Mar 272016
 

Selama kampanye militer Rusia di Suriah, pesawat tempur Sukhoi family mengalami serangkaian masalah teknis ringan. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, operasi pemboman di Suriah ini melibatkan pembom tempur Su-34 dan pesawat tempur multirole Su-35S.

Malfungsi terdeteksi pada sistem kontrol penerbangan dan mesin pesawat, ungkap sumber kepada kantor berita RNS. Sumber tersebut menambahkan kerusakan itu “tidak penting” dan tidak berdampak pada jalannya kampanye pemboman.

Teknisi dari Biro Desain Sukhoi serta dua produsen pesawat Rusia berada di pangkalan udara Hmeymim, pangkalan utama dari kampanye militer.

Sumber tersebut mengatakan pemeliharaan dan rincian penggantian (sukucadang) dilakukan di pangkalan. Semua gangguan ringan dapat diatasi dalam waktu yang singkat.

Oktober lalu, Strategy Page melaporkan militer Rusia menghadapi kesulitan menjaga pesawat tempur modern dari pasir dan debu dari Timur Tengah. Kru pemeliharaan Rusia bekerja lembur untuk mengadaptasikan pesawat beroperasi dalam lingkungan yang berbeda.

Su-34 adalah salah satu jet tempur pembom paling canggih Rusia. Kampanye Suriah melibatkan enam pembom Su-34. Pengembangan pesawat tersebut dimulai pada era Soviet, dan prototipe pertama melakukan uji terbang pada tahun 1990. Pada tahun 2006 Su-34 mulai tes penerbangan dan pada tanggal 21 Maret 2014, pesawat mulai memperkuat Angkatan Bersenjata Rusia.

Memulai debut tempurnya di Suriah baru-baru ini. Su-34 dipersenjatai dengan rudal udara ke udara jarak dekat dan jarak jauh, R-73 dan R-77. Su-34 memiliki radius tempur hampir 700 mil dengan bahan bakar internal dan mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara.

Pesawat tempur Su-35 adalah versi upgrade dari Su-27. Pertama kali diperkenalkan kepada khalayak asing di Paris Air Show 2013.

SputnikNews

  29 Responses to “Su-35 dan Su-34 Mengalami Masalah Akibat Pasir dan Debu Padang Pasir”

  1. Numpang lewat para warjager semua….

    • Dikembangkan era Soviet, prototipe th 1990, tes terbang 2006, masuk militer 2014……sabar bgt….
      Klo di Indonesia dah dicibir kali ya…..

      • Memang perlu waktu sangat lama untuk mengembangkan teknologi pesawat sendiri. Penelitian, perancangan, salah hitung, rancang ulang, buat model, pembuatan purwarupa, pengujian, trouble sana-sini-situ, pengujian lagi berulang-ulang, dan seterusnya (dan tetap masih ada kemungkinan untuk revisi dari tahap-tahap sebelumnya, dan seterusnya (kalau masih ada biaya). Bangsa yang punyai tekad yang sangat kuat untuk meraih keunggulan maka tak akan mudah putus asa untuk terus berusaha meraih keberhasilan. Itulah bangsa yang ulung.
        Ada pula negara yang ingin meraih teknologi dengan bekerjasama dengan negara lain untuk mendapatkan transfer of technology. Di kemudian hari setelah berhasil menguasai teknologinya maka negara tersebut akan mampu untuk terus meningkatkan teknologinya secara mandiri. Jika telah sampai tahap ini maka ia sudah siap untuk memulai research sendiri untuk membuat produk dengan teknologi yang lebih canggih lagi tanpa bantuan negara lain.
        Cara berbeda ditempuh negara lainnya yang ingin membuat tapi tak mau melakukan research yang pelik maka yang dilakukan adalah memelihara maling untuk mencuri dokumen rahasia teknologi dari negara lain. Maka hanya dalam satu dekade sudah bisa membuat pesawat tiruannya. Bahkan bisa saja terjadi; ketika pesawat yang ditirunya masih saja mengalami pelbagai problem teknis, justru si produk tiruan sudah menebar ancamannya dan siap menantang duel dengan pesawat yang ditirunya. Kurangajar betul!
        Ada juga cara yang dilakukan oleh negara lain lagi, yaitu dengan cara membajak ilmuwan dari negara lain untuk membuat sesuatu. Hal ini dilakukan karena mungkin negara itu tidak memiliki orang yang ahli di bidang itu. Maka dibujuklah ilmuwan dari negara lain, dengan tawaran uang dan fasilitas yang menggiurkan, untuk bekerja demi kepentingan negara tersebut.

    • Dengan begitu, maka ilmuwan rusia dapat mengembangkannya lebih baik lagi, karena belajar dari pengalaman, maka jadi tahu kekurangannya, memang tidak mudah menciptakan teknologi untuk mendapatkan gelar battle proven,,,

    • Ga ada yg bisa ngalahin badai gurun pasir. Amrik aja bisa ga tot di iran. Mesin turbin tank Abrams aja bisa rontok di Iraq gara2 debu gurun pasir.

  2. Di idonesia aman dari debu dan pasir

  3. Pesawatnya gampang kena flu , terindikasi sukhoi alergi debu timur tengah.

    • Feedback yang sangat berharga buat Rusia. Saya pikir AS juga mengalami hal yang sama selama beroperasi di Timur Tengah, tinggal dicarikan solusinya.

  4. hati2 kalau terbang rendah di bromo
    serangan pasir berbisik lebih seram

  5. Di Indonesia ngga ada gurun jadi ngga perlu khawatir dg madalah ini .

  6. Tetep diborong boss

  7. terlebih lagi takut nya kalau yang mengendarai hewan maka akan terlihat konyol.bukan membom musuh malah membom kebun pisang.jadi kapal bagus pon turun pamornya.

  8. yang,penting Anti Maling

  9. 1

  10. Nah lo belum dipake di daerah tropis, ntar mesin terlalu panas

  11. Gak masalah tetep borong

  12. masih tetap bagus yang gak bagus yang gak punya SU 35 ! !
    pisang kena debu juga ada yg makan
    xixixixixiiii .

  13. semua mesin pesawat jet punya kelemahan terhadap debu, pasir halus, pasir beton, Batu split batu bata … apalagi kalo Batu nya segede kepala kerbau … xixixi

    mesin pswt jet perlu input udara Segar dan bersih … sama dg manusia … manusia jg kalo sering ngisep debu ya kena ispa, batuk sampai sakit paru² …

  14. artikel kaya gini biasanya bung yonhap muncul nh, dia seneng bgt klo dger brita sukhoi yg brmasalah, pdahal mah bkan masalah yg serius2 bgt, dan juga gag ada hubungannya juga kalo ditaro di RI, hehe….

  15. ya setaralah sama harganya………..(kompor mode on) gimana kalau di indonesia ya masalah penerbangan indonesia cuma 1 dari dulu perawatan yg berlanjut semoga nasibnya ga kaya tucano

  16. @metinkesukme anda salah kalau bilang Indonesia tidak ada debu dan pasir, coba lewat Bekasi naik motor atau naik angkot, silakan anda hirup debu sepuasnya gratis,

 Leave a Reply