JakartaGreater.com - Forum Militer
Jan 132018
 

ilustrasi

Sentani, Jakartagreater.com – Sistem navigasi udara di Papua akan menggunakan radar sintetis berbasis satelit atau ADS-B (“automatic dependent surveillance-broadcast”) yang merupakan buatan dalam negeri.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Sumarno saat meresmikan modernisasi layanan navigasi penerbangan di Papua di Kantor AirNav Indonesia Cabang Sentani, Jumat, 12/1/2018, mengatakan produk dalam negeri tersebut terwujud karena adanya sinergi antar-BUMN, yaitu PT INTI, PT LEN, dan Airnav Indonesia.

“Ini merupakan sinergi antara BUMN, tidak memakan biaya banyak, karena lahan BUMN juga, ini juga bukti bahwa BUMN memperhatikan daerah terpencil dan terluar,” katanya.

Rini menambahkan hal tersebut tidak terlepas dari upaya untuk menyeimbangkan harga bahan pokok di Indonesia bagian Barat dan Timur di mana salah satu sektor yang memegang peranan penting dalam mendistribusikan barang adalah penerbangan karena yang paling diandalkan untuk kondisi geografia seperti Papua.

Untuk itu, lanjut dia, diperlukan sistem navigasi udara yang andal dan tidak berbeda dengan wilayah lainnya.

“Tidak terlepas dari sinergi BUMN, Pertamina, Airnav karena Papua membutuhkan pesawat khusus karena termasuk sulit di daerah pegunungan,” katanya.

Selain itu, Ia juga meminta Airnav agar turut segera merealisasikan Tol Udara untuk mempermudah pelayanan barang.

“Pak Presiden berpesan bahwa BUMN milik negara dan milik rakyat yang sudah seharusnya melakukan aktivitas agen pembangunan yang bisa mensejahterakan rakyat Indonesia,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama Airnav Indonesia Novie Riyanto menjelaskan ADS-B ini akan ditempatkan di properti Bank Mandiri, BRI dan BNI.

“Tantangan penerbangan di Papua cukup tinggi, kondisi geografis pegunungan, perubahan cuaca yang sangat cepat, terbatasnya alat bantu navigasi fasilitas bandara, daya listrik, terbatasnya SDM navigasi penerbangan,” katanya.

Tujuh ADS-B tersebut akan ditempat di tujuh tempat, di antaranya Dekai, Elelim, Wamena, Oksibil, Senggeh, Sentani dan Borme.

Dia menjelaskan AirNav Indonesia terus berkomitmen untuk mendukung program prioritas pemerintah khususnya di sektor transportasi udara, salah satunya adalah peningkatan konektivitas, keselamatan dan efisiensi penerbangan di Papua.

Program investasi telah diluncurkan Airnav Indonesia sejak 2015 lalu yaitu empat program senilai Rp3,7 miliar kemudian meningkat pada tahun 2016 menjadi 12 program senilai Rp85 miliar dan kembali meningkat pada tahun 2017 menjadi 72 program senilai Rp138 miliar. Kami juga meningkatkan layanan di Bandara Sentani sejak 18 Agustus 2016 dari sebelumnya non-radar menjadi radar service.

“Peningkatan layanan ini membuat pemanduan lalu lintas penerbangan dilakukan melalui instrumen prosedur dan teknologi mutakhir, sehingga dapat meningkatkan keselamatan dan efisiensi penerbangan,” katanya. (Antara).

Berbagi

  3 Responses to “Sistem Navigasi Udara Papua Buatan Dalam Negeri”

  1.  

    Sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit
    Kalau dikasih obat kuat bakal langsung greng, tp jgn dikasihkan sama mbah mien, ntar bisa terbang ke bulan lho …

    😀

 Leave a Reply