Jul 132014
 
Pasukan Komando Israel  Shayetet 13

Pasukan Komando Israel Shayetet 13

Sedikit diketahui soal pasukan komando Angkatan Laut Israel, Shayetet 13. Di antara informasi itu, mereka berdiri pada 1949 sebagai sayap militer Haganah, dan telah dikerahkan dalam ratusan operasi intelijen dan kontra intelijen ataupun teror-kontraterorisme. (armyphotos.net)


Pasukan komando Angkatan Laut Israel, Shayetet 13, mulai melancarkan satu operasi darat di utara Jalur Gaza terhadap Hamas, Sabtu malam, kata radio publik Israel, Minggu 13/07/2014.

Ini operasi darat pertama di Gaza oleh militer Israel sejak serangan udara dimulai Selasa.

Selain kampiun bertempur di tiga medan (udara, laut, dan darat), Shayetet 13 sangat terlatih dalam perang urban dengan berbagai persenjataannya.

Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Hamas, meluncurkan peluru-peluru kendali baru mereka, J-80, ke ibukota Israel, Tel Aviv. Belum diketahui persis efek serangan balasan itu atas kota-kota penting Israel yang dilindungi sistem pertahanan pasif anti serangan udara, Iron Dome.

Menurut informasi itu, serangan singkat (raid) Shayetet 13 itu ditujukan pada satu lokasi peluncuran roket Hamas di Sudaniya, utara Gaza yang merupakan tempat peluncuran roket jarak jauh ke wilayah Israel.

Pasukan Komando Israel  Shayetet 13

Pasukan Komando Israel Shayetet 13

Empat pasukan komando Israel ini dinyatakan luka ringan dalam pertempuran itu. Pagi hari, roket Palestina ditembakkan fokus ke Ashdod dan wilayah Modiin, dengan upaya untuk menyasar Ben Gurion International Airport. Tidak ada penghentian tembakan roket dari Hamas selama semalam, meski Israel melipatgandakan serangan udaranya.

Seperti dilansir Reuters, Hamas mengatakan para pejuangnya telah menembak pasukan Israel di lepas pantai. Cabang militer Hamas mengonfirmasikan, pasukan komando Shayetet 13 itu terlibat baku tembak dengan beberapa personel milisi Palestina.

Seorang juru bicara militer mengatakan, empat tentara Israel luka ringan dalam operasi itu.

“Selama misi itu satu baku-tembak meletus, dimulai beberapa gerilyawan yang beroperasi di lokasi itu, di mana empat tentara Israel cedera ringan,” kata juru bicara itu yang menolak merinci lebih jauh mengenai operasi itu.

Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Hamas, mengonfirmasikan baku tembak antara para petempur kami dan tentara angkatan laut Zionis yang berusaha memasuki daerah Sudanyia, di Gaza barat laut.

Pasukan Pertahanan Israel IDF mengatakan dalam akun Twitter resmi mereka : “Pasukan IDF menterang sebuah lokasi yang digunakan untuk meluncurkan roket ke Israel. Misi telah selesai.

“Selama misi, saling tembak terjadi. Empat tentara terluka dan seluruh (pasukan) kembali dengan selamat,” jelas Israel melalui Twitter.

Militan Hamas di Gaza, Palestina (REUTERS/Mohammed Salem)

Brigade Ezzedine al-Qassam, Hamas di Gaza, Palestina (REUTERS/Mohammed Salem)

Israel mengatakan invasi darat Gaza tetap menjadi pilihan, bahkan mereka sudah memobilisasi sekitar 20.000 tentara cadangan. Tetapi sebagian besar serangan saat ini dilakukan dari udara.

Sampai saat ini sudah menghantam sekitar 1.200 sasaran di wilayah Gaza. Pesawat Israel melakukan serangkaian serangan di Gaza, termasuk terhadap markas polisi dan keamanan.

Total korban tewas dalam serangan enam hari Israel sebanyak 149 jiwa yang kebanyakan warga sipil, karena mereka meluncurkan rudal rudal dari udara, berdasarkan perkiraan semata.

Sementara kelompok Hamas, yang mendominasi Gaza, telah menembakkan ratusan roket ke Israel dengan menyerang lebih dalam daripada serangan sebelumnya. Israel mengatakan militan Palestina menembak sekitar 90 roket dari Jalur Gaza ke dalam wilayahnya pada Sabtu (12/07). Namun, tidak ada tentara Israel yang terbunuh oleh kaskade roket Hamas.

Kekerasan lintas perbatasan itu rupanya tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Meskipun tekanan internasional pada kedua belah pihak untuk mengakhiri kekerasan terus dilakukan. Bahkan Dewan Keamanan PBB menyerukan agar Israel dan Hamas melakukan gencatan senjata. (Antara).

  116 Responses to “Shayetet 13 Masuk ke Gaza”

  1. Lapor ndan….!!!

  2. uno

  3. tigo 🙂

  4. one

  5. Bagus… bagus…

  6. lumayan ada yang luka… ha3

  7. numpang 7 besar

  8. shayetet 13 mstinya vs kopaska baru berimbang..

  9. Assalamualaikum wr.wb
    kejadian sebenernya israel tidak mau mempublikasikan takut reputasi israel jatuh :v
    seperti yang saya katakan sebelumnya israel takut kalau melakukan serangan infantri bahkan pasukan khususnya :v
    mereka terkesan menembak brutal, karena mereka tidak tahu secara rinci mana anggota pejuang dengan rakyat sipil, orang lewat aja bisa di tembak sama mereka padahal itu rakyat sipil :v
    mental pasukannya israel masih down grade sama pejuang 🙂
    kalau salah ya maaf 😀
    maaf oot 😀

  10. Sprti biasa.. dunia hanya bs mngecam & mmgutuk tnp ada tindakan tegas. Smua negara kmbli kpd hitung2n untung rugi jika hrs brskp tegas.

  11. Sprti biasa.. dunia hanya bs mngecam & mngutuk tnp ada tindakan tegas. Smua negara kmbli kpd hitung2n untung rugi jika hrs brskp tegas.

  12. #sorry.. doble coment

  13. roket R 80,made hand juga bung jalo?

  14. zionis mental pengecut

  15. ciri khas topi yang dipakai pasukan khusus israel…gambar diatas mengenai brigade al-qassam bagus sekali..

  16. Perang darat sangat di tunggu Hamas…bakal teradi pertempuran hebat..selamat berjuang Hamas..
    Allahu Akbar !

    • Sebenarnya hamas ini siapa yang membiayai? Apa tidak mikir akibat terhadap rakyat palestina. Israel dan hamas sama2x perlu dikasi pelajaran. Kalau anda2x pernah ba2 sebuah buku rahasia ekonomi israel, maka israel adalah satunya negara yang setiap momen terjadi konflik besar maka semua harga2x saham perusahaan israel naik harganya di bursa2x saham dunia. Jadi saran saya jangan bangga dulu mendukung hamas. Karena memang ini siklus konflik yg sudah diatur israel dan hamas dgn mengorbankan rakyat palestina

      • Yang perlu dikasih pelajaran ente bung, belajar dulu sana soal sejarah !!

      • Kalau ngga ngerti jgn berlagak pintar bung!!!

      • Pinter keblinger….!!

      • Wah ini sih kayaknya lebih ke paska ya Bung? Luar biasa klo mereka punya kekuatan masif berkualifikasi seperti ini

      • Coba baca sejarah asal muasal gerakan zionist, al fatah dan hamas baru anda akan mengerti bung. hamas didukung oleh rakyat Palestina. Banyak rakyat Palestina yang bergabung dengan Hamas. Saat ini Hamas adalah pemegang pemerintahan resmi disana setelah memenangkan pemilihan disana. Artinya rakyat palestina mendukung hamas.
        Sumber harga-harga sahamnya yang naik mana coba di kasih sumbernya disini.

      • Hamas siapa yang membiayai???. Anda pinter apa kepinteran bung?. Organisasi Hamas itu sendiri jauh lebih kompleks dari yang anda pikirkan bung. Anda tahu apa yang membuat Hamas eksis sampai sekarang??. Mereka bahkan jauh lebih mandiri dari negara Palestina itu sendiri. Mereka punya sistem pemerintahan sendiri, lembaga finansial sendiri, militer & polisi sendiri. Anda tahu setiap rumah yang dihancurkan oleh Israel di Gaza dibangun kembali dengan bantuan mereka. Kalau eksistensi mereka tergantung dari bantuan pihak luar mereka sudah habis dalam hitungan hari melawan Israel.

      • Nich orang gak ngerti sejarah ndrooo….

        • Sejarah selalu bisa dibuat bung, dan mereka ahlinya dari sejak jaman bahelak. Intinya kalo anda mendukung terbentuknya negara palestina bisa terbentuk maka sebaiknya jangan pilih konflik bersenjata disana karena semua konflik bersenjata di sana kontra produktif terhadap itu.

      • mas indo anda muslim atau bukan? kalo bukan wajar anda tidak tau, kalo anda muslim sungguh sangat disayangkan anda tidak membaca sejarah dari awal, ini bukan cerita 100 – 200 th tapi jauh di zaman nabi musa sana

        • Perlu dipertanyakan pengetahuan agama dan sejarahnya.. Heuheuheu

          • KERJA2… main internet saja, bulan puasa pada ribut-ribut, kerja pikirin masa depan keluarga… pikirin bagaimana cara Upah minum naik 100%…..hehe peace

        • mas zeromind, dak perlu anada tau itu, tapi orang2 zionist jauh lebih pintar masalah sejarah kalo dari anda kalo masalah itu, dan mereka juga pintar beradaptasi dari masalah sejarah. Jangankan konflik israel dan palestina sampe sekarng, perang dunia ke-2 saja bisa direkayasa sama mereka supaya orang2 zionist bisa kemabali ke israel sekarng. makanya bung memahami sejarah memang penting tapi sejarah juga dibuat oleh manusia dan dan manusia terus berkembang caranya membuat sejarah.
          Lihat cara pak SBY apakah beliau mendukung salah satu kubu? tidak. malah beliau setiap ada konflik meminta konflik berhenti dan berinisiatif mendorong PBB mengirimkan pasukan penjaga perdamaian bukan pasukan pencipta perdamainan ya. TNI yang pergi ke sana apakah disenangi penduduk? baik ke palestina ato libanon? pasti Iya. tapi apakah disenangi oleh Hamas atau Hizbulla? pasti tidak. karena mereka tidak bisa hidup tanpa konflik. Konflik seperti ini bagi israel cuman bagian dari sekolah lanjutan bagi putra-putrinya (LEMHANAS masif). yang paling mereka harapkan sekarang akhir dari operasi ini adalah perang darat karena dengan demikian mereka akan memanggil banyak anak2 muda untuk disekolahkan lebih lanjut. anda tahu efek setelah perang bagi anak2 muda yang jadi tentara cadangan? mereka akan menjadi generasi yang lebih hebat dan siapa membangun israel lebih hebat, dengan kembali ke dunia usahanya masing2x. apakah anda berpikir sampe kesana? saya yakin tidak. Jadi jangan tanya saya muslim ato tidak? kalo ga percaya ya monggo suhu-suhu yang aktif dalam dunia perintelan internasional turun tangan menjelaskan..hehe

        • bener tuh kata mas KAMBINGG.. ayo kerja2x hehe..

  17. Selamat berjuang saudaraku , smoga Allah SWT memberikan kekuatan, semoga Allah menurunkan azab yg pedih buat tentara kusus al israel, membutakan matanya, melemahkan otak & ototnya. Amin 2000000 x

  18. Perang antara Al Haq vs Al Batil….kadang mereka saling mengalahkan dan saling menang, tpi akhirnya Al Haq yg akan menang, InsyaAllah. Pelajaran yg bisa di ambil Kebenaran yg tdk terorganisir akan di kalahkan oleh Kebatilan yg terorganisir.

    • caps lock d sebelah kiri tengah bung
      Syi’ah dan sunni sama?….. mosoooook
      syahadat gmana?…adzan gmana? dlll….waduh byk deh …males ngitung

  19. Knp saya cuma bisa teriak2???
    Karena mau daftar saja dah minder :p

    Syarat masuk al Qassam:
    1. Hafal qur’an 30 juz
    2. Sholat subuh berjamaah (awal waktu) terus menerus minim 40 hari tanpa putus
    3. ……

    Dua syarat diatas saja sudah tidak mungkin untuk lolos. Cuma bisa berdo’a semoga syahid semua….krn hanya darah syahid yang akan mengharumkan tanah bumi ini.

    • Satu lagi syarat bung @Java , 3. rutin melakukan sholat malam. syarat2 yg berat bagi orang yg imannya lemah (saya masuk kategori ini). Astghfirullah…

      • Me to, 🙁

      • Assalamualaikum wr.wb
        syarat yg lebih sulit lg adalah amanah, jujur bisa dipercaya
        la kl mau ngadain serangan aja, lokasi serangannya di gosipin apa gk gagal rencananya :v
        apalagi kalau pendanaannya di korupsi bakalan amburadul :v
        kalau salah ya maaf 😀
        maaf oot 😀

        • Memang betul apa yang dikatakan bung WongNdedo@ Sehingga mengukur Amanah, jujur dan terpercaya itu hal yang susah memang krn sesuatu yang abstrak, maka dari itu benar kata bung harus ada indikator2 yg telah tersurat maupun tersirat dalam ‘Kitab petunjuk manusia’ dan ‘tuntunan guru mulia SAW’ diantaranya 3 hal: 1. Hafidz atau hufadz qur’an, 2. Tidak meninggalkan sholat shubuh berjamaah, 3. Selalu bangun malam untuk sholat ….insyaalloh itu indikator minimal orang yang amanah, jujur dan dapat dipercaya aka bukan orang munafik.
          Wallahu a’lambishshowab

    • bung Java Indonesia… saya perlu beberapa informasi terkait domain aktifitas kedinasan bung Java… cuma perlu informasi dikit kok… insyaAllah tidak akan masuk ke ranah rahasia negara… hehehe…

      boleh saya minta alamat email bung Java dari admin kita ?

    • Kayanya ane gak masuk dominasi dech…..bantu doa dan nyumbang aje ane sich…..

  20. pasukan bani isroil memang terkenal hebat tapi melawan pasukan “bonex” indonesia tidak akan sanggup dan akan balik lari ke belakang…hehe…guyon bae..

  21. @bung jalo:adakah kerjasama militer antara palestina dan indonesia ???sangatlah aneh bila tada pihak yg membantu mengingat bahwa persenjataan hamas yg semakin modern biarpun kurang canggih.
    satu kejanggalan lagi yg ta bisa dipungkiri mengapa pemerintah dan rakyat palestina slalu membanggakan bangsa indonesia !!!!adakah bantuan terselubung dari negeri ini buat militer palestina !!!!

    • Setahu saya belum ada tapi hubungan bilateral baik kunjungan pemerintah sudah dilakukan sejak jaman Bung Karno selain itu ada juga melalui KAA (Konferensi Asia Afrika), OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan Conference on Cooperation Among East Asian Countries for Palestinian Development (CEAPAD). Lalu ada hubungan dalam sektor Parawisata, ekonomi, bantuan kemanusian, dll. Selain itu Indonesia membangun kedutaan besar non-residen di Amman
      dan Palestine membangun kedutaan besar di Jakarta.

    • mereka sgt bangga dan berterimakasih pada bangsa dan rakyat RI, karena banyak sekali organisasi massa dan pribadi2 yg membantu rakyat Gaza, baik itu berupa uang, obat2an, dokter2 dan insinyur konstruksi. Ketua pelaksana pembangunan RS Indonesia di Gaza (sdr. Nur Ikhwan, teman saya). Dan secara berkala beberapa aktivis Gaza dan Indonesia saling menunjungi.

    • Yang bantu “orang yahudi jg” Hehe

  22. saya sampai tdk mampu berkata apa2 mendengar kelakuan israel, sementara dunia khususnya UN hanya berkutat pd tindakan cuman begituan, dan faktanya ASU masih saja membela israel yg tangannya bergelimang darah kejahatan kemanusiaan.

  23. kenapa masih ada yg menyalahkan hamas? jelas jelas korban dipalestina akibat israel, coba kalau israel ga pengecut langsung kirim pasukan darat face to face dgn hamas jangan sembarangan bombardir pasti korban sipil hanya sedikit. hamas kan hanya berjuang untuk merebut tanah air yg dikuasai israel , dunia pun mengakui luas wilayah israel spt tahun 1948 bukan spt sekarang yg luasnya sudah berkali-kali lipat

    • sabar bung, beberapa dari kita mungkin belum paham ttg perjuangan HAMAS untuk erebut kembali taah air mereka yg di jajah Zionis. Memang yg terjadi di sana (GAZA) tdk semua setuju dg perjuangan HAMAS termasuk juga dulu faksi FATAH. Ada yg lebih suka tanah air mereka dikuasai Zionis asal mereka hidup tenang, makan kenyang dan tidur nyenyak. Tapi orang2 spt itu hanya sedikit sekali jumlahnya. Begitu juga dg di Indonesia waktu kita dijajah dulu, ada yg senang dan mengambil keuntungan pribadi dari para penjajah.

  24. sayeret matkal jauh lbh berbahaya ketimbang shayetet 13..anggota sayeret mampu menguasai bhs arab dan persia dgn baik selain bahasa inggris..konon benyamin netanyahu adlh mantan anggota komando sayeret matkal..dan mereka disebut sbg pasukan khusus terbaik di dunia

    • @bung frans… buat masukan …
      dari artikel pean…
      “sayeret matkal jauh lbh berbahaya ketimbang shayetet 13..anggota sayeret mampu menguasai bhs arab dan persia dgn baik selain bahasa inggris….dan mereka disebut sbg pasukan khusus terbaik di dunia”…..
      jadi menguasai beberapa bahasa membuat mereka jd pasukan khusus terbaik?
      …. iya kalo “perang mulut” 😀 😀
      ojo purik 😀 … inikan berdasarkan tulisan pean yg aku rangkum 😀 pissss n salam kenal 😀

      • Kalo gak salah sayeret matkal pernah di todongin senjata ma wamenhan kita saat ini pak sjafrie., waktu beliau jadi paspamres jaman pak harto di dalam lift di gedung PBB Di New york…
        Koreksi kalo salah

      • sayeret kalah jauh ma “GARUDA H . . . U”

        “GARUDA H . . . U” saingan ma “g . . . t soldier” amerika

        hehehe…. anggap aja hoax deh ^_^

      • shayetet 13 hanya sampah dong,shayetet 13 sudah tawas sama hamas dan hizbullah bikin malu dong

    • saking hebatnya sayeret matkal kata bung frans,
      langsung babak belur begitu “turun” ke gaza kemaren…
      release resmi khas israhell “beberapa” terluka ringan…
      kenyataan pasti sudah stengah peleton di sukabumikan 😉

      • wah ni pd blm tahu rupanya..sayaret matkal ga mungkin diturunkan utk perang terbuka kawan..namanya jg pasukan khusus,beda dgn pasukan khusus negara lain yg bs dgn mudah dikenali hehe

  25. decildekfish@mslh gaza cm palestine dan israel yg tahu akar permasalahannya..perang ataupun damai cm kedua negri ini yg tahu bgmn memulai dan bgmn mengakhirinya..israel kejam,itu tdk bs di pungkiri..tp hamas jg “blm tentu bener” cara perjuangannya!

    • Hamas sudah bagus…. dengan israel tidak ada kata diplomasi.. googling sejarah om…

    • Hayo coba kembali ke zaman sebelum 1948, pasti nggak ada hamas

    • Bagaimanapun yang berjuang demi kemerdekaan tanah airnya adalah PAHLAWAN!. Seperti hal mereka2 yang berjuang demi tegaknya NKRI tercinta!

    • Moshav Tekuma, Israel

      Surveying the wreckage of a neighbor’s bungalow hit by a Palestinian rocket, retired Israeli official Avner Cohen traces the missile’s trajectory back to an “enormous, stupid mistake” made 30 years ago.

      “Hamas, to my great regret, is Israel’s creation,” says Mr. Cohen, a Tunisian-born Jew who worked in Gaza for more than two decades. Responsible for religious affairs in the region until 1994, Mr. Cohen watched the Islamist movement take shape, muscle aside secular Palestinian rivals and then morph into what is today Hamas, a militant group that is sworn to Israel’s destruction.

      Instead of trying to curb Gaza’s Islamists from the outset, says Mr. Cohen, Israel for years tolerated and, in some cases, encouraged them as a counterweight to the secular nationalists of the Palestine Liberation Organization and its dominant faction, Yasser Arafat’s Fatah. Israel cooperated with a crippled, half-blind cleric named Sheikh Ahmed Yassin, even as he was laying the foundations for what would become Hamas. Sheikh Yassin continues to inspire militants today; during the recent war in Gaza, Hamas fighters confronted Israeli troops with “Yassins,” primitive rocket-propelled grenades named in honor of the cleric.

      View Slideshow

      Sheikh Ahmed Yassin, the founder of Hamas. Abid Katib/Getty Images
      Last Saturday, after 22 days of war, Israel announced a halt to the offensive. The assault was aimed at stopping Hamas rockets from falling on Israel. Prime Minister Ehud Olmert hailed a “determined and successful military operation.” More than 1,200 Palestinians had died. Thirteen Israelis were also killed.

      Hamas responded the next day by lobbing five rockets towards the Israeli town of Sderot, a few miles down the road from Moshav Tekuma, the farming village where Mr. Cohen lives. Hamas then announced its own cease-fire.

      Since then, Hamas leaders have emerged from hiding and reasserted their control over Gaza. Egyptian-mediated talks aimed at a more durable truce are expected to start this weekend. President Barack Obama said this week that lasting calm “requires more than a long cease-fire” and depends on Israel and a future Palestinian state “living side by side in peace and security.”

      A look at Israel’s decades-long dealings with Palestinian radicals — including some little-known attempts to cooperate with the Islamists — reveals a catalog of unintended and often perilous consequences. Time and again, Israel’s efforts to find a pliant Palestinian partner that is both credible with Palestinians and willing to eschew violence, have backfired. Would-be partners have turned into foes or lost the support of their people.

      Israel’s experience echoes that of the U.S., which, during the Cold War, looked to Islamists as a useful ally against communism. Anti-Soviet forces backed by America after Moscow’s 1979 invasion of Afghanistan later mutated into al Qaeda.

      Hamas supporters in Gaza City after the cease-fire. APA /Landov
      At stake is the future of what used to be the British Mandate of Palestine, the biblical lands now comprising Israel and the Palestinian territories of the West Bank and Gaza. Since 1948, when the state of Israel was established, Israelis and Palestinians have each asserted claims over the same territory.

      The Palestinian cause was for decades led by the PLO, which Israel regarded as a terrorist outfit and sought to crush until the 1990s, when the PLO dropped its vow to destroy the Jewish state. The PLO’s Palestinian rival, Hamas, led by Islamist militants, refused to recognize Israel and vowed to continue “resistance.” Hamas now controls Gaza, a crowded, impoverished sliver of land on the Mediterranean from which Israel pulled out troops and settlers in 2005.

      When Israel first encountered Islamists in Gaza in the 1970s and ’80s, they seemed focused on studying the Quran, not on confrontation with Israel. The Israeli government officially recognized a precursor to Hamas called Mujama Al-Islamiya, registering the group as a charity. It allowed Mujama members to set up an Islamic university and build mosques, clubs and schools. Crucially, Israel often stood aside when the Islamists and their secular left-wing Palestinian rivals battled, sometimes violently, for influence in both Gaza and the West Bank.

      “When I look back at the chain of events I think we made a mistake,” says David Hacham, who worked in Gaza in the late 1980s and early ’90s as an Arab-affairs expert in the Israeli military. “But at the time nobody thought about the possible results.”

      Israeli officials who served in Gaza disagree on how much their own actions may have contributed to the rise of Hamas. They blame the group’s recent ascent on outsiders, primarily Iran. This view is shared by the Israeli government. “Hamas in Gaza was built by Iran as a foundation for power, and is backed through funding, through training and through the provision of advanced weapons,” Mr. Olmert said last Saturday. Hamas has denied receiving military assistance from Iran.

      Arieh Spitzen, the former head of the Israeli military’s Department of Palestinian Affairs, says that even if Israel had tried to stop the Islamists sooner, he doubts it could have done much to curb political Islam, a movement that was spreading across the Muslim world. He says attempts to stop it are akin to trying to change the internal rhythms of nature: “It is like saying: ‘I will kill all the mosquitoes.’ But then you get even worse insects that will kill you…You break the balance. You kill Hamas you might get al Qaeda.”

      When it became clear in the early 1990s that Gaza’s Islamists had mutated from a religious group into a fighting force aimed at Israel — particularly after they turned to suicide bombings in 1994 — Israel cracked down with ferocious force. But each military assault only increased Hamas’s appeal to ordinary Palestinians. The group ultimately trounced secular rivals, notably Fatah, in a 2006 election supported by Israel’s main ally, the U.S.

      Now, one big fear in Israel and elsewhere is that while Hamas has been hammered hard, the war might have boosted the group’s popular appeal. Ismail Haniyeh, head of the Hamas administration in Gaza, came out of hiding last Sunday to declare that “God has granted us a great victory.”

      Most damaged from the war, say many Palestinians, is Fatah, now Israel’s principal negotiating partner. “Everyone is praising the resistance and thinks that Fatah is not part of it,” says Baker Abu-Baker, a longtime Fatah supporter and author of a book on Hamas.

      A Lack of Devotion
      Hamas traces its roots back to the Muslim Brotherhood, a group set up in Egypt in 1928. The Brotherhood believed that the woes of the Arab world spring from a lack of Islamic devotion. Its slogan: “Islam is the solution. The Quran is our constitution.” Its philosophy today underpins modern, and often militantly intolerant, political Islam from Algeria to Indonesia.

      After the 1948 establishment of Israel, the Brotherhood recruited a few followers in Palestinian refugee camps in Gaza and elsewhere, but secular activists came to dominate the Palestinian nationalist movement.

      At the time, Gaza was ruled by Egypt. The country’s then-president, Gamal Abdel Nasser, was a secular nationalist who brutally repressed the Brotherhood. In 1967, Nasser suffered a crushing defeat when Israel triumphed in the six-day war. Israel took control of Gaza and also the West Bank.

      “We were all stunned,” says Palestinian writer and Hamas supporter Azzam Tamimi. He was at school at the time in Kuwait and says he became close to a classmate named Khaled Mashaal, now Hamas’s Damascus-based political chief. “The Arab defeat provided the Brotherhood with a big opportunity,” says Mr. Tamimi.

      In Gaza, Israel hunted down members of Fatah and other secular PLO factions, but it dropped harsh restrictions imposed on Islamic activists by the territory’s previous Egyptian rulers. Fatah, set up in 1964, was the backbone of the PLO, which was responsible for hijackings, bombings and other violence against Israel. Arab states in 1974 declared the PLO the “sole legitimate representative” of the Palestinian people world-wide.

      Enlarge Image

      A poster of the late Sheikh Yassin hangs near a building destroyed by the Israeli assault on Gaza. Heidi Levine/Sipa Press for The Wall Street Journal
      The Muslim Brotherhood, led in Gaza by Sheikh Yassin, was free to spread its message openly. In addition to launching various charity projects, Sheikh Yassin collected money to reprint the writings of Sayyid Qutb, an Egyptian member of the Brotherhood who, before his execution by President Nasser, advocated global jihad. He is now seen as one of the founding ideologues of militant political Islam.

      Mr. Cohen, who worked at the time for the Israeli government’s religious affairs department in Gaza, says he began to hear disturbing reports in the mid-1970s about Sheikh Yassin from traditional Islamic clerics. He says they warned that the sheikh had no formal Islamic training and was ultimately more interested in politics than faith. “They said, ‘Keep away from Yassin. He is a big danger,'” recalls Mr. Cohen.

      Instead, Israel’s military-led administration in Gaza looked favorably on the paraplegic cleric, who set up a wide network of schools, clinics, a library and kindergartens. Sheikh Yassin formed the Islamist group Mujama al-Islamiya, which was officially recognized by Israel as a charity and then, in 1979, as an association. Israel also endorsed the establishment of the Islamic University of Gaza, which it now regards as a hotbed of militancy. The university was one of the first targets hit by Israeli warplanes in the recent war.

      Brig. General Yosef Kastel, Gaza’s Israeli governor at the time, is too ill to comment, says his wife. But Brig. Gen. Yitzhak Segev, who took over as governor in Gaza in late 1979, says he had no illusions about Sheikh Yassin’s long-term intentions or the perils of political Islam. As Israel’s former military attache in Iran, he’d watched Islamic fervor topple the Shah. However, in Gaza, says Mr. Segev, “our main enemy was Fatah,” and the cleric “was still 100% peaceful” towards Israel. Former officials say Israel was also at the time wary of being viewed as an enemy of Islam.

      Mr. Segev says he had regular contact with Sheikh Yassin, in part to keep an eye on him. He visited his mosque and met the cleric around a dozen times. It was illegal at the time for Israelis to meet anyone from the PLO. Mr. Segev later arranged for the cleric to be taken to Israel for hospital treatment. “We had no problems with him,” he says.

      In fact, the cleric and Israel had a shared enemy: secular Palestinian activists. After a failed attempt in Gaza to oust secularists from leadership of the Palestinian Red Crescent, the Muslim version of the Red Cross, Mujama staged a violent demonstration, storming the Red Crescent building. Islamists also attacked shops selling liquor and cinemas. The Israeli military mostly stood on the sidelines.

      Mr. Segev says the army didn’t want to get involved in Palestinian quarrels but did send soldiers to prevent Islamists from burning down the house of the Red Crescent’s secular chief, a socialist who supported the PLO.

      ‘An Alternative to the PLO’
      Clashes between Islamists and secular nationalists spread to the West Bank and escalated during the early 1980s, convulsing college campuses, particularly Birzeit University, a center of political activism.

      As the fighting between rival student factions at Birzeit grew more violent, Brig. Gen. Shalom Harari, then a military intelligence officer in Gaza, says he received a call from Israeli soldiers manning a checkpoint on the road out of Gaza. They had stopped a bus carrying Islamic activists who wanted to join the battle against Fatah at Birzeit. “I said: ‘If they want to burn each other let them go,'” recalls Mr. Harari.

      A leader of Birzeit’s Islamist faction at the time was Mahmoud Musleh, now a pro-Hamas member of a Palestinian legislature elected in 2006. He recalls how usually aggressive Israeli security forces stood back and let conflagration develop. He denies any collusion between his own camp and the Israelis, but says “they hoped we would become an alternative to the PLO.”

      A year later, in 1984, the Israeli military received a tip-off from Fatah supporters that Sheikh Yassin’s Gaza Islamists were collecting arms, according to Israeli officials in Gaza at the time. Israeli troops raided a mosque and found a cache of weapons. Sheikh Yassin was jailed. He told Israeli interrogators the weapons were for use against rival Palestinians, not Israel, according to Mr. Hacham, the military affairs expert who says he spoke frequently with jailed Islamists. The cleric was released after a year and continued to expand Mujama’s reach across Gaza.

      Around the time of Sheikh Yassin’s arrest, Mr. Cohen, the religious affairs official, sent a report to senior Israeli military and civilian officials in Gaza. Describing the cleric as a “diabolical” figure, he warned that Israel’s policy towards the Islamists was allowing Mujama to develop into a dangerous force.

      “I believe that by continuing to turn away our eyes, our lenient approach to Mujama will in the future harm us. I therefore suggest focusing our efforts on finding ways to break up this monster before this reality jumps in our face,” Mr. Cohen wrote.

      Mr. Harari, the military intelligence officer, says this and other warnings were ignored. But, he says, the reason for this was neglect, not a desire to fortify the Islamists: “Israel never financed Hamas. Israel never armed Hamas.”

      Roni Shaked, a former officer of Shin Bet, Israel’s internal security service, and author of a book on Hamas, says Sheikh Yassin and his followers had a long-term perspective whose dangers were not understood at the time. “They worked slowly, slowly, step by step according to the Muslim Brotherhood plan.”

      Declaring Jihad
      In 1987, several Palestinians were killed in a traffic accident involving an Israeli driver, triggering a wave of protests that became known as the first Intifada, Mr. Yassin and six other Mujama Islamists launched Hamas, or the Islamic Resistance Movement. Hamas’s charter, released a year later, is studded with anti-Semitism and declares “jihad its path and death for the cause of Allah its most sublime belief.”

      Israeli officials, still focused on Fatah and initially unaware of the Hamas charter, continued to maintain contacts with the Gaza Islamists. Mr. Hacham, the military Arab affairs expert, remembers taking one of Hamas’s founders, Mahmoud Zahar, to meet Israel’s then defense minister, Yitzhak Rabin, as part of regular consultations between Israeli officials and Palestinians not linked to the PLO. Mr. Zahar, the only Hamas founder known to be alive today, is now the group’s senior political leader in Gaza.

      In 1989, Hamas carried out its first attack on Israel, abducting and killing two soldiers. Israel arrested Sheikh Yassin and sentenced him to life. It later rounded up more than 400 suspected Hamas activists, including Mr. Zahar, and deported them to southern Lebanon. There, they hooked up with Hezbollah, the Iran-backed A-Team of anti-Israeli militancy.

      Many of the deportees later returned to Gaza. Hamas built up its arsenal and escalated its attacks, while all along maintaining the social network that underpinned its support in Gaza.

      Meanwhile, its enemy, the PLO, dropped its commitment to Israel’s destruction and started negotiating a two-state settlement. Hamas accused it of treachery. This accusation found increasing resonance as Israel kept developing settlements on occupied Palestinian land, particularly the West Bank. Though the West Bank had passed to the nominal control of a new Palestinian Authority, it was still dotted with Israeli military checkpoints and a growing number of Israeli settlers.

      Unable to uproot a now entrenched Islamist network that had suddenly replaced the PLO as its main foe, Israel tried to decapitate it. It started targeting Hamas leaders. This, too, made no dent in Hamas’s support, and sometimes even helped the group. In 1997, for example, Israel’s Mossad spy agency tried to poison Hamas’s exiled political leader Mr. Mashaal, who was then living in Jordan.

      The agents got caught and, to get them out of a Jordanian jail, Israel agreed to release Sheikh Yassin. The cleric set off on a tour of the Islamic world to raise support and money. He returned to Gaza to a hero’s welcome.

      Efraim Halevy, a veteran Mossad officer who negotiated the deal that released Sheikh Yassin, says the cleric’s freedom was hard to swallow, but Israel had no choice. After the fiasco in Jordan, Mr. Halevy was named director of Mossad, a position he held until 2002. Two years later, Sheikh Yassin was killed by an Israeli air strike.

      Mr. Halevy has in recent years urged Israel to negotiate with Hamas. He says that “Hamas can be crushed,” but he believes that “the price of crushing Hamas is a price that Israel would prefer not to pay.” When Israel’s authoritarian secular neighbor, Syria, launched a campaign to wipe out Muslim Brotherhood militants in the early 1980s it killed more than 20,000 people, many of them civilians.

      In its recent war in Gaza, Israel didn’t set the destruction of Hamas as its goal. It limited its stated objectives to halting the Islamists’ rocket fire and battering their overall military capacity. At the start of the Israeli operation in December, Defense Minister Ehud Barak told parliament that the goal was “to deal Hamas a severe blow, a blow that will cause it to stop its hostile actions from Gaza at Israeli citizens and soldiers.”

      Walking back to his house from the rubble of his neighbor’s home, Mr. Cohen, the former religious affairs official in Gaza, curses Hamas and also what he sees as missteps that allowed Islamists to put down deep roots in Gaza.

      He recalls a 1970s meeting with a traditional Islamic cleric who wanted Israel to stop cooperating with the Muslim Brotherhood followers of Sheikh Yassin: “He told me: ‘You are going to have big regrets in 20 or 30 years.’ He was right.”

      http://online.wsj.com/news/articles/SB123275572295011847

  26. semoga palestina dilindungi allah swt, apalagi dibulan puasa yg penuh berkah. semoga israel diberi kesadaran yg maha kuasa apa yg telah dilakukannya,. aminnnnnnn.

  27. slma orng msh trjajah dia akn melawan dgn sglh cara.
    wajib hukumnya melawan penjajah kecuali”pengecut”.

  28. bkn kah palestina sdh bersatu,antara fatah dan hamas,tp saat ini knp cm hamas yg berjuang,d mana kah fatah,,shrsx fatah membuka front perlawanan baru d tepi barat,agar konsentrasi pasukan israel terpecah,ini yg ada berita malah dari milisi d lebanon yg menembakan roket ke israel..

  29. Hamas memang cenderung lebih keras. Sementara Fatah (Faksinya Yasser Arafat) cenderung lebih soft. Makanya ketika pemilihan di jalur gaza dan dimenangkan hamas, seluruh bantuan negara barat yang dikirim ke Gaza di stop. Barat dan Israel lebih senang jika Fatah yang memegang kekuasaan seperti ketika zaman alm. Yaseer Arafat.

  30. Hanya Indonesia yg mampu membebaskan tanah al-Quds dan hanya Indonesia yg akan membebaskannya. We shall overcome, one day. Janji orang Indonesia ke Palestina.

  31. Bangsa yahudi akan tetap seperti begiitu, dan bangsa lainnya akan tetap seperti begini sampai tiba waktunya tatkala bangsa-bangsa yg memusuhi Islam selain bangsa yahudi akhirnya atas ijin Allah sadar bahwa siapa yg pada lenyataannya sebagai musuh bersama itu. Bangsa yahudi. Itu terjadi pasca peperangan multinasional (bisa dibilang ww3), sehingga pada akhirnya akan mengkrucut menjadi perang agama.

    Bersambung…

  32. dalam wawancara di tv td, katanya 5 pasukan israel tewas dan lainya luka-luka, tetapi dalam pemberitaan ini hanya 4 orang yang luka ringan.

  33. Satu kata yg bisa diberikan ke israel ” merdeka atau mati”.pintu surga telah dibuka selebar lebarnya bagi para mujahidin.sejarah suatu saat akan terbuka siapakah sebenarnya teroris itu.

  34. ya allah krmkan bala tentara mu tuk bantu rakyat palestina…..amiiin

  35. Jangan lupa cyber war Israel Vs Indonesia sudah dimulai lho #Op_SaveGaza

  36. masa yang katanya bung frans pasukan elit #1 dunia israhell ini bisa dilukai Brigade Al Qassam
    hati bung frans bisa ikut terluka nih…

  37. pasukan khusus terbaik dunia bkn dr inggris atau israel tapi dr indonesia, mrk menang publikasi inilah keajaiban Allah bhwa melawan pasukan kecil di gaza aja israel kesulitan bisanya cuma mem bombardir blm lagi tempur dgn TNI, smg Allah menurunkan bala tentaranya, untuk menghancurkan zionos israel

    • Bembie@hamas itu menggunakan penduduk sipil tak berdosa sbg perisai kawan..bersembunyi di rmh2 penduduk,mesjid2 dan gereja2..jd gmnapun agak menyulitkan israel,cb klo gaza cm di isi oleh hamas semua,mungkin ckp 1-2 jam gaza rata dgn tanah..maksud anda tni vs israel? Hehe anda bercanda

      • @frans,siapakah yang menyatakan penduduk gaza dijadikan perisai oleh hamas?amerika?israel?PBB. Apakah ada bukti setelah dirudalnya mesjid mesjid ada rudal atau roket yang biasa di terbangkan oleh hamas?apakah harus menimbulkan korban jiwa di dalam mesjid untuk para warga yang akan menunaikan kewajiban mereka beribadah?apakah warga muslim harus pindah tempat mereka beribadah?
        dan juga pihak israel menghancurkan rumah sakit,melarang korban mendapatkan perawatan ke perbatasan mesir?

  38. bung frans akar masalah jelas tanah palestina yg dicaplok, ga aneh kalau muncul perlawanan macam hamas. anda mungkin ga punya rasa nasionalis jadi ga ngerti dikit dikit referendum

  39. gedung PBB itu steril kawan,jd ga mungkin org asing bs bawa senjata,kecuali pengawal presiden negara2 bsr seperti amerika dan rusia..kesimpulannya ya itu hoax hehe

  40. decildekfish@jgn emosional,nyantai dong….tdk semua org israel yg mendukung tindakan pemerintah israel..mslhnya sgt kompleks,jd mmg cm mereka2 yg bertikai yg bs menyelesaikan konflik ini..kita teriak2 caci maki,sumpah serapah apa bs menyelesaikan mslh di”negri org”..kita kirim pasukan kita utk melawan israel jg gak mungkin,sm saja setor nyawa..berdo’a dan memberikan bantuan finansial/obat2an/makanan itu lbh realistis..

  41. saudaraku..mari kita kirim do’a setinggi langit diangkasa diiringi air mata kesedihan seluas samudera utk saudara2 kita di palestine khususnya gaza,semoga TUHAN melindungi dan memberkati mereka semua(gaza) dan menyadarkan israel dr perbuatan kejinya..amen

  42. Israel,USA, UK, hnylah boneka Ordo “tata dunia baru”. Mereka ibarat monster yg diciptakan ato dibawa ordo ini utk menguasai bumi. utk it, scpatnya umat manusia sadar n bersatu padu menciptakan kekuatan cahaya utk membangkitkan Ultraman, sang penghancur monster.

  43. Senin, 14 Juli 2014

    Mantap… 1900 Pasukan Perdamaian Indonesia Menuju Palestina-Israel

    intriknews.com Meski memasuki bulan suci Ramadan, konflik antara Palestina dan Israel kembali bergejolak. Sampai saat ini, wilayah Jalur Gaza masih mencekam, setelah pasukan militer Israel melakukan serangan udara.

    Namun, serangan pun kembali dibalas kubu Palestina, di mana bantuan pasukan Hamas meluncurkan roket-roket ke wilayah Israel.

    Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa Indonesia yang juga merupakan anggota PBB tidak tinggal diam, karena telah mengirimkan 1.900 pasukan perdamaian.

    “Prinsip dasar kita, kita ingin selesaikan secara damai antara Palestina dan Israel,” jelas Purnomo, saat ditemui wartawan di Kodam Jaya, Cawang, Jakarta Timur, Rabu 9 Juli 2014.

    Purnomo juga mengatakan bahwa pengiriman pasukan Indonesia yang mengusung misi perdamaian merupakan yang terbesar.

    “Kita juga akan berangkatkan 1.000 pasukan lagi, tetapi tidak hanya di daerah konflik antara Palestina-Israel tapi juga di Konggo Afrika Tengah,” ungkapnya.

    • java indonesia@mudah2an dgn adanya pasukan TNI di sana,kedua belah pihak bs menahan diri dan mau duduk bersama mencari solusi dan penyelesaian yg baik..TNI harus memposisikan diri sbg penengah yg bijak,dan meyakinkan kedua belah pihak bahwa TNI hadir sbg sahabat yg cm ingin menyelamatkan rakyat sipil yg tdk berdosa dgn cara menghentikan baku tembak israel dan hamas serta mengajak mereka duduk satu meja membuat kesepakatan damai..
      Klo perlu sambil minum kopi medan dan ma’em apam+kelepon khas indonesia hehe

    • ini baru cara paling cerdas untuk menahan rencana israel, tapi kalo cuman meluncurkan roket yang buat juga israel juga, cuman bikin dia bisa jualan baranganya aja

  44. frans@ itu corong israel yg bilang hamas menjadikn sipil sebagai perisai, ga aneh media dunia banyak dikuasai israel
    tentu ga sulit kalau israel lansung kirim pasukan darat jadi bisa lebih jelas membedakan mana sipil mana yg bersenjata, kenapa israel harus takut dgn roket2 hamas, israelkan dah punya iron dome? jadi ga usah berlebihan dgn memborbardir gaza,cukup kirim pasukan darat katanya pasukan hebat jadi apa sulit buat mereka, ga butuh itu serangan udara
    didunia ini israel top pelanggar resolusi PBB

    • Nih saya kasih solusi tidak masuk akal, kalo pemerintah palestina ingin bisa berdiri segara:
      1. Usir semua Hamas Dari Palestina
      2. Minta bantuan PBB untuk mengendalikan pemerintahan selama 10 tahun
      3. Minta bantuan Indonesia untuk mengirimkan tentaranya selama 10 tahun dan berdiam di Palestina sebagai satu-satunya aparat keamanan di palestina
      4. Minta bantuan TNI untuk melatih tentara dan polisinya sampai benar2 mapan

      Dijamin Hamas dan Israel tidak setuju!

      • nih solusi yg lebih baik, usir israel dari tanah pendudukan,kembalikan tanah palestina sesuai dgn peta yg diakui dunia, lucuti senjata israel dan para pejuang dipalestina atau dukung palestina menjadi negara dan bentuk militer palestina,pasok senjata hingga seimbang dgn kekuatan militer israel, nah baru deh tuh israel ga bakal sembarangan

    • ha ha kirim bom diri? sebelum masuk juga udah ditembak duluan. roket tsb ga sia2,memang murah misil irondome ? kalau sia2 kenapa israel membabi buta dan sering menggunakan isu tsb untuk menggempur palestin?

  45. https://m.facebook.com/gaw.gawtama?fref=ts

    Itu FB orangnya diatas….biar diskusi ga simpang siur, takutnya malah dimangaatkan ‘intelejen partai’ untuk kontra intelejen dan cuci otak.

  46. Saya kasih bocoran ya, dimana awal mula perang dunia ketiga dimulai ? , bukan dari konflil LCS bukan dari masalah crimea rusia atau dari komflik di asia timur , awal mula PD 3 itu dari negara israel ini

  47. itu syarat yang ringan buat intel2 israel,

    pernah tau syarat jadi anggota GAM? anggota sandiyudha harus meninggalkan istri dan anaknya selam 15 tahun untuk bisa dekat dengan gubernur gam dan istrinya dan jadi tangan kanan gubernur GAM sekalian jadi Ustadz GAM.

  48. Saran sy jgnnterlalu sok tau, dn sok mengerti politik mereka, sok mengerti tipe bertempur mereka, sok mengerti persyaratan gabung dgn milisi perang mereka.. pdhl ksna dn meraskan lgsg pun belum pernah.. jgn pandai memfitnah suatu golongan tertentu, yg kita lihat dan kita analisis sndiri blm tentu bnr.. smua hanya allah yg maha mengetahui.. dan kita sebagai manusia biasa ckup bs menilai, mana yg baik dn mana yg salah lalu ambil hikmah dari keduanya

 Leave a Reply