Taiwan Kembangkan Sendiri Sistem Senjata Mirip Phalanx CIWS

Jakartagreater.com – Milter Taiwan dilaporkan sedang mengembangkan sistem pertahanan udara jarak pendek berdasarkan sistem close-in weapon system CIWS Phalanx Amerika Serikat. Chung-Shan National Institute of Science and Technology (NCSIST) akan mengawasi pengembangan integrasi persenjataan tersebut, lansir Defense24.

Karena potensi ancaman serangan besar-besaran rudal jelajah dan balistik dari Tiongkok, Taiwan terus berupaya mengembangkan sistem pertahanan anti-pesawat dan anti-misilnya. Di antara elemen-elemen yang diperluas dari sistem ini juga terdapat “tingkat pertahanan terpendek”, yaitu sistem pertahanan jarak yang sangat dekat.

Pada Agustus 2019, sebagai bagian dari proyek Sky Falcon II, Taiwan meminta AS untuk menjual senjata jarak pendek Phalanx Land-Based Weapon System (LPWS), versi darat dari Phalanx 1B. Namun, kedua negara tidak mencapai kesepakatan selama negosiasi dan rencana itu dibatalkan.

Karena kegagalan dalam negosiasi, Taiwan sedang mencari solusi yang memungkinkannya untuk mengintegrasikan sistem pertahanan jarak pendek baru dengan Oerlikon Skyguard 1 yang saat ini digunakan, yang didasarkan pada dua senjata anti-pesawat 35mm Oerlikon Twin Gun GDF007. Selain itu, sistem ini dapat dikombinasikan dengan dua peluncur rudal permukaan-ke-udara (Sparrow, Aspide, SAHV-IR atau Adats).

Tugas ini akan dilakukan oleh Institut Sains dan Teknologi Nasional Chung-Shan, yang merupakan perusahaan milik negara yang sebelumnya merupakan bagian dari kantor senjata Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan yang mengkhususkan diri dalam pengembangan, produksi, dan dukungan sistem senjata.

Menurut media, NCSIST telah mengintegrasikan salah satu sistem CIWS-nya dengan truk trailer, yang sebelumnya dipasang di kapal Yang Tzu class (kapal penyapu ranjau Agresif bekas Amerika) milik Angkatan Laut Taiwan. Selain itu, NCSIST juga memindahkan CIWS dari kapal yang dinonaktifkan tersebut untuk melindungi stasiun radar di Pangkalan Angkatan Udara Songshan.

Phalanx adalah meriam Gatling M61 Vulcan enam laras kaliber 20mm berpandu radar dan elektro-optik, dengan semua komponen sistem terletak pada satu basis yang berputar. Jadi senjata ini bisa dikatakan sebagai sistem otonom pertahanan terakhir.

Selain mengandalkan presisi tembakan dari sistem panduan, Palanx juga menggunakan daya sembur tembakan dari 3.000 – 4.500 peluru per menit. Versi darat dari Phalanx 1B telah membuktikan dirinya dalam pertempuran di Irak yang telah digunakan oleh Amerika sejak tahun 2005, termasuk untuk menghadang rudal, mortir, dan artileri (C-RAM). Sistem ini dirancang dan diproduksi oleh perusahaan Raytheon Amerika.

Menurut laporan media Taiwan – setelah kegagalan untuk mendapatkan sistem Palanx dari AS – Taiwan ingin membangun solusi sendiri, yang dimaksudkan untuk perlindungan langsung dalam jarak yang sangat pendek terhadap serangan rudal, artileri dan mortir (C-RAM). Ini akan digunakan untuk pertahanan titik untuk instalasi yang paling penting.

Taiwan mendapatkan contoh karena selama ini sistem Vulcan telah digunakan untuk pertahanan pangkalan, misalnya di Irak atau Afghanistan, di mana rudal dan mortir juga menjadi ancaman. Namun, Taipei yakin bahwa solusi semacam itu juga akan berguna dalam konflik konvensional. Tugas yang dilakukan oleh Vulcan “versi darat” di Taiwan mungkin serupa dengan yang dirancang sistem ini pada versi dasar kapal perang, yakni melawan berbagai jenis amunisi presisi dan drone.

5 pemikiran pada “Taiwan Kembangkan Sendiri Sistem Senjata Mirip Phalanx CIWS”

  1. Tuh tuh. Taiwan negara segede upil mau bikin CIWS sendiri. Indonesia yang negara nya sgede gaban kapan nih……. PT. Pindad bikin CIWS made in indonesia. Sekalian pelurunya juga made in indonesia. Pasti bisa lah.
    Buat dipasang ke kapal kapal patroli yang kecil kecil. Juga pasang di tiap obyek vital. Pasti mantap.

  2. Salut buat Taiwan, setelah ngekor sekian lama sama lik Sam tetap saja tak diijinkan buat copy contek teknologi2 kunci militer padahal buat pertahankan diri dan mereka tak patah arang tak ada istilah putus asa, berani putuskan utk membuat sendiri teknologi sulit adalah konsep negara yang mandiri dan masa depannya pasti maju tuh negara.

Tinggalkan komentar