Mar 192019
 

A Su-35 fighter jet attached to an aviation brigade of the air force under the PLA Southern Theater Command soars into the sky on December 4, 2018. © Fan Yishu via China Military

JakartaGreater.com – Kairo dan Moskow telah menyepakati penjualan 2 lusin jet tempur multiperan kelas berat Sukhoi Su-35, seperti dilansir dari laman The Kommersant di hari Senin, 18 Maret.

Kesepakatan tersebut belum dikonfirmasi oleh sumber-sumber resmi. Dilaporkan, bahwa kontrak senilai $ 2 miliar telah ditandatangani akhir tahun lalu tetapi tetap dirahasiakan sampai minggu ini. Pengiriman diharapkan akan dimulai pada tahun 2020-2021.

Jika informasi ini benar, maka kesepakatan akan menghasilkan Mesir menjadi pelanggan keempat untuk jenis pesawat tempur tersebut, yang memiliki nama sandi NATO “Flanker-E”. Kementerian Pertahanan Rusia telah memesan total 98 unit pesawat, yang terakhir akan dikirimkan pada tahun ini.

Memasuki layanan pada tahun 2014, jenis ini membuktikan nilainya di Suriah di mana ia telah menerbangkan misi pertempuran melawan Negara Islam dan pemberontak anti-pemerintah.

Rudal udara-ke-udara jarak jauh R-37M (RVV-BD) Rusia © Vitaly V. Kuzmin via Wikimedia Commons

Angkatan Udara dan Luar Angkasa Rusia (VKS) memuji pesawat ini karena radar N-035-nya, dengan jangkauan deteksi maksimum 400 km (248 mil) dan kemampuannya untuk memandu rudal udara jarak menengah canggih R-77 (RVV-SD) dan rudal udara jarak jauh R-37 (RVV-BD).

Beijing menjadi pelanggan kedua pada bulan November 2015, dengan pesanan senilai $ 2,5 miliar untuk 24 pesawat. Angkatan Udara PLA telah menerima kiriman antara 2016-2018. Indonesia kemudian juga menyelesaikan kontrak yang ditunggu-tunggu setahun yang lalu, dengan menandatangani kesepakatan senilai $ 1,1 miliar untuk akuisisi 11 pesawat.

Kedua kesepakatan tersebut telah sangat ditentang oleh Administrasi Trump. Pada bulan September 2018, Gedung Putih telah mengambil langkah pertama dengan aplikasi praktis Undang-Undang Melawan Musuh Amerika melalui Sanksi (CAATSA) dan menempatkan sejumlah pejabat pemerintah China dalam daftar hitam. Dengan baru-baru ini, itu mulai mengeluarkan ancaman kepada Jakarta jika maju dengan melakukan pembayaran untuk persenjataan canggih Rusia tersebut, menurut AIN Online.

Saat ini, finalisasi atas pesanan Indonesia masih dipertanyakan. Walau mengaku kesulitan untuk mengatur pembayaran kepada produsen, para pejabat di Jakarta bersikeras mereka akan melanjutkan kesepakatan terlepas dari tindakan Washington. Menurut pandangan yang optimis, pengiriman ke Indonesia dapat dimulai pada akhir 2019 atau awal 2020.

Jet tempur multiperan MiG-29M Fulcrum-E Angkatan Udara Mesir bersenjata lengkap © Ahmed XIV via Twitter

Masih harus kita lihat apakah Mesir juga akan dikenakan sanksi untuk pembelian Su-35. Namun sampai sejauh ini, Kairo tidak pernah dikenai sanksi karena menjadi pelanggan utama senjata Rusia. Menyusul kudeta militer di tahun 2013 ketika Abdel Fattah el-Sisi muncul sebagai pemimpin nasional yang baru, Mesir mulai menempatkan kontrak besar dengan produsen senjata Rusia.

Akuisisi tahap pertama senilai $ 3,5 miliar mencakup S-300VM4 “Antei 2500” dan rudal anti-pesawat Buk-M2E, yang telah dikirimkan antara tahun 2015-2017. Kemudian, Kairo menambahkan kontrak senilai $ 2 miliar untuk 46 jet tempur MiG-29M/MiG-29 M2 atau MiG-35 dan lebih dari $ 1 miliar untuk 46 unit helikopter Kamov Ka-52. Dan 2 tahun lalu, Moskow muncul sebagai pemenang dalam tender Angkatan Laut Mesir untuk pasokan 32 helikopter yang akan ditempatkan di Kapal Induk Mistral dengan tawaran Ka-52K Katran.

Karena sumber daya keuangan Kairo sendiri terbatas, pembelian peralatan militer yang mahal untuk Angkatan Bersenjata Mesir sering difasilitasi oleh Arab Saudi dan monarki Teluk lainnya yang menginginkan agar negara Arab terbesar itu tetap bersekutu dengan mereka. Dan oleh karena itu, realisasi praktis dari kesepakatan Su-35 kemungkinan juga akan tergantung kepada apakah itu memenangkan dukungan dari Riyadh.

Angkatan Udara Mesir berupaya mengganti stok pesawat era Soviet-nya, seperti MiG-21 dan replikanya, J-7 buatan China dengan peralatan modern. Empat tahun lalu, Angkatan Udara Mesir memesan 24 pejuang Dassault Rafale, diikuti oleh armada MiG-29M, yang pengirimannya masih berlangsung. Sekarang, dengan pesanan Su-35 ini, Angkatan Udara Mesir akan memiliki 3 jenis jet tempur generasi keempat baru, selain telah menerima 240 unit jet tempur F-16 dari Lockheed Martin antara tahun 1982 hingga 2013.

  11 Responses to “Su-35 Akan Memperkuat Angkatan Udara Mesir”

  1.  

    dua lusin sukro bisa meningkatkan superior udara mesir, 11 sukro yg ga dateng2 bisa membuat tni au meradang . .

  2.  

    mudah2 ga ada yg menjegal .

  3.  

    Whats….. ,, makin bertaring aja nie mesir ????

  4.  

    Waspada, sebentar lagi ada timses yg mau bongkar rahasia pemerintah 😛 padahal katanya RHS apakah menurutnya itu adalah oRa-saH-dirahaSiakno 😛 😆 😆 😆 😆

  5.  

    Gilee nih mesir
    Udah ada rafale, f 16, mig 29M dan sekarang beli su 35 2 lusin
    Taringnya semakin panjang nih mesir

  6.  

    Sorry