Soekarno Dan Angkatan Perang Indonesia

Pada tahun 1950-1960-an, Indonesia yang baru saja merdeka  sudah memiliki angkatan perang yang sangat tangguh, bahkan disegani di dunia. Di tahun 1948, Soviet sudah mengulurkan tangan untuk bekerjasama dengan Indonesia, namun semua itu tertunda akibat meletusnya perisiwa madiun 1948.

ina2

Pada tahun 1956, saat republik memperjuangkan mengembalikan Irian barat, Bung Karno telah memulai kunjungan ke beberapa Negara, diantaranya, AS, USSR, dan Tiongkok. Meskipun kunjungannya ke AS mendapat sambutan hangat dan berpidato di beberapa tempat di negeri itu, namun penguasa AS kelihatannya memihak kepada Belanda terkait persoalan Irian Barat.

Ketika berkunjung ke USSR, Bung Karno tidak hanya menemukan sebuah suasana yang hangat, tetapi juga dukungan dari Soviet terkait perjuangan nasionalnya. Kedua Negara sepakat menjalin kerjasama, dimana Soviet mengucurkan dana sebesar 100 juta USD.

Peranan Soviet Memperkuat Angkatan Perang Indonesia

ina3

Pada November 1959, satu gugus kapal perang Soviet telah singgah di Jakarta, dan angkatan lau Indonesia membalas kunjungan ini pada tahun 1961.

Terkait bantuan Soviet dalam membina AURI da ALRI saat perjuangan merebut Irian Barat, Laksamana Martadinata mengatakan, “Uni-soviet adalah satu-satunya Negara-negara yang siap membantu Indonesia dengan syarat-syarat yang dapat diterima Indonesia.”

Uni Soviet juga memberikan kepada Indonesia bantuan militer yang tidak ada bandingannya. Ribuan orang militer Indonesia diajari oleh instruktur-instruktur Soviet. Bahkan, Soviet memberikan bantuan sangat besar dalam membangun armada laut dan angkatan udara Indonesia, yang nilainya mencapai 2,5 milyar USD. Seperti dicatat Dubes Soviet saat itu,  Alexander A Ivanov, ketika Indonesia sibuk menghadapi provokasi Belanda, negerinya pernah memberikan bantuan 17 kapal perang bagi Angkatan Laut (AL) Indonesia.

Untuk angkatan perang laut, Indonesia pernah punya satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia saat itu, buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Inilah KRI Irian, sebuah kapal perang yang memiliki bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Bandingkan dengan kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1.600 ton.

Untuk angkatan udara, angkatan perang Indonesia menjadi armada udara paling ditakuti di seluruh dunia. Indonesia dikabarkan memiliki ratusan pesawat tempur canggih, yaitu 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed, 30 pesawat MiG-15, 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17, dan 10 pesawat supersonic MiG-19.

INA4

Pesawat MiG-21 Fishbed (Mikoyan-Gurevich MiG-21), buatan ilmuwan Soviet, adalah salah satu pesawat supersonic paling canggih jaman itu, bahkan mengalahkan pesawat tercanggih yang dipunyai AS; pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II, seperti P-51 Mustang.

Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Madiun.

Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, yang memiliki penembak peluru kendali, plus 2 kapal sebagai pasokan suku cadang.  Kesemuanya pensiun begitu Soekarno jatuh, sedangkan satu buah dijadikan museum disurabaya.

ina1

Selain itu, Indonesia juga punya puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Jika ditotalkan seluruhnya, maka Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Senjata mesin AK-47, senjata buatan Soviet yang sangat populer pada jamannya, juga pernah dipergunakan oleh angkatan perang Indonesia di era Bung Karno.

Dan, pada kenyataannya, Soviet tidak hanya punya andil dalam memperkuat angkatan perang Indonesia saat itu, tetapi juga membantu dalam proyek-proyek pembangunan, seperti jalan raya, pembangunan gedung-gedung dan arsitekturnya, industri, dan lain sebagainya. Krakatau Steel, yang saat ini adalah industri baja terbesar di Asia Tenggara yang dimiliki Indonesia, adalah hasil kerjasama dengan Soviet, dimana Sovyet mengucurkan dana 100 juta USD untuk membangun industri baja tersebut.

Dan bagaimana dengan kekuatan militer Indonesia saat ini? Tentunya semua sudah dapat menebak.

Tinggalkan komentar