Jul 312018
 

ilustrasi: Jet tempur siluman Su-57 Rusia. © Anna Zvereva via Wikimedia Commons

Makassar, Jakartagreater.com – Korsahli Kasau Marsda TNI Umar Sugeng Hariyono membuat kagum para guru besar dalam paparannya pada Ujian Tutup Disertasi dengan judul Strategi Pengembangan Alutsista TNI Angkatan Udara ditinjau dari segi potensi ancaman dan luas wilayah NKRI.

Adapun tim penguji terdiri dari Prof. Dr. Rifdan, M.Si, Prof Dr. Jasruddin, M.Si, Prof. Dr. Hamsu Abdul Gani, M.Pd, Prof. Dr. H. Haedar Akib, M.Si, Prof Dr. Suradi Tahmir, MS., Prof. Dr. Anshari, M.Hum., dan Penguji Eksternal Dr. Erwansyah Syarief, MBA, M.Si, pada Senin 30 Juli 2018 bertempat di ruang Pasca Sarjana Universitas Negeri Makassar.

Dalam paparannya Umar Sugeng Hariyono mengatakan bahwa Strategi pengembangan Alutsista TNI Angkatan Udara dihadapkan pada potensi ancaman dan luas wilayah NKRI menuju kekuatan pokok ideal maka diperlukan penambahan Alutsista udara yang canggih (generasi ke-5) berupa pesawat berbagai jenis seperti pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat Heli, pesawat intai dan pesawat tanpa awak serta pesawat latih termasuk penambahan radar, Rudal dan Meriam/PSU.

Apabila Alutsista tersebut dapat dipenuhi maka Alutsista tersebut dapat ditempatkan di pulau atau pangkalan terdepan. Dengan penempatan Alutsista Udara di pulau atau pangkalan terdepan maka Indonesia akan betul-betul dapat menguasai wilayah udara nasional serta dapat menghadapi ancaman yang datangnya melalui wilayah udara.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Presiden pertama RI Ir. Sokarno dalam postulat yang dilontarkan pada tahun 1955 dengan menyatakan “Kuasailah udara untuk melaksanakan kehendak nasional karena kekuatan nasional di udara adalah factor yang menentukan dalam perang modern” pernyataan Ir Sukarno tersebut mengisyaratkan bahwa sesungguhnya Indonesia sadar bahwa penguasaan udara harus menjadi prioritas yang dalam semboyan TNI AU dikenal dengan sebutan “Abhibuti Antarikshe” (keunggulan di udara adalah tujuan kami).

Apabila Alutsista tersebut dapat dipenuhi maka Alutsista tersebut dapat ditempatkan di pulau atau pangkalan terdepan, maka Indonesia akan betul-betul dapat menguasai wilayah udara nasional serta dapat menghadapi ancaman yang datangnya melalui wilayah udara

Hal inilah yang menjadikan inspirasi dari Disertasi ini. Pungkas Mantan Irjen TNI AU ini. Lebih lanjut Alumni AAU tahun 1986 ini mengungkapkan bahwa dalam rangka merealisasikan pengembangan Alutsista TNI Angkatan Udara menuju kekuatan Minimun Essensial Force (MEF) harus disesuaikan dengan kemajuan zaman serta rintangan ke depan yang menyangkut ancaman negara dan luasnya wilayah NKRI.

Untuk mewujudkan itu semua maka harus tercipta hubungan yang harmoni antara Lembaga-lembaga negara yang terkait seperti Presiden, DPR RI, Kementrian Pertahanan, Kementrian Keuangan, Mabes TNI dan Mabes Angkatan Udara.

Untuk mendapatkan gelar tertinggi dalam bidang akademik ini bukanlah merupakan hal yang ringan, mantan Pangkoopsau II ini harus mengikuti dengan penuh kesabaran, ketekunan dan keuletan, utamanya ketika melakukan penelitian dan penulisan Disertasi yang cukup menguras pikiran dan tenaga di tengah-tengah kesibukannya dalam melaksanakan tugas sebagai Korsahli Kasau.

Tahapan untuk mendapatkan gelar akademik tertinggi tersebut telah dilalui tahap demi tahap, kalau tidak ada halangan ujian promosi Doktor akan dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Agustus 2018. Demikian Penkoopsau II menginformasikan. (tni-au.mil.id).

  33 Responses to “Strategi Pengembangan Alutsista TNI AU – Disertasi”

  1.  

    SU-57 Nggak Mungkin Nggak Ada Duit, Peluang Besar F-35B Mengingat PT PAL Berencana Buat LHD

    •  

      Kalau Su-57 Rusia saja sudah tak mungkin , apalgi F35B super mustahal x…

    •  

      yg di ketik kemungkinan su-57 yg di bahas kok PT.PAl, kira2 nyambung gak, ada jg PT.DI.

    •  

      Kapal Induk untuk apa di Indonesia??? banyak pulau, tinggal bikin landasan di masing pulau strategis cukup efektif menggantikan peran kapal Induk… LHD akan lebih difungsikan untuk Heli, karena memindahkan heli dari satu wilayah kewilayah lain yang jauh jelas menimbulkan masalah sendiri… apalagi untuk operasi kemanusiaan di daerah yang sulit dijangkau…

      Lagian untuk negara yang jarang berkonflik secara eksrternal, Kapal Induk sangat tidak diperlukan… bahkan Thailand mengalami masalah berat dengan pengoperasian kapal induknya, apalagi mengakomodir F-35B yang mana perawatan kapal terutama landasan pacu menjadi sangat rumit…

      •  

        alasan kita punya kapal induk, ayau hanya sekedar LHD/LPH…adalah:

        1. tetangga kiri kanan sudah mulai bikin, cina, australia, thailand, singapura, jepang dan korea, serta india. Mereka mempunyai kemampuan strike ovesrseas…alais mau jadi agressor. makanya untu k menghadapinya indonesia mau tidak mau harus punya.

        2. Untuk mulai melangkah menuju Blue water navy. jadi konsep pulau2 untuk kapal induk adalah konsep defensif…konsep lama…brown water navy.

        3. Mulai membuat/memiliki kapal induk… karena kita sudah mampu secara ekonomi, teknologi, dan ilmu pengetahuan dalam mewujudkan keinginan itu.

      •  

        Mgkn klu cm pulau yg di bgn lanud namanya krg keren bung. “Pulau Induk” ga ada negara lain yg tau. Kkkk …

    •  

      lah memanngya mahal mana SU57 sama F35?….kan sama2 dibawah 100 juta dollar toh.

      LHD yang akan kita buat untuk keperluan penagnkutan heli AH64 apache untuk di deploy kewilayah NKRI manapun dalam konflik anti insurgent, infiltrant, dan agressor dan juga untuk keperluan menghadapi bencana alam. kayaknya juga bentuk LPH/LHD kita tidak mempunyai sky jump untuk VTOL seperti punyanya aussie.

      lebih ke bentuk LHD mistral.

    •  

      Bagai mimpi disiang bolong sih klo berharap pada F-35B, soalnya biaya maintenis nih pesawat gak bakal mampu disediakan oleh pemerintah, apalagi dengan kurs rupiah saat ini…

  2.  

    Dlm perang modern keuatan udara yg tangguh mmg mutlak diperlukan…jgn ngandelin bambu runcing mulu…kasihan rakyat diajak perang gerilya yg berlarut dan berdarah darah

  3.  

    Monggo…berikut list realisasi pengadaan untuk TNI AU periode tahun anggaran 2014-2015 update 1 November 2014.Yang butuh ember, ini saya masih ada satu.1. Pembom strategis Tu-22M3 Backfire D 36 12-2014,24-2015 Paket persenjataan AS-6 Kingfish, AS-16 Kickback, AS-17 Krypton, AS-18 Kazoo2. Pembom strategis/patroli maritimjarak jauh Tu-95MS Bear F 36 8-2014, 14-2015, 14-2016 Sensor dan avionik mengalami upgrade. Paket senjata sama dengan Tu-22M33. Su-35SI Super Flanker 72 16-2014, 28-2015, 28-2016 Termasuk ToT penuh rudal AAM, sistem EW, radar AESA, IRST.4. Su-34 Fullback 64 8-2014, 22-2015, 18-2016, 16-2017 –5. Rafale F2/F3/F3R 48 10-2014,14-2015, 18-2016, 6-2017 Opsitambahan 16 unit varian F4. Delivery 2017. ToT Spectra, RBE-2, datalink6. EF Typhoon 48 12-2014, 16-2015 20-2016 ToTengine EJ200, HMS,dilengkapi misil Meteor, Brimstone II.7.JAS-39 Gripen C/E 36 14-2015,14-2016, 8-2017 Opsipesanan tambahan 64 unit. Dipesan melalui pihak ketiga.8. F-16C/D Fighting Falcon Block60 28 12-2015, 16-2016 Spesifikasi sama dengan unit UAE.9. C-295 AEW&C 18 4-2015, 6-2015, 6-2016, 2-2017 –10. Saab EriEye (platform Gulfstream V) 16 6-2015, 6-2016, 4-2017 Pembelian via pihak ketiga.11 A330MRTT 24 8-2015, 8-2016, 8-2017 –12 C-17 Globemaster 5 5-2015 –13 C-130J Super Hercules 2412-2015, 12-2016 Pembelian via pihak ketiga.14 Il-76MD Candid 36 18-2015, 18-201615 Radar OTH 4 1-2014, 2-2015, 1-2016 Ex Rusia. Type classified16 Satelit “penginderajarak jauh” berbasis optik + radar 2 1-2015, 1-2016 –A-400M tidak masukdi tahun anggaran 2015, berhubung Airbus baru menyanggupi lini produksi kita di 2016,ya terpaksa alokasi budgetnya baru akan keluar di 2016. Untukhelikopter AU ada tambahan NAS 332 Super Pumasebanyak 18unit untuk 2015. SAM untuk Paskhas menggunakan SA-18 Grouse.Pada Protokol X Rusia sudah menegaskankomitmennya untuk deliver seluruh pesanan kita, disana industri pertahanan mereka jugaberoperasi dengan kapasitas penuh untuk penuhi 2 lini produksi. Dan dengan list belanjaan ini, Indonesia resmi menjadi mitra inhan Rusia terbesar sepanjang sejarah
    Rusia.
    By : RUSIA SETROONG

  4.  

    Tiap pulau besar minimal harus punya 3 lanud tipe A.tiap lanud tipe A min diisi oleh 2 skadud buru sergap.1/2 skadud bomber .datasemen Arhanud dpimpin oleh perwira bintang 3.tiap provinsi min di isi 1 batere arhanud jarak sedang & jauh.nahhh…ini baru ok.

  5.  

    Setuju “perang modern adalah penguasaan teritori udara” tapi pertahanan udara kalau cuma pespur tanpa rudal yg mantap, ibarat macan ompong walau kita pakai pespur generasi 5 sekalipun.

    Jadi kita butuh rudal yg bisa menghajar pespur dan pembom yg melintas sangat tinggi, juga butuh antirudal utk menghajar rudal, karena faktanya dalam perang sekarang ini yg menyerang adalah rudal bukan pespur kamikaze yg nabrakin diri … xixixi

    •  

      yap… itu sebabnya menurutku dibutuhkan kapal kelas destroyer yang memuat payung udara SAM jarak jauh, macam S300FM, atau SM2 atau Aster30 yang mempunyai jarak tembak 150 km.

      jadi destroyer ini adalah benteng bergerak…untuk melindungi armada kapal TNI dan juga wilayah NKRI di wilayah perbatasan. yang mana selalu terkoordinasi dengan SOYUS kita. paling tidak destroyer kita ada sebanyak minimal 8 buah.

  6.  

    kan di sebut pesawat tempur front line,,,,
    pasti pesawat yg memenuhi kriteria multi role, harganya murah, trainingnya komplit, sparepart gampang, perawatan mudah, dan sudah pernah dioperasikan oleh TNI.

    so pasti semua tahu jawabannya, F-16 viper.

  7.  

    Ni klo menurut sya ya, jika terjadi perang besar/ konvensional, kya nya tidak terlalu berpengaruh pesawat gen 5, lebih mengandalkan kuantitas yg tentu tidak terlalu jauh gen nya. Wong klo sdh terjadi itu perang boro2 mikir siluman2nan wis acak kadud kabeh..

  8.  

    Kenapa sih pemikiran kIta cuma berkutat di seputar itu itu doang. Konsep itu kan terlalu biasa. Sampai sekarang Indonesia belum punya stasiun antariksa. China, India sdh bisa. Kok mikirnya gak ngadain proyek antariksa saja ya. Bangun stasiun antariksa gitulah dari sekarang. Buat senjata laser dg satelit. Nah itu konsep Yg luar biasa bukan biasa seperti kebanyakan negara. Coba deh dipikirkan beneran pd waktunya kIta toh harus bisa membuat peluncur antariksa sendiri. Cobalah berpikir lebih Maju. Ini kan eranya sesudah era Soekarno. Jika beliau hidup pasti pemikirannya juga lebih jauh ke depan seperti saya. Heheh