Feb 132015
 

Boeing Tawarkan Super Hornet dengan radar AESA untuk RMAF Malaysia (foto: Boeing)

Kuala Lumpur – Perusahaan Boeing memiliki keuntungan signifikan atas pesaingnya dalam menawarkan jet tempur Super Hornet untuk Malaysia sebagai pesawat yang “terjangkau” untuk operasional jangka panjang.

Produsen pesawat global ini siap membantu Malaysia menghadapi masalah pendanaan dalam memperoleh jet tempur dengan daya tahan tinggi. Kendala keuangan ini disebabkan perlambatan ekonomi global.

“Tidak ada pesawat di kompetisi ini yang mampu mengimbangi keterjangkauan yang ditawarkan Super Hornet,” ujar Wakil Presiden Boeing untuk penjualan F/A-18 E/F internasional, Howard M Berry.

“Biaya total lifecycle, dari sejak akuisisi hingga support pesawat sepanjang masa, termasuk pelatihan, logistik hingga akhirnya pesawat keluar dari layanan, memakan budget 70 persen,” katanya.

Ia menambahkan, Boeing menyadari bahwa setiap bangsa, termasuk Malaysia, menghadapi tantangan saat ini karena penurunan harga minyak dan mata uang lemah. Namun Boeing optimis bahwa “dalam dunia yang terus berubah, harga minyak akan rebound.”

“Kami telah membahas dan bekerja sama dengan pemerintah Malaysia. Kita bisa melakukan banyak hal finansial dan menangani setiap tantangan pendanaan dalam waktu dekat.” Pada akhirnya, hal itu akan menjadi keputusan politik dan kita harus melihat bagaimana pesoalan ini bisa diatasi, “kata Berry.

Boeing telah melakukan negosiasi sejak tahun 2002 untuk kesepakatan Super Hornet dengan Royal Malaysia Air Force, yang saat ini mengoperasikan delapan generasi Klasik Hornets, F/A-18D.

“Kami siap untuk tetap terlibat. Ini merupakan penjualan yang penting bagi kami dan akan melakukan segala kemungkinan untuk memfasilitasi akuisisi ketika pemerintah Malaysia siap untuk bergerak maju,” katanya.

Menurut Berry, versi Super Hornet yang dijual ke Malaysia disebut Blok II, yang mulai dioperasikan pada tahun 2007, dan bisa dengan mudah diintegrasikan ke dalam sistem pesawat Super Hornet yang saat ini diterbangkan Malaysia.

Super Hornet baru terbang selama sekitar tujuh sampai delapan tahun, sehingga bisa dibilang pesawat terbaru dalam pelayanan militer AS.

Berry mengatakan sejauh pesawat ini memiliki 1,4 juta jam terbang, dengan demikian pesawat ini matang dan relevan untuk operasional. Manfaat yang didapatkan Angkatan Udara Malaysia RMAF adalah Super Hornet memiliki risiko desain yang rendah.

“Ketika Anda membeli dari kompetitor saya, pesawat mereka relatif belum matang dan memiliki sistem yang belum matang, terutama radar. Mereka masih mengembangkan radar active electronically scanned array (AESA),” tambahnya.

Dia mengatakan Super Hornet saat ini terbang dengan radar AESA yang paling canggih, APG-79 dari Raytheon, yang tanpa diragukan lagi berada di garis depan teknologi AESA dan combat proven. Berry juga mencatat Super Hornet F / A-18E / Fs sangat cocok untuk peran tersebut.

Namun, ia mengatakan, Malaysia memiliki beberapa masalah untuk diatasi, seperti garis pantai yang sangat panjang, sehingga mmbutuhkan superioritas udara.

“Untuk menghadapi itu, Anda harus memiliki kemampuan patroli. Pesawat Super Hornet memiliki kemampuan dan jangkauan untuk itu. Pesawat Ini membawa kokpit dua kursi dan mesin kembar. Mesin Twin adalah kunci, setiap pilot yang menghabiskan banyak waktu di atas air akan memberitahu Anda bahwa mereka menyukai twin engine.

“F/A-18F tentu juga cocok untuk operasi maritim. Dua kursi kokpit adalah kunci (dan) ketika Anda berada di luar sana di atas air, untuk melakukan kontrol jalur laut dan pengawasan maritim, memiliki sepasang mata orang kedua adalah penting, “katanya.

Di Langkawi Maritime and Aerospace Exhibition 2001, Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak, yang saat itu sebagai Menteri Pertahanan, terbang dengan Super Hornet F/A-18 E / F membuatnya sebagai menteri pertahanan pertama yang terbang dengan jet tempur dua seater yang dikemudikan kepala uji coba Boeing Dave Desmond.

Unit Perusahaan Boeing, Boeing Defense, Space & Security merupakan salah satu industri pertahanan, ruang angkasa dan keamanan terbesar di dunia yang mengkhususkan diri dalam memberi solusi inovatif kepada pelanggan dan kemampuan-driven, dan produsen terbesar dan paling serbaguna di dunia pesawat militer. (Bernama)

Bagikan :

  92 Responses to “Super Hornet Radar AESA untuk Malaysia”

  1.  

    Per

  2.  

    Taniah buat malay kalo nak beli ni jet pejuang. tapi sukur juga tni gak tertarik dgn super hornet

  3.  

    Wuih, jadinya si Lebah
    Selamat malaysia

  4.  

    Dengan ini RI akan terpacu adrenalin-nya 😀

    •  

      terpacu krn apa bung wong yg buat Malaysia tu super hornet nya pakai radar ASEA paling jangkawanya cuma 2 KM lbih dikit… baru kalau pakai radar AESA msti sdikit hati2 krn lumayan jauh. tp itupun klw pilotnya bs nembak tepat. wong lomba nembak di BISAM kmarin g ada yg ngenak sasaran malah kena pohon pisang. kasian my TUDM pesawat dh bagus blom bs nembak tepat. hadeeeeeehhh pusiiiiiingg…

      •  

        ingat gak kemarin; setengah jam operasi militer malaysia besar-besaran u/ gempur pejuang sulu bukannya korban dari pejuang sulu yang didapati tewas, eeeeeeeahh trnyata.. KLUTIKK,,, pohon pisang yang tewas-tumbang dimana-mana..
        itu sebenarnya perang apa latihan yaa???
        khkh..

  5.  

    Vote su.35..

    …NKRI HARGA MATI…

  6.  

    Su 35 mana nih? Kapan dtngnya?

  7.  

    kalo di malon hati hati engine nya hilang nanti dijual kiloan dipasar loak …………… !!!

  8.  

    nyimak aja

  9.  

    Super-30 Su-30MKI — lebih baik dibandingkan Su-35?
    ============================================
    Kabarnya versi ini (mungkin) akan mendapat banyak upgrade, termasuk Phazotron Zhuk-AE AESA radar, menjadikannya Flanker pertama yg akhirnya membawa AESA radar — di tambah kemampuan membawa Brahmos missile.
    Kita belum bisa tahu detail-nya sampai India mengumumkan Super-30 pertama sudah terbang.

    Nilai kontrak upgrade ini cukup mahal — $ 2 milyar — untuk 40 pesawat ($50 juta per pesawat).

    Tapi ini bukanlah Su-35 — kedua pesawat ini sangat berbeda jauh!
    Tidak ada rencana utk meng-upgrade Su-35 dengan Zhuk-AE AESA radar.
    Mungkin salah satu faktor lain:
    Russia berniat menjual Su-35 ke China, dan mereka tidak akan mau China untuk “fotocopy” tehnologi Zhuk-AE AESA.

    Ini cukup menarik.
    Super-30 Su-30MKI akan mempunyai radar yg kemampuannya lebih superior dibanding Su-35,
    dan diperlengkapi supersonic cruise missile yg lebih modern dibanding yg dimiliki Russia sendiri.

    Kalau dari sudut pandang ini, bukankah lebih baik Indonesia membeli versi yang sama dengan Super-30 Su-30MKI India dibandingkan Su-35S?

    Paling tidak, Indonesia akan mendapatkan India sebagai penjamin upgrade Su-30MKI.

    Tentu saja, kalau melihat dari nilai kontrak saat ini, harga per unit Super-30 sepertinya akan mendekati $100 juta per unit, dibandingkan Su-35 yg hanya $65 – $80 juta kosong.

    Dengan biaya sedemikian mahal, apakah India akan meng-upgrade semua MKI mereka yang lain ke “Super-30” standard?
    Kita lihat saja lebih lanjut.

  10.  

    setelah tgl 12 ini uda 13 tetep gak ada kabar soal pesawat kt

  11.  

    Ni bisa jd pemicu buat Menhan agar lbh dkt dgn Su35 hehe,,
    kalo malaysia jd beli ne lebah super, masak dlawan ma f16 wkwk

  12.  

    Harga 1 ska Su35 brp y kira2 buat kita hehe . .
    Apa kalau beli 2 ska dpt diskon hehe

  13.  

    api dari segi perbandingan tehnis saja, kenapa Typhoon akan lebih unggul dibandingkan Su-35?

    ## Wing-loading hanya 312 kg/m2 — melebihi 408 kg/m2 untuk Su-35S. Biasanya wing loading lebih rendah = manuever lebih bagus.
    Su-35 tampak hebat dalam banyak airshow, dan mempunyai TVC (Thrust-Vector-Control). Tapi TVC ini sbnrnya pedang bermata-dua — pilot yg memakainya di waktu yg salah, akan kehilangan terlalu banyak “energy”, dan mudah untuk dihabisi. Inilah salah satu alasan justru kenapa F-22 dapat dikalahkan dalam latihan.

    ## Thrust-to-weight ratio jauh lebih unggul = 1,15 fully loaded vs 0,94 untuk Su-35 — artinya, kemampuan akselerasi Typhoon akan jauh melebihi Su-35.

    ## Typhoon dapat supercruise Mach 1,5 — Su-35S dengan T/W ratio yg rendah spt di atas, kemungkinan besar tidak bisa.

    ## Radar CAPTOR-E baru untuk Typhoon Tranche-3B ukurannya sama besar dengan Irbis-E di Su-35; secara tehnologi jauh lebih modern, jarak jangkau, kemampuan deteksi, dan tracking akan jauh lebih unggul.

    ## Cockpit interface utk Typhoon (dan semua Eurocanards) lain akan dapat memberikan situational awareness yg jauh lebih tinggi. Tehnologi avionics Eropa memang lebih unggul (user-friendly) vs Russia. Inilah salah satu sebab kenapa Su-30MKI atau bahkan versi Su-30SM masih memakai avionics buatan Perancis.

    ## Typhoon sudah terbang sejak tahun 2003, dan sudah diproduksi ratusan unit dalam tiga tahapan (Tranche). Setiap Tranche adalah evolusi lebih jauh dari Tranche sebelumnya. Typhoon Tranche-1, skrg sudah tertinggal jauh dibanding Tranche-3 dalam berbagai hal — airframe-nya saja sudah berbeda konstruksinya. Tentu saja sudah banyak “bugs” atau “problem” dari Tranche sebelumnya sudah dihilangkan dalam versi terakhir.

    Versi Typhoon yg sekarang — Tranche-3B adalah produk yang sudah matang, dan lebih teruji oleh pengalaman produksi dan jam terbang.

    Sebaliknya, Su-35S tidak memiliki kedua faktor di atas. Tipe ini baru mulai diproduksi mulai tahun 2008. Produksinya lambat, dan satu-satunya konfirmasi order adalah 48 unit (masih batch pertama) untuk AU Russia. Ada berapa banyak “batch 1 bugs” yang sejauh ini sudah ditemukan di Su-35??

    Kita tidak akan pernah tahu.
    Russia pasti tutup mulut dan berkata produk mereka sudah “sempurna”.

    ## Terakhir, tentu saja, Typhoon sudah di-tes berulang-ulang dalam banyak sekali latihan mancanegara / latihan NATO untuk kemampuan air-to-air-nya. Bahkan sudah memegang record sebagai salah satu pesawat yg paling sukses utk menghadapi F-22. Krn bbrp faktor, dalam dunia nyata, kemungkinan Typhoon mengalahkan F-22 bahkan lebih besar dibanding dalam latihan.

    Russia tidak mempunyai banyak pengalaman dalam latihan mancanegara. Dahulu mereka mengetes pesawat mereka dalam konflik2 terbuka seperti di Timur Tengah, atau di Vietnam (Orang2 Barat juga demikian). Sejak berakhirnya perang Iran-Iraq di tahun 1988, pesawat buatan Russia relatif jauh lebih tak teruji dibanding pswt buatan Barat.

    Jadi sejauh ini, Su-35 sama sekali belum teruji menghadapi pesawat lain (mungkin hanya melawan Su-27 dan MiG-29 Russia yg bertehnologi tahun 1980-an??). Di lain pihak, semua pesawat buatan Barat sudah rajin “menjajal” satu sama lain.
    Gripen-Indonesia | 05 Feb 2015 10:37:16

    @Rezz,
    apa yang anda tulis disini sangat benar:
    ========================================================================
    *masalah jangka panjang..sangat sulit..krn di indonesia kebanyakan sistem yg amburadul termasuk rencana2 berjangka panjang….entah ini perasaan saya saja atau memang kenyataan….bahwa setiap pemimpin ingin meletakan sejarah atas namanya sendiri ….”yg penting jadi ( mau bagus atau tdk) dan rakyat taunya ini adl hasil kerja saya”…kebijakan pemimpin terdahulu ( program yg bagus) dihapus/di ganti namanya…agar yg dulu namanya ga harum dan dia buat yg sama tp beda nama…jadi pemimpin yg baru meng-klaim..”inilah keberhasilaan saya”…..jadi sy sangat pesimis klo bicara jangka panjang…mef di terusin juga sudah syukur banget…..tp klo melihat orang2 di blk presiden kita yg skr kok saya malah nambah pesimis…jd inget kasus tank yg katanya bakal ambles(iyah) hehehe…
    ==========================================================================

    Terus terang, sy juga merasa sbnrnya proses pembelian Alutsista post-Embargo ini hampir semuanya “amburadul”. Beberapa program spt pembelian 3 kapal selam dari DSME sudah cukup baik, tetapi hanya bbrp program yang bagus itu tidak cukup untuk memperbaiki yang lain. Memang sudah terlalu banyak kasus “asal beli” tanpa memikirkan jangka panjang.

    Dari sudut pandang ini, justru kenapa sy berharap pemerintah baru justru terus menunda keputusan pembelian pengganti F-5E. Sebaiknya, pemerintah dan TNI harus mulai mengkaji ulang apa yang dibutuhkan Indonesia dalam 20 tahun ke depan, kemudian menggariskan perlahan-lahan apa yg perlu diganti, dan apa yg perlu dibeli.

    Sy rasa “kebutuhan untuk 10 squadron tempur” dalam MEF itu saja perlu dikaji ulang.

    Apakah Indonesia benar-benar membutuhkan 10 skuadron?
    Setiap squadron membutuhkan infrastruktur (markas, fasilitas), dan sistem latihannya sendiri. Ini semua menelan biaya.
    Australia, yang wilayahnya lebih luas, dan anggarannya 3x lipat Indonesia saja hanya punya 6 skuadron tempur (4 Hornet, dan 2 SH), dan 1 squadron latih (BAe Hawk 127)

    Lalu tipe apa yang mau digunakan untuk mengisi 10 skuadron ini?
    Armada tempur yg gado-gado, yg masing2 tipe-nya tidak compatible satu sama lain tidak akan pernah efektif untuk mempertahankan Indonesia. Yah, mereka cuma akan kelihatan bagus untuk “pameran” (parade) kemerdekaan atau hari ABRI saja. Ibarat rumah yang dibangun di atas pasir, di saat konflik, dengan sekali tepuk saja, armada yang 10 skuadron itu akan hancur tak tersisa.

    Banyak contoh dari AU di dunia ini yang sudah mulai melakukan rasionalisasi dan memotong jumlah tipe (dan seringkali juga jumlah pesawat yg operasional).

    Alasan ekonomis mendorong Belanda, Belgia, Denmark, dan Norwegia dari awal tahun 1980-an hanya memilih untuk membeli F-16 sbg pesawat tempur satu-satunya mereka — skrg semuanya juga berpikir untuk kembali mengganti F-16 dengan satu tipe saja.

    Untuk alasan yg sama, Jerman dan Perancis merasionalisasi armada modern mereka dewasa ini ke Eurofighter Typhoon dan Dassault Rafale. Di Jerman, Typhoon sudah / akan menggantikan F-4F, MiG-29, dan akhirnya Panavia Tornado. Di Perancis, Rafale menggantikan Mirage-F1, Mirage-2000, dan untuk Angkatan laut mereka, menggantikan Super Etendard, dan F-8F. Armada udara keduanya sudah berkurang banyak dari 400 pesawat di tahun 1990-an, sampai ke kurang dari 200 pesawat saja di masa depan.

    Brazil juga berencana menggantikan armada Mirage-2000C (sewaan, sudah pensiun), F-5E, dan AMX-1 dengan 108 Gripen.

    Saya mendorong ide untuk menggantikan semua tipe pesawat TNI-AU (kecuali T-50 dan Super Tucano) dengan Gripen-NG justru karena alasan ini.

    Kenyataannya, tidak seperti India, China, Pakistan, atau Korea — Indonesia saat ini tidak menghadapi ancaman militer langsung dari negara tetangga yg agresif (atau dalam kasus China, China-lah yg agresif!). Dengan berakhirnya konflik GAM, masa pemberontakan daerah juga sudah berakhir — lagipula seluruh dunia mengakui NKRI sebagai satu kesatuan.

    Negara kita sudah menjadi salah satu yang paling demokratis di seluruh Asia-Afrika, meskipun mungkin masih jauh dari sempurna. Politik luar negeri kita juga cukup damai — tidak spt Argentina yg terus mencoba mengklaim Falkland, dan dngn demikian mengambil posisi memusuhi UK.

    Indonesia tentu saja tetap membutuhkan militer yang kuat untuk menjaga kedaulatan bangsa — jangan sampai terjadi seperti Filipina. Tetapi Indonesia harus lebih rasional dalam belanja Alutsista. Kita harus mengenali keterbatasan kita. Anggaran militer kita tidaklah besar — dan untuk selamanya juga, tidak akan pernah dapat tumbuh besar perkasa untuk dapat menandingi anggaran militer Australia. Prioritas utama anggaran negara adalah untuk meningkatkan laju perekonomian, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

    Yah, semoga saja semua pemimpin kita dapat melihat masa depan Malaysia,
    Di masa depan bangsa ini tentu saja akan meng-asosiasikan nama sang pemimpin dengan kerusakan yg sudah dia timbulkan. Sebaiknya, kalau sang pemimpin memang bekerja semaksimal mungkin demi kepentingan negeri ini, tentu namanya akan terus dikenang, dan jerih payahnya akan terus diingat.

    •  

      wah kalau Typhoon dgn captor E saya setuju sekali… di atas kemampuan Irbis E. Ane vote 1. euro dgn captor E

    •  

      Akur

    •  

      Penggiringan opininya bagus bgt bung. Sayang, hanya diisi oleh opini2 yg trlalu subjektif dan pesimis. Yah, tp untungnya anda bukan pengambil kebijakan dinegri ini, kl enggak bisa2 NKRI udah trcerai berai.

    •  

      wah ternyata jualan tulisannyapun copy paste.
      indonesia mencampur aduk blok barat n blok timur bukan tidak ada alasan bro,. karna TNI udak kapok dengan yang namanya embargo makanya TNI ambil sebagian dari barat n sebagian lain dari timur jadi walau di embargo barat masih ada dari blok timur jadi ngak lumpuh2 amat begtu juga seblaiknya,. TNI itu jauh lebih pintar dari anda mereka sudah memikirkan kemungkinan terburuknya,.
      kita lihat grinpen itu campur aduk dari barang amerika sampai german ada di 1 pesawat 1 aja negara yang meng embago mati sudah grinpen,. apa lagi semuanya mau diganti sama grinpen ngak ada yang bisa terbang grinpen kalau di embago,. apa anda memikirkan samap ke situ,.??
      sedangakn apa mau mereka rela memberi lisensi ke indonesia untuk sperpastnya.??
      1 aja yang gnak ngasih lisensi ngak bisa apa2 indonesia,..
      tapi sebaliknya walau indonesia ambil dari blok timur n blok barat bila salah 1nya meng embargo setidaknya indonesia masih punya 1 taring ngak lumpuh2 amat,..
      terima kasih sebelumnya hanya pendapat orang awam 🙂

      •  

        Setuju banget bung lontong.
        Kita belajar dr pengalaman. Geopolitik sewaktu2 bisa berubah.

        Gripen 1 pesawat dngn suku cadang campur aduk dan sebagian dr block barat.

        sy tdk pro barat ato timur

        Sy mengutip dr sejarah negara kita saja. Jika kita terpatok pada 1 produk celakalah kita .

        Pemikiran cerdas memadukann block barat dan block timur.

        Salam warjagers

    •  

      BUNGKUS BUNG CEPETAAAANN..!

    •  

      ente mau typhoon yg bener aja harganya hmpir 1trilyun/buah?????? belum juga teruji, lagian apa bener itu negeri mama eli mau kasih TOT???? bullshit aja pas konflik ma negara FPDA kapok kita dikerjain ma british, ingat lah masa lalu siapa teman kita sebenarnya….

  14.  

    Hornyet bwt malaysia..ckckck..

    Klo kesulitan nyupirin hubungi aja TNI ntar diajarin..biarpun TNI blm pernah..

  15.  

    Mesir jadi beli rafale seharga $5,7 milyar untuk 24 pesawat. Harga rafale skrg menjadi @237,5 juta dolar. Muahal amir chuiii…. jangan2 jenderal al sisi korupsi nih… mungkin harga segitu bonus paris hilton

    •  

      Menghitung harga pesawat bukan sekedar nilai kontrak dibagi jumlah unit. Harga Avanza saja berbeda tergantung isinya. Apalagi pesawat militer. Harus dilihat isi kontraknya; Apakah hanya 24 unit kosong (seperti dulu beli TNI beli Su-27)? Berapa banyak suku cadang utama yang dipesan, berapa jumlah mesin cadangan yang disupply, apa jenis persenjataannya yang disupply, berapa jumlahnya, biaya training pilot dan maintenance, etc, termasuk berapa persen kandungan ToT-nya.

  16.  

    Dasar nih si asu.. kenapa si Malon di kasih discount f18 kita f 16 regular price??

    •  

      Mangkanya bung lebih baik SU 35.

      Karena malay sudah mengoprasikan F18 kornet sblm nya.
      Indonesia pengguna hampir 20 thn F 16 dengan berbagai masalah.. mau di upgrade secanggih apapun F 16 tetep aja udah ketinggalan zaman.

      Kalo SU 35 jadi diakuisisi pemerintah indonesia. Ini antisipasi malay kali dengan mengadakan F 18 kornet

    •  

      Kalau kita baca dengan teliti F18 Malaysia akan di sesuaikan dengan kemampuan pendanaan Malaysia tapi di lengkapi dengan radar AESA yang modern,tentu ada spec lain yang di kurangi .Jadi kesimpulannya akan di bikin khusus versi down grade untuk Malaysia.

    •  

      biasanya klu harga lebih murah, speknya dibawah standar, bravo malon beli pesawat buat latihan tembak sukhoi indonesia,

  17.  

    su 35… tetap terbaik… jangan terkecoh dengan omongan dan bisikan halus amrik yang katanya tidak mungkin embargo… sedangkan perident mantan pejuang peta kita aja berani di embargo apalagi jika pres-nya sipil….
    NB. mohon bantuan gw tiap buka situs kesayangan ne dikenali google sbg “malware detected” knp ya???? ada yang bisa bantu solusi?

  18.  

    Hanya saran saja bt TUDM kalo mo beli Super hornet beli sekalian 1 skuadron jangan setengah2 udah gtu pesawatnya jarang tampil pula sekalinya f-18 muncul cman buat ngebom kebun pisang yg diduga para pejuang sulu
    kLo pengen murah lagi dan merasa lebih hebat sewa aja semua jenis pespur Sukhoi(8unit),Rafael(4unit),Typhoon (4unit),Gripen(8 unit) ntar komplit tu TUDM punya jenis pesawat dan kalo mo pamer jngan nanggung2 beli Hornet kok cman 8 unit

  19.  

    F18 memang pilihan yang tepat untuk Malon,selain kelebihan yang di sebutkan di atas ,pesawat ini sangat tepat untuk negara maritim yang luas.Indonesia lebih butuh pesawat serang maritim ini dari pada f16.moga aja suatu saat kita bisa beli SU 34 pesawat serang maritim jarak jauh.

  20.  

    TNI tak trtarik krn mw d kash radar ASEA (2-3km)
    baru klw radar AESA.. lumanyun mantap.. liat tu judul atikel d atas. RADAR ASEA.. hahahahha… piiiiiiiiiiisss pakde admin.

  21.  

    Itu sebabnya, arm race tidak ada gunanya, apalagi cuma bermodal beli sana sini.

  22.  

    Nggak sama mas.
    Malay punya Mig dan Super Hornet, indo nggak punya.
    Malay punya Pendekar, Gempita, indo cuma anoa.
    Malay punys Scorpene, Indo cuma KS tua.

    Ngaak sama bung.

    •  

      anda yakin ks tua… Tua -tua kalo nendang pala lo bakal rencek bung.

    •  

      biarpun tua tapi selalu update teknologinya lho….. belum tentu scorpene yang lebih muda mampu mengalahkanu U209 yang tua.

      lagi pula apa gunanya lebih muda…tapi jumlahnya cuman dua.

      biarpun tua tapi kalau buanyak kan lebih menakutkan…..

      ingat lho…indonesia dulu tahun 60 an punya ks whiskey sebanyak 24 buah.
      12 yang real dan 12 bayanganya. tapi 1 yg udah di jadikan museum…sedangkan menurut berita resmi kelas whiskey indo sampai dg tahun 80 an masih operasional.

      kikikiki..

    •  

      memang nggak sama…indo punya T50 GE, Super Tukano dan F16 malay tak punya.

      biarpun malay punya pendekar (copian T72)…tapi indo punya leopard 2A4 dan 2A7 dan MARDER serta BMP3 F sedang malay tak punya.

      indonesia punya Mi35 (heli attack) malay tak punya padanya.

  23.  

    tahniah buat tudm. harapannya tni tetap pilih su-35.

  24.  

    Ngak perlu ditanggapi. kenapa para sales datang dan menawarkan pesawat handalan mereka masing kerana bulan Mac 2015 nanti ada exhibition LIMA langkawi. bukan boeing aja. dalam masa seminggu dua ni banyak lagi berita tawaran pesawat ke malaysia. mgkin juga di LIMA nanti indonesia akan sign kontrak utk pengganti F5.

  25.  

    Bung Poetra Atjeh @ Indonesia pny CN-235, CN-295, T-50GE, Mi-17, Mi-35 dan Super Tucano, Malay ga pny!. Dan kita pny MBT Leopard, Marder, Badak, Komodo, AMX-13 dan BMP-3F. Malay jg ga pny!!.

    Bahkan Malaysia beli ratusan Anoa dr Pindad dan di beri nama Rimau (Harimau). Negara kita mampu memproduksi Alutsista. Dan Malaysia cm beli dan beli.

  26.  

    Efek nya RUARRR BIAZZZAZAAAAA ! 😛

  27.  

    Ini jawaban untuk SU 35. ASU akan memperkuat para aliansinya dengan memberikan alutsista yang tidak pernah ia tawarkan pada kita. Memang tidak pernah tulus jika ASU berbuat baik pada kita.

  28.  

    kebutuhan yang sangat mendesak adalah pertahanan udara dari serangan pesawat musuh yang banyak maka kita butuh S 300 ,BUK ATAU NASAM… BIAR NDAK ADA YG TERBANG DI LANGIT RI

  29.  

    sejak awal pemerintahan mahatir muhamad,malaysia menjadi anti tesis dari indonesia.setiap masalah yang terjadi di indonesia mereka pelajari agar tidak terjadi di malays.termasuk masalah alusista mereka selalu menyiapkan solusi atas indonesia.trauma konfrontasi.pribadi,saya ga yakin malays akan ambil super hornet,pun bila dibeli pasti ada ekornya.kita tunggu saja.bukan begitu pa’ ciek…

  30.  

    Menurut Berry, versi Super Hornet yang dijual ke Malaysia disebut Blok II, yang mulai dioperasikan pada tahun 2007

    Ini maksudnya pesawat seken / bekas pakai?

  31.  

    Untung malay gak ikutan beli SU35,
    Yang apabila dipasangin brahmos maka sungguh menyeramkan untuk KRI kita.
    kini gantian kapal mereka yang meriang dengar kita mau beli SU35.
    soal super horny, aaah.. biasa aje dengernya.. 😎

    •  

      Malay xperlu beli su35, cukup 18 su mkm dipasang brahmos.:)

    •  

      sebenarnya mungkin malaysia ada keinginan untuk beli SU35…tapi tak mungkin rusia mau jual ke malaysia.
      sebab SU 35 ini penuh dengan hitech rahasia punya rusia. dan hanya diberikan kepada pelanggan yang setia dan jujur. bisa2 ntar rahasia teknologi SU35 nya jatuh ketangan USA, secara gratis.

      sedangkan malaysia sudah terlanjur tidak dipercaya oleh sukoi…dg membongkar rahasia knirty ke USA pada kasus SU30 mKM nya. Dan kehandalan pemerintah malaysia dalam membayar cicilan su nya yang terdahului menjadi track record yang jelek….. dalam pembelian su berikutnya.

      sudah berapa tahun tuh malay gak sanggup membayar cicilan sukoinya….alias sudah 3 tahun tak bayar cicilan. karena kas negara mereka yang kecil. jangankan bayar cicilan…lhah uang untuk hankam nya saja sudah dipotong banyak. itu data tahun 2013 lho.

  32.  

    yg komen di atas sana. Sales bangun kok kesiangan… Comen aja kopian malah ngawur lagi, bangun yg pagi ya,.. cuci muka dulu baru buka HP. Ngimpi kok di bawa comen. Salut si salut comenya, terlalu gragas komen ya gini ni jadinya. Namaya aja sales m,u gimana lagi.

  33.  

    jangan sombong temen2 ingat bangsa kita makin berisi makin merunduk, semoga negara kita makin jaya militer kuat, ekonomi kuat, rasa bela tanah air juga kokoh dankuat amin….

  34.  

    Tampilan pesawatnya oke, lekuknya itu loh. nah kalo diajak tempur jago kagak.. belum pernah dog fight yah ni pespurnya. ada info?? maklum masih newbie.

  35.  

    Gak usah iri sama negara tetangga…apa yang dibeli pemerintah kita sudah melalui berbagai kajian…strategi militer kita beda sama mereka…kemampuan prajurit TNI sangat hebat gak usah diragukan..sehebat hebatnya alutsista kalo gak bisa dipake juga percuma….contoh tuh kopassus..pake SS aja bisa juara menembak berkali kali..padahal senjata buatan pindad itu sering dipandang sebelah mata oleh mereka toh nyatanya dipake prajurit kopassus bisa juara…yang penting kita percayain aja sama petinggi TNI mereka pasti sudah menyusun Renstra yang hebat….Bravo TNI…NKRI HARGA MATI..

  36.  

    1. TNI AU 3 Skuadron SU35/PAK FA (Dicover 10 Unit S400)
    2. TNI AD 200 Tank Armata
    3. TNI AL 20 KS AMUR & KILO CLASS

    Wewww Semuanya buatan Russia…

  37.  

    mereka sangup menyamar jadi orang indonesia dan malaysia di sebab politik kotar.dan sempit, saya minta orang indonesia berhati2 propaganda mereka ini, kami sudah lama kesan mereka ini

  38.  

    April 25, 2016
    kok MALON belum beli F/A-18 E/F Super Hornet dengan rdar AESA ??

    sudahlah maLon, hadapi kenyataan saja, tak da duitkan?
    beli saja N219 produk PT Dirgantara Indonesia, bisa kok buat patroli sambil bawa 19 tentara mu

 Leave a Reply