Okt 052019
 

F-18 Super Hornet Angkatan Laut AS

Persaingan antara jet tempur Boeing F-18 Super Hornet dan Eurofighter Typhoon untuk menggantikan pesawat pembom tempur Tornado Jerman telah condong ke arah pesawat buatan Amerika, menurut laporan media Jerman, lansir Defensenews.

Hal itu dinyatakan setelah pejabat pertahanan Jerman menerima informasi dari Pentagon tentang waktu yang diperlukan untuk mensertifikasi Eurofighter dengan kemampuan membawa senjata nuklir, tulis sebuah artikel di Süddeutsche Zeitung.

Eurofighter masih harus membutuhkan waktu antara tiga dan lima tahun lebih lama daripada F-18 agar bisa dipersenjatai dengan senjata nuklir buatan militer AS, lapor surat kabar itu.

Jerman telah memiliki sekitar 80-an armada jet Tornado yang diperlengkapi untuk melaksanakan doktrin senjata nuklir NATO. Itu berarti dalam kasus perang nuklir, pilot Jerman akan memuat pesawat tempurnya dengan bom nuklir AS dan menjatuhkannya pada target yang dimaksudkan atas perintah aliansi.

Sementara misi nuklir Jerman secara berkala muncul sebagai sumber kontroversi, pemerintah sebelumnya telah membiarkannya tidak tersentuh, menggambarkan penugasan yang sebagian besar simbolis sebagai elemen vital dari hubungan trans-Atlantik.

Seorang juru bicara untuk Kementerian Pertahanan di Berlin menolak untuk mengomentari laporan Süddeutsche Zeitung, hanya mengatakan bahwa pejabat pertahanan Amerika dan Jerman telah dalam “percakapan terus menerus” tentang masalah ini.

Pemerintah diperkirakan akan mengumumkan pemenang antara F-18 dan Eurofighter Typhoon awal tahun depan. Pada Januari 2019, para pejabat pertahanan menghapus F-35 sebagai kandidat, sebagian besar karena memilih pesawat tempur Amerika akan melemahkan perusahaan-perusahaan Eropa untuk memproduksi pesawat tempur serupa di masa depan.

Seperti halnya dengan program Future Combat Air Systems, yang dipimpin oleh Airbus dan Dassault. Airbus mengatakan jika Jerman memilih Eurofighter sebagai pengganti Tornado, akan lebih mudah bagi perusahaan di benua itu untuk beralih ke pengembangan platform pesawat tempur Jerman-Prancis-Spanyol.

Namun kunjungan Menteri Pertahanan Jerman ke Washington bulan lalu menyoroti kembali pembelian pesawat buatan Amerika. Menurut Annegret Kramp-Karrenbauer, Jerman menginginkan kelanjutan operasional Angkatan Udara Jerman yang “tanpa celah” dengan kepergian jet pembom Tornado karena mendesaknya jadwal untuk mencari penggantinya.

Airbus, sementara itu tidak terburu-buru karena masih ada waktu 10 tahun tersisa sebelum pensiunnya Tornado, waktu sertifikasi nuklir yang dilaporkan tampaknya masih sesuai dengan jadwal penggantian keseluruhan, kata juru bicara Florian Taitsch kepada Defense News.

Selain itu, Florian Taitsch berpendapat, ketika diberi pilihan, pemerintahan Trump dengan doktrin “America First” akan tertarik untuk mendorong pemilihan senjata buatan Amerika daripada senjata buatan Eropa.

 Posted by on Oktober 5, 2019

  2 Responses to “Super Hornet Lebih Unggul Gantikan Tornado Jerman”

  1.  

    Lha bener analisaku kemaren di indomiliter, typhoon butuh waktu panjang untuk mengembangkannya agar mampu membawa senjata nukir dan f18 super hornet selain mampu membawa senjata nuklir jg telah teruji di berbagai pertempuran’ jujur aje ye bila ane disuruh milih antara f18 super hornet dengan f35 atau typhoon maka ane lebih memilih f18 super hornet, f35 bagiku pesawat cacingan dan gagal produk’ f35 adalah pespur siluman komersil yg kemampuannya diseting agar negara2 pembelinya kemampuan militernya tetep dibawah us dan gampang ditaklukan us, f14 tom cat iran adalah pelajaran yg berharga bagi us agar tidak pernah pernah lg menjual produk2 berkwalitasnya kepada negara2 lain, jd f18 super hornet sangat2 mampu menaklukan f35 tp tidak mampu mengalahkan f22.

  2.  

    Klo jd pemerintah dan AU Jerman.. aq memilih F/A-18F (twin seater) Super Hornet Block III sekalian sebagai pengganti Tornado IDS.. dan sekalian beli EA-18G Growler (varian F/A-18F Super Hornet) utk menggantikan Tornado ECR dalam misi electronic Combat..

    Super Hornet punya fleksibilitas dan efektifitas lebih tinggi dari Tornado BAHKAN pada bbrp kasus mengungguli Typhoon Jerman..

    contoh : utk operasi tempur udara ke udara.. ga usah Super Hornet Block III yg terbaru deh, yang Block II aja udah mampu bawa :
    12 x AIM-120A/B/C AMRAAM
    2 x AIM-9X Sidewinder
    1 x 480 external fuel tank
    Figur air-to-air combat di atas lebih superior dari Tornado IDS/ECR BAHKAN lebih superior dari Typhoon.. di mana Typhoon utk air-to-air combat hanya mampu bawa :
    10 x AIM-120A/B/C AMRAAM
    2 x Iris-T (comparable to the US Sidewinder)
    1 x external fuel tanks..

    Memang sih.. dalam kasus Typhoon dilengkapi dng MBDA Meteor, jd lebih unggul secara jarak tembak dibanding Super Hornet.. tapi ketika stok medium range air-to-air missile nya hanya ada AMRAAM, maka secara firepower, Super Hornet unggul 2 missile di banding Typhoon..

    Naaa.. itu baru udara ke udara.. blom kemampuan udara ke daratnya.. Super Hornet punya varian twin seat (varian F), di mana kondisi ini sangat cocok utk operasi udara ke darat.. Toh Tornado yg digantikan juga twin-seater dan lebih dioptimasi utk kemampuan udara ke darat khan?? Super Hornet punya keunggulan signifikan dalam hal ini di banding Tornado yg digantikan :
    1. Sama2 twin-seater, cocok utk air-to-ground missions (strike, close air support, reconnaissance).
    2. Minimal dibekali dng 2 x AMRAAM + 2 x Sidewinder utk self-defense.. Tornado cuma 2 x Sidewinder doank..
    3. Jelas Super Hornet newer technology memberikan peluang sukses lebih besar utk keberhasilan misi tempur udara-ke-darat dibanding Tornado ato bahkan Typhoon (utk kasus2 tertentu, misal penggunaan senjata electro optical guidance macam SLAM-ER ato stand off strike missiles yg lebih modern macam Taurus KEPD 350 yg ada dalam arsenal AU Jerman).

    Itu opini saya tentang peluang Super Hornet Family (E/F/G) menggantikan Tornado Family (IDS/ECR).. analisa serupa juga cocok utk kasus penggantian Tornado AU Inggris, AU Italia, atau AU Saudi Arabia..