Target Utama Serangan Hacker Adalah Data Penting Kapal Selam India dan Australia

21
10

DCNS, sebuah perusahaan galangan kapal utama yang membangun kapal Mistral-Class pembawa helikopter, kapal pertama telah dikirim ke Mesir pada 6 Juni 2016, sangat terpukul oleh kebocoran data yang cukup besar pekan lalu. Sekitar 20.000 halaman informasi penting mengenai kapal selam Scorpene-Class telah dilaporkan bocor atau, lebih tepatnya, dicuri, menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya di pemerintahan Perancis.

Kapal selam Scorpene-Class, yang anggap negara-negara Asia-Pasifik sebagai respon terhadap meningkatnya kehadiran militer Cina di wilayah itu, adalah kapal berteknologi tinggi kontemporer yang dilengkapi dengan tingkat pertahanan yang tinggi, membuatnya sebagai “senjata paling mengerikan dalam sejarah dunia kapal selam non-atom”, menurut produsen Scorpene, DCNS.

Baru lima buah kapal selam kelas ini yang telah jadi dan ditugaskan hingga sekarang, dengan lebih dari 19 buah masih dalam tahap perencanaan. Salah satu pembeli terbesar dari kapal selam kelas ini adalah India, yang mengharapkan lebih dari 5 kapal selam Scorpene-Class untuk ditugaskan sampai 2021.

DCNS juga telah memenangkan kontrak yang sangat kontroversial senilai US$ 38 miliar untuk membangun kapal selam mutakhir Barracuda-Class untuk Australia.

Dengan pemikiran ini, tidak mengherankan bahwa berita tentang kebocoran data (pencurian) mungkin memiliki efek serius pada produsen kapal selam asal Perancis tersebut. Data yang bocor berisi informasi “sensitif”, yang meliputi parameter penting seperti waktu menyelam, jangkauan torpedo, dan yang terpenting dari itu semua adalah kesenyapan suara saat beroperasi bawah air.

Menurut Emmanuel Gaudez, juru bicara DCNS, masalah ini sedang “diselidiki oleh Otoritas Nasional untuk Pertahanan Keamanan Perancis”, yang akan menentukan ” tingkat sensitifitas dari dokumen yang bocor, potensi kerusakan untuk pelanggan DCNS, serta siapa yang bertanggung-jawab atas kebocoran ini”.

Menteri Pertahanan India, Manohar Parrikar, telah meredam masalah ini, dengan mengatakan “tidak perlu khawatir” karena data tersebut tidak mengandung spesifikasi senjata. Dia meragukan bahwa India akan menahan diri dari kerjasama lebih lanjut dengan DCNS, tetapi ia mengatakan, “bagaimanapun akibat insiden ini, harus diberikan hukuman terhadap kontrak yang ada”.

Pemerintah Prancis juga berusaha untuk mengecilkan masalah kebocoran data, dengan mengatakan bahwa dokumen-dokumen tersebut pernah dicuri pada tahun 2011, oleh seorang karyawan yang telah dipecat. “Dokumen-dokumen tersebut bukan kategori rahasia dan hanya fokus pada unsur-unsur operasional kapal selam”, kata sumber itu.

Sumber: Sputnik News

21 KOMENTAR

  1. knp mesti nak takut..sdh pasti kpl selm kita berjam jam
    Dokumentari penuh mengenai aset TLDM yang paling berbisa…
    WIRA WIRA KAT DASAR LAUT.malaysia sudah lbh berjaya bandingkn indo cuma 2 sahaja sdh tue nak tunggu cangbogo spekpon blom faham apa keungguln benda tu.