Mar 082018
 

Sistem rudal permukaan ke udara, HQ-9 buatan China © Tyg728 via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Ekspor pertahanan China telah mengalami peningkatan lebih dari 70 persen pada periode tahun 2012-2016 jika dibanding dengan periode 2007-2011 dan mampu menyalip Jerman, Prancis dan Inggris, seperti dilansir dari China Military.

Menurut publikasi dari media PLA Army, China Military, sistem barter dan persyaratan pembayaran yang fleksibel telah membantu China menjadi pemasok senjata terbesar ketiga di dunia.

Persyaratan pembayaran yang fleksibel seperti sistem kendali tembak tank, sistem radar pertahanan udara berbasis darat, pesawat angkut militer, kendaraan tempur infanteri amfibi dan kapal-kapal besar yang diekspor ke Venezuela dengan imbalan minyak telah membantu China untuk meningkatkan bisnis.

China juga menukar kendaraan tempur lapis baja ke Thailand dengan imbalan berupa bahan makanan kering. Uzbekistan dan Turkmenistan membeli sistem rudal pertahanan udara jarak jauh FD-2000 dari China sebagai ganti gas alam.

Selain metode pembayaran, laporan media menunjukkan bahwa China menyediakan beragam opsi untuk pembelian oleh pelanggan. China memiliki total 11 grup industri militer utama pada tahun 2017.

Ke-11 grup industri menyediakan sistem peralatan darat, udara dan laut termasuk jet tempur, pesawat pembom, pesawat angkut, pesawat peringatan dini, helikopter, tank tempur utama, artileri swagerak, senjata api, fregat, kapal selam, kapal pasokan dan rudal anti-kapal, tulis laporan tersebut.

Berdasarkan laporan mengenai pasar ekspor senjata global yang dibuat oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) periode tahun 2012-2016, China memiliki pangsa pasar 6,2 persen dan tertinggal dari AS dan Rusia dalam daftar pemasok senjata global.