rafale, selain itu daya angkut persenjataannya sangat sedikit, kecuali jika menggunakan cantelan eksternal, yang pastinya menghilangkan kemampuan siluman yang seharusnya.

Jet tempur siluman F-35 ini ternyata mudah dikalahkan oleh radar yang beroperasi di luar jangkauan X-band. Desain silumannya juga hanya menutupi sudut depan tidak pada bagian bawah, atas, samping dan terutama bukan bagian belakang. Ini berarti bahwa F-35 mudah dideteksi oleh radar darat yang ada di bawahnya atau pesawat radar peringatan dini seperti AWACS yang terbang jauh diatasnya.

Jika India memutuskan untuk membeli F-35, berarti India harus menandatangani minimal 2 kesepakatan dengan AS untuk mendapatkan akses penuh kepada teknologinya.

  1. Basic Exchange and Cooperation Agreement (BECA)
  2. Communication Interoperability and Security Memorandum Agreement (CISMOA)

Yang akan membantu India untuk memiliki akses kepada teknologi canggih AS serta sistem senjata dimana India dipastikan enggan untuk menandatangani.

IAF telah mengoperasikan pesawat buatan Perancis sejak 25 tahun lalu. Jadi telah memiliki pengalaman dalam menangani pesawat-pesawat tersebut. Sementara tak punya pengalaman mengoperasikan jet tempur buatan AS.

Tapi perubahan geopolitik bisa saja mengubah permainan dalam kebaikan AS, dan jika IAF memilih Rafale maka pertanyaan yang akan diajukan harus dipisah dari birokrasi dan juga masalah militer.

Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) di sisi lain ditujukan untuk mengganti pesawat serang darat yang jauh lebih kecil seperti Mirage-2000, Jaguar dan Mig-27. IAF akan selalu membutuhkan campuran atau kombinasi pesawat, termasuk jet tempur ringan, menengah dan kelas berat untuk berbagai peran tempur.

Oleh sebab itu, menggantikan jet tempur FGFA dengan AMCA sama sekali tidak masuk akal.

  14 Responses to “Setelah Proyek FGFA Kandas, India Pilih Rafale Atau F-35?”

  1. Pertamax

  2. selamat menangis bombay,,,

    tdk selama nya teman jadi tumpuan harapan , semua akan berubah jika sdh berurusan dengan duit…

    bnyk duit juga blm tentu dpt teknologi gratis.. soo mudah2an IFX berjalan lancar …

  3. lagian india minta tot pake joged joged sih..karena rusia g suka joged..jd deh bubaran

  4. Kok buka JKGR keseringan kolom daftar komentar sering error ya.? Avatarnya sama semua walaupun Nickname nya beda.

  5. Intinya Indonesia cukup membeli S-300 / S-400 untuk menghalau calon penganten baru tetangga kita kangguru maupun singo cebol..

  6. bubar bubar dah tuh indihe…

  7. Semoga IFX tetap berjaan lancar,berapa persenkah TOT yg RI dappatkan dr Program IFX tsb, semoga aja gak seperti FGFA Boliwood.

 Leave a Reply