Apr 042015
 

minyak

Jakarta — Indonesia diharapkan banyak belajar dari Norwegia tentang tata kelola minyak. Sebagai salah satu negara penghasil minyak, Norwegia justru dapat menekan penggunaan minyak nasional dan beralih pada biofuel.

“Norwegia kaya akan minyak, tetapi industri dan listriknya tidak semua menggunakan minyak. Ini penting untuk masa depan negara, tahu cara mengelola kebutuhan minyaknya,” kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Imaduddin Abdullah, dalam sebuah diskusi, Sabtu (4/4/2015).

Tak hanya di dunia industri, penggunaan biofuel juga diterapkan untuk moda transportasi. Dengan demikian, cadangan minyak sebagai bahan bakar dapat terjaga.

Ia mengatakan, Indonesia juga perlu belajar dari Brasil yang telah memanfaatkan etanol sebagai bahan bakar. Abdullah mengatakan, ketergantungan Indonesia terhadap minyak sangat tinggi. Jika hal ini terus dibiarkan, yang akan rugi adalah generasi penerus nantinya. (Kompas.com).

  14 Responses to “Soal Minyak, RI Perlu Belajar dari Norwegia dan Brasil”

  1.  

    absen dulu baru baca

    •  

      harusnya memang mulai sekarang ini BUMN sebagai penggerakdak perekonomian negara harus mempelopori memproduksi biofuel dan etanol .. sebab bahan baku tersebut sangatlah melimpah di negara kita .. tinggal kemauan pemerintah saja melaksanakan atau tidak .. walau mungkin harga pokok produksinya lebih mahal tapi kalau tidak mulai sekarang kapan lagi

  2.  

    2

  3.  

    Hehehe…. mau belajar dari norwegia kek, mau belajar dari brazil kek yg paling penting pemerintah/pertamina harus belajar berterus pada rakyat Indonesia. Dari jaman Kwik sampe jaman sudirman said, yg namanya biaya produksi BBM gak pernah di kasih lihat.

    •  

      Nah anda pinter bung…. supaya rakyat gak prasangka buruk dan membanding – bandingkan terus, di buka dong hitungannya supaya jelas. Jadi tinggal kita lihat hitunggannya ngawur atau ngaco.

  4.  

    yup, dikota ane smpet muncul satu unit mini SPBU blue Bensin. syg g bertahan lma..

  5.  

    Kok gak dari dulu2 belajar nya dan kok dipraktekin dilapangan barang udah mau habis cadangan minyaknya baru deh kelabakan

  6.  

    Brazil penghasil tebu wajar di jadikan etanol ,dan Indonesia produsen terbesar sawit. Kenyataannya tidak menjadikan kita pengguna bio solar. Penyebabnya hanya satu karena BBM masih di subsidi.Makanya penggunaan bio solar tidak kompetitif.Coba minyak tidak di subsidi ,tentu harga bio solar bisa bersaing.

  7.  

    sudah saatnya energi listrik dan transportasi massal yang murah.

  8.  

    Biofuel,etanol, tenaga listrik…. Pemerintah kita masih perlu belajar??? Kemana aja???

  9.  

    apapun itu….selama masih SDA NKRI ya tetep terikat UUD’45/konstitusi. Ntar rakyat dikibuli…lalu impor… akhirnya karena impor bisa alesan masukin UUD’45 ke tong sampah….awalnya minyak…beras…kedelai…..ntar air..ntar udara…semua kasih ke mekanisme pasar. Pasar = supply/demand==>di pasar domestik, yg jadi masalah…udah diperbudak mekanisme pasar…diperbudak pula sama kartel migas.

    Selama berpandangan nasionalis berdasar pancasila dan UUD’45..konstitusi…maka selalu akan ada jalan menuju kemakmuran..dan kita pasti bisa.
    Sedangkan bagi pendukung liberalisme/asing selalu akan cari jalan menari diatas kuburan konstitusi.
    Bangsa ini bukan bangsa manja…subsidi hanyalah seteguk air penghiburan dalam dahaga perjuangan…Subsidi = memanjakan masyarakat diblow up dan dicekoki oleh IMF saat kedatangannya di RI jaman krisis 90-an. Katanya Obat…padahal racun…..katanya efisiensi…padahal BUMN dijual murah ke asing dan dikuasai….katanya mujarab..padahal makin akut….saat datang, katanya “seorang-an” aja…padahal “soros”,padahal konglomerat hitam,padahal rezim merah….pfffttt

    Gak percaya? tanyain tuh pecel lele yg buming pas krisis ’90-an…..kenapa? karena murahhh…ayam potong aja gak kebeli waktu itu. Salam manja.

  10.  

    Betul artikel ini, di Norwegia 100% kebutuhan energi listriknya sudah bersumber dari energi yang dapat diperbarui. Jadi listrik di Norwegia itu mengandalkan tenaga air, tenaga panas bumi, tenaga matahari dan juga tenaga angin. Sebaliknya di Indonesia masih banyak yang mengandalkan minyak bumi, batubara, dan gas. Padahal kita ini kan di khatulistiwa, semestinya bisa memanfaatkan tenaga matahari. Demikian juga tenaga angin, kita ini negara kepulauan terbesar di dunia. Seharusnya bisa memanfaatkan angin untuk pembangkit listrik. Kalau panas bumi memang kita ini sudah nomer 3 di dunia, tapi di dunia ini pemanfaatan energi panas bumi masih rendah. Jadi kita bisa meningkatkan dari situ juga. Kalo tenaga air saya kurang tahu, mungkin di Papua dan Kalimantan bisa.

  11.  

    Katanya otonomi daerah bray

  12.  

    bingun mau gimana kenyataab memang demikian, mau ngritik kayak apapu. tetep sama aja dpr yg sebagai perwakilan rakyat juga pada mingkem hadeeh