Tank Medium Pindad : Slowly but Sure

144
Tank medium Pindad akan menggunakan kubah meriam 105mm CV-CT buatan CMI Belgia (photo : Defense Studies)
Tank medium Pindad akan menggunakan kubah meriam 105mm CV-CT buatan CMI Belgia (photo : Defense Studies)

Jakarta -Industri pertahanan Indonesia belum mampu memproduksi kendaraan tempur lapis baja (armored vehicle) untuk kelas tank. Alhasil, TNI masih sangat tergantung terhadap pasokan tank impor. Hal ini sangat rawan bila sewaktu-waktu terkena ‘embargo’ dari negara produsen senjata.

Melihat fenomena ini, Kementerian Pertahanan RI menugaskan PT Pindad mengembangkan dan membangun tank kelas medium atau medium tank secara mandiri sejak 2012. Tank rancangan Pindad kini memasuki tahap desain tank.

Dari model yang ditampilkan pada acara Armored Vehicle Asia (AVA) Conference 2015, canon atau turret dari medium tank karya Pindad tampak menyerupai Tank Leopard yang telah dibeli oleh TNI AD. Tank tersebut dikonsep memakai senjata canon kaliber 105 milimeter (mm).

“Ini medium tank. Dasarnya, TNI pada pasukan kaveleri butuh tank pendamping untuk Main Battle Tank dari Leopard. Pendampingnya harus kelas medium karena saat operasi, MBT butuh pendamping. Kebetulan TNI belum punya medium tank yang pakai canon kaliber 105mm. Sedangkan leopard kalibernya 120 mm,” kata VP Product and Process Development Pindad Heru Puryanto kepada detikFinance pada sela acara Armored Vehicle Asia (AVA) Conference 2015 di Hotel Crowne, Jakarta, Selasa (28/4/2015).

Untuk pengembangan medium tank, Pindad mengandeng produsen tank asal Turki, FNSS. Kedua belah pihak akan memadukan rancangan tank masing-masing untuk diproduksi bersama.

“Di pihak Indonesia ditunjuk Pindad. Turki ditunjuk FNSS. Sekarang masuk pembahasan finalisasi. Konsep dari Pindad bisa dipakai dan bisa berubah,” jelasnya.

Di pasar medium tank, produk rancangan Pindad memiliki pesaing dengan Tank K21 buatan Korea Selatan, Tulpar buatan Turki, dan BMP3F buatan Rusia. Pindad menargetkan produk medium tank made in Bandung bisa selesai mulai 2017.

“3 tahun ke depan selesai purwarupa. Tahapannya, tahun pertama (2015) finalisasi desain, tahun kedua produksi, tahun ketiga dilakukan test,” ujarnya.

Untuk pengembangan sistem senjata, Pindad membuka peluang BUMN RI seperti PT Inti dan PT LEN sedangkan PT Krakatau Steel Tbk diharapkan mampu memasok baja untuk medium tank dengan ketebalan baja 16 mm. Meski demikian, Pindad tetap akan mengadeng produsen senjata dunia untuk memasok turret karena industri pertahanan lokal belum mampu memproduksi.

Heru mengaku banyak manfaat yang diperoleh Indonesia dengan mengembangkan tank secara mandiri di dalam negeri.

“Intinya kembangkan di dalam bisa mengurangi ketergantungan dari luar. Saat jalan sendiri, kita bisa mandiri karena setiap bisa embargo,” tuturnya. (Detik.com).


image
(Foto: Windu Paramarta)

Di bulan September 2014, Windu Paramarta pernah memposting desain tank medium via iconosquare.com. Hull tank itu menyerupai IFV Marder yang dipasang turret CTCV Belgia. Jika diperhatikan postingan gambar di bawah ini, mirip dengan model tank medium Pindad yang dimunculkan di Armored Vehicle Asia (AVA) Conference 2015.

image
(Foto: Windu Paramarta)

 

35 KOMENTAR

    • Paling ea secara rangkaian dasar marder jerman trus di pasang turret meriam. Ea alasan nya ntar kerjasama dengan FNS turki. PINDAD itu berpengalaman dalam membedah.mempelajari alutsista darat tank dari Rusia.Perancis.United State America. Namanya Berpengalaman tentu dengan sesuai Bayaran’nya !! Masyarakat dari Golongan strata kecil pun udah paham. Mau bicara takut. Wasallam.

  1. di alenia akhir β€œIntinya kembangkan di dalam bisa mengurangi ketergantungan dari luar. Saat jalan sendiri, kita bisa mandiri karena setiap bisa embargo,”. kalau nesin sama turet msh dr negara lain kira-kira bisa d embargo apa ngk yaa..?
    maaf bukan tdk menghargai, cuma sebelum benar” mandiri masih aja kemungkinan untuk d embargo. sudah saatnya negeri ini membuat mesin sendiri. gpp kalau mesin kita cuma mulai dr merakit dulu baru ciptakan yang benar” baru.

    • Bung jj
      Soal pada kata “embargo”-nya sih benar, bung.

      Nah, soal kemandirian, kan ada hal proses pembelajaran dan peningkatan.

      Sama tuh, dengan kita semua, mulai dari SD, naik ke jenjang berikutnya sampai jenjang kuliah.

      Saat ini, yang paling mudah itu ya hull atau badannya dulu yang dipelajari desain dan pembuatannya. Mesin dan turet beserta kanon, itu lebih rumit lho.

      Kalau bung perhatikan, jumlah produsen mesin pesawat terbang itu lebih sedikit daripada produsen pesawat (badannya) itu sendiri.

      Mesin untuk tank itu pasti bertenaga besar dan punya kriteria ketahanan yang lebih tinggi daripada sipil, kalo tidak salah lho.

      Jadi, jangan lah “tdk menghargai”, seperti menyuruh anak SD untuk langsung loncat ke SMP atau SMA. Biarkan melalui tahapannya dengan matang. IPTN semasa pak Habibie, malah dimulai dengan merakit dahulu, kemudian desain bersama, baru lah mendesain sendiri / mandiri.

      Di sisi lain, siapa tahu, sebenarnya sudah ada tim lain atau ada perencanaan tentang pembuatan mesin tersebut, hanya saja tidak / belum terekspos ke media masa.

  2. Begini Bung Santri ,seperti yang sering kita dengar tak ada makan siang gratis. Sudah lumrah negara pemberi pinjaman berusaha sebesar mungkin .mendapat manfaat dari duit yang dia pinjamankan. Biasanya memaksa pakai perusahaan pemberi pinjaman,menggunakan alat alat ,tenaga kerja mereka semaksimal mungkin sebagai syarat. Tegantung pemerintah kita nego sama mereka,pintar pintar kita merayu tapi sebagai negara yang meminjam posisisnya tentu lemah. Jadi negara donor atau apapun istilahnya selain dapat bunga pinjaman dari pelaksanaan proyek mereka usahakan juga dapat keuntungan karena yang mengerjakannya perusahaan dari negara pemberi donor.Yang lebih parah lagi kita terpaksa menerima hasil kerja mereka walau tidak sesuai dengan yang di janjikan.karena kwalitas dan mutunya rendah. Seperti pembangkit listrik yang di bangun China sebelumnya. Power daya yang dihasilkan cuma 30 % dari yang di janjikan.