Latihan Menembak Senjata Berat Kikav 3/TSC

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Latihan Menembak Senjata Berat Kikav 3/TSC
Sep 092020
 

Jakartagreater – personil Kikav 3/TSC melaksanakan latihan menembak senjata berat di lapangan tembak AWR (Air Weapon Range) Pandanwangi, Kunir, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada 28 Agustus hingga 1 September 2020.

Latihan Menembak Senjata Berat Kikav 3/TSC ( @Kikav 3/TSC)

Latihan LATBAKJATRAT KIKAV 3/TSC dilaksanakan untuk melatih personil dalam menembak senjata berat yang ada pada kendaraan tempur Kikav 3/TSC. Selain itu juga untuk menjaga kondisi serta kesiapan kendaraan tempur, maupun senjata berat yang dimiliki satuan Kikav 3/TSC, dirilis instagram Kikav 3/TSC.

Latihan Menembak Senjata Berat Kikav 3/TSC ( @Kikav 3/TSC)

Dalam latihan menembak senjata berat ini, Kompi Kavaleri Panser 3/Tupai Setia Sakti menggunakan Panser Tarantula 6×6 dan panser Panhard VBL.

Latihan Menembak Senjata Berat Kikav 3/TSC ( @Kikav 3/TSC)

Kompi Kavaleri 3 Tupai Setia Cakti adalah satuan militer dari kecabangan kavaleri organik Kodam V/Brawijaya yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pertempuran darat yang bersifat mobil dan berkendaraan tempur panser, untuk mendukung tugas pokok Kodam V/Brawijaya yang dititikberatkan pada operasi pengintaian serta pelaksanaan pengamanan objek vital dan pengamanan VIP/VVIP di seluruh wilayah Kodam V/Brawijaya, dengan markas di Sarirogo, Sidoarjo, Jawa Timur.

Latihan Menembak Senjata Berat Kikav 3/TSC ( @Kikav 3/TSC)

Kikav 3/TSC memiliki moto: “Jaya dimasa perang berguna dimasa damai”.

Latihan Menembak Senjata Berat Kikav 3/TSC ( @Kikav 3/TSC)

Panser Tarantula Jadi Target Masyarakat Madura

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Panser Tarantula Jadi Target Masyarakat Madura
Okt 252015
 
Warga Madura antusias menaiki Panser Tarantula

Kendaraan Tempur (Ranpur) milik TNI AD jenis Panser Tarantula dan Panser Anoa menjadi target masyarakat saat Pameran Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) di Alun-alun Bangkalan, Minggu (24/10/2015).

Puluhan warga harus antre menunggu giliran naik Ranpur milik Kompi Kaveleri III Serbu Sidoarjo itu. Selain itu Ranpur jenis Scorpion dan Rio juga memanjakan warga melintasi Jalan Veteran, Letnan Abdullah, A Yani, hingga Jalan Sultan A Kadirun.

Seorang warga yang tengah menunggu giliran, Abd Latif, asal Kelurahan Kraton mengaku penasaran dengan kendaraan-kendaraan perang milik TNI karena seblumnya hanya melihat dari balik layar televisi.

“Mumpung ada di sini dan diberi kesempatan, saya ingin naik. Ternyata Ranpur lebih besar dari yang saya lihat di televisi,” ungkapnya.

TNI juga memamerkan sejumlah persenjataan di antaranya Meriam 57 Mm milik Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Surabaya, Mortir 81 Mm MU29 – PE (M64) TNT, Mortir GMO – 6 LAT A2 (60 Mm LR), Screening Smoke GT-5AS, dan granat nanas GT-5OFF.

Senapan kecil mulai dari pistol hingga machine gun seperti Minimi, SS1 V1, Jat SS1 V2, Strim, SPR, Mortir 60 Co, Mortir 81 longren, Pistol P1, Pistol P2, M 16 A1, alat komunikasi Radio PRC 1077, hingga teropong juga dipamerkan.

Komandan Kodim 0829 Bangkalan Letkol Inf Sunardi Istanto menyatakan, pameran alutsista yang digelar hingga 31 Oktober 2015 merupakan bagian dari rangkaian HUT Ke-70 TNI dan Hari Jadi Kabupaten Bangkalan Ke-484.

CMI Belgia Servis Kanon Tarantula

 Headlines  Komentar Dinonaktifkan pada CMI Belgia Servis Kanon Tarantula
Feb 062015
 

Satuan Kikavser 3 Kodam V/Brw mendapatkan layanan purna jual Ranpur Tarantula dari CMI Defence Belgia. CMI Defence Belgia merupakan perusahaan pembuat senjata spesialis kanon dan turret yang memproduksi kubah Ranpur Tarantula. Pada layanan purna jual ini, dilakukan pemeliharaan sistem Kanon dan Turret Tarantula.

Tim CMI Belgia terdiri dari 3 orang : Philipe Moers (Mechanical/ Engineering of CMI Defence), Lorenzo Montemurro (Turret Assembler of CMI Defence ), dan Yves Leonard (Assembly – Leader Zone of CMI Defence), didampingi Hady Suwanto selaku rekanan CMI Defence di Indonesia.

Ketiganya melaksanakan maintenance ranpur Tarantula untuk mengecek kerusakan-kerusakan setelah ranpur tarantula diserahterimakan kepada TNI AD. Mereka juga memberikan pelatihan kepada para petembak kanon dan para komandan kendaraan Ranpur Tarantula Kikavser 3 bagaimana mengoperasionalkan sistem pada kanon tarantula yang meliputi: software Gunner Sight System (GSS), Laser Range Finder (LRF), Penyesuaian Kanon, dan Penembakan Otomatis serta Manual Kanon 90 mm Ranpur Tarantula.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terdapat temuan sebagai berikut :

1. Kubah Ranpur Tarantula nomor casis T 103 terdapat kebocoran sil karet klep penutup atas (sudah diganti) dan keretakkan kaca periskop.
2. Kubah Ranpur Tarantula nomor casis T 104 dalam kondisi baik.
3. Kubah Ranpur Tarantula nomor casis T 105 TCA dan slipring dikembalikan ke Belgia untuk perbaikan.
4. Kubah Ranpur Tarantula nomor casis T 111 terdapat keretakkan kaca periskop.
5. Kubah Ranpur Tarantula nomor casis T 112 dalam kondisi baik.
6. Kubah Ranpur Tarantula nomor casis T 113 terdapat keretakan kaca periskop.

(kikavser3.mil.id)

Uji Tembak Panser Tarantula

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Uji Tembak Panser Tarantula
Okt 092013
 
Pussenkav Lakukan Uji Tembak Meriam Panser Tarantula (photo:Pussenkav TNI-AD)

Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI-AD melakukan pelatihan penembakan meriam 90mm Cockerill, Panser Tarantula yang dilaksanakan di kawasan Cipatat Bandung Jawa Barat. Pelatihan ini melibatkan puluhan personel kavaleri dengan dua unit Panser Tarantula, yang belum lama didatangkan dari Korea Selatan.

Puluhan amunisi yang diujicoba disiapkan dari jenis HESH buatan Belgia.  Prajurit Kavaleri mencoba membidik sasaran ukuran 4×4 meter yang diletakan sejauh 1 kilometer. Dari beberapa kali uji tembak, terlihat akurasi meriam Cockerill sangat baik. Beberapa tembakan mencetak skor bulls eye, padahal kegiatan ini merupakan latihan pertama sehingga para awak belum terlalu terlatih. Meriam cockerill MK-3 90mm LP ini cukup canggih karena dilengkapi pengukur jarak laser serta penglihat malam. Dalam pelatihan juga dilakukan diujicoba menembak tanpa laser range finder, agar kemampuan awak kavaleri benar-benar teruji.

Pussenkav Lakukan Uji Tembak Meriam Panser Tarantula (photo:Pussenkav TNI-AD)

Platform Tarantula cukup stabil karena ketika meriam ditembakan, hampir tidak ada tolak balik.  Kecilnya recoil merupakan keunggulan dari meriam Cockerill MK-3. Sistem meriam 90mm Tarantula terpasang pada kubah yang dioperasikan oleh 2 awak, juru tembak (gunner) serta komandan kendaraan.

Panser Tarantula memiliki amunisi beragam, antara lain: APFSDS-T (Armor Piercing Fin Stabilised Discarding Sabot-Tracer), HEAT (High Explosive Anti Tank), HE-T, dan Canister (anti personil). Meriam 90 mm memiliki kekuatan pemukul untuk tugas-tugas: pengamanan, penyekatan, dan dukungan tembakan;  fungsi yang nantinya akan diemban oleh Panser Tarantula.

Pussenkav Lakukan Uji Tembak Meriam Panser Tarantula (photo:Pussenkav TNI-AD)

Pelatihan penembakan ini rangkaian dari pelatihan awak ranpur sebelumnya, dimana telah dilatihkan operasional radio, dan mengemudi. Pelatihan menembak juga akan dilakukan pada malam hari. (Sumber: arc.web.id)

Panser Canon Tarantula TNI AD

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Panser Canon Tarantula TNI AD
Mei 232013
 

Doosan DST Korea Selatan akhirnya menyelesaikan produksi Panser Tarantula berbobot 18 ton yang dilengkapi canon 90 mm serta senjata mesin 7,62mm/ 12,7mm. Panser Tarantula (Korsel: Black Fox) merupakan kendaraan tempur beroda 6 yang dioperasikan tiga orang (sopir, kkomandan, petembak) yang melaju dengan kecepatan maksimal 100 km/jam serta 8 km/jam di dalam air.

Menurut Doosan DST, Panser Tarantula telah disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia, sehingga dibuat lebih ringan dan memiliki kemampuan amphibi. Dengan senjata meriam 90mm dan senapan mesin, Tarantula didisain untuk bisa menyerang lawan yang memiliki kemampuan penuh ataupun bertempur dengan tank musuh. Panser ini juga memiliki kemampuan operasi gerilya: search and destroy.

Tahun 2009, TNI AD memesan Panser Canon Tarantula ke Doosan DST Korea Selatan. Panser 6×6 ini memasuki tes operasional, uji menembak dan uji manuver lapangan sejak November 2011. Setelah lulus inspeksi, panser mulai diproduksi Korea Selatan pada awal tahun 2012. Tanggal 5 Mei 2013, Doosan DST mengumumkan telah menyelesaikan produksinya untuk dikirim ke Indonesia.

Tanpa menyebutkan jumlahnya, pihak Cmenyatakan segera mengirim sejumlah Panser Tarantula ke Angkatan Darat Indonesia. Dalam pembuatan panser ini Doosan DST bertanggung jawab membangun panser dan pemasangan turret meriam. PT Pindad juga akan melakukan perakitan semi-knocked-down (SKD) di Indonesia. Menurut catatan SIPRI 2012, Indonesia memesan 22 Black Fox/ Tarantula ke Korea Selatan dan 11 diantaranya akan dirakit di Indonesia.

Masih menurut SIPRI 2012, turret dari Panser Tarantula adalah CSE 90 mm buatan CMI Defence Belgia. Turret ini mengusung meriam Cockerill MkIII 90 mm, senjata mesin 7,62mm / 12,7mm serta pelontar granat. Meriam utama dikendalikan secara elektronik dan mampu menembak sasaran di malam hari. CSE90 mm dilengkapi penjejak laser jarak jauh untuk menembakkan amunisi APFSDS-T, serta berbagai jenis amunisi lainnya.

Dengan munculnya informasi dari Doosan DST Korea Selatan ini, menunjukkan road map kendaraan tempur TNI semakin jelas. Setelah Panser Anoa, akan muncul Panser Canon Tarantula lalu disusul Tank Kerjasama FNSS Turki dan PT Pindad.

Indonesia merupakan pengguna pertama Panser Canon Tarantula Korea Selatan, sehingga belum diketahui sejauh apa ketangguhan dari Panser ini. Diharapkan Indonesia bisa mengembangkan disain dan kualitas panser ini, karena TNI AD hanya memesan 22 Panser Tarantula. (JKGR).

Panser Canon Pindad Menuju Tank Nasional

 Tidak Dikategorikan  Komentar Dinonaktifkan pada Panser Canon Pindad Menuju Tank Nasional
Mei 162012
 

Setelah melakukan riset bertahun tahun, PT Pindad sukses membuat Panser Anoa yang disainnya merujuk VAB Renault Perancis. Tak disangka, Panser ini dibeli oleh Malaysia, Brunei Darussalam dan Oman. Bahkan Bangladesh dan Nepal sedang menjajaki pembelian Panser ini. Tidak sia-sia Panser Anoa menggunakan mesin mahal Renault, karena memang terbukti handal. Mesin Renault Panser Anoa sempat dipertanyakan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat itu, karena mahal.

Nama Panser Anoa V2 berangsur angsur harum, sejak dipakai oleh Pasukan Garuda Indonesia di Lebanon. Malaysia pun membeli Anoa 6×6 untuk pasukan di Lebanon, karena Panser 4×4 Malaysia dianggap tidak cocok di Lebanon.

Pindad Naik Kelas
Kini PT Pindad mencoba naik kelas dengan membuat prototye Panser Canon 90 mm. Body panser ini lebih menyerupai APC Black Fox Korea dibanding Panser Anoa. Hull depan lebih tajam dari Anoa, untuk memaksimalkan pertahanan.

Terciptanya Panser Canon Pindad tidak terlepas dari kerjasama RI dengan Korea Selatan. Korea memberi transfer teknologi hull Tarantula, setelah Indonesia memesan 22 Panser.

Pesanan Indonesia ini cukup unik. Indonesia memesan 22 Panser Tarantula dipersenjatai Canon CSE90 mm. Padahal selama ini Tarantula hanya menggunakan senjata canon 20 mm atau 40mm. Canon CSE90 mm itu pun, dibeli Indonesia dari Belgia sebanyak 22 unit.

Korea Selatan menyetujuinya permintaan Indonesia. Namun hingga kini canon tersebut belum diinstal karena akan dikirim ke Korea Selatan tahun 2013. Perjanjiannya, 11 canon diinstal di Korea dan 11 lainnya di PT Pindad.

Sementara PT Pindad sendiri, telah menginstal Canon CSE 90 mm ke prototype Panser model Tarantula. Hal ini karena Indonesia memiliki canon CSE 90mm dari light tank Scorpion.

Canon CSE90 mm dikendalikan secara elektronik dan mampu menembak sasaran di malam hari. CSE90 mm didukung penjejak laser jarak jauh untuk menembakkan munisi APFSDS-T. CSE90 dilengkapi senjata mesin 7,62mm serta pelontar granat.

Jika demikian, untuk apa 22 Panser Tarantula yang akan dikerjakan Korea tahun 2013 ?.

Panser Tarantula memiliki varian 6×6 dan 8×8. PT Pindad bisa mengadopsi Tarantula 8×8, untuk dipasang Cockerill CT-CV Canon 105 mm, dengan misil anti-tank Falarick 105, atau TOW misil anti-tank. Panser 8×8 memiliki kestabilan yang lebih bagus, sehingga memiliki kemampuan tembak lebih akurat. untuk canon besar atau TOW.

Panser Tarantula bisa diangkut dengan C-130 Hercules dan mampu mengangkut 12 personil. Sementara Anoa hanya 10 personil.

Tank Medium atau IFV ?d
Langkah selanjutnya, pada tahun 2014, Pindad akan memproduksi tank medium, untuk memenuhi kebutuhan pertahanan TNI Angkatan Darat. Presiden SBY dan Komisi 1 DPR telah menyetujuinya. Namun tank medium itu, tampaknya tidak akan terwujud dalam waktu dekat.

Saat ini Pindad sedang mendalami Tank K 21 Korea Selatan dan Armored Combat Vehicle ACV 300 Turki. Namun kedua lapis baja itu, berfungsi sebagai Infantry Fighting Vehicle (IFV) dan pengangkut pasukan, bukan tank tempur.

Untuk itu lapis baja tersebut tidak membawa canon berat. Tank K 21 hanya dilengkapi canon 40mm dan misil TOW untuk anti-tank. Sementara ACV dilengkapi senjata 25mm M242 Bushmaster chain gun.

Melihat fakta tersebut tampaknya PT Pindad hanya akan membuat tank pengangkut pasukan, Infantry Fighting Vehicle atau tank destroyer.

Indonesia telah memiliki kisah menggabungkan lapis baja recognaisance Scorpion dengan Canon 90mm. Akibatnya, saat bergerak, tank Scorpion Indonesia terlihat doyong ke depan karena membawa canon besar.

Mengapa memilih Tank K 21 ?
Indonesia juga telah bekerjasama dengan Korea untuk membuat Tank K 21. Jika sudah ada ACV 300, untuk apalagi IFC K 21 ?

Tank K 21 Korea bisa dikatakan cacat secara struktur. Korea mengembangkan Tank K 21 mengacu pada U.S. Army M2A3 dan BMP-3 Rusia, dengan tujuan memiliki kemampuan amphibi. Namun tank K 21 telah dua kali tenggelam dalam ujicoba di sungai dan danau.

Kasus terakhir terjadi Juli 2010 yang menewaskan prajurit dan teknisi Korea Selatan. Tank seberat 25-30 ton itu tenggelam saat memasuki danau. Evakuasi dilakukan tiga jam kemudian, namun kru K 21 telah tewas. Diduga K 21 tenggelam karena kesalahan sistem saluran udara mesin.

Saat ini Pindad telah membuat tank mirip BTR 50. Sementara Tank K 21 merujuk pada model BMP 3 Rusia. Lalu K 21 untuk apa ?
Di bawah ini varian awal prototype tank yang telah dibuat PT Pindad.

ACV 300 Turki
Bagaimana dengan ACV 300 Turki ?. Ada kabar ACV 300 akan dipasang canon 90 mm atau 105 mm. Sangat riskan jika Pindad memaksakan seperti itu. Pengguna ACV 300 seperti UEA, Malaysia dan Philipina tidak memasang canon 90 mm ke ACV 300, termasuk negara pembuatnya Turki.

Turki mengembangkan varian ACV 300, lebih sebagai Tank Destroyer (ACV-ATV). ACV 300 diinstal TOW Under Armor (TUA) turret, misil anti-tank. Sementara untuk tank tempur, Turki menggunakan: MBT Leopard 2A4, Leopard 1, M60 A, serta M48A5.

ACV Tank Destroyer

Terlepas dari hal itu, saat ini para ahli Pindad sedang mempelajari sistem olah gerak dan suspensi ACV 300 Turki.

Tank Nasional
Kalau melihat uraian di atas, tank Indonesia ke depan kayaknya akan seperti pasar malam. Ada Panser Anoa, Panser Canon Pindad, Tarantula, K 21, ACV 300. Lalu sperti apa bentuk Tank Nasional yang bisa diandalkan ?

Ada baiknya Indonesia memilih MBT KIA1 Korea Selatan, untuk dijadikan Tank Nasional. K1A1 Korea Selatan mengusung meriam advance 120mm M256. Canon M256 merupakan canon yang diinstal di tank M1A1 Abrams.

Samsung Thales juga menyediakan sistem kendali penembakan yang dilengkapi dua varian thermal imager, penjejak infra merah serta Kamera TV Pengintai.

Belum lagi Tank MBT Leoprad 2A6, sudah pasti akan datang ke tanah air. PT Pindad tentunya akan membogkar habis tank tersebut, untuk dipelajari. Jerman juga sudah menjanjikan transfer teknologi terbatas untuk Leopard 2A6. Tank Nasional nantinya bisa saja menggunakan canon canggih Canon 120mm rheinmentall milik MBT Leopard 2A6.

Sementara ACV 300 Turki atapun K21, bisa dikembangkan ke versi support fire, tank destroyer TUA missil, mortar ataupun self propelled anti air gun.(Jkgr).