Okt 142018
 

Sistem rudal pertahanan udara S-300PMU2 “Favorit” © Vitaly V. Kuzmin via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Pengiriman S-300 Rusia ke Suriah telah mendorong media AS untuk berspekulasi bahwa Angkatan Udara AS dapat mengerahkan pejuang siluman F-22 untuk menghancurkan pertahanan udara tersebut, seperti dilansir dari Sputnik.

Sementara itu, Washington juga berjanji untuk memasok Israel dengan lebih banyak F-35. Tetapi apakah pesawat tempur generasi ke-5 bisa menghindari sistem pertahanan udara Rusia? Tidak mungkin, kata para analis.

Mengacu pada penempatan S-300 sebagai sebuah “kemampuan token”, menyarankan bahwa Pentagon untuk menggunakan F-22 Raptor dan F-16 Viper untuk menekan atau menghancurkan pertahanan udara Suriah, seperti yang dipersiapkan pada awal kampanye serangan udara AS di Suriah dan Irak pada tahun 2014, The Drive berpendapat bahwa AS “mungkin harus mengulangi taktik seperti itu” setelah Rusia mengirim sistem pertahanan udara S-300 untuk Suriah.

F-22 Raptor, jet tempur superioritas Angkatan Udara AS © USAF via Wikimedia Commons

Berbicara kepada Sputnik, analis pertahanan menyarankan bahwa ada sedikit keraguan Angkatan Udara AS ingin menggunakan kesempatan ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang S-300 di lapangan menggunakan F-22. Namun, itu tidaklah selalu berarti bahwa mereka benar-benar akan bebas untuk melakukannya, kata Sergei Sudakov.

“Strategi AS menggunakan Raptor terhadap jaringan pertahanan udara terlihat seperti ini, sebuah atau beberapa jet tempur F-22 itu masuk tanpa terdeteksi ke area cakupan radar musuh, menyalakan sistem penindasan elektronik mereka dan mulai mengganggu sistem deteksi dan panduan musuh. Pada saat yang sama, merla melakukan serangan terhadap radar, peluncur dan pos komando”, jelas analis itu.

“Setelah terobosan, eselon kedua dari pembom tempur diaktifkan untuk bisa menyelesaikan pasukan musuh. Seletah lumpuh dengan serangan siluman, pertahanan udara musuh tidak lagi mampu memberikan perlawanan. Namun operasi seperti itu hanya berjalan mulus di atas kertas”, terang Sudakov.

Menurutnya, bahkan jika radar berbasis darat tidak melihat F-22, pesawat masih akan membuat kehadirannya diketahui segera setelah menyalakan sistem penindasan radio elektronik di dalamnya. Setelah hal itu terjadi, sistem kontrol berbasis darat akan dapat melokalisasi sumber radiasi, kemudian menunjuk ke lokasi pesawat sert meluncurkan rudal anti-pesawat untuk mengejarnya.

Peluncuran rudal dari sistem S-300 Rusia dalam latihan Vostok 2018 © Kemhan Rusia via Youtube

Dalam skenario tersebut, satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh pilot Raptor dalam keselamatan lengkap adalah menentukan perkiraan zona operasi fari pertahanan udara musuh. Tetapi dalam kasus S-300, itu adalah sistem mobile, dimana dapat dengan cepat bergerak dan menyebar di lokasi baru. Dan dengan demikian, tidak ada yang namanya pesawat yang benar-benar tak terlihat.

“Rendahnya visibilitas radar pada jet tempur F-22 adalah sebuah fakta,” kata jurnalis militer Mikhail Khodaryonok. “Menyebut bahwa F-22 tidak terlihat oleh sistem radar S-300 adalah terlalu dibesar-besarkan. Ya, dalam frekuensi S-band, itu benar-benar hampir tidak terlihat, tak mungkin menembaknya. Akan tetapi, dalam frekuensi VHF, Raptor dapat terlihat dengan sangat baik”, jelas pensiunan kolonel itu.

Menurut Khodaryonok, pembahasan media AS tentang menghancurkan sistem S-300 itu hanyalah “omong kosong”.

“Saat ini, perang kata-kata sedang terjadi. Saya benar-benar yakin bahwa baik Israel maupun Amerika tidak akan menyerang S-300 sementara spesialis Rusia sedang bertugas disana”, terlibat dalam pelatihan pasukan Suriah. “Namun, mereka mungkin mencoba menghancurkan S-300 begitu mereka diserahkan kepada militer Suriah”, tambahnya.

Menurut Khodaryonok, pelatihan pasukan tempur Suriah tetap tidak cukup bagi mereka untuk membangun sistem pertahanan udara yang sama efektif di seluruh negeri seperti yang ada di pangkalan udara Hmeymim. Ini berarti Rusia membawa risiko reputasinya sendiri sebagai eksportir senjata jika kekuatan Barat atau Israel menyerang dan mampu mengalahkan sistem S-300 Suriah.

Untuk mencegah hal ini, selain S-300, Kementerian Pertahanan Rusia telah menyediakan sistem identifikasi teman/lawan (IFF) yang unik di Rusia, dan menjanjikan bantuan dengan penindasan radio-elektronik untuk navigasi satelit, radar udara serta sistem komunikasi tempur dari pesawat apa pun yang mencoba menyerang target di negara tersebut.

“Di Amerika Serikat, Rusia telah berubah menjadi momok yang menakutkan sejak lama. Jelas bahwa pihak berwenang AS saat ini ingin pamer ke pemilih mereka. Namun itu semua tidak akan melampaui kata-kata. Dan jika mereka melakukannya, bahkan hanya sebuah Raptor yang hilang akan dengan serius mengguncang para pendukung mereka dan mempengaruhi hasil pemilu”, jelasnya.

Pada akhirnya, Pentagon bukan cuma perlu berpikir dua kali, bahkan hingga sepuluh kali sebelum mengerahkan pesawat terbaiknya untuk menyerang sistem pertahanan udara seperti S-300 Suriah. Mempertahankan reputasi persenjataan tercanggih dalam perang sesungguhnya adalah pedang bermata ganda. Kehilangan sebuah F-22 akan sebabkan hancurnya reputasi kompleks industri militer AS.

Pandangan yang diungkapkan oleh para analis militer diatas tidak selalu mencerminkan pandangan JakartaGreater.com.

Bagikan