Mar 152018
 

Status-6 (NATO: Kanyon), torpedo antar-benua otonom bertenaga nuklir buatan Rusia © Russian MoD via Youtube

JakartaGreater.com – Robot tempur bawah laut praktis yang tidak terkalahkan dengan jangkauan antar-benua telah diciptakan bagi Angkatan Laut Rusia untuk beroperasi di lautan dan di pantai musuh, seperti dilansir dari laman Navy Recognition.

Mereka bisa dilibatkan baik melawan kapal perang maupun fasilitas strategis yang ada di pesisir. Reaktor tenaga nuklir mini yang unik telah diciptakan, sejalan dengan hal itu, kapal selam khusus sedang dibangun.

Kendaraan bawah laut itu disebut sebagai Status-6. Presiden Rusia Vladimir Putin telah mempresentasikan kemampuan terbaru Rusia ke parlemen. Para ahli percaya bahwa kendaraan bawah laut merupakan senjata penangkal atau deterrence, dan pembalasan utama, tulis harian Izvestia.

“Rusia merancang kendaraan tanpa awak yang bergerak di dasar laut, saya akan mengatakan dengan sangat dalam, dan berjarak tempuh antar-benua dengan kecepatan beberapa kali melebihi kapal selam, torpedo terbaru dan semua jenis kapal perang berkecepatan tinggi”, kata Putin.

Kendaraan itu memiliki tingkat kebisingan rendah, manuver yang tinggi serta praktis kebal. Itu dapat membawa hulu ledak konvensional dan nuklir untuk menghancurkan berbagai sasaran, termasuk kapal induk, benteng dan infrastruktur pesisir.

Pembangkit tenaga nuklir unik yang inovatif adalah kartu truf senjata itu. Uji coba telah selesai pada bulan Desember 2017. Ukuran reaktor nuklir mini tersebut 100 kali lebih kecil dari pada reaktor kapal selam modern tapi masih memiliki “kekuatan super” yang tinggi.

“Hasil pengujian memungkinkan untuk mulai menciptakan senjata strategis baru yang dipersenjatai dengan muatan nuklir berdaya ledak tinggi”, kata Putin.

Status-6 adalah kendaraan bawah air otonom akan dibawa oleh dua kapal selam yang saat ini sedang dibangun, yakni Khabarovsk dan Belgorod. Menurut Sumber terbuka, mengatakan bahwa setiap kapal selam akan membawa 3 – 10 kendaraan bawah laut.

Mereka menyerupai torpedo sepanjang 20 meter dengan diameter hampir mencapai 1,5 meter. Jangkauannya mencapai 10.000 kilometer. Kendaraan itu memiliki beberapa kompartemen. Ini semacam sebuah platform universal yang bisa membawa berbagai modul tergantung pada misinya. Mereka bisa bermuatan nuklir atau pun konvensional, peperangan elektronika atau sebagai pengintai.

Status-6 dapat terlibat dalam berbagai misi mulai dari penghancuran fasilitas ekonomi penting di pantai hingga pertarungan dengan grup tempur kapal induk. Tak ada senjata di dunia saat ini yang bisa melawan kapal yang beroperasi di dasar laut dalam dengan kecepatan tinggi.

Pakar Dmitry Boltenkov, mengatakan bahwa robot dengan tingkat kebisingan rendah dan kecepatan tinggi adalah pemburu kapal perang yang ideal.

“Ini adalah mimpi dari setiap laksamana karena kapal tersebut dapat secara diam-diam mendekati sebuah formasi kapal perang dan menghancurkan dengan sebuah muatan nuklir. Ternyata, kapal induk yang berat menjadi target yang tidak berdaya”, katanya.

Boltenkov yakin bahwa Status-6 adalah sebagai pencegah yang sangat baik. “Kehadiran kapal bawah laut otonom dengan tujuan utama membuat serangan nuklir balasan di daerah pesisir tidak dapat dihindari. Prospek untuk mempertahankan kerusakan yang tidak dapat diterima akan menenangkan kepala yang panas”, katanya.

Pada era Perang Dingin yang lalu, Uni Soviet pun mempertimbangkan gagasan torpedo Sakharov untuk membawa muatan termonuklir yang dahsyat. Di saat perang, itu dapat digunakan pada pesisir AS dan memicu tsunami super dahsyat. Namun proyek tersebut ditinggalkan karena kesulitan teknis, tulis Izvestia.