Feb 062019
 

JakartaGreater.com – China meluncurkan satu set foto pelatihan pertama armada jet tempur Su-30MKK Angkatan Laut PLA pada tahun baru tanggal 6 Januari 2019. Foto-foto ini “secara tidak sengaja” mengungkapkan detail: sebuah jet tempur Su-30MK2 sedang bersiap untuk lepas landas dan terpasang rudal udara-ke-udara PL-12 Tiongkok, seperti dilansir dari laman China Military yang mengutip dari situs mil.ifeng.com.

Ini tampaknya bukan sebagai sesuatu yang istimewa, tetapi hanya menunjukkan bahwa China telah mampu memodifikasi sistem kendali tembak (FCS) pada Su-30MKK untuk memberikannya kemampuan dalam menggunakan senjata buatan sendiri. Hal terakhir yang ingin dilihat oleh armada kapal induk adalah jet tempur Su-30MK2 membawa rudal jelajah anti-kapal YJ-12 dan YJ-18.

Su-30MKK dikenal sebagai jet tempur paling kuat dari keluarga Su-30. Ini telah meningkatkan struktur berbasis pejuang Su-30. Ia memiliki dua titik gantung tugas berat internal yang telah ditutup sejak jet tempur Su-27, meningkatkan muatan totalnya menjadi 12 ton.

Su-30MKK juga telah meningkatkan berat maksimal lepas landasnya. Dengan jarak operasional maksimum hampir 4.000 kilometer, Su-30MK2 itu dapat berpatroli diseluruh Laut China Selatan dengan dukungan pesawat tanker.

Sejak 2004, jet tempur Su-30MKK telah menjadi kekuatan udara anti-kapal penting di dalam militer China. Jet tempur Su-30MKK, Strategic Bomber H-6, dan Fighter-Bomber JH-7 memikul tanggung jawab berat untuk tugas serangan anti-kapal jarak jauh Tiongkok.

Namun, saat ini, semakin banyak kekurangan jet tempur Su-30MKK telah terekspos setelah 15 tahun pengabdiannya. Sebagai produk Rusia, awalnya hanya dapat membawa rudal anti-kapal KH-31 dan KH-41 buatan Rusia. Kedua rudal dianggap terlalu tua, dan kinerjanya telah lama tertinggal dibandingkan dengan YJ-12 China.

Selain itu, rudal KH-31 ini telah diekspor ke Amerika Serikat untuk dipergunakan sebagai rudal target, dan kemungkinan bahwa AS kini telah menemukan cara untuk menghadapinya. Oleh karena itu, Su-30MKK hari ini telah menjadi “tulang rusuk” bagi China dan kapasitasnya untuk menahan bom serta daya jelajahnya kurang dimanfaatkan.

Namun China tampaknya telah mengadopsi metode sendiri, yaitu dengan mendekripsi sistem pengendalian tembakan pada Su-30MKK dan membuatnya kompatibel dengan senjata buatan Tiongkok.

Sistem pengendali tembakan adalah sistem yang digunakan oleh jet tempur untuk mengelola, mengarahkan dan memandu senjata ofensif, dan itu merupakan salah satu sistem yang paling penting pada sebuah jet tempur. Negara asal pada umumnya tidak melarang pengguna untuk memodifikasi sistem jet tempur yang diekspor, tetapi tidak akan memberikan dekripsi kecuali membebankan biaya untuk melakukannya. Dengan cara demikian, pengguna harus kreatif dan memiliki kemampuan sendiri dalam hal modifikasi sistem teknis.

India berulang kali gagal ketika mencoba untuk memodifikasi sistem pengendali tembakan jet tempur multi-peran Mirage 2000, dan harus membayar $ 800 juta untuk meminta Dassault Aviation (pabrikan pesawat Prancis untuk jet militer, regional dan bisnis), yang merupakan anak perusahaan dari Dassault Group untuk memberikan bantuan.

Berbeda dengan China yang telah memiliki pengalaman cukup matang dalam hal penelitian dan pengembangan (Litbang atau R&D) sistem pengendali tembakan jet tempur dan penggunaan jet tempur Rusia. China juga memiliki pengalaman dalam modernisai jet tempur Rusia secara mandiri. Oleh karenanya, China berhasil memodifikasi sistem pengendali tembakan Su-30MKK dan sekarang kompatibel dengan senjata buatan Tiongkok atau mungkin telah diganti dengan sistem pengendali tembakan domestik.

Foto Su-30MK2 yang dipasang dengan rudal udara-ke-udara PL-12 Tiongkok dalam pelatihan pada 6 Januari adalah bukti dari pencapaian tersebut. Karena PL-12 dapat digunakan, rudal YJ-12 juga dapat digunakan.

Jet tempur Su-30MKK memiliki tiga titik gantung untuk beban 2 ton sementara rudal YJ-12 hanya berbobot dua ton. Dengan kata lain, jet tempur Su-30MKK dapat memasang tiga rudal YJ-12 untuk menyerang target dalam radius 1.500 km. Jarak antara Terumbu Zengmu dan Provinsi Guangdong China hanya sejauh 1.900 kilometer.

Jet tempur Su-30MKK yang lepas landas dari daratan China dapat menyerang target musuh di lebih dari setengah panjang Laut China Selatan. Dan Su-30 bisa meliputi seluruh Laut China Selatan jika lepas landas dari Pulau Yongxing.

Kecepatan super tinggi dari rudal anti-kapal YJ-12 adalah ancaman besar bagi sistem Aegis. Bisa dibayangkan bahwa jet tempur Su-30MKK yang dipasang dengan rudal YJ-12 itu akan menjadi salah satu senjata paling mengancam terhadap armada kapal induk musuh.

  6 Responses to “Su-30 China Bisa Jadi Mimpi Buruk Bagi Kapal Induk”

  1.  

    mantap.apapun bisa di lakukan oleh negara ini.

  2.  

    Darimana rumus nya kapal induk semudah itu bisa di “gerayangin” cuiiiiiiii..

    Orang bego saja yg percaya!!

  3.  

    Biar tidak mimpi buruk panggil aja huha huha 3x

    😎

  4.  

    Hayoo… bangun-bangun… jangan kebanyakan tidur agar gak terus-terusan mimpi… 😛

  5.  

    awas tak bisa luput dari meteor hahaaaa