Feb 222016
 
Empat kapal Vietnam diledakkan di Pulau Datuk, Mempawah, Kalimantan Barat, (22/2/2016). (Antara/Jessica Helena Wuysang)

Batam – TNI AL dan Kementerian Kelautan & Perikanan (KKP) menenggelamkan tujuh kapal ikan berbendera Malaysia dan tiga berbendera Vietnam di perairan Batam, Kepulauan Riau, Senin, 22/2/2016.

“Kami akan terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk mengamankan dan menjaga sumber daya kelautan di perairan Kepulauan Riau,” ujar Danlantamal IV Kolonel S Irawan.

Penenggelaman kesepuluh kapal menggunakan bahan peledak low explosive, agar tidak merusak ekosistem dan terumbu karang. Di samping itu badan kapal yang tenggelam bisa menjadi tempat ikan berkembang biak.

Proses eksekusi dilaksanakan Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmabar, sedangkan proses pengawasan dan pengamanan dilakukan KRI Parang-647, KAL Nipa dan 1 Sea Rider dari Lanal Batam, sedangkan DKP menerjunkan KP 3212 untuk unsur VIP.

Selain di Batam, di hari yang sama juga dilakukan penenggelaman kapal ikan asing, serentak di berbagai tempat di Pontianak 8 kapal, Bitung 12 kapal dan Tahuna 1 kapal.

Pelaksanaan eksekusi penghancuran kapal dilakukan, setelah proses hukum kapal-kapal tindak pidana kelautan dan perikanan tersebut berstatus inkracht / berkekuatan hukum tetap.

Antara

 Posted by on Februari 22, 2016
Agu 182015
 

Pontianak – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menenggelamkan 38 kapal nelayan asing pelaku illegal fishing, secara serentak di sejumlah titik, dalam rangkaian peringatan HUT ke-70 RI secara serentak, Selasa (18/8/2015). Penenggelaman 38 kapal asing tersebut akan dilakukan di enam lokasi berbeda, yaitu di perairan Pontianak, Bitung, Belawan, Ranai, Tarempa, dan Tarakan.

Proses penenggelaman kapal asing ini merupakan sinergi kerja sama antara KKP dengan TNI-AL, Polri, Kejaksaan Agung dan berbagai instansi terkait lainnya. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Asep Burhanudin mengatakan, dari 38 kapal, yang merupakan hasil tangkapan KKP sebanyak 21 kapal, TNI AL sebanyak 12 kapal, dan Polri sebanyak 5 kapal.

“KKP akan melakukan penenggelaman di perairan Pontianak sebanyak 15 kapal, perairan Bitung sebanyak 8 kapal, dan perairan Belawan sebanyak 3 kapal” kata Asep, Selasa (18/8/2015).

Selain itu, lanjut Asep, TNI AL juga akan menenggelamkan dari lokasi yang berbeda. Lokasi tersebut yaitu perairan Ranai sebanyak 5 kapal, perairan Tarempa sebanyak 3 kapal, dan perairan Tarakan sebanyak 4 kapal.

Kapal yang akan ditenggelamkan KKP di perairan Pontianak terdiri dari 10 kapal Vietnam, 1 kapal Thailand, dan 2 kapal asal Indonesia. Sedangkan yang ditenggelamkan di perairan Bitung terdiri dari 8 kapal asal Filipina. Di perairan Belawan, akan ditenggelamkan 1 kapal asal Malaysia dan 2 kapal asal Indonesia.

TNI AL juga akan menenggelamkan 3 kapal Thailand, dan 2 kapal Vietnam di perairan Ranai. Di perairan Tarempa, TNI AL juga akan meneggelamkan 1 kapal Thailand dan 2 kapal Vietnam. Sedangkan untuk penenggelaman kapal di perairan Tarakan terdiri dari 3 kapal Filipina dan 1 kapal Malaysia.

“Penenggelaman dilakukan dengan menggunakan dinamit daya ledak rendah, sehingga kondisi kapal tetap terjaga dan dapat berfungsi menjadi rumpon di lokasi penenggelaman kapal” ucap Asep.

Kompas.com

 Posted by on Agustus 18, 2015
Mei 202015
 

(Bitung, 20 Mei 2015). Setelah sukses menenggelamkan sejumlah kapal asing di perairan Kepri, di Ambon, dan di beberapa tempat lainnya, kini TNI Angkatan Laut (TNI AL) bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali menenggelamkan 35 kapal ikan asing secara bersamaan di lima tempat, yakni di: Bitung 15 kapal, Ranai 17 kapal, belawan 1 kapal, Tj. Balai Asahan 1 kapal, dan di Lhokseumawe 1 kapal, Rabu (20/5/2015).

Proses penenggelaman diawali dengan peledakan oleh sejumlah prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL. Suara ledakan keras terdengar dari KN. Singa Laut yang ditumpangi rombongan VVIP, disusul kobaran api dan kepulan asap membumbung tinggi, beberapa menit kemudian kapal ikan asing itu menghilang dari pandangan mata dan tenggelam ke dasar lautan.

Pangarmatim Laksamana Muda TNI Darwanto, S.H., M.A.P. menyaksikan langsung proses penenggelaman Kapal Ikan Asing tersebut dari atas geladak KN. Singa Laut yang tengah berlayar dengan kecepatan rendah dengan posisi tidak jauh dari lokasi penenggelaman kapal-kapal tersebut.

Menurut Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Manahan Simorangkir, semua kapal ikan asing tersebut telah mendapatkan penetapan dari pengadilan berupa persetujuan untuk dimusnahkan atau ditenggelamkan.

Penenggelaman tersebut, lanjutnya, merupakan bagian dari proses hukum yang berlaku di Indonesia khususnya dalam penegakan hukum di laut, karena telah melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia secara illegal.

Tindakan pemusnahan Kapal Ikan Asing dengan cara ditenggelamkan ini mendapatkan legitimasinya sesuai ketentuan Pasal 69 Ayat 4 Undang-Undang Perikanan Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan yang menyatakan “benda dan/atau alat yang digunakan dalam dan/atau yang dihasilkan dari tindak pidana perikanan dapat dirampas atau dimusnahkan setelah mendapat persetujuan ketua pengadilan negeri”, tegas Kadispenal.

Dari sejumlah kapal ikan asing yang ditenggelamkan tersebut, 4 kapal diantaranya merupakan tangkapan KRI Slamet Riyadi (KRI SRI)-352, yakni: FB LB Vient-09 nahkoda Yoyong, pemilik Marchael Sea Ventures, FB Santo Tomas nahkoda Michael S Alberoa pemilik Lagodas, FB San Jose nahkoda Roky Mahenang pemilik Lagodas dan FB Santa Crus nahkoda Pricilio Panglinau pemilik Lagodas, semuanya dipergoki saat menangkap ikan tanpa dokumen yang sah di perairan Indonesia.

Minggu, 22 Februari lalu, kapal perang bernomor lambung 352 itu saat melaksanakan operasinya tiba-tiba mendeteksi keberadaan 4 kapal nelayan asing yang sedang melakukan kegiatan illegal fising di perairan ZEEI, selanjutnya dihentikan dan dilaksanakan pemeriksaan terhadap 4 buah kapal tersebut.

Kapal FB LB Vient-09 dan FB Santo Tomas yang pertama kali terdeteksi menangkap ikan disekitar rumpon di posisi 03º29º00ºU -122º31º00º T, kemudian FB San Jose di posisi 03º30º00ºU -122º30º00º T, dan FB Santa Crus di posisi 03º30º00ºU -122º32º00º T. Didapatkan kapal-kapal tersebut menangkap ikan di ZEEI tanpa dilengkapi dokumen, selanjutnya keempat kapal beserta seluruh ABK nya dikawal menuju Dermaga Mamburungan, Lanal Tarakan.

Setelah sebelumnya melalui proses sidang di Pengadilan Negeri Tarakan, maka Senin lalu (18/5/2015) keempat kapal pencuri ikan tersebut diderek ke Bitung, namun salah satu dari kapal tersebut tiba-tiba tenggelam dengan sendirinya sebelum akhirnya kapal-kapal yang lainnya ditenggelamkan oleh Satkopaska Koarmatim.

Sebelas kapal lainnya yang ditenggelamkan di perairan Bitung terdiri dari: Garuda 05, Garuda 06, Keysia, Fortuna 05, Daeny, Arnavat 02, Arnavat, EL-Shadai 02, D’Regs 03, Valfranze, dan Tuna Jaya.

Selain Pangarmatim Laksamana Muda TNI Darwanto, S.H., M.A.P., proses penenggelaman kapal ikan asing tersebut juga dihadiri Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Laksamana Muda TNI Asep Burhanudin, Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Dan Lantamal) VIII Manado Laksamana Pertama TNI Sulaeman Bandjarnahor, SE, MSc, para pejabat Pemda beserta para pejabat TNI dan Polridi wilayah Bitung, Sulawesi Utara.

Sementara 20 kapal pencuri ikan lainnya yang ditenggelamkan di wilayah barat terdiri dari: 17 kapal di Ranai, 1 kapal di Tj. Asahan, serta 2 kapal lagi di Belawan dan Lhokseumawe, yakni PKFB 677 dan KM 026.

Proses Penenggelaman kapal ikan asing berbendera Thailand yang dilaksanakan di Lhokseumawe, pada posisi 05-05-27 U-087-50-111 T, dipimpin Komandan Lanal Lhokseumawe Kolonel Marinir Agus Dwi Laksana Putra, dihadiri Dirpolair Polda Aceh Kombes Pol Bambang, Wakapolres Aceh Timur Kompol Aji, Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh Diauddin, Kepala KP2T Aceh Timur, serta undangan lainnya. (Puspen TNI).

Authentikasi :
Kadispenal, Laksamana Pertama TNI Manahan Simorangkir

 Posted by on Mei 20, 2015
Des 212014
 

Jakarta – Dua Kapal pencuri ikan ditenggelamkan di Teluk Ambon oleh TNI AL. Penenggelaman kapal ini disaksikan Panglima Komando Armada Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Ari Henrycus Sembiring. “Sudah, sudah ditenggelamkan,” demikian jelas Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IX Ambon, Mayor Laut Eko Budimansyah saat dikonfirmasi detikcom pukul 12.00 WIB, Minggu (21/12/2014).

Kapal besar yang akan ditenggelamkan pagi ini, Minggu (21/12/2014) pada pukul 10.00 WIT, merupakan 2 dari 8 kapal yang ditangkap di Laut Arafura dengan berbendera Papua Nugini. Saat ditenggelamkan, posisi Kapal bernama KIA Century 4 dan Century 7 sudah berada 2 mil dari Pantai di sekitar Amahusu.

Dari informasi yang didapat, kapal Century 4 berbobot 250 grosston dan Century 7 memiliki bobot 200 grosston. Saat ditangkap pada 9 Desember lalu, Century 4 memiliki muatan 43 ton ikan sementara Century 7 membawa 20 ton ikan.

Meski berbendera Papua Nugini, seluruh ABK 2 kapal Century ini berkewarganegaraan Thailand. Cenrtuy 4 membawa 45 ABK dengan nahkoda bernama Thanaphom Pamnisti, dan Century 7 dinakhodai oleh Thong Ma Lapho dengan ditumpangi oleh 17 ABK.

Dua kapal berwarna biru dengan lambung hijau ini biasa berlabuh di Port Reg Bangkok, Thailand, dan hanya memiliki dokumen Papua Nugini. Meski tak memiliki dokumen Indonesia, mereka nekat menangkap ikan dengan tujuan komersil di Laut Arafura, Maluku. Tindakan penenggelaman kapal sudah sesuai dengan aturan dan dikabulkan oleh pengadilan setempat.

“Menyatakan memberikan izin kepada Komando Armada RI kawasan Timur Pangkalan Utama TNI AL IX untuk melakukan pemusnahan/penenggelaman barang bukti kapal KM Century 7/PNG-064,” demikian kutipan surat penetapan penenggelaman Kapal Century 4 dan Century 7 yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Ambon. (Detik.com).

 Posted by on Desember 21, 2014