Dec 142017
 

Latihan 12/12/2017 menjelang puncak peringatan Hari Nusantara 2017

Cirebon, Jakartagreater.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, mengatakan, tiga matra TNI baik laut, udara dan darat harus bersinergi dalam menjaga kedaulatan negara dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara poros maritim.

“Kuncinya adalah TNI Angkatan Laut yang dibantu TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat menjaga wilayah perairan Indonesia,” kata Mendagri dalam sambutannya pada Puncak Hari Nusantara 2017 di Dermaga Muara Jati, Kota Cirebon, Jawa Barat, Rabu, 13/12/2017.

Wilayah yang harus dijaga oleh TNI, lanjut Tjahjo, mulai dari Pulau Rondo, Natuna, Sebatik, Bitung, Morotai, Selaru hingga Atambua dan Malaka. Bahkan, dalam waktu dekat ini TNI AL akan memiliki tiga kapal selam.

“TNI AL juga memiliki 151 kapal perang yang sudah dilengkapi dengan persenjataan,” tuturnya.

Menurut dia, Indonesia sebagai negara kepulauan jangan dijadikan sebagai pemisah, tetapi sebagai pemersatu bangsa. “Deklarasi Djoeanda” tanggal 13 Desember 1957, dimana deklarasi tersebut merupakan sebuah keputusan untuk menyatukan Indonesia sebagai negara kepulauan berbeda.

Pada pidato Presiden Joko Widodo, kata Tjahjo, masyarakat Indonesia sudah sejak lama memunggungi laut, samudera dan teluk. Padahal, Indonesia sebagai negara maritim, laut merupakan masa depan bangsa.

Kemudian, kementerian/lembaga menerjemahkan untuk melaksanakan pembangunan dan pengelolaan kelautan nasional, kedaulatan, dan kesejahteraan.

Oleh karena itu, pemerintah mulai memperkuat ketahanan maritim Indonesia dengan salah satu upayanya yaitu memberantas illegal fishing, agar kekayaan laut Indonesia dapat dinikmati seutuhnya oleh masyarakat Indonesia. Selain itu pemerintah juga memaksimalkan laut untuk meningkatkan efisiensi logistik dengan membangun jalur tol laut.

“Ke depan akan kami usulkan program yang berkaitan dengan maritim akan dijadikan satu, jangan kemarin ada Sail Sabang (Aceh) sekarang Hari Nusantara (Cirebon) besok hari nelayan, dan sebagainya. Ini kalau dijadikan satu makin meriah semarak, dan efisien,” kata Tjahjo.

Tjahjo mengatakan, peringatan Hari Nusantara tidak hanya dilakukan secara seremonial saja, tetapi dijadikan modal pembangunan maritim, ketahanan nasional kelautan dan integrasi pulau-pulau kecil.

Menurutnya, perayaan ini akan memperkuat bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari, untuk dapat mewujudkan nawacita Indonesia sebagai poros Maritim.

“Deklarasi Djuanda merupakan tonggak penyatuan Republik Indonesia yang utuh antara pulau satu dengan pulau yang lain, sehingga tidak lagi terdapat wilayah laut internasional,” ujar Tjahjo.

Dipilihnya Cirebon sebagai tempat digelarnya Hari Nusantara, tambah dia, karena memang Cirebon punya jejak sejarah sebagai daerah poros maritim. Cirebon adalah wilayah strategis sebagai jalur laut yang tegak lurus terhubung dengan Selat Sulawesi.

“Sekarang sudah ada tol laut. Diharapkan dengan adanya tol laut, perdagangan antar pulau seperti antara Jawa dan Sumatera tak lagi terhambat. Kalau ingat lagu wajib dari Sabang sampai Merauke sambung menyambung itulah Indonesia, sekarang jadi kenyataan,” kata Tjahjo.

Hadir dalam acara itu, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo, dan pejabat daerah serta petinggai TNI AL.

Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan, tiga tahun pemerintahan Jokowi untuk menjadikan Indonesia poros maritim capaiannya positif.

“Kita bisa lihat pembangunan pertahanan yang sudah tampak dalam melanjutkan program kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF) yang ditentukan pada pemerintahan sebelumnya, kemudian dilanjutkan oleh Presiden Jokowi,” katanya.

Bagi TNI AL, program Angkatan Laut dalam pembangunan kekuatan sudah terpenuhi. Artinya, kita mampu melaksanakan tugas-tugas yang diamanahkan dalam implementasi poros maritim dunia yang dicanangkan Presiden Jokowi, kata Kasal.

Menanggapi Hari Nusantara, mantan Kasum TNI ini menambahkan, dengan adanya deklarasi Joeanda diprediksi luas wilayah laut Indonesia bertambah. Kita juga harus mampu mengamankan luas wilayah tersebut dan mengelola laut untuk kesejahteraan masyarakat pesisir, ucapnya.

Adapun Hari Nusantara adalah peringatan keberhasilan diplomasi Indonesia agar prinsip negara kepulauan diakui secara internasional melalui instrumen Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) 1982. Pengakuan ini sebelumnya didahului oleh diumumkannya dalam Deklarasi Djoeanda tanggal 13 Desember 1957.

Pada puncak peringatan Hari Nusantara yang akan digelar pada 13 Desember 2017 yang dipusatkan di Dermaga Muara Jati, Kota Cirebon Jawa Barat, TNI Angkatan Laut akan memamerkan kekuatan Alutsista dengan mengerahkan 11 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), sekaligus mendemonstrasikan kemampuan para prajurit dengan menyimulasikan penyelamatan korban kecelakaan di laut dan demonstrasi terjun payung oleh para prajurit dari pasukan elite TNI AL.

Ke-11 unsur KRI yan terlibat pada Peringatan Hari Nusantara 2017, yaitu KRI Sidat-851, KRI KRI Tatihu-853, KRI Pari-849, KRI Terapang-648, KRI Teluk Sibolga-536, KRI Teluk Celukan Bawang-532, KRI Celurit-641, KRI Kujang-642, KRI Cakalang-852, KRI Kurau-856, KRI Banjarmasin-592, KAL COBRA, dan Patkamla Gebang.

Tidak ketinggalan TNI AL juga melibatkan unsur udaranya dengan mengerahkan 2 Cassa, 2 Helly Bell, serta 1 Helly BO dari jajaran Penerbangan Angkatan Laut.

Selain unsur TNI AL juga melibatkan kapal-kapal dari instansi maritim lainnya yakni Kapal KN 4801 dari Bakamla? RI, Kapal Pol Air, Kapal Bea Cukai, Kapal KKP, Kapal SAR, Kapal Navigasi Dirjen Hubla dan Kapal Nelayan Setempat sejumlah kurang lebih 100 kapal.

Dalam kegiatan ini, TNI AL juga mengerahkan Rumah Sakit Lapangan (Rumkitlap) Marinir yang didirikan guna menggelar bakti sosial kesehatan di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Cirebon. Tidak ketinggalan, TNI AL juga ikut serta pada Pameran Hari Nusantara, dengan mengerahkan dua unit Truk Pameran Portable yang akan menyosialisasikan berbagai hal terkait TNI AL dari Dinas Penerangan Angkatan Laut.

Rangkaian kegiatan Upacara Pokok Hari Nusantara Tahun 2017 dan dilanjutkan dengan demo yang terdiri dari Tarian Topeng Kolosal, Demo Penanggulangan Kecelakaan di laut yang melibatkan Tim SAR gabungan unsur TNI AL dengan unsur Basarnas dan unsur maritim lainnya.

Dalam Demo tersebut, juga menampilkan kesigapan Tim Dinas Kesehatan Koarmabar dalam evakuasi dan penanganan korban kecelakaan di laut.

Demo dilanjutkan dengan atraksi Terjun Payung para Prajurit TNI AL serta ditutup dengan Sailling Pass Kapal-kapal TNI AL, unsur maritim dan perahu nelayan. Selanjutnya Pangarmabar meninjau kesiapan Pameran dan kegiatan Bakti sosial. (Antara).

Berbagi

  13 Responses to “Sinergi 3 Matra TNI Mewujudkan Poros Maritim Indonesia”

  1.  

    Siplah, jgn lupa ditambah alutsista yg gahar2 tanpa menerima/membeli barang bekas lagi!

  2.  

    konsep membangun militer harus saling mendukung dan sejalan dengan ekonomi agar kedepan mengurangi beban dan masalah yang tidak diperlukan…!!!!
    dalam rangka tol laut saya berharap bukan hanya masalah integrasi wilayah atau tranportasi semata,,,tapi harus berkembang ekonomi baik makro maupun mikro merata diwilayah kesatuan republik indonesia….

    •  

      Harusnya besaran anggaran sesuai dg GDP. Minimal 3% GDP

      •  

        1,5% GDP per tahun itu sudah banyak. Sudah melampaui beberapa negara tetangga.

      •  

        Kalo PDB kita sekitar USD 978 milyar maka 1,5% itu sekitar USD 15 Milyar. Masih sedikit untuk ukuran Indonesia. Kalo 3% seperti kebanyakan negara2 besar kawasan dan persiapan LCS yg tidak menentu, wajar kalo besaran Anggaran militer sekitar 3%. Itu hanya sebesar 19% dari APBN, ambil aja dari infrastruktur dan dana desa atau pos2 gak penting lainnya. Kalo buat Parpol dan anggota dewan jgn dipotong. Ntar rewel bisa repot kita.

    •  

      sebenarnya bukan masalah persentase dalam memenuhi kebutuhan…..tapi jumlah maksimal dalam optimalisasi dalam menunjang strategi ….!!!!
      garis besarnya kita mulai dari awal baik strategi dan doktrin militer….karna peruban tersebut alutsista harus mendukung peruban itu…..apalagi alutsista lama kita sudah harus banyak yang diganti….!!!

  3.  

    wah lupa….!!! 😀

  4.  

    rencana MEF sdh bagus, tinggal dipastikan pencapaian targetnya saja….. sabaaaarr

    semoga gak diutak utik lagi

    sebenarnya anggaran MEF itu sdh termsuk didalam angggaran pertahanan apa anggaran terpisah ya

  5.  

    Jauh dari kata cukup

  6.  

    membangun kekuatan militer banyak faktor pertimbangan dan dapat juga mengalami perubahan tergantung pada situasi dan kondisi…..!!!
    misal memanasnya kawasan atau ada ancaman…jadi tidak mutlak,,, harus mengikuti perubahan situasi….kalo kita tidak fleksible dalam arah membangun akan banyak mengalami masalah bahkan tertingal….apalagi dengan kemajuan pesat tehnologi sekarang…..lima atau sepuluh tahun tehnologi telah mengalami perubahan….!!!

 Leave a Reply