Feb 252019
 

Awak ATGM Stryker U.S. Army di Eropa © 4th Squadron, 2nd Cavalry Regiment

JakartaGreater.com – Angkatan Darat Amerika Serikat kini telah meningkatkan daya gempur sejumlah armada Stryker di Eropa, dengan meriam 30 mm dan rudal Javelin dari menara jarak jauh, menjadikannya lebih siap untuk menghadapi ancaman lapis baja ringan dan lapis baja utama. Akan tetapi, musuh menemukan cara lain untuk menyerang platform tersebut melalui siber, menurut Army Times.

Berdasarkan laporan tahunan dari Direktur Uji Operasional dan Evaluasi (DOT&E) untuk Departemen Pertahanan AS, memberikan gambaran rinci tentang program Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Seksi Angkatan Darat berisi 2 lusin sistem dengan ulasan dan rekomendasi.

Dua dari laporan tersebut melihat bahwa Stryker-Dragoon dan Stryker CROWS-J atau Common Remotely Operated Weapons Station – Javelin dan mereka mencatat bahwa keduanya memiliki “kerentanan keamanan siber yang dapat dieksploitasi”.

Kerentanan yang disorot dalam laporan tidak serta-merta terungkap dalam pengujian.

“Musuh menunjukkan kemampuan untuk menurunkan kemampuan pilihan (Stryker-Dragoon) ketika beroperasi di lingkungan siber yang diperebutkan”, menurut laporan tersebut.

Kendaraan Tempur Infanteri (IFV) Stryker Dragoon akan dilengkapi amunisi Swimmer © US Army

Hal yang sama juga tercatat untuk model CROWS-J

Walaupun sedikit detail dibagikan tentang kerentanan apa-apa yang terekspos, musuh mana yang mengeksposnya ataupun ketika hal ini terjadi, bahasa yang dibagi untuk kedua sistem dan komentar lainnya menunjukkan pada sesuatu yang umum dalam perangkat keras, bukan persenjataan baru, pada Stryker.

“Dalam banyak kasus, kerentanan yang dapat dieksploitasi itu mendahului integrasi peningkatan mematikan”, menurut laporan itu.

Namun, masalahnya tidak terisolasi pada segelintir kendaraan. Ini melintasi apa yang pada dasarnya akan menjadi ujung tombak unit anti-armor pengintaian darat yang di motori oleh pasukan di Eropa.

Varian Dragoon adalah Stryker dengan meriam 30 mm, yang muncul dari keputusan Angkatan Darat AS di tahun 2015 untuk memberikan kendaraan lebih banyak daya gempur karena dirasakan tak sebanding terhadap kendaraan dan persenjataan Rusia.

Setelah semua upgrade selesai, 81 unit Stryker-Dragoon akan membuat setengah dari armada peleton senapan dan pengintai di Resimen Kavaleri ke-2.

Setengah lainnya dari armada itu adalah varian CROWS-J. Sistem merupakan versi yang diadaptasi dari sistem penembak jarak jauh (RWS) yang telah digunakan selama bertahun-tahun dengan jenis senjata lainnya, tetapi baru-baru ini dimodifikasi untuk menembakkan rudal anti-tank Javelin dari Stryker.

Tanpa itu, tentara harus turun dari Stryker, mencari target dan menembakkan rudal anti-tank jarak jauh pada ancaman kendaraan lapis baja – suatu metode yang sangat abad ke-20 untuk menghancurkan tank.

Tetapi bahkan dengan kesenjangan siber dalam sistem, prajurit lebih suka varian yang lebih tinggi dan CROWS-J daripada platform lama mereka, laporan itu mencatat dari umpan balik tentara yang bertugas.