Jan 032014
 
Sukhoi SU-27 dan SU-30 TNI AU bersama F/A-18 Hornet RAAF

Sukhoi SU-27 dan SU-30 TNI AU bersama F/A-18 Hornet RAAF

Kementerian Pertahanan melanjutkan rencana pembelian simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi TNI Angkatan Udara dengan pagu anggaran yang ditetapkan sebesar US$ 45 juta atau sekitar Rp 540 miliar. ”Pagu tersebut hanya untuk satu unit simulator Sukhoi,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Rachmad Lubis, Rachmad kepada Tempo, Kamis, 2 Januari 2014.

Laksamana Muda Rachmad Lubis mengatakan, Kementerian Pertahanan tengah memproses evaluasi dokumen penawaran simulator Sukhoi. Selanjutnya, pemaparan oleh peserta lelang. Rachmad enggan menyebutkan pihak-pihak yang sudah mengajukan penawaran ke Kementerian Pertahanan. Namun dia membenarkan jika PT Dirgantara Indonesia masuk sebagai penawar simulator Sukhoi dari dalam negeri.

Dari pemaparan setiap produsen simulator, Kementerian akan menyeleksi dan menuangkan dalam daftar peringkat peserta lelang. Setelah itu dipilih beberapa produsen simulator berdasarkan urutan peringkat tertinggi. Tahapan selanjutnya akan ditinjau fasilitas produksi dari beberapa peserta yang paling potensial.

Su-34 cockpit simulator and 'attack'

Su-34 cockpit simulator and ‘attack’

Pertimbangan pihak Kementerian dalam penentuan pemenang adalah berdasarkan kemampuan produsen memproduksi simulator yang paling menyerupai kemampuan asli pesawat tempur Sukhoi. Pertimbangan lainnya, lama waktu pembuatan dan pengiriman serta jaminan purnajual. Termasuk alih teknologi apabila pemenangnya dari luar negeri.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya mengungkapkan rencana pemerintah membeli simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi SU-27 dan SU-30. Kementerian Pertahanan tengah memilah produsen simulator Sukhoi dari tiga negara yang bisa memproduksinya, yakni: Rusia, Cina, dan Kazakstan.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, menyarankan pemerintah tidak membeli simulator pesawat tempur Sukhoi dari luar negeri. Ia mengatakan, misi utama simulator banyak berisi pelatihan-pelatihan menjalankan misi pesawat tempur dan banyak yang bersifat universal. ”Di dalamnya adalah doktrin tempur TNI AU,” kata dia.

Menurut Andi, semua negara pengguna pesawat tempur Sukhoi memilih membuat sendiri simulator kemudinya, dengan pertimbangan untuk melindungi rahasia negaranya. Contohnya, kata dia, Cina dan Malaysia yang membuat sendiri simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia itu.

PLAAF  Su-30MKK Flight Simulator

PLAAF Su-30MKK Flight Simulator

Adapun Rizal Dharma Putra, pengamat militer, menilai harga simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi yang akan dibeli pemerintah terlampau mahal. Menurut dia, jika pemerintah tetap membeli simulator berbiaya tinggi tersebut, harus diperhitungkan langkah jangka panjangnya. Sebab, pesawat tempur yang Indonesia punya bukan cuma Sukhoi. ”Indonesia punya pesawat tempur F-16, F-5 Tiger, dan pesawat tempur latih T-50 Golden Eagle,” kata Rizal saat dihubungi Tempo, Kamis, 2 Januari 2014.

Menurut Rizal, pemerintah terlalu membuang duit jika membeli satu jenis simulator pesawat tempur, sementara penggunaan pesawat tempur Indonesia berbagai jenis. Rizal melanjutkan, kepemilikan satu skuadron atau 16 pesawat Sukhoi SU-24 dan SU-30 Indonesia belum perlu untuk membeli simulator.

Jika nekat beli simulator Sukhoi, dia melanjutkan, pemerintah harus konsisten ketika membutuhkan penambahan pesawat tempur. Pemerintah mau tak mau harus membeli pesawat tempur jenis Sukhoi lagi.

Menanggapi hal itu, Kementerian Pertahanan membantah jika dikatakan bahwa harga simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi itu kemahalan. Menurut Kementerian, pagu anggaran US$ 45 juta untuk satu unit simulator Sukhoi sudah sesuai harga pasaran. ”Simulator yang rumit, risiko tinggi dengan kecepatan supersonik, harganya pun hampir sama dengan pesawat asli,” kata Rachmad. Karena alasan itu, kata dia, pemerintah baru berani membeli simulator setelah pesawat tempur Sukhoi SU-24 dan SU-30 yang dimiliki TNI Angkatan Udara genap satu skuadron atau 16 unit. (Tempo.co/INDRA WIJAYA).

  19 Responses to “Simulator Pesawat Tempur Sukhoi Indonesia”

  1. “pemerintah baru berani membeli simulator setelah pesawat tempur Sukhoi SU-24 dan SU-30 yang dimiliki TNI Angkatan Udara genap satu skuadron atau 16 unit”… sejak kapan kita punya SU-24?(ada-ada aja).

    Betul kata Andi Alisjahbana, kita seharusnya bikin sendiri bukan beli karena faktor yang beliau sebutkan. Kemungkinan jadi obyekan oknum juga kenapa harus beli (bukan bikin) dan harganya yang lu-manyun mahal.

    Berarti pembelian simulator akan berbanding lurus dong dengan kedatangan keluarga flanker yang lain, istilahnya gelar karpet merah….

  2. Ini yg bodrex wartawannya atau pengamatnya, ngapain pengadaan stimulator untuk F5 E, stimulator F 16 kan dah punya? Stimulator ini kan hubungannya erat dg biaya operasi Sukhoi yg 400 jt/ jam sedang disisi lain pilot harus menjaga kesiapan operasinya dan menambah jam terbangnya. Kalo enggak pake stimulator ya jebol bandar….atau pilotnya terbang setahun sekali…….
    Kalo nanya pendapat pengamat, seharusnya wartawan nanyanya ke penghuni Warjag ini ! Di sini kan pengamat semua. ……..

    • Dua2nya terindikasi bodrex (wartawan lebih karena tak memiliki kemampuan ‘recheck’).

      “Harga simulator Sukhoi yang akan dibeli pemerintah terlampau mahal” -dibandingkan terhadap apa? Jika simulator buatan X terlampau mahal dibandingkan buatan A, B, C dan D, ini kan baru proses tender, belum tahu pemenangnya? .

      Jika jam di simulator dihitung sebagai substitusi jam terbang, penghematan jelas besar sekali.
      Menurut perwira AU Israel (2012) biaya per jam simulator $ 1,000 (Rp 12,200,000, vs 1 jam terbang Sukhoi Rp 400,000,000).
      Kebijakan baru AU Canada adalah 50:50 antara jam simulator dan jam terbang.
      AU Canada sedang menyiapkan 1 skuadron simulator (16 unit) untuk menyambut kedatangan 65 F-35 mereka (rasio 1 : 4.06, jadi kalau TNI AU beli 1 sim untuk 16 Su, itu udah didiskon lebaran).

      “jika pemerintah tetap membeli simulator berbiaya tinggi tersebut, harus diperhitungkan langkah jangka panjangnya”
      Hitung2an investasi selalu jangka panjang (biasanya dengan depresiasi dsb), emang dikira jangka apa?

      Standar terbang profisiensi NATO sekitar 180 jam/pilot/tahun, AU Israel dan RAF bisa mencapai 240 jam/pilot/tahun.
      Harga simulator $ 45,000,000 = Rp 549,000,000,000 (1 US$ = Rp 12,200,000).
      Penghematan per jam oleh sim = Rp 400,000,000 – Rp 12,200,000 = Rp 387,800,000
      Investasi kembali setelah Rp 549,000,000,000 : Rp 387,000,000 = 1,419 jam.
      jika total pilot Su TNI AU 40 orang, 1 pilot dapat jatah 1,419 jam : 40 orang = 35,475 jam/orang.
      Jika TNI AU menggunakan standar NATO untuk profisiensi pilot skuadron air superiority-nya, 180 jam/pilot/tahun, dan menggunakan standar AU Canada untuk jam sim (50%) = 90 jam, maka simulator balik modal dalam, 35.475 jam : 90 jam/tahun = 0.4 tahun atau 5 bulan !
      Terlampau mahal di mananya?

      TNI AU justru seharusnya menargetkan beli beberapa sim pada tahun2 mendatang dan membentuk ‘networked multiple platforms’, sehingga para pilot bisa berlatih terbang formasi tempur atau dogfight sesama Su (antisipasi milik negara2 lain di region).

      Kelebihan lain sim, menurut petinggi AU Israel “During real training flights the pilots cannot simulate extreme situations such as engine troubles, tough weather conditions, flying at very low altitude or above enemy territory”…

      • Setelah 5 bulan balik modal, penggunaan sim selanjutnya menghasilkan penghematan yang besar, 7 bulan kemudian atau setahun setelah dibeli, penghematan = “keuntungan” = 7/5 x Rp 549,000,000,000 = Rp 768,000,0000,000.
        Tahun ke-2 dst, 12/5 x Rp 549,000,000,000 = Rp 1,317,600,000,000 !

      • …Rizal melanjutkan, kepemilikan satu skuadron atau 16 pesawat Sukhoi SU-24 dan SU-30 Indonesia belum perlu untuk membeli simulator…

        dari warung sebelah:

        20 Januari 2014
        MANILA – The Philippine Air Force (PAF) is acquiring three modern flight simulators for P246.4 million to help pilots operate efficiently the soon-to-be-delivered T-50 fighter jets from South Korea.

        ( Padahal PAF beli T-50 < 16…) 😀

    • perasaan td malem sudah posting komen di tag ini, apa ilang ya?
      sesuatu yang hampir mirip dgn yg disampaikan bung @Cepot dan bung @Danu mengenai efisiensi dan penghematan operasional latih. Pesawat latih TNI juga bukan produk Russia, dan biaya latih langsung dgn pesawat Sukhoi akan sangat mahal. Sedangkan biaya operasional F16 yang single engine lebih rendah dan bisa didapat dari pesawat latih kita T50 yang basicnya adalah F16

  3. Terserah TNI aja mo beli yg lokal or yg impor punya asalkan jika pilot sudah berada di dalamnya merasakan suasana pertempuran yg sesungguhnya, termasuk pertempuran antara Sukhoi dan F 35. Jangan seperti permainan game online di warnet…hehehe…Thanks Mr. Poer.

  4. “Jika nekat beli simulator Sukhoi, dia melanjutkan, pemerintah harus konsisten ketika membutuhkan penambahan pesawat tempur. Pemerintah mau tak mau harus membeli pesawat tempur jenis Sukhoi lagi.”

    Jelas.., Rizal bukan penganut Rusian setrooong..
    ada aja alasannya..

  5. simulator sim. 😀 joko susilo mgkin bs menjelaskan.. Ha…..aahha.. 😀
    malaysia bs buat sendiri simulator?
    Lha kenapa kita tidak buat simulator sendiri,,
    kalao belum bisa ya gak apa apalah beli simmulator dulu, seperti yg dijelaskan bung danu, bisa lebih hemaatt daripda menerbangkan sukro secara langsung.apalagi kita tau sekali sukhoi terbang satu ALPHARD melayang.beda dengan tucano dan F-16..
    Nah apalagi kalau ada TOOT nya buat simmulator…

    • kalau bisa sim mutakhir seperti buatan Belgia, dimana pilot duduk di bawah kubah berbentuk bola yang memberi pandangan 360 derajat (spt planetarium ?), a fully immersive 360-degree flight simulator designed to reproduce reality exactly as a pilot sees it.

      menurut marketingnya; ‘If a pilot has a cockpit where he can see 360 degrees, he also needs to be trained in a system which supplies 360 degrees, all deviation from real life can be dangerous,’ he added 🙂

  6. simulator jelas penting utk mengasah skill pilot.tapi kerahasiaan tempur jg penting dalam militer.jika PT DI sdh mampu buat sebaiknya beli dari dalam negeri.tapi kalo blm mumpuni maka bisa beli dari luar negeri dg TOT

  7. Itu gambar yg ketiga kok spt main game online, gambarnya kurang mencerminkan kondisi real. Simulator spt itu yg mo dibeli.?…..(weeeekkkkk…….)

  8. beli saja game perang pesawat tempur playstation 4, sama kok. lebih murah dan dengan dana segitu bisa dapat PS4 ratusan..

  9. Emang bang, kayaknya pengamatnya kacau. F5 dah mau grounded masih suruh beli simltor. Ngigau.

  10. jangan-jangan yang mau dibeli simulator su35.

    clue versi saya :
    januari pesen simulator – maret simulator datang >> tni au sudah berlatih menggunakan simulator – juni f35 pertama aushit sudah datang – desember tni au udah punya su35

    ini cuma imajinasi tingkat tinggi saya aja lho.jangan marah ya temans

  11. heli ini masih sampai tahap konsep..kalo menuju tahap produksi (menurut saya pribadi)sepertinya agak berat karena development-nya butuh dana besar. sbg contoh pngembangan CN-235NG dan N-219 aja udh molor lama. alasan lainnya utk pengembangan heli tempur di Indonesia prospek pasarnya kurang baik, maklum pembelinya cm TNI doang, itupun dengan anggaran pertahanannya terbatas.

  12. saya menduking indonesia membeli sukhoi 35. di karnakan Rusia adalah teman lama indonesia
    lihat kebelakang sewaktu pembebasan irian barat alautsista yang di gunakan indonesia adalah buatan unisovit ini menandahkan bahwa kepedulian rusia terhadap bangsa indonesia sangat besar kawa….

 Leave a Reply