Jul 062017
 

Tentara Filipina yang terluka (photo : AFP)

Di sebuah rumah sakit Manila, tentara Filipina yang terluka menceritakan kembali kisah-kisah horor perang kota yang belum pernah terjadi sebelumnya menghadapi militan yang terkait dengan kelompok ISIS di Irak dan Suriah.

Satu bulan lebih terjadi pertempuran di kota Marawi, dan merenggut nyawa 62 tentara dan melukai ratusan lainnya, sekaligus menimbulkan kekhawatiran Filipina tiba-tiba bisa menjadi medan pertempuran baru bagi ISIS.

Di bangsal rumah sakit Manila yang ramai tersebut, tentara menceritakan pengalaman yang mengerikan tentang bagaimana militer Filipina – dengan sedikit pengalaman perang kota – merasa tidak siap atas taktik brutal musuh mereka dalam pertarungan rumah-ke-rumah.

Sersan Marinir Sandy Benitez mengatakan bahwa dia selamat dari pertempuran yang menewaskan 13 tentara lainnya dengan merangkak selama hampir lima jam di sepanjang jalan yang pendek sambil tetap berusaha menghindar dari tembakan penembak jitu para militan, setelah sebuah granat berpeluncur roket meledak didekat kaki kirinya.

“Itu adalah baku tembak terburuk yang pernah saya hadapi,” kata Benitez, yang sebelumnya sudah berpengalaman memerangi militan Islam di pulau-pulau terpencil dan bergunung-gunung di selatan Filipina kepada AFP.

“Beberapa rekan saya yang terluka, mereka kehilangan harapan dan menjadi bingung. Ada yang menangis. ”

Foto diambil pada tanggal 20 Juni 2017 ini menunjukkan tentara Filipina, terluka dalam konflik yang sedang berlangsung dengan militan Islam di provinsi Marawi selatan, yang baru pulih di sebuah rumah sakit militer di Manila.

Benitez mengatakan bahwa dia kebanyakan tenang sepanjang perang tersebut, kecuali saat dia melihat granat berpeluncur roket membunuh salah satu temannya yang telah mendaftarkannya.

“Bila Anda melihat teman sekelas anda meninggal, Anda tidak bisa tidak meneteskan air mata,” katanya.

Benitez mengatakan bahwa unitnya yang dilengkapi kacamata night vision telah dikerahkan pada malam hari untuk mencoba merebut salah satu benteng militan Maute.

“Tapi mereka melemparkan bensin dan bom Molotov pada kita. Mereka menciptakan api, jadi mereka bisa melihat kami, “katanya.

Militer memiliki pengalaman puluhan tahun melawan militan Islam dan pemberontak komunis, dalam konflik yang sudah menyebabkan hilangnya puluhan ribu nyawa. Tapi peperangan di Filipina Selatan sebagian besar dilancarkan di daerah pedesaan dan pegunungan.

Komandan militer Filipina dan prajurit Benitez mengatakan mereka memiliki sedikit pengalaman dalam pertempuran yang dilancarkan di Marawi, sebuah kota dengan 200.000 penduduk.

“Jika pertempuran dilakukan di gunung tanpa ada warga sipil, maka akan sangat mudah,” kata juru bicara militer Restituto Padilla kepada wartawan pekan lalu.

Seorang komandan militer di Marawi yang telah melakukan banyak peperangan di wilayah selatan Mindanao, mengatakan kebanyakan tentara Filipina sedang belajar dalam pertempuran tersebut.

“Kami memiliki sedikit orang yang sangat terlatih untuk situasi spesifik ini,” kata komandan tersebut kepada AFP, dia menggambarkan bahwa tentara Filipina kadang membutuhkan waktu dua hari untuk membersihkan satu rumah dan ancaman seperti bom-bom jebakan.

Di rumah sakit militer di Manila, Kopral Angkatan Darat Benie Flores, 30, sedang duduk di tempat tidur dengan tulang belakang kirinya yang terkena dua peluru dari penembak jitu yang menembaknya pada hari ketiga konflik tersebut.

Flores mengatakan dia tidak pernah terluka selama tujuh tahun, termasuk saat melakukan banyak pertempuran melawan Abu Sayyaf, sebuah kelompok teroris yang terdaftar di AS yang berbasis di Basilan – salah satu pulau selatan terpencil yang sebagian besar terdiri dari pegunungan dan hutan.

“Bedanya Basilan penuh pepohonan sementara Marawi penuh dengan gedung dan warga sipil,” katanya.

Newsinfo.inquirer.net

Bagikan
 Posted by on Juli 6, 2017