Mar 062019
 

Pesawat tanker KC-46A Pegassus berbasis Boeing 767 © Boeing

JakartaGreater.com – Boeing dipaksa untuk mendaratkan pesawat tanker KC-46 berbasis Boeing 767 selama sepekan terakhir setelah Angkatan Udara menyatakan keprihatinannya tentang alat yang longgar dan serpihan puing-puing yang ditemukan di berbagai lokasi di dalam pesawat yang telah selesai, menurut memo internal perusahaan yang dilansir dari laman Seattle Times, 28 Februari lalu.

“Kami memiliki pilot USAF – Angkatan Udara AS – disini untuk pelatihan penerbangan dan mereka tak akan terbang karena masalah FOD (benda asing) dan kepercayaan mereka saat ini terhadap sisa produksi kami yang telah ditemukan di seluruh pesawat tersebut”, tulis manajemen pabrik dalam memo 21 Februari kepada karyawan di jalur perakitan 767.

“Ini adalah masalah besar”, memo itu menekankan.

Kemerosotan dalam hal standar menimbulkan pertanyaan tentang rencana Boeing untuk perubahan besar dalam prosedur pengendalian kualitasnya.

Pesawat tanker KC-46A Pegassus berbasis Boeing 767 sedang dalam penerbangan © Boeing

Penerbangan latihan dilanjutkan kembali Kamis pagi setelah sekitar satu minggu terhenti, dimana Boeing bekerjasama dengan Angkatan Udara tentang cara menyelesaikan masalah produksi. Juru bicara Boeing, Chick Ramey, mengakui masalah ini tetapi menyebutnya itu sebagai “jeda sementara” dalam operasi penerbangan.

KC-46 dibangun berbasis airframe pesawat Boring 767 di jalur perakitan utama di Everett, kemudian itu dipindahkan ke fasilitas di ujung selatan Paine Field yang disebut Military Delivery Center (MDC), tempat sistem jet militer, termasuk pengisian bahan bakar serta peralatan komunikasi pesawat terbang, dipasang dan diselesaikan.

Memo internal perusahaan JUGA mengatakan MDC telah “melarang tanker 767 terbang, karena ditemukan FOD (serpihan) dan alat kontrol”.