Qatar : Tuntutan 4 Negara Arab, Didisain untuk Ditolak

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Qatar : Tuntutan 4 Negara Arab, Didisain untuk Ditolak
Jul 032017
 
Pasukan Militer Qatar (Alriyadh.com)

Roma – Tuntutan-tuntutan yang dibuat empat negara Arab terhadap Qatar didisain untuk ditolak, ujar Menteri Luar Negeri Qatar Syeh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, 1/7/2017.

Menlu itu yang berbicara kepada wartawan di Roma menjelaskan bahwa ultimatum mereka bertujuan bukan untuk menangani terorisme melainkan membatasi kedaulatan negerinya.

Walau demikian Syeh Mohammed mengatakan Doha masih siap untuk duduk di meja perundingan dan membahas keluhan-keluhan yang diangkat oleh negara-negara Arab tetangganya.

Ia berbicara menjelang tenggat waktu yang ditetapkan oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain dan Mesir bagi Doha untuk menerima 13 tuntutan. Para pejabat mengatakan tuntutan-tuntutan itu bertujuan untuk mengakhiri percekcokan yang meledak bulan lalu atas tudingan-tudingan bahwa Qatar mendukung terorisme, tuduhan yang dibantahnya.

“Daftar tuntutan ini dibuat untuk ditolak. Bukan dimaksudkan untuk diterima atau … untuk dirundingkan,” kata Syeh Mohammed, yang menambahkan bahwa Qatar bersedia melakukan dialog lebih lanjut dengan syarat-syarat yang layak.

Tuntutan-tuntutan tersebut mencakup pemutusan hubungan dengan kelompok-kelompok teroris, penutupan saluran televisi satelit Al Jazirah, penurunan tingkat hubungan dengan Iran dan penutupan pangkalan udara Turki di Qatar.

Negara-negara Arab telah menegaskan bahwa tuntutan-tuntutan itu tidak dapat dirundingkan dan memperingatkan bahwa langkah-langkah lebih lanjut yang tak disebutkan secara khusus akan diambil jika Qatar tidak mematuhi.

Tetapi Syeh Mohammed tak mau menyerah.

“Menyangkut tuntutan-tuntutan tersebut dan sikap kami, kami sudah dari awal sangat jelas mengenai hal ini. Kami tidak akan menerima apapun yang melanggar kedaulatan kami atau apapun yang diberlakukan atas Qatar,” katanya, dilansir Antara, 2/7/2017.

Putin Bahas Krisis dengan Pemimpin Qatar dan Bahrain

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Putin Bahas Krisis dengan Pemimpin Qatar dan Bahrain
Jul 032017
 
Presiden Rusia Vladimir Putin duduk dalam kokpit jet tempur Su-27. © Vladimir Rodionov

Moskow – Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pembahasan dengan para pemimpin Qatar dan Bahrain melalui telepon, dan menekankan perlunya diplomasi untuk mengkahiri perselisihan antara Qatar dan beberapa negara lain Arab, ujar Kremlin, 1/7/2017.

Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain memutuskan hubungan dengan Qatar bulan lalu, menuduhnya mendukung terorisme dan membuka keretakan dalam beberapa tahun di antara beberapa negara paling kuat di dunia Arab.

Moskow berusaha mengambil sikap hati-hati dalam pertikaian itu sejak ingin memiliki hubungan baik baik dengan Qatar maupun Arab Saudi.

Rusia mendukung Presiden Bashar al-Assad dalam konflik Suriah yang telah berlangsung enam tahun dan dekat dengan Iran, yang hubungannya dengan Saudi putus.

Rusia menjual saham di perusahaan minyak negara Rosneft ke Qatar tahun lalu dan telah mengkoordinasikan pemotongan keluaran minyak dengan pihak Saudi sebagai bagian dari perjanajian global untuk mengangkat harga minyak.

Kremlin, yang mengumumkan pembicaraan telepon dengan para pemimpin Qatar dan Bahrain itu dalam dua pernyataan terpisah di lamannya pada Sabtu, tidak mengatakan kapan peembicaraan-pembicaraan tersebut berlangsung.

Kremlin mengklarifikasi bahwa pembicaraan-pembicaraan terjadi atas inisiatif Qatar dan Bahrain.

“Vladimir Putin menekankan pentingnya usaha-usaha diplomasi-politik yang bertujuan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan pandangan dan normalisasi situasi sulit itu yang muncul,” demikian pernyataan tersebut mengenai pembicaran-pembicaraan antara Putin dan Emir Qatar Syeh Tamim bin Hamad al-Thani.

Para pemimpin Rusia dan Qatar juga membahas kerja sama antara negara-negara mereka dalam bidang energi dan investasi.

Putin mengatakan kepada Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifa bahwa hendaknya ada dialog langsung antara semua pihak yang bertikai dengan Qatar.

Kremlin mengatakan bulan lalu bahwa adalah kepentingan Rusia bahwa situasi di Teluk stabil dan damai, dilansir ANTARA, 2/7/2017.

Semakin Lama Krisis Qatar, Konflik Semakin Mengeras

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Semakin Lama Krisis Qatar, Konflik Semakin Mengeras
Jun 282017
 
Pasukan Turki tiba di Qatar 23/6/2017 (Mohamed bin Khaled / @MbKS15)

Berlin – Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel 27-6-2017 menyeru semua pihak yang terkait krisis Qatar untuk melakukan pembicaraan langsung agar terhindar dari peningkatan ketegangan. Jerman juga mendesak Iran untuk memainkan peranan yang membangun.

“Semakin lama krisis Qatar berlangsung, konflik akan semakin dalam dan mengeras,” ujar Gabriel setelah selama 90 menit melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

“Kami berharap pembicaraan secara langsung akan segera terwujud di antara semua pihak yang terkait karena peningkatan krisis tidak akan menguntungkan siapa pun”, ujar Gabriel.

Ia menambahkan perjanjian tahun 2015, ketika negara-negara besar mencabut sanksi internasional terhadap Iran, sebagai imbalan atas kesediaan Teheran mengendalikan program nuklirnya, yang telah membantu mengendalikan kemungkinan konflik militer.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik perjanjian itu namun Gabriel mengatakan Jerman dan Eropa akan menentang upaya-upaya pembatalan kesepakatan tersebut.

Gabriel mengatakan Iran dan Jerman masih merupakan “dunia yang terpisah” terkait hak keberadaan Israel, yang disebutnya “tidak dapat diutak-atik”. Tetapi,  Gabriel mengatakan dia dan Zarif telah mulai membahas masalah tersebut dan banyak masalah lainnya.

Menlu Jerman itu mengatakan Presiden Iran Hassan Rouhani sedang berupaya membuat Iran lebih menarik bagi para penanam modal asing. Upaya tersebut merupakan bagian dari tujuan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat Iran.

Gabriel mengatakan Iran sebetulnya juga bisa meningkatkan posisinya dengan membantu menurunkan ketegangan di kawasan.

Zarif mengatakan Iran tertarik untuk berupaya mencari penyelesaian politik dalam konflik dengan Qatar.

Qatar, tidak seperti negara-negara tetangga lainnya di kawasan Teluk, tetap menjalin hubungan baik dengan Teheran, dengan alasan bahwa “tekanan dan sanksi dan blokade” bukan merupakan jawaban.

Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain pada 5 Juni 2017 memutuskan hubungan dengan Qatar atas tuduhan bahwa negara itu mendukung milisi-milisi Islamis. Qatar membantah tuduhan tersebut.

Sejak memutuskan hubungan, keempat negara mengeluarkan 13 tuntutan, termasuk penutupan stasiun televisi Al Jazeera, pengekangan hubungan dengan Iran, penutupan pangkalan Turki dan agar membayar kerugian.

Gabriel mengatakan melihat daftar tuntutan itu sebagai “titik awal perundingan, tapi bukan akhir”.

Zarif mengundang Gabriel untuk berkunjung ke Iran di tengah upaya kedua negara memperluas hubungan bisnis dan perdagangan.

Antara/Reuters

13 Tuntutan Negara Arab, untuk Akhiri Krisis Qatar

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada 13 Tuntutan Negara Arab, untuk Akhiri Krisis Qatar
Jun 232017
 
Doha, Qatar (pixabay.com)

Dubai – Empat negara Arab, yaitu Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir dan Bahrain, telah mengirimkan 13 tuntutan kepada Qatar, termasuk penutupan televisi Al Jazeera dan mengurangi kedekatan hubungan dengan Iran, sebagai syarat untuk mengakhiri krisis di kawasan tersebut.

Tuntutan ini disampaikan 23/6/2017, sebagai upaya untuk mengakhiri krisis di Teluk Arab setelah empat negara tersebut memutuskan hubungan dengan Qatar dengan tuduhan mendukung kelompok teroris.

Qatar, negara yang mempunyai kebijakan politik lebih terbuka, termasuk menjalin hubungan dekat dengan Iran, serta mendukung gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, telah menimbulkan kekhawatiran bagi negara Arab lainnya, terutama Saudi Arabia yang masih konservatif.

Tuntutan lainnya adalah menutup pangkalan militer Turki di Qatar.

Qatar juga dituntut agar mengumumkan secara resmi hubungan mereka dengan gerakan teroris, serta kelompok militan lainnya, termasuk Ikhwanul Muslimin, ISIS, al Qaeda, Hezbullah dan Jabhat Fateh al Sham.

Namun sejauh ini Qatar selalu membantah tuduhan keempat negara yang sejak 5 Juni lalu memutuskan hubungan diplomatik serta hubungan ekonomi dengan Qatar.

Pejabat Pemerintah Qatar belum mengeluarkan tanggapan atas 13 tuntutan tersebut.

Senin lalu, Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani menegaskan bahwa Qatar tidak akan bernegosiasi dengan keempat negara tersebut, kecuali jika mereka mencabut sanksi terhadap Qatar.

Keempat negara tersebut memberikan waktu sepuluh hari kepada Doha untuk memberikan jawaban, tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut jika 13 tuntutan tersebut tidak dipenuhi oleh Qatar.

Sementara itu Presiden AS Donald Trump juga ikut menuduh Qatar telah berperan sebagai “sponsor tingkat tinggi” kepada kelompok teroris, namun di lain pihak, menawarkan bantuan kepada para pihak yang bersengketa untuk segera mencari solusi.

Turki yang mendukung Qatar selama krisis yang sudah berlangsung sejak tiga minggu lalu itu, telah mengirimkan kapal yang membawa bantuan makanan, serta mengirimkan pasukan dan senjata lengkap.

Antara/Reuters

Qatar Tarik Pasukan dari Djibouti dan Eritrea

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Qatar Tarik Pasukan dari Djibouti dan Eritrea
Jun 152017
 
Militer Qatar (Staff Sgt. Kenneth Holston)

Doha – Qatar telah menarik tentaranya dari perbatasan antara Djibouti dan Eritrea, di mana negara-negara Teluk telah bertindak sebagai mediator dalam sengketa perbatasan, kata kementerian luar negeri Qatar, 14/6/2017.

Qatar tidak memberi alasan penarikan tapi langkah itu dilakukan saat Qatar menghadapi krisis diplomatik besar dengan beberapa negara tetangganya di Teluk Arab. Mereka memutuskan hubungan sepekan yang lalu, menuduh Doha mendukung milisi Islam dan Iran. Qatar membantah keras hal ini.

“Qatar telah menjadi mediator diplomatik yang tidak memihak untuk menyelesaikan krisis dan perselisihan antara negara-negara bersaudara dan bersahabat dan akan terus menjadi pemain utama di masyarakat internasional,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.

Negara itu tidak menentukan jumlah pasukan yang terkena dampak.

Qatar telah menginformasikan pemerintah Djibouti di wilayah tersebut terkait penarikan itu, kata kementerian tersebut.

Media milik Arab Saudi melaporkan bahwa Djibouti telah mengurangi tingkat keterwakilan di Qatar.

Diplomat senior Uni Emirat Arab (UAE) sebelumnya mengatakan daftar yang dikeluarkan mengenai 59 orang dan 12 organisasi yang berkaitan dengan terorisme memberi Qatar kesempatan untuk mengubah kebijakannya.

Daftar itu adalah kesempatan buat Qatar “untuk mengubah arah dari sifat cepat marah dan peningkatan”, setelah daftar “kelompok teror dan pelaku teror” yang memiliki hubungan dengan Qatar dikeluarkan oleh Arab Saudi, UAE, Bahrain dan Mesir, kata Anwar Gargash, Menteri Negara UAE Urusan Luar Negeri, di akun Twitternya.

Penyelesaian hanya dapat dicapai “memalui diplomasi, bukan memiliki ‘bersekutu’ dengan Turki dan Iran, dan titik awal dalam menangani keprihatinan saudara mereka mengenai kestabilan dan keamanan mereka”, ia menambahkan, sebagaimana diberitakan Xinhua.

Iran telah menawarkan untuk menyediakan makanan buat Qatar setelah Arab Saudi menutup satu-satunya perbaasan darat negeri tersebut dan wilayah udaranya buat pesawat Qatar.

Pada Jumat, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mensahkan satu keputusan oleh Parlemen Turki untuk mengirim sebanyak 5.000 prajurit ke Qatar.

Erdogan juga menyerukan pencabutan blokade terhadap Qatar, dan kembali menegaskan dukungan Turki buat negara Arab tersebut.

Ia mendesak Arab Saudi agar mengakhiri semua blokade atas Qatar dan menyelesaikan pertikaian saat ini melalui pembicaraan.

Pekan lalu, Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan menjatuhkan sanksi atas negara Arab tersebut dengan alasan Doha mendukung terorisme, sementara Libya, Yaman dan Maladewa mengikuti langkah Arab Saudi.

Qatar telah membantah tuduhan itu sebagai “tidak benar” dan “tanpa dasar”.

Antara/Reuters

Turki : Krisis Qatar Merusak Dunia Islam

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Turki : Krisis Qatar Merusak Dunia Islam
Jun 152017
 
Doha, Qatar (StellarD / commons.wikimedia.org)

Ankara – Krisis yang disebabkan oleh pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar oleh beberapa negara Arab merusak dunis Islam dan Turki berusaha memebantu meneyelesaikan isu tersebut melalui diplomasi, ujar juru bicara Presiden Turki Tayyip Erdogan 14/6/2017.

Ibrahim Kalin yang berbicara dalm jumpa pers mengatakan Turki mengirim bantuan makanan ke Qatar setelah negara-negara Teluk Arab tetangganya memutuskan hubungan dengan Qatar dan memberlakukan sanksi-sanksi karena dituduh mendukung terorisme dan rivalnya di kawasan Iran.

Kalin juga mengatakan sebuah pangkalan militer Turki di Qatar, yang dibuka sebelum krisis tersebut, dibangun untuk menjamin keamanan di seluruh kawasan dan tidak mempunyai tujuan untuk aksi militer terhadap negara manapun.

Sebelumnya Presiden Turki Tayyip Erdogan dilaporkan pada Selasa mengecam pengucilan Qatar, menyebutnya tidak manusiawi dan melawan nilai Islam, serta menyatakan cara untuk melawan negara Teluk itu tidak dapat diterima dan serupa dengan hukuman mati.

Pembelaan Erdogan terhadap Qatar itu, dalam pidato parlemen kepada anggota Partai AK-nya, yang berkuasa, muncul sesudah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan dengan Doha pada pekan lalu, menuduhnya mendukung pegaris keras dan Iran, yang menyatakannya tidak berdasar.

“Kesalahan sangat besar dilakukan atas Qatar, mengucilkan negara di semua bidang tidak manusiawi dan bertentangan dengan nilai Islam. Keputusan itu seperti hukuman mati untuk Qatar,” kata Erdogan.

“Qatar menunjukkan sikap paling menentukan terhadap kelompok teroris IS bersama Turki. Menghukum Qatar melalui gerakan kotor tidak berguna,” katanya.

Erdogan juga menyatakan akan mengadakan pembicaraan telepon pada Selasa dengan timpalannya dari Prancis Emmanuel Macron dan Amir Qatar Sheikh Tamim Bin Hamad Al-Thani untuk membahas perkembangan terkini.

Ia menyatakan Raja Saudi, sebagai negarawan tertua di kawasan Teluk, harus memimpin upaya mengatasi kemelut tersebut.

Erdogan juga akan membahas perselisihan itu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa hari mendatang, kata menteri luar negeri Turki pada Selasa.

Presiden Turki berjanji tetap mendukung Qatar dan menyatakan perselisihan itu harus diselesaikan sebelum bulan suci Ramadhan berakhir.

Antara/Reuters

Chad Panggil Pulang Dubes di Qatar. Mauritania Putuskan Hubungan

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Chad Panggil Pulang Dubes di Qatar. Mauritania Putuskan Hubungan
Jun 092017
 
N’Djamena, Chad (Rossignol Georges / commons.wikimedia.org)

N’Djamena – Chad memanggil pulang duta besarnya dari Qatar untuk berkonsultasi, ungkap kementerian luar negeri Chad, Kamis, 8/6/2017.

Dengan mengambil langkah itu, Chad bergabung dengan negara-negara Afrika lainnya dalam menunjukkan dukungan kepada Arab Saudi dan negara-negara Teluk di tengah keretakan hubungan yang memburuk di kawasan tersebut.

Pengumuman Kemenlu Chad muncul satu hari setelah Senegal juga memanggil pulang duta besarnya dari Doha sebagai “solidaritas aktif” kepada Arab Saudi.

Mauritania, yang merupakan anggota Liga Arab, pada Selasa memutuskan hubungannya dengan Qatar, menyusul langkah serupa yang sudah lebih dulu diambil oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir.

Sementara itu, Gabon menyatakan kecaman terhadap Doha.

“Pemerintah Chad mengimbau semua pemerintah (negara) terkait untuk melakukan dialog guna menyelesaikan krisis ini dan meminta Qatar untuk menghormati komitmen-komitmennya dengan menghentikan tindakan yang dapat mengganggu hubungan erat negara-negara di kawasan dan perdamaian di dunia,” kata kementerian luar negeri dalam pernyataan.

Bahrain : Jaga Jarak dari Iran, hentikan dukung “organisasi teroris”

Menteri luar negeri Bahrain mengatakan menghargai penengahan Kuwait untuk menyelesaikan perselisihan sejumlah negara Arab dengan Qatar, kata harian Arab Saudi, “Makah”, pada 7/6/2017, namun semua pilihan terbuka bagi negaranya untuk melindungi diri dari Doha.

Bahrain, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan beberapa negara lain memutuskan hubungan dengan Doha pada Senin, menuduhnya mendukung pegaris keras dan musuh mereka, Iran. Namun, menurut Qatar, tuduhan itu sama sekali tidak berdasar.

Penguasa Kuwait, Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, melakukan perjalanan dari Uni Emirat Arab ke Qatar pada Rabu setelah berkunjung ke Arab Saudi sehari sebelumnya untuk mengatasi kemelut itu.

Tapi, beberapa tanggapan terkuat terkait upaya itu, yang dikemukakan pejabat tinggi Teluk, Sheikh Khalid bin Ahmed al-Khalifa dari Bahrain, dilaporkan mengatakan kepada surat kabar itu bahwa Bahrain meragukan apakah Qatar akan mengubah perilakunya.

“Emir Kuwait adalah utusan baik, tapi kebijakan Qatar belum tentu menyukseskan usahanya,” kata Sheikh Khaled sebagaimana dikutip “Makah”.

“Kami tidak akan ragu untuk melindungi kepentingan kami dan pilihan kami terbuka untuk melindungi diri kami dari Qatar. ” Sementara itu, Menteri Luar Negeri Qatar Syeh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan Qatar tidak siap untuk mengubah kebijakan luar negerinya guna menyelesaikan perselisihan dengan negara lain Teluk Arab dan tak akan pernah berkompromi.

Qatar akan menghormati perjanjian-perjanjian gas LPG yang telah ditandatangani dengan Uni Emirat Arab (UAE) kendati pemutusan hubungan dengan Doha, kata dia.

Menurut dia, Iran telah mengatakan kepada Doha siap membantu menjamin pasokan makanan dan Teheran akan menunjuk tiga dari pelabuhannya ke Qatar tetapi tawaran itu belum diterima.

Pada bagian lainnya, Menlu Qatar menyatakan perselisihan itu mengancam stabilitas keseluruhan kawasan dan menambahkan diplomasi masih dikedepankan oleh Doha dan tidak pernah ada solusi militer untuk mengatasi masalah tersebut.

Ia mengatakan Qatar tidak pernah mengalami sejenis permusuhan itu, bahkan dari satu negara musuh.

Dikatakannya tak ada perubahan dari pengerahan militer Qatar dan belum ada tentara digerakkan.

Ia berbicara setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain dan beberapa negara lainnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Doha pada Senin dan menutup hubungan transportasi.

Qatar menyatakan tuduhan-tuduhan tersebut tak berdasar.

Dari Dubai, Reuters melaporkan Menteri Luar Negeri Bahrain Syeh Khalid bin Ahmed al-Khalifa yang tetap menekan Qatar mengulangi lagi pada Kamis sebuah tuntutan bahwa Doha agar menjaga jarak dari Iran dan menghentikan dukungan bagi “organisasi teroris”.

Dalam wawancara disiarkan surat kabar “Asharq al-Awsat”, yang terbit di Saudi, Syeh Khalid mengatakan bahwa yang diajukan keempat negara itu untuk penyelesaian kemelut tersebut “sudah jelas seperti kristal”.

Antara/Reuters

Militer Qatar Tinggalkan Koalisi Pimpinan Arab Saudi

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Militer Qatar Tinggalkan Koalisi Pimpinan Arab Saudi
Jun 092017
 
Latihan Pasukan Qatar dengan USMC (Cpl. Christopher Q. Stone/US Marines Corp)

Doha – Angkatan bersenjata Qatar yang ditempatkan di Arab Saudi sebagai bagian dari koalisi pimpinan Arab Saudi untuk memerangi kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman, kembali ke Qatar, 6/6/2017 ujar televisi pemerintah di akun Twitter-nya.

Pasukan Qatar telah ditempatkan di Arab Saudi bagian selatan, untuk memperkuat pertahanan Arab Saudi untuk melawan serangan Houthi.

Arab Saudi, yang bersama beberapa negara Arab lainnya telah memutuskan hubungan dengan Qatar dengan tuduhan mendukung terorisme dan memiliki hubungan dengan Iran, mengatakan bahwa Doha telah dikeluarkan dari koalisi yang dibentuk pada 2015 untuk melawan kelompok Houthi yang menguasai sebagian besar Yaman bagian utara.

Sementara itu, Organisasi Kerja sama Islam (OKI) meminta Qatar untuk menghormati komitmennya dalam upaya bersama melawan terorisme, menyusul keputusan beberapa negara Arab untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar karena dianggap mendukung kegiatan dan kelompok teroris.

Sekretariat Jenderal OKI menyatakan telah mengikuti perkembangan terkini di kawasan Teluk, yaitu pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar oleh banyak negara anggota OKI menyusul informasi dan bukti tindakan bermusuhan yang berasal dari Qatar, kata pernyataan pers dari Sekretariat Jenderal OKI.

Sekretariat Jenderal OKI meminta Qatar untuk menghormati komitmen dan kesepakatan yang telah ditandatangani di dalam Dewan Kerja sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), terutama yang berkaitan dengan menghentikan dukungan untuk kelompok dan kegiatan teroris.

Sekretariat Jenderal OKI menekankan perlunya semua negara anggota OKI, termasuk Qatar, untuk mematuhi prinsip-prinsip Piagam OKI, yang menyerukan untuk mematuhi kebijakan bertetangga yang baik, menghormati kedaulatan, independensi dan integritas teritorial, serta tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri dari masing-masing negara anggota.

Sebelumnya, beberapa negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Hal itu dimulai oleh Pemerintah Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir yang dalam sebuah pernyataan menyampaikan keputusan tersebut.

Pemutusan hubungan diplomatik itu disebabkan hubungan Qatar dengan Iran dan dukungan kedua negara itu terhadap kelompok-kelompok teroris yang dianggap bertujuan untuk mengacaukan wilayah Teluk.

Arab Saudi menuduh Qatar mendukung kelompok teroris yang didukung Iran, seperti kelompok Ikhwanul Muslimin, Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dan Al-Qaeda.

Selanjutnya, keempat negara yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar menutup akses ke negara Teluk tersebut. Keempat negara tersebut juga akan menangguhkan perjalanan udara dan laut dari dan ke Qatar.

Selain itu, Arab Saudi juga akan menutup penyeberangan darat dengan negara tetangganya itu.

Antara/Reuters

Menlu Qatar : Kami Tidak Siap Menyerah

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Menlu Qatar : Kami Tidak Siap Menyerah
Jun 092017
 
Pasukan Militer Qatar (Alriyadh.com)

Doha – Qatar tidak siap untuk mengubah kebijakian luar negerinya menyelesaikan perselisihan dengan negara-negara Teluk Arab lain dan tak akan pernah berkompromi, ujar Menteri Luar Negeri Qatar Syeh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani 7/6/2017.

“Kami tak siap untuk menyerah dan tidak akan pernah menyerah, kemerdekaan dari kebijakan luar negeri kami,” kata Menlu Qatar kepada wartawan di Doha.

Qatar akan menghormati perjanjian-perjanjian gas LPG yang telah ditandatangani dengan Uni Emirat Arab (UAE) kendati pemutusan hubungann dengan Doha, katanya.

Menurut dia, Iran telah mengatakan kepada Doha siap membantu menjamin pasokan makanan dan Teheran akan menunjuk tiga dari pelabuhannya ke Qatar tetapi tawaran itu belum diterima.

Pada bagian lainnya, Menlu Qatar menyatakan perselisihan itu mengancam stabilitas keseluruhan kawasan dan menambahkan diplomasi masih dikedepankan oleh Doha dan tidak pernah ada solusi militer untuk mengatasi masalah tersebut.

Ia mengatakan Qatar tidak pernah mengalami sejenis permusuhan itu, bahkan dari satu negara musuh.

Dikatakannya tak ada perubahan dari pengerahan militer Qatar dan belum ada tentara digerakkan.

Ia berbicara setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain dan beberapa negara lainnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Doha pada Senin dan menutup hubungan transportasi.

Qatar menyatakan tudduhan-tuduhan tersebut tak berdasar.

Dari Dubai, Reuters melaporkan Menteri Luar Negeri Bahrain Syeh Khalid bin Ahmed al-Khalifa yang tetap menekan Qatar mengulangi lagi pada Kamis sebuah tuntutan bahwa Doha agar menjaga jarak dari Iran dan menghentikan dukungan bagi “organisasi-organisasi teroris.” Dalam wawancara yang disiarkan surat kabar Asharq al-Awsat yang terbit di Saudi, Syeh Khalid mengatakan yang diajukan keempat negara itu untuk penyelesaian krisis “sudah jelas seperti kristal.” “Qatar harus mengubah jalannya dan harus kembali ke semua komitmen-komitmen sebelumnya, harus menghentikan kampanye media dan harus menjaga jarak dari musuh nomor satu, Iran,” kata dia.

“Negara itu harus menyadari kepentingannya dengan kami, bukan dengan negara lain yang berkonspirasi melawan kami, ingin mendominasi dan memecah belah kami. Qatar harus berhenti mendukung organisasi-organisasi teroris, Sunni atau Syiah, dan kebijaknnya harus demi keuntungan rakyatnya.” Dalam wawancara sebelumnya dengan harian Makah pada Rabu, Syeh Khalid mengatakan dia mengapresiasi Kuwait yang berperan memediasi untuk menyelesaikan perselisihan itu tetapi semua pilihan terbuka bagi negerinya untuk melindungi dirinya dari Doha.

Dalam komentar-komentar kerasnya terkait dengan usaha-usaha oleh seorang pejabat Teluk Arab, Syekh Khalid mengatakan kepada harian itu ia meragukan apakah Qatar akan mengubah sikapnya.

Raja Kuwait Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber al-Sabah, pergi dari UAE ke Qatar pada Rabu setelah mengunjungi Arab saudi sehari sebelumnya berusaha menyelesaikan kriris itu.

Antara/Reuters