JakartaGreater.com - Forum Militer
Nov 272016
 

starstreak

Dalam Rangka Mendukung Pembangunan Kekuatan Pertahanan Matra Darat

Hakikat Pertahanan Negara adalah segala upaya pertahanan bersifat semesta, yang penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri.

Pertahanan negara disusun berdasarkan prinsip demokrasi, Hak Asasi Manusia, kesejahteraan umum, lingkungan hidup, ketentuan hukum nasional, hukum internasional dan kebiasaan internasional, serta prinsip hidup berdampingan secara damai dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dan negara maritim.

Melalui prinsip dasar tersebut, pertahanan negara diselenggarakan dengan tujuan menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta keselamatan segenap bangsa. Dalam mencapai tujuan tersebut, fungsi pertahanan negara diselenggarakan guna mewujudkan dan mempertahankan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai satu kesatuan pertahanan yang tangguh dalam menghadapi ancaman.

Pengalaman konflik konvensional modern telah menempatkan kekuatan udara sebagai kekuatan pemukul dalam suatu perang konvensional. Keunggulan udara (air supremamacy, air dominance) merupakan tujuan awal dari setiap kampanye militer agar dapat melancarkan tahap operasi berikutnya yaitu serangan darat.

irak-israel

Untuk mencapai keunggulan udara, selain Angkatan Udara, semua pihak terkait ikut berperan termasuk Arhanud. Sehingga Arhanud harus memiliki kemampuan untuk mempercepat diraihnya keunggulan udara dan harus mampu mencegah musuh meraih keunggulan udara.

Dikaitkan dengan potensi konflik di Indo-Pasifik, maka konflik laut China Selatan adalah potensi konflik yang terdekat bahkan bersinggungan langsung dengan Indonesia. Kebijakan pemerintah dalam mengembangkan poros maritim dunia juga menjadi kerawanan dalam pengamanan jalur pelayaran laut dan udara. Dengan besarnya tugas yang akan dihadapi, maka Arhanud yang modern dan memiliki kapabilitas tinggi mutlak dibutuhkan.

PERKEMBANGAN SITUASI INDOPASIFIK TERMASUK AUSTRALIA

Perkembangan situasi keamanan di kawasan Samudera Hindia dan Pasifik (Indo-Pasifik) termasuk Australia memicu banyak negara untuk memodernisir kemampuan militernya beriringan dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Saat ini belanja militer di Asia menjadi lebih besar dibandingkan Eropa. Pada tahun 2014 belanja militer Asia meningkat lima persen, mencapai sekitar USD 439 miliar dibandingkan dengan Eropa yang hanya meningkat 0,6 persen yaitu sekitar USD 386 miliar.

Negara yang memiliki pengaruh besar di kawasan Indo-Pasifik termasuk Australia masih didominasi oleh negara-negara maju yaitu Amerika Serikat, Inggris dan China. Amerika Serikat menancapkan pengaruhnya di kawasan ini melalui sekutu-sekutu tradisionalnya yaitu : Australia, Philipina, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Sedangkan Inggris melalui negara Commenwealth (negara bekas jajahan Inggris) yaitu : Australia, Malaysia dan Singapura.

proyeksi

Demikian menariknya kawasan Indo-Pasifik bagi negara barat hingga muncul beberapa organisasi keamanan yaitu Five Power Defence Arrangement (FPDA) yang berdiri tahun 1971 beranggotakan : Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura dan Malaysia. Juga kerjasama intelijen yaitu Five Eyes yang beranggotakan Australia,Kanada, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat. China sebagai pemain regional Asia yang sedang berkembang pesat dengan istilah “the rise of China” berusaha meningkatkan pengaruhnya baik dengan soft power maupun hard power di berbagai bidang.

Berkaitan dengan situasi di Laut China Selatan yang menjadi salah satu “hot issue” di kawasan IndoPasifik, enam negara yang terlibat saling klaim (China, Malaysia, Vietnam, Philipina, Brunei dan Taiwan) semakin memantapkan kehadiran militernya di kawasan sengketa.

Dominasi China mendorong lima negara lainnya untuk memodernkan kemampuan militernya dan bersekutu dengan negara maju dalam rangka menciptakan Balance of Power di kawasan yang dapat menahan terjadinya perang terbuka yang sesuai dengan teori Hans Morgenthau dalam bukunya “Truth and Power: Essays of a Decade, 1960–1970” (1970). Malaysia mendekati Inggris, Vietnam mendekati Rusia, Philipina dan Taiwan mendekati Amerika Serikat.

asean

Bahkan negara lain yang tidak terlibat namun bersinggungan langsung seperti Thailand dan Singapura turut melakukan hal yang sama. Thailand memiliki kedekatan diplomatik dengan Amerika Serikat sebagai sebagai warisan perang dingin dengan “pernah” adanya South East Asia Treaty Organization (SEATO) yang didirikan tanggal 8 September 1954 di Manila, Filipina. Sedangkan Singapura memiliki kedekatan khusus di bidang militer dengan Amerika Serikat, terbukti dari pelayaran kapal induk Amerika Serikat USS John C. Stennis (CVN 74) ke Philipina dan Singapura pada 19 April 2016, yang akhirnya mendapat penolakan dari China saat hendak mengunjungi Hong Kong pada 26 April 2016 yang baru lalu.

KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA

Kebijakan Presiden RI Joko Widodo, mengukuhkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Sebagai poros maritim dunia, Indonesia tentu berkepentingan untuk ikut menentukan masa depan kawasan Pasifik dan Samudera Hindia (the Pacific and Indian Ocean Region PACINDO). Indonesia menginginkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik tetap damai dan aman bagi perdagangan dunia, bukan dijadikan ajang perebutan sumber daya alam, pertikaian wilayah dan supremasi maritim.

Agenda pembangunan untuk mewujudkan visi ini memiliki lima pilar yaitu: Pertama; membangun kembali budaya maritim Indonesia. kedua; menjaga dan mengelola sumber daya laut. Ketiga; memberi prioritas pada pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim. Keempat;  melalui diplomasi maritim, mengajak semua mitra-mitra Indonesia untuk bekerja sama di bidang kelautan dan Kelima; sebagai negara yang menjadi titik tumpu dua samudera, Indonesia memiliki kewajiban untuk membangun kekuatan pertahanan maritim.

Kebijakan pemerintah ini direspon dengan cepat oleh Panglima TNI dengan melakukan modernisasi Alutsista TNI untuk mengawal jalur laut dan udara nusantara. Di samping itu TNI juga akan membangun pangkalan militer di beberapa pulau terluar yaitu : P. Natuna Besar di Wilayah Barat yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, P. Morotai di Utara, P. Biak di Timur yang langsung menghadap Samudera Pasifik dan P. Selaru di Wilayah Selatan. Pangkalan militer ini nantinya akan berfungsi selayaknya “kapal induk” yang memiliki landasan untuk operasional pesawat, dermaga kapal dan satuan TNI AD.

PERAN ARHANUD TNI AD

Untuk mendukung kebijakan Pemerintah yang diterjemahkan oleh Panglima TNI, menuntut derajat kesiapan operasional yang tinggi dari kesenjataan Arhanud. Penggunaan Alutsista modern tidak dapat ditawar lagi dalam rangka menghadapi potensi ancaman yang ada. Potensi konflik Laut China Selatan, mengawal kebijakan poros maritim dunia dengan memperkuat celah kosong pertahanan di Indonesia bagian Utara, Timur dan Selatan mutlak memerlukan perlindungan udara yang kuat.

Di Laut China Selatan, radius operasi (terbang dan kembali pada pangkalan udara yang sama) F-16 TNI AU adalah 550 km (misi hi-lo-hi dengan membawa 4 x 450 kg bom), yang artinya apabila tinggal landas dari P. Natuna Besar belum dapat menjangkau kepulauan Spratly. Apabila di Natuna nantinya akan digelar sistem Rudal Hanud jarak pendek seperti Starstreak yang memiliki jangkauan 7,2 km, maka pangkalan “kapal induk” yang akan dibangun tersebut menjadi terlindungi dari ancaman serangan udara berketinggian rendah.

Posisi pangkalan udara Australia, Skadron/ jenis pesawat yang dioperasikan saat ini ditandai dengan kotak warna putih, untuk rematerialisasi yang sudah kontrak menggunakan warna kuning, sedangkan rencana pembelian yang belum kontrak menggunakan warna biru. Dapat dilihat bahwa sebagian besar pangkalan udara Australia berada di sebelah Tenggara sehingga memberikan waktu reaksi yang cukup lama apabila ada serangan udara terhadap Australia. Posisi P. Selaru sangat strategis dalam menghadapi potensi ancaman dari selatan (jarak P. Selaru dengan Tindal AFB adalah 750 km).

raff-australia

Jarak ini juga masih di luar jangkauan operasional F-16 TNI AU. Penggelaran Rudal jarak pendek Arhanud di P. Selaru yang bersinggungan dengan Australia dinilai sangat penting sebagai pertahanan pangkalan dari ancaman serangan udara berketinggian rendah. Ancaman serangan udara merupakan tindakan musuh yang menggunakan wahana udara dan Alutsista udara berupa pesawat terbang berawak maupun tanpa awak dan peluru kendali balistik yang berteknologi tinggi untuk menghancurkan objek-objek vital strategis maupun taktis.

Alutsista udara saat ini terdiri dari berbagai jenis, yang dapat disingkat dengan istilah CUTER-FRUIT, meliputi Cruise Missile (CM), Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Tactical Airto-Surface Missile (TASM), Electronic Warfare (peperangan elektronik), Rockets Artillery Mortar (RAM), Fixed Wing Aircraft (Pesawat Udara Bersayap Tetap), Rotary Wing Aircraft (Helikopter), Unmanned Combat Air Vehicles (UCAV), Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (ISTAR) dan Tactical/Theatre Ballistic Missiles (TBM).

Untuk menghadapi kemungkinan ancaman tersebut, dalam Sistem Pertahanan Negara (Sishanneg) Indonesia terdapat Sistem Pertahanan Udara Nasional (Sishanudnas) yang di dalamnya terdapat unsur Arhanud TNI AD sebagai salah satu kecabangan TNI AD dan sebagai kekuatan yang menjalankan fungsi tembakan dan perlindungan dalam rangka Pertahanan Udara (Hanud) di medan operasi maupun Hanudnas.

Satuan Arhanud bertugas untuk melindungi objek vital dengan melaksanakan Hanud titik. Objek vital yang dilindungi dapat berupa satuan manuver maupun Obvitnas yang bersifat statis seperti pusat pemerintahan, instalasi militer maupun aset strategis lainnya (markas komando, pembangkit listrik, jembatan, lapangan terbang, pelabuhan), lokasi eksplorasi, produksi, terminal dan distribusi sektor ESDM. Arhanud TNI AD dalam melaksanakan tugas pokoknya menyelenggarakan 4 (empat) fungsi, meliputi pencarian dan penemuan (detection), pengenalan (identifi cation), penjejakan (tracking) dan penghancuran (destruction).

PEMBANGUNAN KEKUATAN DAN KEMAMPUAN ARHANUD UNTUK MENDUKUNG STRATEGI PENGEMBANGAN KEKUATAN TNI AD

Sebagai sebuah subsistem yang merupakan bagian dari sistem pertahanan negara, maka pembangunan kekuatan Arhanud TNI AD juga tetap harus memprioritaskan pembangunan kemampuan melalui rematerialisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang tidak layak operasional serta pengadaan Alutsista baru dan penataan kembali gelar satuan guna memperoleh daya tangkal pertahanan negara yang lebih optimal di seluruh wilayah NKRI. Gelar Satuan Arhanud TNI AD juga harus terintegrasi dengan sistem pertahanan udara dari Angkatan lain yang berada dalam sistem pertahanan udara nasional yang utuh dan saling mengisi. Sebagai lapis terakhir dari sistem pertahanan udara nasional, maka Arhanud TNI AD harus mampu beroperasi secara mandiri dan bisa mengisi celah-celah kosong (sebagai “gap filler”) dari sistem pertahanan udara lainnya sehingga tercipta fleksibilitas dan keberlanjutan dalam pertahanan udara.

Dihadapkan pada kondisi, kemampuan, kekuatan dan gelar Satuan Arhanud yang ada saat ini belum maksimal dalam melindungi objek vital terpilih dan menutup celah-celah kosong di wilayah yang rawan pelanggaran udara, maka sebenarnya secara kuantitatif masih diperlukan beberapa satuan setingkat Batalyon lagi yang harus dibangun di wilayah-wilayah yang memerlukan perlindungan udara.

Namun apabila mengacu pada kebijakan “zero growth” dan “right sizing” yang menekankan pada tidak adanya penambahan jumlah personel TNI AD, maka kebutuhan pemenuhan gelar satuan di wilayah wilayah rawan tersebut dapat diatasi dengan penataan kembali gelar Satuan Arhanud.

Rencana pengembangan kekuatan TNI di pulau-pulau terluar yang memiliki kerawanan lebih tinggi terhadap pelanggaran wilayah udara juga menjadi prioritas Pussenarhanud Kodiklat TNI AD dalam melakukan pengembangan satuan. Merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pelanggaran-pelanggaran wilayah udara nasional merupakan ancaman yang paling aktual dan potensial terhadap kedaulatan NKRI oleh negara lain. Ancaman tersebut terjadi salah satunya disebabkan oleh lemahnya daya tangkal kita di bidang pertahanan, sehingga mendorong negara lain berani melakukan tindakan provokatif di wilayah NKRI.

Berkaitan dengan pengembangan kemampuan Arhanud TNI AD yang menjadi bagian dari konsep Minimum Essential Force (MEF), pengadaan Alutsista baru Arhanud pengganti Alutsista yang sudah tidak layak pakai serta modernisasi Alutsista lama yang masih bisa digunakan merupakan solusi yang tidak mungkin dihindari. Upaya pengadaan Alutsista baru Arhanud ini merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan dalam menghadapi ancaman terhadap kedaulatan NKRI dalam bentuk serangan udara atau pelanggaran wilayah udara nasional.

Rematerialisasi Alutsista Arhanud saat ini yang diperlukan adalah Rudal Hanud, karena memiliki teknologi tinggi serta dilengkapi dengan radar sehingga memiliki daya hancur dan akurasi yang maksimal untuk melaksanakan per lindungan objek vital dari ancaman udara.

Maka selain analisa kebutuhan di dasarkan pada capability based planning untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara, juga didasarkan pada threat based planning untuk mengantisipasi ancaman terpilih. Kehadiran Rudal Hanud dapat meningkatkan daya tangkal atau deterent effect dalam menjaga kedaulatan negara dari kemungkinan ancaman udara, khususnya terhadap objek vital (nasional dan militer), sumber energi dan objek lain yang menyangkut kepentingan nasional.

cover

Adapun Rudal Hanud yang akan segera dimiliki Arhanud TNI AD saat ini meliputi:

a. Rudal Starstreak. Rudal Starstreak terdiri dari dua jenis yaitu Rudal Starstreak MMS (Multi Mission System)/Rapid Ranger dan Rudal Starstreak LML (Light weight Multiple Launcher)/ Rapid Rover dan didukung Radar SHIKRA. Daerah yang dilindungi (Coverage Area) Sista Hanud Rudal Starstreak dengan 12 unit peluncur rudal yang terdiri dari 4 unit MMS (Multi Mission System)/Rapid Ranger dan 8 unit LML (Lightweight Multiple Launcher)/Rapid Rover dapat melindungi wilayah seluas 373,063 km² sama dengan luas kota Surabaya (374,8 km²) atau separuh luas DKI Jakarta yang memiliki luas 740,3 km².

b. Rudal Mistral. Rudal Mistral terdiri dari dua jenis yaitu Rudal Mistral ATLAS (Advanced Twin Launcher Anti-Air Strike) dan Rudal Mistral MPCV (Multi-Purpose Combat Vehicle) dan didukung Radar MCP (Mistral Coordination Post). Daerah yang dapat dilindungi (Coverage Area) Rudal Mistral dengan 9 unit peluncur rudal, dapat melindungi wilayah seluas 210 km². Luas Coverage area Rudal Mistral sama dengan seluas Kota Bekasi yang memiliki luas wilayah 210,49 km².

Efektivitas pertahanan udara tergantung dari kualitas dan kuantitas Alutsista, integrasi, dukungan dan kemampuan operator. Sehingga diperlukan integrasi yang optimal antara komponen operasional, pendidikan dan latihan serta dukungan/pemeliharaan. Untuk itu, Pussenarhanud Kodiklat TNI AD terus berupaya mengoptimalkan komponen Diklat dengan memaksimalkan paket pelatihan dan alat instruksi dalam setiap program pengadaan Alutsista baru.

Untuk komponen pemeliharaan selain berupaya mendapatkan jaminan pemeliharaan yang maksimal, Pussenarhanud Kodiklat TNI AD juga berupaya mendapatkan peralatan dan kemampuan pemeliharaan tingkat 0 hingga II dalam setiap program pengadaan Alutsista baru. Pemeliharaan tingkat II dilakukan dengan mengoptimalkan peran Dohar Sista Arhanud yang berada di Kota Batu, Jawa Timur sebagai satuan pemeliharaan bagi seluruh Alutsista Arhanud TNI AD.

Dengan pemenuhan kebutuhan komponen satuan operasional, Diklat dan pemeliharaan secara optimal, diharapkan Arhanud TNI AD dapat melaksanakan tugas pokok yang dibebankan secara lebih optimal dan berkesinambungan. Demikian tulisan Pembangunan Kekuatan Pertahanan Darat Melalui Modernisasi Alutsista Arhanud TNI AD dibuat sehingga bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

kolonel-arh-chandra-wijaya

Penulis : Kolonel Arh Candra Wijaya, M.A

Sumber : Jurnal Yudhagama 

Bagikan :

  70 Responses to “Strategi Modernisasi Alutsista Arhanud”

  1.  

    owh..gitu ya..

    •  

      Indonesia darurat rudal type destroyer

    •  

      pak-pak, judulnya aja yang bombastis “Strategi Modernisasi Alutsista Arhanud” tapi gak sesuai dengan ekspektasi, lihat tu negara tingkok dah punya DongFeng-26 dan rudal lainnya. supaya jelas lihat video ini https://www.youtube.com/watch?v=W5nBY4LCSLs, gak kasihan anakbuah kamu yang dilapangan kalau perang sungguhan, gak kasihan dengan istri dan anak2x mereka. ya semoga aja petinggi tni cepat sadar karena nyawa itu gak bisa dinilai dengan uang apalagi nyawanya pejuang. tinggal belu s400 atau s300 aja kok sulit. apa nunggu dirudal dulu baru beli.

      •  

        emg kalau beli harus ngomong sama situ..? emg situ siapa ? ada yg emg harus dipublikasi dan ada emg yg harus dirahasiakan

        •  

          saya itu wni mas, yang selalu bayar pajak dengan taat. lak tni beli alutista itu pasti dipublikasikan mas sebagai bentuk pertanggung jawaban, kecuali jumlah pasti itu yang dirahasiakan. saya gak percaya kalau tni beli barang tapi gak dipublikasikan terutama alutista strategis, karena alutista strategis tu sifatnya pasti integrasi antar sistem, pasti sulit untuk dirahasiakan baik dari pihak intelejen barat atau masyarakat & media. lak kamu masih percaya dengan kalimat “ada emg yg harus dirahasiakan” segeralah berfikir ulang.

  2.  

    Rudal SAM jarak menengah/jauh nya apa dan kapan ………….. ???

  3.  

    Lah Ko rudal jarak jauh nya gak disinggung…kl begitu sampai kapanpun NKRi gak bakalan beli rudal jarak sedang dan jauh..gak niat mungkin.

    •  

      Ternyata pd ga ada yg nyerep inti dari artikel diatas..xixixixixi
      Ini TNI AD lohh.. indonesia yg sekarang mencoba keluar dari belenggu di masa orde baru.. dimana waktu itu pertahanan udara di pegang TNI AD dan membungkam TNI AU ( paskhas) utk memegang kendali pertahanan udara..

      Doktrin yg sekarang mencoba mengembalikan fungsi TNI AU yg dulu.. TNI AD yg skrng hanya pelapis dan sistem pertahan udara trakhir disaat sistem pertahanan udara menegah dan jauh jebol atau mengisi celah yg ga kejangkau sama sistem pertahanan udara menengah dan jauh.. salah satunya ancaman rudal yg terbang rendah yg ga kejangkau radar SAM..

      Knp TNI AD ga akusisi arhanud jarak menengah dan jauh karena udah ada TNI AU yg mengemban tugas ini.. ditunggu aja realisasi utk pengadaan arhanud jarak sedang dan jauh..

  4.  

    Kagak mudeng gueh…..????

    Udah panjang-lebar, sampai ngomongin mo nyerang spratly atau aussy utara, sementara pertahanan dalam negri aja masih bolong-bolong……

  5.  

    Penempatan rudal jarak sedang masa iya dibeber disini, disini kan banyak intel asing dan aseng yg mengawasi

  6.  

    Udah bela2in baca dgn penuh semangst dari awal, indonesia butuh arhanud, tni ad butuh rudal pertahanan udara dan pulauw terluar kita pasang rudal hanud, tiba2 kata2 yg muncul rudal starstreak dan rudal mistral…males bgt…rudal kecil, rongsok dan ga ada gahar2nya sama sekali….kirain indonesia borong rudal hanud s300 utk pulau terluar dan s400 utk setiap provinsi di indonesia serta s500 utk ibukota jakarta…egg malah starstreak ama mistral yang nongol….jadi ga semangat komennya….kalah garang dan kalah sangar dari vietnam….sedih bacanya…hikzzz hikzzz …hikzzzz..

  7.  

    Rudal jarak pendek 7,5km cuma buat tembak layang layang. Halooooo , Indonesia butuh jarak menengah.

  8.  

    Hahahahaha.. Sama gw jg ga ngudeng. Kaya nya si cintia yg bukin tu artikel.

  9.  

    itu kan baru AD

  10.  

    Tulisane wah bombastis gede gede mentereng cuma ujungnya strar trex, ama rudal panggul..

    Terlalu lemah cung…

    Mikir kenapa, rudal kelas shorad jadi mainan utama, terlalu murah harga NKRI cuma dijaga rudal kacang ijo…

    Jancoookkk gak maju maju..

    •  

      Rudal ppanggul dipamerin…bikin emosi aja..

      •  

        Mungkin nggak bermaksud pamer, bung Seto.
        Tapi itu memang seperti .. pemaparan tentang industri traktor diulas panjang-lebar dari A sampai Z, tapi ujun-ujungnya cuma dijanjikan dibelikan pacul.

    •  

      @sego jagung

      Guwe jd ingat, bbrp tahun lalu ada seorang perwira A* yang dibully disebuah majalah jurnal militer internasional gara2 ketahuan memodifikasi artikel ttg “Pilihan tipe truk militer yang sesuai utk Ind*nesia” yang kesimpulannya ujug-ujug ditempelin/diimbuhin dg beberapa tipe truk yang digunakan A*.

      Artikel pd jurnal aslinya menuliskan analisa pilihan tipe truk dari bbrp negara berdasarkan kebutuhan, kemampuan anggaran, keunikan geografis dan kompabilitas dg angkutan udara masing2 negara tsb…shg bisa ditentukan pilihan yang sesuai utk masing2 negara berdasarkan kriteria2 tsb.

      Lha ini pak perwira dari A* cuma menulis ulang jurnal tsb tanpa melakukan analisis pilihan tipe2 truk yang sesuai utk RI berdasar kriteria di atas

      Hehehehehe….tidak mengherankan, lha wong yang mahasiswa tulen, skripsinya aja beli

      •  

        Hahaha untung saya bukan dosen kalo saya dosen mahasiswa saya sudah saya cuci muka dengan sambel..hahaha…

        Aku merindukan soekarno yg punya nalar real dan panjang..kedepan..siapa lagi yg menggantikannya..

  11.  

    sekilas di hayati tulisan beliau ane berkesimpulan kemungkinan besar beliau menekan pemerintah supaya secepat nya untuk menambah kekuatan pertahanan udara jarak menengah dan jauh.

    •  

      Rakyak menggugat itu baru kuat, sekali kali demo jutaan orang menuntut alutsista musti gahar..jangan demo gak jelas siapa yg nunggangin..

      Ajuurrrr ajurrr..kartoloan…aee..

      •  

        Ide bagus tuh, demo supaya pemerintah beli longSAM dan Su35, yg demo berapa orang? Palingan 100 orang pun gak sampe 😀
        Karna itu demo ini harus disponsori dan ditunggangi “aktor” politik 😀 dan jika menhan dan presiden tidak perduli, maka kita akan demo berjilid-jilid sampe jilid 9 😀 dan jika masih tdk digubris maka kita akan nginep di gedung DPR 😀 😀 😀

  12.  

    Berharap yg nongol s-300,s-400,buk-M atau sky dragon juga gpp dah ..
    Lah yg nongol malah starstreak sama mistral ..
    Tp klw beli nya dalam jumlah banyak di atas 1000 unit mah gpp dah untuk arhanud jarak pendek ..
    Ini untuk arhanud jarak pendek,belum termasuk jarak menengah dan jauh ..
    Yg jarak menengah dan jauh nya masih di dalami,di kaji,di pelajari dan ujung” nya tidak di beli hahahaha hiks hiks hiks ..

  13.  

    Kalau saya sih tdk terlalu perduli masalah Long atau short SAM, yg paling penting negara kita harus “tahan banting” terhadap proxy war. Karna satu2nya cara untuk menguasai dan menghancurkan indonesia adalah dengan proxy war, percuma alutsista bejibun tapi bisa terpecah belah seperti…..

    •  

      NKRI. tidak akan terpecah belah bung jika sistem pemerintahan tidak korupsi kolusi nepotisme. terkadang permasalah sepele di besar besarin oleh media asing. kenapa tidak di block saja kalau memang pemerintah sudah terdeteksi. peran itelijen sangat dikedepan kan era perang px war. saya takut nya para penggemban fugsi intelijen baik tni. polri. dan lain2nya hanya duduk menunggu tidak membuka ring waduh repot dach.

    •  

      setuju dgn anda bung @Jfs

      rudal,pesawat tercanggih apapun tidak akan membuat Indonesia hancur!!!
      satu”nya cara yg paling efektif dan efisien menghancurkan Indonesia adalah “adu domba”

      yang harus dilakukan Indonesia adalah menguatkan “PERSATUAN”!!!

  14.  

    jurnal wajib yang disusun oleh PAMEN dan PATI

  15.  

    Eggak mantap kalau bukan S300 / S400…

  16.  

    Di baca bolak balik tetap saja TNI hanyanya memiliki payung udara range dekat.
    F-16 Block 52 bukanlah lawan seimbang Su-35 milik China, jika China menempatkan Su-35 di kepulauan Spartly, sudah di pastikan pespur terbaru China dapat bermanuver 2 kali range F-16 Indonesia, terlebih lagi di pulau Natuna, TNI hanya di backup oleh payung udara dengan range pendek.
    Di Selatan Indonesia, Indonesia hanya mengandalkan payung udara range pendek guna membackup kombinasi F-16 dengan Su-27/30, sedangkan negara yang terkenal usil kepada Indonesia (Australia) mempunyai jumlah pespur yang banyak dan di dukung rudal jarak jauh dan canggih seperti rudal anti radiasi AGM-88B High Speed Anti-Radiation Missiles (HARM) dan AGM-88E Advanced Anti-Radiation Guided Missiles (AARGM) dan juga kaprang Destroyer dengan rudal SM-2 Block IIIB.

    Sudah sepatutnya Indonesia / TNI memiliki payung udara dengan range jauh seperti S-400 Triumph.
    Selain lebih meringankan beban pespur, 4 (empat) fungsi, meliputi pencarian dan penemuan (detection), pengenalan (identifi cation), penjejakan (tracking) dan penghancuran (destruction) dapat di tambah menjadi 5 (lima) fungsi dengan optimalisasi jangkauan (range).
    Selain estimasi biaya lebih rendah, payung udara range jauh juga lebih kecil resikonya serta lebih mudah perawatannya.
    Belum lagi kelebihan lainnya dari payung udara range jauh seperti S-400 Triumph yang dapat mobile di darat dan di laut.

    •  

      Gpp bung, kata pak menhan gk ad yg berani perang sama indonesia, kita punya 100juta rakyat yg siap perang dan siap berenang ke daratan china 😀 😀 😀

    •  

      Duit nya ga ada om… 2milyar dolar buat beli 1 battalion s300 !!

      •  

        Jangan sotoy dechh…
        Harga S-400 Triumph untuk 1 (satu) batalyon US$ 500
        Untuk S-300 karena sudah tidak diproduksi kembali (terakhir produksi tahun 2014) sudah pasti jauh dibawah S-400 Triumph.
        Jika Rusia masih mengeksport S-300, itu hanyalah S-300 stock lama yang diretrofit rudalnya saja.
        Btw pada November 2014 Moskow dan Beijing menandatangani perjanjian senilai 3 miliar Dollar AS untuk penyediaan enam batalyon sistem rudal anti pesawat S-400.

        •  

          1 batalyon setara berapa baterai om?
          Mahal banget yaa.
          Makanya kita berkutat terus dengan vshorad.

          •  

            @Sigma Lover : Tergantung…

            1 batalyon S-400 Triumph -+ 4 batrai

            Idealnya dalam satu batalyon terdapat tiga baterai.
            Baterai bisa diibaratkan satuan setingkat kompi dalam kesatuan infanteri atau kavaleri.

            Contoh : Rudal Starstreak disiapkan untuk menjadi payung udara untuk wilayah DKI Jakarta yang di percayakan kepada kesatuan Yon Arhanudse (Artileri Pertahanan Udara Sedang) 10 Kodam Jaya selaku operator rudal ini.
            Hanya saja rudal Starstreak HVM yang merupakan rudal tercepat Arhanud TNI AD ini hanya 1 batrai saja yang TNI AD miliki.
            Btw baterai rudal Starstreak, terdiri dari sembilan peluncur dan besar kemungkinan, mengacu pada unit peluncur ground based dengan 3 peluncur pada dudukan tripod.

  17.  

    I>

  18.  

    O>

  19.  

    Lho yg sedang terjadi di Suriah itu kombinasi proxy war dan agresi terang2an dari negara2 besar yg kebanyakan melalui serangan udara, jadi membangun pertahanan udara yg tangguh itu termasuk salah satu upaya mencegah agar NKRI tidak diacak acak oleh2 asing, mereka akan mikir seribu kali utk melakukan penyusupan melalui udara

  20.  

    Dan saya mendukung AD fokus di hanud shorad dan biarkan hanud area baik itu hanud medium maupun long range menjadi domain AU dan AL

  21.  

    Test

  22.  

    Test 1.. 2.. 3…

  23.  

    Test…
    Hadeuh…
    Untuk me-repoay komentar kenapa jadi susah…?

  24.  

    aha,kmarin bilang artikelnya pendek2 klu skg di panjangin..
    yg namanya artikel itu pendek dan jelas, tp klu panjang itu namanya cerita..
    ksimpulanya indonesia masih di jaga arhanud jarak pendek,. sdangkan pabila pesawat musuh menyerang tentunya udah tau kmampuan arhanud yg mau di serang. jadi musuh udah tau dia mau nyerang dr ktinggian brapa dan jarak berapa..

  25.  

    hari gini msh berkutat di shorad…? xixiixi masih berpegang teguh ama doktrin zero enemy kali ya….kalo dah kejadian baru gelagapan….xixiixi

  26.  

    rudal unyu-unyu

  27.  

    Kalo menurut saya sistem rudal hanud menengah dan jauh hanya dikendalikan oleh kohanudnas tni au,sdg hanud titik/pendek bisa dikendalikan di semua matra secara gabungan baik tni ad/au/al sesuai objek vital yg mesti dilindungi masing2. Selain itu agar tak terjadi saling tumpang tindih dg sistem hanud lain dan friendly fire kalo semua matra memiliki sistem hanud jarak menengah dan jauh. Semoga kelak tni segera memiliki sistem hanud ini yaitu sistem hanud menegah dan jauh agar NKRI bisa terjamin dalam hal menjaga kedaulatannya.

  28.  

    Untuk tni au sekiranya mempertimbangkan kembali utk memiliki pesawat bomber atau fighter bomber yg berdampingan dg pespur berat yg sdh dimiliki yaitu sukhoi. Percuma kalo kita menangkis serangan lawan tanpa kita bisa membalas serangan itu dg kemampuan serang balik jarak jauh spt era tempoe doeloe AURI. Mengingat ancaman di sekitar indonesia sdh memiliki kemampuan serang jarak jauh,tentu sangat disayangkan juga kalo kita tak memiliki kemampuan serupa. SU 34,bomber TU 160,bersanding dg SU 27/30/35 merupakan alutsista serang strategis jarak jauh yg bisa memberikan efek deteren lebih baik lagi bagi NKRI.
    Selain itu alutsista macam Pesawat peringatan dini atau intai macam awacs,global aye,P8,dll sekiranya jg jadi pertimbangan pengadaan alutsista kelak.

    •  

      Alutsista macam sukhoi series dan tupolev series tdk akan memberi efek deterent jika berjumlah kecil , kecuali kita punya ratusan unit, apalagi teknologi SAM semakin berkembang, jet tempur dan jet bomber yg tdk memiliki kemampuan stealth pasti akan rontok jika berhadapan dengan SAM advance.

  29.  

    Mau dibilang apa strateginya masih buat rumah sendiri jadi tempat betarung…bukan rumah orang lain..

  30.  

    Diakui sistem Arhanud TNI kita tidak cukup utk mengcover seluruh titik2 vital wilayah NKRI, intinya saat ini kita benar2 darurat pengadaan hanud jarak menengah dan jarak jauh sedangkan Hanud titik yg selama ini kita adopsi tidak akan banyak membantu bila suatu saat terjadi peperangan modern saat ini maupun kelak yg akan datang

    Sudah saatnya kita perlu membeli alutsista Hanud jarak menengah dan jauh dari Rusia, yaitu S-400, Calibr, dll-nya sesuai kebutuhan Hankam kita, disamping itu kita mesti terus menggenjot kualitas dan kuantitas produk R-Han oleh LAPAN serta kerjasama pengembangan roket/rudal yg kini tengah dilaksanakan dgn negara sahabat lainnya u/ teknologi2 yg belum kita kuasai …… Semoga Terwujud!

  31.  

    Reuseup ningali baraya ambek2an….. 😆

    Padahal semuanya akan indah apabila sudah tiba waktunya……

  32.  

    bung gagah, tidak ada yg dirahasiakan kamu stop melawak, alutsista dirahasiakan tidak ada gunanya ,justru akan ditunjukan untuk memberi efek deteren, kamu harus melek teknologi sekarang ada google earth semua bisa keliatan, tiap tahun alutsista di pamerin pas ulang tahun tni, jadi stop l jamaah ghoibbiyah bilang ada alutsista yg di sembunyiin, dosa kalian kalau bohong terus, tidak ada itu yg di sembunyikan

    •  

      Dengerin tuch yang demen ghoib-ghoiban….pasti ente2 ini dulu klo pacaran senenge gelap-gelapan, pas “kecelakaan” buru-buru deh pake elmu ghoib

  33.  

    bung gagah, tidak ada yg dirahasiakan kamu stop melawak, alutsista dirahasiakan tidak ada gunanya ,justru akan ditunjukan untuk memberi efek deteren, kamu harus melek teknologi sekarang ada google earth semua bisa keliatan, tiap tahun alutsista di pamerin pas ulang tahun tni, jadi stop l jamaah ghoibbiyah bilang ada alutsista yg di sembunyiin, dosa kalian kalau bohong terus, tidak ada itu yg di sembunyikan .

  34.  

    Baca tuh artikel ampe kelar
    Giliran ending ga sesuai fakta dan cenderung mengecewakan.(PHP ente)
    Senjata Arhanud AD
    Warisan jaman jahiliyah yang masih dipake sampe sekarang termasuk doktrin-doktrinnya.
    Dan sayangnya tetep saja seperti itu.alias ga maju2.entah apa yang ada dipikiran “mereka”.
    Mending bubarin saja masukin ke kodim atau korem.beres sudah.

 Leave a Reply