JakartaGreater.com - Forum Militer
Sep 022014
 

Sky Scanner Drone ‘Garuda’ (Josaphat Laboratory)_Ilustrasi

Liputan6.com, Jakarta – Minimnya pengawasan membuat bangsa asing leluasa menguras kekayaan bahari Indonesia. Tak tanggung-tanggung, kerugian negara akibat pencurian ikan saja mencapai Rp 300 triliun tiap tahun. Karena itulah Jokowi mengusulkan pengadaan pesawat terbang tanpa awak (PTTA) atau drone untuk menjaga keamanan laut. 

Joko Widodo, nama lengkap Jokowi, menggelontorkan wacana pembelian 3 drone dengan harga total sekitar Rp 4,5 triliun saat berpidato di Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Minggu 31 Agustus 2014 lalu. 

Terkait niat Jokowi itu, Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, ahli radar dan drone dunia asal Indonesia pun menawarkan Indonesia Sky Scanner Drone “Garuda”. PTTA ini bisa melakukan 2 misi yaitu untuk drone biasa dan satelit baik sipil maupun militer.

“Di samping drone-drone biasa dengan ketinggian operasi beberapa kilometer untuk pengawasan perbatasan dan wilayah Indonesia, salah satu drone yang bisa memperkuat ide Jokowi adalah‘stratosphere drone’. Di mana drone ini terbang di ketinggian 13 – 20 kilometer, sehingga tidak mengganggu penerbangan sipil dan militer,” tulis Josh melalui pesan elektronik kepadaLiputan6.com, Jakarta, Selasa (02/09/2014).

Josh– nama panggilan Profesor Josaphat– menuturkan, Garuda merupakan teknologi pertama di dunia karena dilengkapi terobosan ruang udara bahkan ruang angkasa. Selain itu, sejumlah perangkat khusus pun disertakan seperti Synthetic Aperture Radar (SAR), Hyperspectral & TIR (Thermal Infared) atau temperature camera, high resolution and high vision camera, hingga teleskop.

“Demikian juga sensor-sensor khusus untuk pemetaan sumber daya alam, perangkat relay telecommunication system, instrumen pemindai kapal (AIS), perangkat pelacak teroris dan organisasi terlarang dan lain-lain dapat dipasang pula di drone ini.”

Menurut Guru Besar Universitas Chiba, Jepang, itu, spesifikasi drone ini berbeda dengan drone-drone yang telah dikembangkan oleh instansi penelitian dan universitas di Indonesia dan dunia selama ini, karena stratosphere drone ini perlu perhitungan perangkat yang berspesifikasi ruang angkasa.

“Sehingga setiap komponen harus tahan dan dapat beroperasi di suhu – 60 hingga 100 derajat Celsius, serta tahan terhadap radiasi ruang angkasa, lingkungan yang mendekati hampa udara,” tambahnya.

Bikinan Indonesia Lebih Canggih dan Murah

Pembuatan Indonesia Sky Scanner Drone “Garuda” ini pun tidak memakan waktu lama, sekitar 1 hingga 2 tahun. Secara harga, drone buatan Josh ini lebih murah dibanding buatan luar negeri seperti Global Hawk bikinan Amerika Serikat yang seharga US$ 200 juta atau Rp 2,34 triliun.

“Jadi, ini lebih besar ukurannya (dibanding Global Hawk). Jika menggunakan bahan bakar cair bisa bertahan sekitar 24 jam, dengan solar panel mungkin bisa 2 -3 kali lipat. Sedangkan untuk ground control biasa menggunakan yang biasa, cukup 2 atau 3 atau bisa juga memanfaatkan milik Lapan,” tuturnya.

Jadi, berapa harganya?

“Kalau buat sendiri 1 unit dronenya Rp 10 milliar, itu baru harga dasar. Sedangkan sensor kamera sekitar Rp 10 milliar dan radar Rp 15 milliar. Untuk ground control system di frekuensi S-band harga hanya kurang dari Rp 10 milliar, tapi kalau militer bisa menggunakan X-Band. Totalnya yah di bawah Rp 50 milliar per unit,” kata sang profesor.

Keuntungan lain dari drone ini adalah perawatan dan pengoperasiannya lebih mudah. Jika diminati pemerintah, Josaphat akan mengajak lembaga penelitian dalam negeri maupun swasta, perguruan tinggi, ilmuwan Indonesia, BUMN industri strategis, hingga Kementerian Pertahanan.

“Para pemuda Indonesia pun dapat mengembangkan sendiri berbagai perangkat pendukung teknologi stratosphere drone ini, sehingga kegiatan penelitian dan akademik di Indonesia bisa maju dan menjadi frontier di bidang ini di dunia. Produk teknologi ini bahkan dapat dijual pula ke negara lain nantinya sehingga devisa negara dari ekspor teknologi tinggi dapat ditingkatkan,” kata pria kelahiran Bandung ini.

Usulan stratosphere drone yang diberi nama Stratosphere Drone – Indonesian Sky Scanner Drone ‘Garuda’ ini telah disampaikan Josh kepada perwira Direktorat Topografi TNI-AD dan Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI-AU oleh pada tanggal 15 Agustus 2014 lalu.

Untuk kebutuhan ideal, Josh menjawab, sekitar 15 unit sudah bisa meng-cover seluruh wilayah Indonesia.

“Mungkin tahap awal beberapa unit cukup. Idealnya 15 unit dan diserahkan ke masing-masing sektor udara TNI AU atau yang lainnya,” tutupnya.

Saat ini Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) yang dipimpin oleh Josh bersama Taiwan National Space Organization (NSPO) sedang mengembangkan stratosphere drone yang dilengkapi dengan sensor SAR ciptaannya yang dapat tembus awan, hujan, kabut, asap, dan hutan.

Selain itu, sejumlah negara pun tertarik dengan pengembangan stratosphere drone ini seperti Jepang, Malaysia, dan negara-negara besar lainnya.

Stratosphere atau stratosfer adalah lapisan utama kedua atmosfer bumi yang terletak di atas troposfer dan di bawah mesosfer. Pada lintang moderat stratosfere terletak sekitar 10-13 km (33,000-43,000 kaki) dan 50  km (160,000 kaki) ketinggian di atas permukaan, dan dekat pada khatulistiwa berada sekitar ketinggian 18 km (59,000 kaki).

Josh juga berpendapat bila diperlukan teknologi ini nanti dapat menjadi alternatif teknologi untuk mendukung ide Jokowi untuk pemetaan dan pengawasan seluruh wilayah Indonesia, misalnya pengawasan perbatasan, lalu lintas darat, laut dan udara, perubahan kota, illegal logging, hingga pengejaran teroris dan anggota organisasi terlarang di dalam hutan. Kajian anti teroris dan forensik menggunakan drone ini bekerja sama dengan Universitas Bhayangkara Jaya (Dr Frans Dwikoco), Kepolisian Indonesia, dan Departemen Pertahanan.

Credit: Elin Yunita Kristanti

Sumber : Liputan6.com

Bagikan:
 Posted by on September 2, 2014

  107 Responses to “Sky Scanner Drone ‘Garuda’ Vs Drone Rp 4,5 Triliun Jokowi”

  1.  

    Mantap,bungkus saja…!!!

    •  

      Wis mantap,ngomong2 coveran signal yg di pancarkan drone ini berapa km persegi ya….???mohon pencerahan nya….

    •  

      Tp Global hawk drone sdh ada sdh teruji sedangkan sky scanner drone garuda jgnkan prototipenya ini jg baru wacana, baru rencana mau seperti inilah bisa seperti itulah bagaimana bisa di bandingkan head to head…beli saja dulu 1 global hawk buat di otak atik di pelajarin

    •  

      Bung jalo saya setuju jika pemerintahan yang akan datang membeli uav buatan indonesia seperti salah satunya uav garuda ini.
      Uav memiliki banyak jenis dan fungsi. Uav bisa digunakan untuk misi memata matai, misi pertempuran dan bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan sipil.
      Amerika negara yang paling terdepan dalam teknologi uav di dunia memiliki berbagai macam jenis uav, mulai dari yang kecil hingga yang terbesar. Penggunaan berbagai macam jenis uav dikarenakan untuk misi yang berbeda beda seperti uav kecil rq-11 rapen digunakan personil tentara amerika untuk memata matai hanya daerah disekitar pertempuran. Selain itu rq-11 rapen juga mudah dibawa hanya satu personil tentara karena ringan dan kecil. Contoh lainya juga seperti uav scan eagel digunakan kapal perang amerika karena mudah dioperasikan, uav mq-9 raper di gunakan untuk memata matai dan bertempur, uav global hawk untuk misi memata matai wilayah yang luas, uav siluman rq-170 untuk misi strategis memata matai dan uav siluman x 47b untuk misi pemboman.
      Di indonesia juga kita sudah memiliki berbagai jenis uav seperti wulung, sriti, pelatuk, alap alap, gagak. Semuanya memiliki jangkauan dan daya tahan terbang yang berbeda beda disesuaikan dengan misinya.
      Untuk pembelian uav sebaiknya kita membeli berbagai macam jenis uav sesuai dengan misinya. Kalau di dalam negeri ada ya sebaiknya kita membeli yang di dalam negeri. Tapi kalau tidak ada ya ga ada salahnya kita membeli yang dari luar tapi dengan syarat kita dapat tot tu uav. Salah satu jenis uav yang belum kita buat adalah uav untuk misi pertempuran seperti uav mq-9 reaper.
      Bung jalo saya mau tanya tu uav garuda memiliki jangkauan berapa, daya tahan terbang berapa, mengunakan jenis mesin apa mesin turboprop apa mesin turbo jet atau mesin turbo fan kah dan apakah bisa membawa persenjataan? Mohon pencerahannya bung jalo. Saya cinta produk indonesia dan indonesia yang kuat.

      •  

        Untuk jangkauan di foto nomer 2 ada tuh, dari Solo Makassar kira2 itu berapa ya?? Untuk mesin awalnya menggunakan Turbo-prop nanti kalau dikembangkan lagi kan bisa sampaike turbo jet. Untuk membawa persenjataan itu tergantung aplikasi seperti control system maupun Payloadnya. Dengan melihat Payload yg dibawa Garuda, saya yakin kita bisa kembangkan sendiri.

        Kalau untuk beli diluar saya kurang setuju, sekarang kita sudah banyak melihat pengembangan dalam negeri. Coba lihat drone Kujang hasil buatan Pak Endri, dan lihat Pemerintah Malaysia meresponnya seperti apa?? Drone ini punya otak sendiri dan Payload yg mumpuni, kira-kira gimana??

        •  

          Makasih bung jalo lanjutkan…

        •  

          ajuin ke pak JK bung Jalo pasti di setujui… anoa contohnya salam kenal

        •  

          Sy yakin kalau untuk Pak Jokowi Dan Pak JK, pasti mau. Karena kekurangan alutsista kita jaman Pak SBY sudah mulai terpenuhi. Artinya jangka pendek, pemenuhan alutsista yang jadul sudah terpenuhi dengan cara membeli. Tahap menengah (ini jamannya jokowi Dan jk) kita mulai dengan memperhatikan karya anak bangsa untuk pemenuhan kebutuhan pelengkap yg sudah ada. Untuk jangka panjang, kita sdah bisa produksi dengan fitur yang lebih janggih Dan mencakup 75% kebutuhan alutsista Dan kebutuhan sipil dalam negeri.
          Saya yakin bisa. Kalau jokowi mungkin akan sulit menghindari pengaruh partai. Tapi JK, saya yakin bisa. Buktinya?????? Panser anoa.

        •  

          maaf bung jalo, mungkin mesin jet tdk akan dipakai, krn sepengetahuan saya mesin jet perlu byk udara utk pembakaran. uav garuda kan dipakai di stratosfer, bisa kekurangan udara nanti. maaf kalo salah, sy masih baru di sini heheh

        •  

          Bung Jalo@ Kemarin baca status nya pak Endri di Sosmed, UAV dan teknologi beserta ilmu autopilot nya nya mau dijual kenegara laen, seperti nya ke Malaysia. Miris..

          •  

            Yup bener bung Anak Deli, beliau menyampaikan kekecewaan kepada yg punya kebijakan. Kasihan, 3 tahun beliau di Indonesia nganggur karena yg punya hajat gak mempergunakan tenaga beliau. Padahal, kedatangannya kemari untuk membantu pengembangan dalam negeri.

      •  

        Ya, jika memang ini untuk kebaikan negeri kita saya setuju. Sampai kapanpun kl kita meragukan kemampuan bangsa sendiri tidak akan pernah kita maju. Every major step starts with the first tiny step

    •  

      megatron pasti tidak akan setuju

  2.  

    ijin nyimak…

  3.  

    bakal rame dah :mrgreen:

  4.  

    Wah 2 artikel tentang drone bt Indonesia dibuat komparasinya…thanks bung jalo
    Monggo para warjager di bahas tapi jangan sampai jadi ajang saling menjelekan satu dng yg lain, beda pendapat boleh asal tetap dng bahasa yg sopan jdi kita yg SR bacanya juga nyaman dan enak buat ngikuti pembahasannya

  5.  

    harus di dukung pembuatn drone garuda tersebut

  6.  

    kagak biasanya 5 besar.

  7.  

    bung mirza udah kapling numero uno nya..:)
    mantab juga ni drone..semoga dipertimbangkan

  8.  

    hoho.. produk dalam negeri harus di utamakan.

  9.  

    Nyari dana riset nie yeee

    •  

      Penawaran khusus buat Indonesia. Kalo nyari dana riset drmn aja bisa, josaphat ahli UAV dan dia diakui di dunia, sangat mudah bagi dia utk cari dana. Saat ini dia hanya ingin menawarkan teknologi khusus Indonesia

    •  

      Mas broo, Profesor Josaphat adalah salah satu ilmuwan yg mendapatkan dana penelitian terbesar di dunia. Ngapain beliau mengembangkan drone ini dengan uang (maaf) bisa dibilang receh buat beliau.

      Beliau mau memberikan hadiah yg sangat istemewa kepada Indonesia, itu duit yg beliau kumpulkan dari hasil kerja keras di negeri orang bukan dari negara kita. Nanti kalau anda tahu hadiah tersebut, saya rasa anda akan malu dengan perkataan yg anda keluarkan.

      Ingat, dana penelitian itu bukan dipakai beliau sendiri, beliau juga membiayai ratusan pelajar kita belajar di Lab beliau. Lalu beliau juga sudah punya 50 MoU dengan instansi Indonesia dan 9 Universitas di level Agreement. Coba anda searching namanya Pandito Panji Foundation dan anda lihat apa yg dilakukan yayasan beliau tersebut.

      Masih bisa dibilang nyari dana riset?? Sekarang saya tanya, apa yg sudah anda lakukan untuk bangsa??

    •  

      Bung asoy, kalau komen, mohon yang sopan. Ini juga Saran saya untuk warga semua. Sy kadang2 risih membacanya. Demikian juga mohon komennya jangan pakai bahasa daerah. Seperti jaman sebelum sumpah pemuda aja. Maaf kalau kurang berkenan. Saran.com

  10.  

    ini wacana atau sdh mau diusulkan ? kalo cuma wacana biasanya berita beginian numpang lewat aja

  11.  

    Smoga dijadikan prioritas oleh pmerintah …
    dgn keinginan penggunaan drone oleh presiden terpilih ,semoga bung @jalo dpt mempertemukn prof.josh dgn pak jkowi_jk ..

  12.  

    semoga terealisasi…menuju kemandirian industri pertahanan…aamiin
    Jayalah Indonesia

  13.  

    Nah… tunggu apa lagi… ni produk tercanggih… karya Anak Bangsa Indonesia. Mesti bangga…

  14.  

    Demi kemandirian bangsa lbh baik ambil yg ini.

  15.  

    Jangan ada alasan lagi,udah buat yang banyak biar indonesia bisa makmur.300 trilun gitu loh……..buat jalan dan jembatan pada rusak neh ,ya pa!

  16.  

    Satu satunya artikel Drone tanpa caci maki..

  17.  

    kalo masih wani piro aku oleh opo. leren ae wis, mandeg. kebacute eram.

  18.  

    bae2 ntuh buat yg kroco ubyang ubyung asal ngikut doang, yg pentolan ya musnahin..

  19.  

    stop press :

    Fighter procurement projects pick up speed

    South Korea’s mega projects to develop indigenous fighters and purchase stealth warplanes are picking up pace as Seoul plans to approve crucial administrative steps at the national defense acquisition program committee in September.

    At the committee, top defense officials are to approve the bidding plan for the “KFX project” to develop home-built fighters, and the result of negotiations for the FX stealth fighter procurement project will be reported, sources said.

    After giving public notice of the bids for the KFX project this month, the Defense Acquisition Program Administration plans to pick the preferred bidder in November and sign a contract on the system development in December. Korea Aerospace Industries, the country’s sole fighter maker, is likely to be chosen as the system developer.

    Observers say that budgetary issues remain a major barrier to the KFX project, which seeks to deploy 120 fighters after 2023 to replace South Korea’s aging fleets of F-4s and F-5s. Including both the development and mass production of the envisioned fighters, the project, the country’s largest-ever defense program, is expected to cost nearly 20 trillion won ($19.7 billion).

    Seoul has sped up the KFX project, which was already more than a decade behind schedule, as concerns have been growing over a possible shortage of fighters in the coming years. The Air Force is expected to face a shortage of around 100 fighters in 2019, when almost all of the F-4s and F-5s will be decommissioned.

    Regarding the project, there was some controversy over whether the KFX would take a single-engine platform or a double-engine one. But last month, the government opted for a double-engine platform, which would increase the plane’s overall capabilities despite a potential price increase.

    Seoul also seeks to sign the “letter of acceptance” for the FX project as early as September ? a process that would accelerate its acquisition of 40 radar-evading F-35 fighters from the U.S. defense firm Lockheed Martin. The FX project is estimated to cost around 7.4 trillion won.

    The DAPA is in the final round of negotiations over the price with the U.S. government, while it is in talks over technology transfer and related issues with Lockheed Martin. The FX project is proceeding through a government-to-government foreign military sales program.

    By Song Sang-ho (sshluck@heraldcorp.com)

    http://www.koreaherald.com/view.php?ud=20140831000277

  20.  

    nah ni udah ada solusi… lebih murah + berteknologi tinggi, dengan dana segitu mah 15 drone bisa dibeli dan nunggunya juga gak lama, kelebihan dananya kan bisa dibeliin kapal patroli buat bakorkamla, kalo udah ada “eyes in the sky” dan armada patroli bakorkamla yang kuat & cukup, 300 trilliun tuh bisa buat macem-macem dah

  21.  

    Met sore smua.Nggak bakalan kita buat ni drone.Capek mikirnya,buatnya.belum lagi nnti mikir mo jualnya.Indonesia cuma butuh 15.Lebih bagus beli,kan kita kaya.Banyak yg bisa utk bayar.Msh ada papua,kalimantan,ntb juga bisa utk bayar.Kecuali klo mo jdi negara maju,bru kita buat sendiri.

  22.  

    kalau masalah drone dan satelit saya lebih percaya pak josh, kalau bapake ???

  23.  

    abis berapa duit bang jalo :mrgreen:

    wuih ampe hilal segala..
    nah, kurang lengkap apa coba..

    bang jalo, mungkin kepagian tapi yg pake tenaga panas solar berarti bisa ditingkatin lage neh drone bisa terbang beberapa minggu ato bulan, misalnya..

  24.  

    masalahnya pk Jokowi JK udh denger belum soal ini? ..kita berdoa saja spy Proposal mas Jalo bisa tembus ke Ring 1. biar pk Jokowi Jk tahu ada drone canggih buatan anak negeri..

    •  

      Sulit bang tom.Klo di ring 1 nya banyakan pedagang ketimbang usahawan,apalagi negarawan.

    •  

      Saya rasa Pak Jokowi pasti tahu beliau, kalau tidak tahu sungguh terlalu. Dulu pernah ada wacana Pak Jokowi gandeng Ilmuwan hebat asal Indonesia. Kalau ada wacana seperti itu pasti teman-teman tahu maksudnya, mungkin konsepnya belum diketahui beliau tapi mari sama-sama sebarkan info biar seluruh masyarakat tahu dan Insyallah saya rasa keduanya pun akan mencari tahu. 😀

      •  

        Mas Jalo untuk drone ini bisa naik level ke UCAV kah?..ukurannya lebih besar Dr global hawk..jarak jelajahnya jg luas, spesifikasinya oyi sekali sepertinya buat diupgrade JD combat drone.

        •  

          Yup bener, kata Prof. Josh untuk sampai ke UCAV itu tinggal pengupgrade-an aja. Yang paling utama adalah minat, kenapa Taiwan kembangkan bersama beliau begitu juga Jepang yg menginginkan teknologi ini. Mari kita lihat teknologi musuh kedua negara ini, dan ini adalah salah satu anti-dot untuk melawan teknologi tetangga kedua negara tersebut

      •  

        Kedepan nya beliau punya rencana memberi ‘ jatah ‘ untuk ristek, jadi beliau hanya perlu dibantu dengan update informasi yg benar seputar potensi yg dimiliki anak bangsa.

        Insya Allah proposal nya diterima dan dilaksanaken [ lalu bung Jalo diangkat jadi penasehatnya pak Jokowi ] Amiin

      •  

        Menarik sekali ini bung. Konvergensinya itu?..wuih, kalau sekelas triton, bayangkan standR c4isr kita. Program pemutakhiran TNI sudah pada high level state of art. Sama dengan yang dibahas dengan bung freax, lambat laun lingkar dalam yang dibentuk presiden harus independent dari lingkar dalam partai. Pak presiden harus bisa menggunakan military hierarchy nya dan think tanknya. Saya harap sudah cukup kepentingan study csis tidak merecoki kepentingan negara lagi.

    •  

      tlg di bantu share berita ini di FB pak jokowi & pak JK semoga bisa terlaksana DRONE GAruda

  25.  

    Hmmm…bs bwt ngawasin gedung dpr..anggota dpr yg suka bolos Bs diawasin lg ngapain..

  26.  

    milih 4,5 T made in Wahyudi, lebih cepat … kaya bus yutong

  27.  

    ambil mas bro…..

  28.  

    Semoga karya anak bangsa bisa menjadi pilihan utama dan tidak terganjal alasan BETEL PROPEN !!!

    Amin

  29.  

    :mrgreen:

  30.  

    betul sekali @bung Jalo, selama ini orang pajak sering kesulitan klo mau pendataan dan pemetaan lokasi perkebunan dan pertambangan…

  31.  

    Wuih ambil pencitraan gambarnya dah kaya satelit nich drone..dah bungkus mumpung belum di ambil malaysia..nanti kalau dah diambil Malaysia ribut lg disini..:)

  32.  

    insya allah drone buatan ank bangsa,d paketin…jaya NKRI

  33.  

    Numpang nanya gbr yg dihasilkan nanti oleh pencitraan drone garuda bgm ya…..apa bisa motret plat mobil di darat dgn jelas

  34.  

    Gue bilang: Kagak bakal moncer ni barang…..

  35.  

    saatnya kita menanam agar bisa panen di kemudian hari
    klo ga menanam jgn berharap panen

  36.  

    di sini lain sama to** x bung …kita gak mudah diprovokasi

  37.  

    Dan seperti kebiasaan orang yang sukses di luar negeri, ogah balik kampung.
    Kalo emang iya josh cinta tanah air, mestinya dia balik lihat negaranya dan mungkin ini saat yang tepat.
    Dan ane cuma bisa bilang “kacang lupa ama kulitnya.

    •  

      ini gmana sih mas ahmad?…soal ini kan udh di bar2 dr kemarin2 sama mas Jalo….Prof.Josh kan udh bolak balik presentasi di DepHan,KKIP,BPPT,Lapan/PT DI, dst..koq di bilang blm balik ksini?..cm ya kalau presentasinya gk di anggap ya dia bisa apa?..makanya kita nyumbang pikiran biar gmana hasil presentasi Pro.Josh bisa di dengar oleh Pemerintah yg baru..

  38.  

    KPK berarti juga butuh drone bang josh ini

  39.  

    Halah proyek bau tengik.. ektp saja gk becus bicara drone

    Busway ukuran kota gk bisa kontrol urusin proyek nasionzl

  40.  


    aku aus akan karya
    bangsa ini merindukan karya anaknya..
    dan aku bangga akan karya pak proff..kecil apapun karya anak bangsa ini pantas di beri penghargaan..dan di tulis namanya pake tinta emas ..bangga sekali !!
    …..judul diatas!!
    Scanner Drone ‘Garuda’ Vs Drone Rp 4,5 Triliun Jokowi
    drone garuda harus kita punyai ini hebattt..karya yg hebat,,setiap yg mempunyai link dan tautan ke tim transisi atw jw dan jk musti cepat bergerak..,,jgn sampai ini keburu diambil negara lain dan akhirnya berakhir kecewa lagi…!! lemas ..dengkul rasanya.

    drone rp 4,5 t versi jokowi
    ….
    seperti yg di beritakan ,,jokowi ingin membeli 3 drone yg bisa gebuk maling ikan seharga 4,5 t.
    menurut pendapat aku:
    disamping bergerak cepat menyelamatkan aset bangsa seperti sdm yg di punya prof.Josaphat dan aset anak bangsa yg genius lainnya..dan segera di beri imun dan kebebasan untuk berkarya ..
    tapi bangsa ini juga harus bergerak cepat untuk menyelamatkan aset kekayaan bahari ,kekayaan maritim dari sekumpulan maling kekayaan hasil laut kita ( 300 t dalam setahun buka jumlah sedikit ) melindungi aset kekayaan laut ini juga penting bayangkan 300 t ,,klu di kasih untuk tni 50 % dan subsidi rakyat 50% besar sekali artinya..,,dan juga sekaligus menyelamkan nelayan2 kita yg sering di aniaya ,,bagaimana nelayan kita di kejar2 oleh kapal patroli cina di natuna ..miriss pak
    pertahanan ,kedaulatan dan perlindungan untuk nelayan kita juga penting dan segera,,biar nelayan kita klu melaut cari makan bisa aman dan merasa di jagain,,dan klu ada kecelakaan di laut ,kapal tenggelam bisa cepat di ke tahui titiknya..

    ini dulu pendapat aku ,mf kepanjangan..silahkan di tambahkan kalau kurang dan klu salah tolong jgn dicaci..

    salam semua ,,satu maritim indonesia

  41.  

    Kita bikin gerakan aja gimana minimal lewat medsos untuk menyuarakan yang positif positif kayak gini ane setuju banget tapi jangan ada bully2an caci2an maki2an yang ada persatuan demi bangsa Indonesia saya tunggu gebrakan dari para sesepuh bung diego bung jalo dll

  42.  

    Bungkus dua duanya….

  43.  

    Untuk kemandirian dan kemajuan produk local dukung 1000.000 %

  44.  

    Antara pesimis dan optimis.negara maju kuat bidang iptek untuk kepentingan bangsanya.negara berkembang hanya sebagai pengekor dan pecundang.selamat memilih !wahai pemimpin,masa depan bangsa ini kutitipkan kepadamu!.

  45.  

    WAHAHAHAHA!! Aneh aneh geblek

  46.  

    Masalahnya pemerintah kan butuh cepet, ambil saja global hawk sambil ngembangin sendiri stratospher drone.

 Leave a Reply