Apr 142018
 

Serangan udara pada Sabtu pagi oleh militer AS, Inggris dan Prancis di Suriah © Arturas Kerelis via Twitter

JakartaGreater.com – Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan sistem pertahanan udara Suriah mampu menangkal serangan rudal jelajah yang telah diluncurkan oleh AS, Inggris dan Prancis, seperti dilansir dari laman TASS.

Sebagian besar rudal-rudal yang diluncurkan oleh negara-negara Barat tersebut telah dikalahkan oleh sistem pertahanan udara Suriah saat mendekati target mereka.

“Sistem pertahanan udara Suriah telah melakukan pertempuran anti-udara”, jelas Kementerian Pertahanan Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan bahwa Suriah memukul mundur serangan Barat dengan sistem pertahanan udara yang dibuat oleh Uni Soviet lebih dari 30 tahun yang lalu.

“Sistem pertahanan udara yang digunakan Suriah adalah S-125 Pechora (SA-3 Goa), S-200 Angara (SA-5 Gammon), termasuk Buk (SA-11 Gadfly) dan Kvadrat (SA-6 Gainful) dalam menangkis serangan rudal pasukan gabungan”, menurut Kementerian Pertahanan Rusia.

Dilansir dari situs berita Ria Novosti menyebutkan bahwa pasukan pertahanan udara Suriah telah berhasil mencegat total 12 rudal jelajah, yang digunakan menyerang pangkalan udara Dumeir.

Sistem pertahanan udara S-400 Rusia belum digunakan untuk menangkis serangan rudal yang dilancarkan pada 10 lokasi berbeda di wilayah Suriah, sebut keterangan militer.

“Tidak satupun rudal jelajah yang diluncurkan oleh AS dan sekutunya memasuki zona pertahanan udara Rusia, yang meliputi pangkalan militer di Tartus dan Hmeymim”, terang Kementerian Pertahanan Rusia.

Menurut militer Rusia, serangan rudal besar-besaran yang menargetkan infrastruktur militer dan sipil dilakukan oleh kapal perang AS bersama dengan Inggris dan pasukan udara Perancis pada pukul 3:42 hingga 5:10 waktu Moskow.

Sebanyak lebih dari 100 rudal jelajah Tomahawk telah diluncurkan yang menargetkan 10 lokasi berbeda di Suriah. Kementerian Pertahanan Rusia mencatat bahwa dua kapal perang AS melakukan serangan dari Laut Merah, pesawat tempur taktis dari Laut Mediterania dan pesawat pembom B -1B dari wilayah al-Tanf.

Jumlah rudal yang diluncurkan sekitar dua kali lipat dari jumlah rudal yang sebelumnya digunakan pasukan AS dalam melaksanakan serangan tahun lalu di pangkalan udara Al Shayrat, kata Mattis. Dalam serangan yang lalu, sebanyak 59 rudal jelajah Tomahawk ditembakkan ke pangkalan udara Al Shayrat di Suriah sebagai tanggapan atas dugaan serangan kimia di provinsi Idlib.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, telah mengecam langkah negara-negara Barat itu, mengatakan bahwa serangan itu “telah diluncurkan di ibukota negara berdaulat yang telah berjuang untuk bertahan hidup selama bertahun-tahun di tengah agresi teroris”.

AS, Prancis dan Inggris meluncurkan serangan terhadap Suriah sebagai pembalasan atas dugaan serangan kimia oleh pemerintah Suriah dikota Douma, yang terletak 10 kilometer dari Damaskus, pekan lalu.

Dalam laporannya, Sputnik menyebut bahwa Kepala Staf Militer Rusia mengeluarkan pernyataan, dari total 103 rudal jelajah yang memasuki udara Suriah, sebanyak 71 rudal berhasil dihadang oleh sistem pertahanan Suriah, menambahkan bahwa tidak ada pesawat tempur yang rusak akibat serangan tersebut.

“Beberapa tahun yang lalu, kami menolak memasok sistem pertahanan udara S-300 ke Suriah atas permintaan dari sejumlah mitra Barat kami. Berdasarkan apa yang telah terjadi sekarang, kami mempertimbangkan untuk mengembalikan isu ini. Dan bukan hanya kepada Suriah, tetapi juga negara-negara lainnya”, kata Kepala Staf Militer Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia menyebut bahwa selama 1,5 tahun terakhir, Rusia telah sepenuhnya memulihkan sistem pertahanan udara Suriah dan terus memperbaikinya.

Pengumuman serangan terjadi beberapa jam sebelum Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) dijadwalkan tiba dikota Douma untuk menentukan apakah senjata kimia memang telah digunakan di sana.

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan bahwa serangan udara AS di Suriah adalah “serangan tunggal”. Sementara Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford mengatakan kepada wartawan bahwa Washington tak memiliki rencana serangan lagi untuk saat ini.

Menurut Dunford, Amerika Serikat menggunakan saluran penyelesaian konflik normal dengan Rusia dan tidak mengkoordinasikan target sebelum serangan udara di Suriah. Pada saat yang sama, dia mengatakan tidak mengetahui “sama sekali aktivitas Rusia”, saat ditanya apakah ada serangan balik dari Rusia terhadap rudal, kapal-kapal perang AS, Prancis atau Inggris.

Bagikan: