Taliban Kecam Rencana Trump Tambah Pasukan di Afghanistan

16
Dok. Mantan Petempur Taliban serahkan senjata ke pemerintah Afghanistan (isafmedia)

Kabul – Juru bicara kelompok bersenjata Taliban pada Selasa 22-8-2017 mengecam rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengirim tentara bantuan dan mempertahankan kehadiran pasukan AS di negara Asia Selatan tersebut tanpa batas waktu yang ditentukan.

“Alih-alih meneruskan perang di Afghanistan, Amerika Serikat seharusnya berpikir untuk menarik tentara mereka dari negara ini,” ujar juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid dalam pernyataan tertulis yang disiarkan beberapa jam setelah pidato Trump soal kebijakan Washington di Afghanistan dan Asia Selatan.

Zabihullah Mujahid mengatakan : “Sepanjang ada satu saja tentara Amerika Serikat di negara kami, maka kami akan meneruskan perlawanan.”

Sementara itu di London pada Selasa 22-8-2017, Inggris menyambut baik komitmen dari Trump untuk meningkatkan intensitas operasi militer untuk menumpas Taliban di Afghanistan.

Sebelumnya pada Senin 21-8-2017 malam waktu AS, Donald Trump memutuskan untuk tetap meneruskan keterlibatan Amerika Serikat untuk berperang di Afghanistan tanpa batas waktu yang ditentukan.

Presiden Donald Trump menarik ucapannya sendiri, mengingat pada masa kampanye tahun lalu dia mengkritik kebijakan perang yang dinilai terlalu banyak menghabiskan anggaran negara.

Perang di Afghanistan adalah konflik terlama yang melibatkan Amerika Serikat. Sejak tahun 2001 lalu, sewaktu Washington menggalang koalisi NATO menginvasi Afghanistan untuk menggulingkan rezim Taliban, Amerika Serikat sudah menghabiskan 700 milyar dolar AS.

Konflik yang sama juga telah menewaskan lebih dari 2.400 orang tentara Amerika Serikat.

Setelah 16 tahun berperang, sekarang ini Taliban justru semakin kuat dengan menguasai sejumlah wilayah di Afghanistan. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran akan terulangnya peristiwa tahun 1996, sewaktu kelompok Taliban berhasil menguasai pemerintahan dan memberikan tempat bagi Al Qaeda yang kemudian sukses merencanakan serangan 11 September 2001 di New York dan Washington.

Sementara itu Inggris, bersama sejumlah sekutu di Eropa juga sudah berjanji akan mengirim tentara tambahan ke Afghanistan pada Juni 2017 lalu. Di sisi lain, Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis mengataka, jumlah tentara asing di Afghanistan berkurang banyak dalam waku yang cepat.

“Komitmen Amerika Serikat adalah kabar yang kami sambut dengan baik,” kata Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon dalam pernyataan tertulis.

“Dalam pembicaraan telepon saya dengan Menteri Mattis sehari yang lalu, kami sepakat meski banyak tantangan, kami akan tetap mempertahankan pasukan di Afghanistan untuk mempertahankan demokrasi yang rapuh di negara tersebut sekaligus mengurangi ancaman terorisme bagi negara-negara Barat,” kata Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon.

“Ini adalah kepentingan bersama kami semua, agar Afghanistan menjadi negara yang lebih sejahtera dan aman. Dan bahwa kami juga mengumumkan pengiriman tentara tambahan pada Juni 2017 lalu,” Antara/Reuters, 22-8-2017.

1 KOMENTAR

  1. Dulu dikabarkan Osama Bin Laden dgn milisi Taliban dididik dan didanai AS untuk melawan USSR (Uni Soviet) di Afghanistan untuk menjegal pengaruh Komunis, setelah Soviet dipukul mundur akhirnya AS menghantam balik Taliban karena dianggap tdk memberikan untung lg dan demi membungkam Borok2 CIA mirip dgn kasus ISIS. Jd siapa pemegang Media2 Dunia maka dia yg bs mengatur alur cerita demi kepentingannya!