Nov 252018
 

Manuver beberapa jet tempur Su-57 Rusia melayang di udara tanpa menyalakan mesin Β© Russian MoD via Youtube

JakartaGreater.com – Perusahaan Sukhoi akan mulai pengiriman jet tempur superioritas generasi kelima Su-57 kepada militer Rusia pada 2019, pesawat tempur yang dilengkapi dengan sistem avionik, sistem elektronika dan persenjataan canggih, menurut Sputnik.

Saluran televisi Rusia,Β Zvezda telah merilis rekaman terbaru Su-57 yang terlibat dalam sebuah manuver, kali ini menunjukkan karavan empat unit jet tempur generasi kelima Su-57 terbang pada rentang uji Astrakhan.

Dalam video tersebut, pilot dapat mendengarkan suara “gemuruh” saat pesawat mereka meluncur dalam formasi jarak dekat. Alarm (kemungkinan mengindikasikan kedekatan) juga terdengar.

Kemudian, cuplikan video itu menunjukkan Su-57 melakukan manuver jatuh bebas yang memusingkan dengan mesinnya mati saat berputar horizontal sebelum distabilkan serta melanjutkan penerbangannya.

Bagikan:

  39 Responses to “Su-57 Melayang di Udara Tanpa Menyalakan Mesin”

  1.  
  2.  

    Coba TNI AU bs jg memilikinya!

  3.  

    yang lain menyingkir deh………….. mau F.22.000 / F35.000 kata nya super silumun, yang katanya super fighter……….katanya super IRST…….memiliki radar radio-fotonik X-band………… sono kelaut saja…………. wkwkwkwk……………….

    •  

      Menarik. Kemampuan Su-57 untuk terbang tanpa menyalakan mesin menunjukkan kemampuan aerodinamis yg dimiliki sangatlah bagus. Kemungkinan pespur itu melaju dg kecepatan 150-180 kn. Namun apa benar itu bisa efektif digunakan dalam pertempuran nyata??

      Rudal AAW modern buatan Barat beberapa sudah dipasang IR seeker, penjejak radar aktif plus anti jamming. Bila terjadi pertempuran udara lawan F-35,F-22 dg tandem mereka maka itu hanya akan menjadi malapetaka untuk Su-57 bila sampai ketahuan apalagi itu hanya membantu sedikit pengurangan RCSnya.

      Kenapa? Karena pergerakan tanpa mesin hanya mampu membuat pespur terbang dg kecepatan kecil. Kecepatan yg dibutuhkan untuk melakukan itu sekitar 180-130 kn, dibawah itu dg bodi yg besar Su-57 akan mengalami stall.
      Ane yakin begitu Su-57 terdeteksi dan sebuah rudal meluncur kearahnya maka secepat kilat, pilot Su-57 akan segera menyalakan mesin.
      Mematikan mesin hanya bagus dilakukan ketika dikejar rudal dg IR seeker atau menembus hanud musuh yg menggunakan S dan L band. Cara itu sudah dipake sejak perang dunia kedua, dan uniknya hanya Stuka yg dikenal menggunakannya.

      •  

        jadi bung agato…. seandainya Su.57 mematikan mesin nya otomatis jejak panas SU.57 akan sulit di deteksi lawan bukan ??? lalu katakanlah F.35 mengunakan seker x.band nya untuk mengendus SU.57 apakah mudah di lakukan lock oleh f.35…??

        Aero dinamis Su.57 diatas Duet F33/35 apakah anda setuju

        •  

          Gini Bung Mabuk. RCS Su-57 hanya sekitar 0,01 sedangkan RCS F-35 saja 10 kali lebih kecil daripada Su-57. Jika Su-57 mematikan mesin, mungkin hanya menurun jadi 0,005.

          Anggap kemampuan deteksi radar Su-57 setara dg F-35. Jika keduanya bisa mendeteksi RCS 0,005 dari jarak 50 km, nah anda paham kan butuh jarak berapa km bagi Su-57 untuk mendeteksi F-35 yg punya RCS 0,001?? Itu adalah setengah dari 50 km.

          Dan perlu diingat, pertempuran udara masa kini sudah tidak mengandalkan H2H. Ente pasti dah paham apa itu Manajemen Spike dan apa itu Situational Awareness. So, Ane tak perlu menjelaskan lebih lanjut kan???

          •  

            muhehehe……….. dg kecepatan masing” silumun 50Km hanya di tempuh jarak sekian menit….. sedang waktu hilang / pudarnya masa fanas itu sekian detik….

            yang jadi persoalan adalah kecepatan dan aerodinamis F.35 masih di bawah SU.57

          •  

            Bung Mabuk. F-35 punya AMRAAM loh. Sebelum Su-57 mendekat jelas AMRAAM duluan yg maju mengincarnya dan jarak 50 km jelas bukan jarak yg mudah untuk mengelabuhi AMRAAM. Ingat, F-35 dibuat untuk bisa berbagi data dg F-teen series. F-35 bisa berperan sebagai pemandu sedangkan F-15 yg maju sebagai eksekutor atau bisa saja F-15 yg maju sebagai penggiring sedangkan F-35 sebagai eksekutor. Apapun boleh sedangkan Su-57 jelas tidak bisa berbagi data dg Su-27,30,33,34,&35 kecuali lewat komunikasi radio yg sangat rawan untuk disadap. Dititik ini, Kecepatan dan aerodinamis Su-57 bukanlah faktor penentuan pertempuran. Bahkan bila lawannya sama-sama Su57 vsF-35

          •  

            Gato@teros ente fikir su 57 ga ada rudal dg jarak 50 km??? Apa ente fikir su 57 cuma bisa ngelempar pisang buat ngehancurin pesawat lawan…

          •  

            Itu hanya perumpamaan Bung Ali. Kita belum tau kemampuan radar tiap pespur seperti apa. Yg jadi fokus adalah apa bisa Su-57 mendeteksi F-35 pada jarak tembak AMRAAM. Walopun Su-57 punya R-77-1 yg jangkauannya 180 km, kalo Su-57 baru bisa mendeteksi F-35 dari jarak 50-60 km misalnya tentu akan sangat berbahaya bagi Su-57 kalo F-35 sendiri bisa mendeteksinya dari jarak 75-80 km dan itu sudah masuk jarak tembak AMRAAM. Itu masih belum memakai kombinasi dg F-teen series.

          •  

            Agahatu, buat ngendus kan bisa saja SU57 lebih gile dr F35, bijimane itu

          •  

            Klu pun su 57 tdk bisa mengendus pespur pengguna ram dgn radar konvensionalnyadijarak efektit amraam? Maka su 57 akn menggunakn irst yg tdk bisa dialihkan visualnya, tapi ram yg digunakn pespur f35 & f22 hanya ampuh pd jarak tertentu, klu jarak dekat & menengah sekitaran 80 km ke bawah yaa bakalan diketahui posisinya hanya menggunakn radar konvensional walau ram f35 & f22 nya aktif, oleh karna itu f22 & f35 uji tempur tdk pernah lolos dr radar konvensional & irst dr jarak menengah & jarak dekat alias kalah telak dari pespur gen 4, karna f22 & f35 hanya dirancang melindungi pespur trsebut dr ancaman utk menembus radar konvensional asing dari jarak jauh tanpa diketahui & tanpa bisa menarget secara langsung, jk akan menarget secara langsung maka posisi f22 & f35 sudah diketahui krna radar konvensional f22 & f35 aktif ketika melacak, mengunci, menyiapkn rudal & menembak, jd begitulah fungsi ram pd pespur gen 5
            πŸ˜† πŸ˜†

          •  

            Masalahnya Dik Huha, IRST Rusia saat ini belum mampu mendeteksi RCS 0,001 dari jarak lebih dari 50 km. Rata-rata jangkauan IRST saat ini hanya segitu.

          •  

            Sejak kapan pula irst berpengaruh pd jumlah rcs?

            πŸ˜† πŸ˜†

          •  

            Coba kacamatanya dipake dulu. Ane gak pernah ngomong IRST berpengaruh pada jumlah RCS.

          •  

            Coba loe perbaiki dulu kaca matamu broo kemudian lihat komen mu yg mengatakan irst russia saat ini tdk bisa mendeteksi rcs 0,001
            MudhΒ²an loe msh waras
            πŸ˜† πŸ˜†

          •  

            Kok penggalan kalimat “dari jarak lebih dari 50 km” kok gak dicantumkan. Makanya kalo ngutip yg penuh biar gak salah tafsir kayak kubu capres sebelah. Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh

  4.  

    saya suka desain uniknya su 57, .

  5.  

    Apa? F-22 cuma bisa membanggakan AMRAAM yg jangkauannya gak sampe 200 km, bila dibandingkan dengan R-37M (RVV-BD) yang memiliki jangkauan 300 – 400 km maka AMRAAM cuma rudal usang dengan kemampuan biasa. πŸ˜› hihihihihi

    Jangan sok hebat mengandalkan RCS setipis tungau alias tengu deh… Apa dikira klo pesawat mampu gendong rudal sejauh diatas 300 km maka jangkauan radarnya cuma sejengkal? Pake logika tapi koq pada gak logis gitu…

    Maaf, jangan melihat dari sudut pandang teknologi ente yang cuma segitu-gitu aja, mestinya ente-ente bisa mencerna lebih jauh mengenai apa dan kenapa, mending waspada daripada kabur dari paparazi ketika difoto dilangit Suriah πŸ˜† hahahah

    Masih lupa klo F-22 pernah dikacangin oleh Rafale Prancis gak? Jangan alasan ini itu deh, bahkan sekelas Rafale bisa gebukin F-22 lho… trus dimana hebatnya?

    •  

      oooo rudal itu ya,,,, rudal yg bisa hancurkan AMRAAM πŸ˜†
      makannya F-15 disebut truk rudal, coz bisa gotong banyak rudal, sehingga kesempatan utk menghancurkan secara total incoming hostile rudal.

      •  

        lho, apa udah pernah diuji AMRAAM dihancurkan pake rudal R-37M Rusia? masa iya?

        •  

          Seperti apa yg dijabarkan oleh Think Thank nya amrik, radar amrik dibuat secanggih mungkin sehingga mampu mencium objek yang mendekat, R-37M bisa dipasang hanya salah satu sensor, entah aktif atau pasif, semua dilakukan pre-plan. Jika menggunakan radar aktif berarti pespur harus menyalakan radarnya sejauh 300-400 Km, menembaknya dan mengupdate informasi kepada rudal. Rudal selalu diberi informasi update, dan biasanya dibelakang rudal terdapat antena untuk mengambil sinyal yg dipancarkan dari pespur yg menembak. Sinyal yg dikirim ke arah rudal bisa di-intercept oleh AEW atau pespur lainnya(jika sinyalnya terbaca).
          Dari sini amrik bisa membaca situasi dan mengerahkan kemampuan untuk menembak jatuh rudal tsb.
          Kalau pakai sensor pasif, berarti akan sulit dideteksi oleh RWR, hanya radar aktif/AESA yg bisa deteksi R-37M.
          entah skenario apa yg akan disiapkan, tetapi menurut NI cukup matikan radar saja, lalu R-37M akan “buta”.

          Dan klo dicoba, ya belum pernah karena belum ada rudalnya πŸ˜†

      •  

        Tes

    •  

      R-37M hanya efektif untuk nembak AWACS atau tanker. Nembak pespur yg mampu bermanuver dg dilengkapi jamming yg kuat akan jadi tantangan tersendiri bagi R-37. Masalahnya Su-57 apa iya punya radar yg bisa mendeteksi objek dg RCS 0,001 dari jarak 300 km?? Kalo emang bisa ya percuma dong ada A-50. Ane gak yakin tuh Su-57 bisa melakukannya. Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh

      •  

        Tambahan buat bung Lingkar sekaligus jawaban buat Bung SP beberapa waktu yg lalu.

        Latihan udara biasanya dilakukan dg Dogfight dan berakhir ketika salah satu pespur bisa me-lock on musuhnya. Dari beberapa literasi yg udah ane baca tentang latihan F-22 dan Rafale tidak disebutkan secara rinci skenarionya. Bisa jadi yg dilakukan adalah dogfight. Walaupun sempat membuat ane terkejut karena F-22 sebetulnya punya TVC untuk menghadapi dogfight sepertinya hal itu bisa saja terjadi tergantung dari strategi yg dipake oleh pilot Rafale.

        Namun, dalam kondisi real kita juga tau bahwa hanya meluncurkan 1 rudal takkan cukup untuk melumpuhkan sebuah pespur dg kemampuan manuver dan jamming yg tinggi.

        Disisi lain, ada catatan menarik yg kadang dilupakan oleh pemerhati dan pecinta dunia militer Indonesia bahwa dalam skenario yang berbeda sebuah pespur yg lebih canggih sekalipun bisa dikalahkan oleh pespur yg lebih tua. Pitch Black 2012 adalah contohnya. Su-30MK2 kita sangat superior ketika melawan F-18 A/B RAAF baik dalam dogfight maupun pertempuran kelompok. Namun saat dibantu oleh AWACS, barulah mereka bisa mengalahkan Sukhoi kita.

        Maknanya, dalam kondisi real kita tak bisa bergantung pada satu alutsista sendiri tapi juga butuh support dari alutsista yg lain khususnya dalam bidang pendeteksian dan pengintaian.

        Ane juga ingat kasel Perancis juga bisa masuk ke armada kapal induk USN dan menguncinya karena dibantu oleh pesawat intai maritim Prancis saat latihan dan Ane juga menduga hal itulah yg dilakukan kasel kelas Song China saat melakukan aksinya. Bisa jadi Rafale mengalahkan F-22 pun juga dibantu oleh pespur lain atau AWACS.

        Nah, bayangkan bila F-22 dan Su-30MK2 kita juga mendapatkan support yg sama atau dalam kondisi real bisa saja lebih baik dari lawan dan tentunya probabilitas kemenangan akan jauh lebih besar.

        Ane biasanya ketawa kalo ada yg bilang Su-35/Su-57 lebih unggul dari F-35. Kalo soal spesifikasi sih iya, walopun spesifikasi asli takkan pernah diungkapkan oleh pabrik. Tapi yg menentukan pertempuran dan peperangan bukanlah kecanggihan teknologi semata tapi faktor yg menentukan adalah Manajemen, Komunikasi, Pengumpulan data dan berbagi data serta logistik yang kuat. Percuma bisa buat Su-57, Armata kalo gak bisa produksi besar-besaran. Percuma punya alutsista yg canggih kalo tidak bisa berbagi data dg berbagai platform yang lainnya.

  6.  

    Fokus ke SU-35 dulu

  7.  

    F-22 vs Rafale

    Klo berbicara mengenai “skenario tempur” saat kedua jet tempur bertarung…

    menurut saya “tak peduli gimana skenario saat itu”, itu adalah pertarungan awal, karena masing-masing buta dan cuma tahu kemampuan lawan diatas kertas, nah lewat duel tersebut akan muncul salah satu menjadi pemenang atas yang lain.

    Fakta Rafale Menang

    Alasan bla bla bla tentang skenario dan bla bla bla harus ada pendukung ini dan itu hanya muncul berdasarkan data atau hasil pertarungan yang telah terjadi, sehingga dianalisa harus begini begitu untuk bisa menang…

    Artinya, duel awal, apapun skenarionya adalah “pertarungan yang sesungguhnya”… sedangkan pertarungan berikutnya adalah rekayasa dari para perancang strategi militer untuk memenangkan pertarungan berikutnya.

    Cocok Kau Rasa?

 Leave a Reply