Jan 112015
 
Melatih Lagu Wajib Nasional di SD

Melatih Lagu Wajib Nasional di SD

Nah, sekarang coba kalian baca nada yang saya tulis di papan!”

Sore itu jam pelajaran seni budaya kosong, guru mata pelajaran tersebut sedang berhalangan hadir. Setelah mendapatkan izin Kepala Sekolah untuk mengisi jam kosong di kelas XI, aku bergegas lari menuju lokasi kelas itu. Beberapa saat kemudian, kutuliskan angka satu sampai tujuh yang biasanya dikenal sebagai not angka pada pelajaran seni musik. Selanjutnya, kuminta murid-muridku untuk membacanya.

“Satu, dua, tiga, empat….,” teriak beberapa orang di antara mereka dengan cukup lantang. Aku sempat terkejut mendengarkan cara baca mereka. Benarkah mereka tidak mengerti sama sekali hal dasar seperti ini? Aku mencoba berpikir keras waktu itu. Ya, kita harus siap dengan setiap kemungkinan perbedaan kemampuan akademik siswa di daerah perbatasan dan Jawa pada umumnya. Namun saat mengamati ekspresi senyum jahil mereka, aku sadar… mungkin mereka ingin sedikit relax setelah beberapa pelajaran hitung yang sangat membingungkan. Yeah, they are just kidding me! Hehe…

“Ya, sekarang lupakan sejenak pelajaran Matematika kalian, kita belajar nada dulu!” ujarku sambil tersenyum mengamati tingkah jahil mereka. Menit selanjutnya berjalan cukup lancar ketika aku mulai menerangkan beberapa jenis nada kepada mereka.

Melatih para calon dirijen

Melatih para calon dirijen

Aku memang bukan guru seni, aku adalah guru Matematika yang kebetulan suka dan mengetahui beberapa ilmu tentang nada karena pernah berkecimpung di paduan suara sekolah dan kampus. SM-3T benar-benar mengakomodasi salah satu mimpiku untuk mengajarkan Matematika dan seni musik kepada siswa-siswi daerah perbatasan. Selain mengajarkan Matematika untuk siswa-siswi SMA Negeri 9 Malinau, aku juga mengajarkan beberapa lagu wajib nasional kepada siswa-siswi SMA Negeri 9 Malinau, SMP Negeri 1 Kayan Selatan dan SD Negeri 1 Kayan Selatan.

Ada satu hal yang benar-benar menggelitik indera pendengaranku saat pertama kali mengikuti upacara bendera gabungan hari Senin (siswa-siswi SMP dan SMA melaksanakan upacara bendera bersama tiap Senin). Ketika bendera merah putih dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan oleh kelas yang bertugas sebagai tim paduan suara, aku berusaha keras menahan senyumku. Bagaimana tidak? Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan dengan nada yang sedikit berbeda. Khas sekali dengan tambahan nuansa melayu di beberapa bagian lagu. Aku rasa teman-teman SM-3T ku pun juga menyadari hal ini. Entah siapa yang pertama kali mengajarkan lagu ini kepada mereka, aku juga tidak tahu. Sempat beberapa kali kubetulkan nada-nada tidak baku mereka ketika latihan upacara berikutnya. Namun fakta di lapangan, perubahan itu benar-benar sulit mereka ingat. Ada yang ketika latihan nadanya sudah benar, lalu keesokan harinya mereka akan lupa lagi.

Nada-nada melayu itu mengakar kuat dalam otak mereka. Wajar, karena mereka terbiasa menyanyikan lagu dengan cara seperti itu sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Sejujurnya jauh lebih mudah untuk mengajarkan nada lagu yang benar kepada anak-anak SD daripada anak-anak SMP dan SMA. Bisa saja sih… yang SMP dan SMA diubah jadi benar… tapi mungkin harus dengan cuci otak dulu, hehe…

Gladi Bersih Upacara bendera

Gladi Bersih Upacara bendera

Tidak hanya lagu Indonesia Raya, beberapa lagu wajib yang mereka nyanyikan kadang memiliki tempo dan harga not yang kurang tepat. Ada yang bisa dibetulkan, tapi banyak juga yang sulit diubah jadi benar. Sampai kemudian aku sadar, kita terima dan hargai saja semua itu sebagai bagian dari variasi keragaman budaya Indonesia. Ya, salah satu keragaman di daerah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Malaysia.

Pada dasarnya, masyarakat di daerah perbatasan banyak yang menyukai nyanyi-nyanyian. Hanya saja mungkin tidak banyak lagu wajib nasional yang mereka ketahui. Sepengetahuanku hanya lagu Satu Nusa Satu Bangsa, Garuda Pancasila, dan Halo-halo Bandung saja yang sering mereka nyanyikan ketika upacara. Seorang guru SM-3T sebelum aku yaitu, Bapak Dominggus More, S.Pd sempat mengajarkan lagu wajib nasional, seperti Indonesia Jaya kepada mereka. Perjuangan beliau berusaha kulanjutkan dengan mengajarkan lagu-lagu lain seperti Tanah Airku, Padamu Negeri, Berkibarlah Benderaku, Hari Merdeka, Himne Guru dan beberapa lagu lain.

Berlatih untuk Upacara bendera

Berlatih untuk Upacara bendera

Mengajarkan lagu baru kepada siswa-siswi di perbatasan relatif lebih mudah daripada merubah nada lagu wajib yang telah mereka kenal. Masih terpatri jelas dalam ingatan saya, betapa lucu dan antusiasnya siswa-siswi SD Negeri I Kayan Selatan saat belajar menyanyikan lagu wajib yang saya ajarkan sekaligus mempraktekkan cara mendirigeni lagu-lagu tersebut dalam pelaksanaan upacara bendera. Suatu pengalaman yang istimewa ketika ilmu kecil yang awalnyanya kita anggap biasa ternyata dapat disebarluaskan dan bermanfaat untuk orang banyak di sudut lain wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis : (Evi Rahmawati, Guru SM3T Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara)

Foto : Eko Rizqa S

Pengirim : Raja Kelana

  39 Responses to “Suka Duka Melatih Lagu Wajib Nasional di Perbatasan”

  1.  

    pagi.. salute 🙂

  2.  

    Terima kasih Ibu…. Ibu telah memberikan landasan kebangsaan bagi penerus2 bangsa ini. Saya sangat yakin perjuangan tidak akan sia2.

  3.  

    terima kasih atas sumbangsih anda pada generasi muda NKRI
    salut, semoga semakin banyak yang mengikuti langkah anda

  4.  

    Trmakasih guru

  5.  

    hmm.!..pengabdian pahlawan tanpa tanda jasa. patut dapat suport /pengharga’an yg setinggi tinginya,bagi pengabdian tulus para guru (di ujung plosok negri ini). trims bung Raja kelana masih mau berbagi (kisah/sisi lain) kehidupan salah satu anak2 bangsa yg posisinya nun jauh ( tapal batas NKRI)
    sekali lagi trims bung R_k
    Lanjutkan!! tetep semangat…..

  6.  

    jangan kan yg d perbatasan,yg d kota saja bnyak yg lupa lagu kebangsaan,d tv anak sekolah yg ketangkap tawuran d suruh baca pancasila ada yg tidak hafal urutan nya.
    Klo yg d perbatasan bisa d maklumi,akibat keterbatasan.
    Masyarakat kita skarang lebih hafal lagunya cita citata,ayu ting ting,dll.
    Jaman boleh berubah tp mental kebangsaan tak boleh luntur

  7.  

    Apakah sekolah di perbatasan biayanya mahal??? Di jawa pendidikan adalah bisnis yg menjanjikan. Semakin lama semakin mahal biaya pendidikan. Guru2 di jawa kayaknya lebih sejahtera. Dgn gaji yg tinggi, gaji ke 13, sertifikasi, bisnis buku LKS, rekreasi gratis kluarga+amplop uang saku(study tour). Apakah guru mendapat fasilitas yg sama???
    Di sisi lain saya temui siswi SMP berprestasi tp harus putus sekolah karna gak mampu bayar sekolah, untuk SPP aja 150rb/bln. Belum biaya yg lain nya. Padahal ada BOS. Katanya sekolah gratis…., saya rasa itu cuma omong kosong. Maaf OOT

    •  

      anda gak OOT.. disini juga begitu. katanya kesehatan gratis.. tapi ko kita di tagih terus ama BPJS.. mana administrasi jadi tambah ribet lagi.

      •  

        Maaf saya orang asuransi swasta, kalo dikatakan BPJS ada tagihan terus, mohon di cek lagi detail persyaratan dari BPJS, selama mengikuti rule BPJS harusnya tidak ada biaya sepeserpun, tp kalo sudah keluar jalur aturan dr BPJS ya wajar ada tagihan biaya.

        Thx

    •  

      Siswa – Siswi di Perbatasan,. di dalam menempuh study tidak di pungut biaya dalam proses kegiatan belajar-mengajar,. mereka setiap tahun malah mendapatkan uang santunan dari pemerintah, untuk mendukung belajar pembelajaran (BSM),. Sekolah Gratisss,..

  8.  

    Jika bercerita kisah di daerah perbatasan dalam ranah pendidikan, ada tanggung jawab guru mulai sejak dini untuk menanamkan jiwa nasionalisme seperti apa mengajarkan lagu lagu nasional seperti apa yang dilakukan bu guru dalam cerita diatas.
    Memang berat tantangan untuk merubah sesuatu yang sudah jadi kebiasaan. Tapi sekarang saya pikir untuk mengajarkan lagu lagu nasional lebih mudah dengan adanya fitur MP3.
    Saya yakin sekarang banyak siswa di Melinau yang memiliki handphone, untuk lagu lagu nasional sebarkan saja lewat handphone pasti lebih hemat waktu dan efisien.

  9.  

    Pengen banget tuh jadi guru SM3T.. gimana ya caranya?

  10.  

    bung neo_binjo@
    Di Kabupaten Kepulauan Meranti biaya pendidikan lebih murah. Untuk SPP SMA swasta/Madrasah Aliyah swasta sekitar Rp.60 ribu sampai Rp.80 ribu perbulan.
    SMA Negeri lebih murah lagi.
    Dari PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs tidak memungut SPP.
    Guru PNS disini mendapatkan fasilitas yang sama dengan di daerah lain. Guru non PNS di SKkan dan digaji oleh Dinas Pendidikan sesuai UMK dan tambahan honor dari dana BOS dan dana rutin sekolah.
    Hal positifnya guru disini tidak menganggap bahwa pendidikan suatu bisnis seperti di kota kota di pulau jawa.
    Soal di Melinau, apakah sama juga, saya tidak tau.
    Yang sama mungkin adalah sama sama di daerah perbatasan yang kurang perhatian pemerintah pusat.

  11.  

    Merinding baca artikel ini, saya belum pernah keperbatasan makanya saya kira sama saja dengan pulau jawa, ternyata hal kecil saja bisa membawa perubahan yang besar, cuma berandai andai, bagaimana seandainya seluruh pulau di Indonesia mempunyai standar yang sama dengan yang yang diterapkan di jawa, infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan lain lain, panti bisa membuat Indonesia bangkit lebih kuat bukan hanya menjadi macan asia, tetapi superpower dunia, NKRI harga mati

  12.  

    @ bung Gue dan @ bung Diego

    tolong cek email… thanks…

  13.  

    syukur dah msh ada yg peduli,jgn sampe org indonesia lebih hafal lagu “negaraku” ketimbang “indonesia raya”

  14.  

    Kok mirip mirip Chinese ya?? Dayak?

  15.  

    kalo d daerah saya d hulu sungai kapuas,guru2 lebih suka ngajar d kota,rata2 gk betah ngajar d kampung pedalaman.
    Kalo d kota semuanya lengkap gk beda dgn pulau jawa,tp d kampung pedalaman bak bumi dan langit.
    Bisa jadi yg buat guru ogah ngajar d kampung pedalaman,krn jalan yg buruk,klo hujan becek,listrik gak ad,sinyal seluler apa lagi.untung ada TNI yg d perbantukan jd guru d sana..
    Salahnya pemda tdk mau menyekolahkan anak pedalaman sampai k tingkat sarjana kmudian d tugaskan ngajar d kampungnya,malah merekrut guru yg berasal dari pontianak,pulau jawa,ya gk betah..biasa hidup d kota yg serba ada.

  16.  

    Trenyuh dan sekaligus bangga saya membaca artikel diatas.
    Salut kepada siapa saja yg telah mau berpartisipasi pada bidang edukasi apapun bentuk dan caranya di daerah pedalaman.

    Malinau sebagai bagian wilayah Propinsi Kalimantan Utara, sangat jauh dari ibukota Propinsi, untuk menuju kesana harus berjam-jam naik speedboat, kalau make pesawat terbatas kapasitasnya.
    .
    Infrastruktur jalan raya menuju kesana ? Apalagi jalan menuju ke perbatasan?

    He….he…he…….bukan urusan saya.

  17.  

    bung boleroes@ saya tau maksud ”bukan urusan saya” d tujukan kpd siapa,,?
    Tenang aja setelah APBN perubahan 2015 d setujui DPR segera d bangun jalan raya sampai ke perbatasan malinau-sabah.anda gk usah repot mikirin biaya anggaran nya.semua d urusi mentri terkait

  18.  

    asal g dimacem-macemin z, klo g kep*L* putus am mandau terbang !!!!!!!

  19.  

    Terharu saya baca artikel ini, salute untuk perjuangan teman-teman Guru SM3T Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Semoga perjuangan teman2 dibales oleh yang kuasa. Nanti ceritanya saya share ke pejabat2 diknas, terima kasih yah dengan artikel2 kebanggaan ini.

  20.  

    Kalimantan itu bagai swarga di sana. Bagi orang asing, masyarakatnya ramah dan santun. Tapi memang pendidikan di sana belum tercapai standarnya terutama di daerah perbatasan. Kepada guru-guru sm3t yang membina secara luar biasa siswa di sana benar-benar telah memperjuangkan identitas bangsa dengan tulus dan berjiwa. Sesuatu yang kadang sering terlewatkan di kota besar Jawa, di mana guru dengan mudah abai terhadap kemajuan siswanya dan sibuk mengkutip hal-hal yang menguntungkan diri pribadi dan tanpa sadar meninggalkan harafiah dari “guru” sendiri yang berarti pembimbing jiwa pada akademi “asram”. Ketulusan dan jiwa dari pendidikan tersebut kemudian akan meninggalkan proses kemanusiaan yang dalam. Salam tabik ibu Evi dan bung Kelana…

  21.  

    siap kalau ke ingat lagi ketika waktu msh menjadi pengajar di perbatas…saya sampai terharu melihat anak2 semangt buat sekolah.tetap semangat…..by mukhlis SM3T kab.nunukan

  22.  

    lagu indonesia logat melayu tidak hanya ada di perbatasan tapi juga di sumatera umumnya yg mayoritas melayu khususnya di daerah saya palembang,tepatnya di kabupaten lahat yg bahasanya sama dgn malaysia

 Leave a Reply