Sep 042018
 

Publikasi uji coba rudal Petir oleh Balitbang Kemhan RI pada 13 Agustus 2018 © Kemhan RI

JakartaGreater.com – Peluru kendali yang sedang dikembangkan bersama oleh PT Sari Bahari dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan RI diharapkan akan memasuki tahap pengembangan akhir pada tahun 2020 mendatang.

Hal tersebut ditandai dengan rencana desain dan pengembangan “purwarupa” dari rudal Petir yang telah memasuki generasi keempat. Dibandingkan dengan purwarupa rudal Petir generasi ketiga yang tengah diuji coba, maka rudal Petir generasi keempat akan dibuat dengan beragam penyempurnaan yang signifikan.

Seperti diberitakan oleh Indomiliter.com, dalam Bursa Litbang Pertahanan di Gedung Balitbang Kementerian Pertahanan RI yang ada di Pondok Labu, Jakarta Selatan tanggal 28-29 Agustus 2018, purwarupa rudal Petir dan target drone Jalak ditampilkan dihadapan publik.

Pada pengembangan tahap akhir, akan dilakukan finalisasi desain dan teknologi pemandu rudal. Dan dengan desainnya yang atraktif, kedua wahana tersebut mampu menyedot perhatian dan mendapat banyak pujian dari para pengunjung.

“Jalak” dan “Petir” dalam Pameran Litbang Pertahanan

Soal pemberian nama Jalak dan Petir, menurut Harnanto, untuk target drone awalnya memang menggunakan nama Petir. Namun kemudian, nama tersebut digunakan untuk wahana rudalnya. Nama Petir untuk target drone kemudian diganti menjadi Jalak.

“Filosofinya, burung jalak kan termasuk burung yang lincah dan kalau dulu sering ditembaki orang. Sementara nama petir digunakan untuk rudal karena lebih pas”, ujar Harnanto.

Bekerjasama dengan sejumlah instansi litbang milik pemerintah, PT Sari Bahari yang berada di Malang, Jawa Timur kebagian membuat wahana untuk kedua prototipe tersebut.

“Pada prototipe generasi keempat, nantinya akan dapat diketahui secara persis arah platform yang akan diintegrasikan pada rudal Petir”, ujar Harnanto dari bagian tim perancangan wahana Jalak dan Petir di PT Sari Bahari.

Target drone Jalak (bawah) dan rudal Petir (atas) ditampilkan dalam Pameran Litbang Pertahanan Kementerian Pertahanan RI © Angkasa Review

Menunggu Sertifikasi Kementerian Pertahanan

PT Sari Bahari optimistis, wahana Jalak dan Petir ke depannya bisa menjadi platform bagi proses produksi dan digunakan oleh operator. Di antara calon penggunanya antara lain adalah TNI AL dan Arhanudri Kostrad TNI AD, seperti diberitakan Angkasa Review.

“Saat ini kami [PT Sari Bahari] sedang menunggu proses sertifikasi dari IMAA Kementerian Pertahanan RI”, kata Harnanto.

Dijelaskan pula oleh Harnanto, bahwa untuk uji penerbangan, baik drone Jalak maupun rudal Petir telah beberapa kali dilaksanakan dengan berbagai perbaikan sebagai tindak lanjut evaluasi pengujian.

“Kami melaksanakan pengujian di area latihan TNI AU, Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur”, ujar lulusan Teknik Penerbangan ITB tahun 2001 asal Purworejo, Jawa Tengah ini. Untuk keperluan tersebut, sejumlah purwarupa pun dibuat. “Kalau rusak, ya kami gunakan purwarupa berikutnya. Jadi kami buatnya banyak”, tambahnya.

Baik Jalak maupun Petir keduanya diterbangkan dengan cara diluncurkan menggunakan ketapel luncur. Sementara untuk mendarat, kedua wahana tersebut dilengkapi dengan parasut. Menurut Harnanto, wahana Jalak mampu terbang dengan endurans sekitar 10 menit, memiliki kecepatan 350 km/jam. Wahana ini telah dilengkapi dengan mesin jet berkekuatan 16 kg thrust.

Sementara bahan airframe-nya sendiri terbuat dari carbon reinforced composite dengan bobot total mencapai 20 kg. Penerbangan dikendalikan menggunakan sistem radio control dan juga auto-pilot. Untuk Wahana Jalak dilengkapi satu set sistem radio telemetri, receiver, transmitter, control monitoring dan command control.

Sedangkan untuk rudal Petir (Petir I-102), wahana tersebut merupakan rudal jelajah strategis permukaan ke permukaan. Rudal dilengkapi dengan mesin turbojet berkekuatan 22 kg thrust.

Meskipun rudal Petir generasi keempat masih confidential, namun ada beberapa poin yang bisa dicatat sebagai dasar pengembangannya. Yakni kecepatan rudal Petir akan ditingkatkan, bila di purwarupa generasi ketiga, rudal Petir dapat melesat hingga 350 km/jam dan menjangkau jarak sejauh 80 km.

Pada rudal Petir generasi keempat ada keinginan untuk melesatkan rudal Petir sampai ke level high subsonic antara 800 – 900 km/jam, bahkan tidak menutup kemungkinan sampai level supersonic atau di atas kecepatan 1 Mach. Tak lupa, rudal dengan panjang 1,8 meter tersebut dilengkapi dengan sistem pemandu inersial dan GPS way point auto-pilot.

 

Berbagi

  14 Responses to “Tahun 2020, Litbang “Rudal Petir” Masuk Tahap Akhir”

  1.  

    Wah, keren dong, klo dah kelar berarti selanjutnya adalah sertifikasi dan produksi massal

    •  

      Ya, menurut Ane itu capaian yg luar biasa. Apalagi buat rudal petir. Umpamanya enduran tuh rudal 10 menit, maka jangkauan maksimal rudal bisa sekitar 133-150 km lebih. Akan lebih menarik lagi bila kecepatannya bisa ditambah lebih cepat untuk menerobos hanud berlapis musuh dan warheadnya diperbesar. Akan lebih baik lagi kalo bisa terbang mengikuti kontur, jelas akan menjadi ancaman yg luar biasa dan kalo ditambah tracking aktif dan pasif seperti IR maka rudal petir bisa digunakan untuk menghancurkan obyek bergerak seperti Kaprang. Tinggal dibuat varian udara biar bisa dipasang di IFX nanti.

  2.  

    penasaran mesinnya bikin sendiri atau impor ya? semangat mengikuti berita ini terutama tentang rudal petirnya….akhirnya indonesia mengarah kepada kemampuan untuk membuat rudal.

  3.  

    setelah rudal petir…jgn lupa gendiwa nya di selesaikan.

  4.  

    Desainnya ko beda dibanding rudal-rudal yang eksist di dunia ya,mounted rudalnya juga open gitu kaya ketapel, yang biasanya buat nerbangin drone. Kalo desain rudal saat ini hampir semuanya tabung vacuum, karena banyak sensor sensitif yang mesti terlindung selama belum digunakan.

    •  

      Soalnya itu masih berupa prototipe, bukan produk finalnya, yang bisa dibilang saat ini masih berupa RC aja 😀 seperti mainan…

      Tampak koq di video salah seorang personil membawa remote kontrol untuk mengendalikan selama penerbangan

      •  

        Biarpun prototipe bukannya harus selalu mendekati ke kondisi real ya, karena perubahan bentuk desain, material, dan jeroan yang didalamnya akan mempengaruhi performancenya. Saya rasa prototipe ini lebih mirip kalo dengan UAV kamikaze.

  5.  

    Bentuk nya aneh sekali…
    Tapi Tidak bisa Komentar…Karena ini baru prototype …
    Kemungkinan besar ….akan berbeda dengan bentuk nya kalau sudah selesai R & D nya …Dan siap operational..
    Berarti .mungkin….5 tahun lagi ..??

  6.  

    anti jamming bisa?

  7.  

    beginilah cara kerja rudal pada rudal rudal modern sekarang ini kebanyakan menggunakan sirip lipat yg di kontrol dengan suatu alat bisa menggunakan IC atau yg biasa di sebut dengan ic program, radar terhubung ke ic program dan ic yg mengatur kinerja rudal seperti mengatur sayap tadi, dan yg lebih modern lagi sekarang ada rudal anti jaming jadi ic program tsb sudah di lindungi dengan alat lagi krn yg biasanya di serang itu programnya atau dijaming programnya, sekarang saya akn membahas fungsi dari sayap, rudal sekarang banyak menggunakan sayap lipat jadi saat rudal dengan kecapan tinggi atau hipersonic dan supersonic sayap tidak sepenuhnya meregang pada saat kecepatan turun menjadi subsonic di situlah sistem rudal pintar di mulai yaitu dengan meregangkan dan mengatur sayapnya sehingga rudal menjadi lincah menghindari psu lawan. itulah setau saya tentang cara kerja rudal pintar.

  8.  

    Lanjutkan…… !!

 Leave a Reply