Nov 272017
 

Seusai melaksanakan Latihan CWP Taruna/Taruni AAU pada Jum’at 24 November 2017 mengunjungi Lanud Roesmin Nurjadin.

Pekanbaru, Jakartagreater.com –  Dalam perjalanan kembalinya setelah selesai melaksanakan Latihan Cakra Wahana Paksa (CWP), rombongan Akademi Angkatan Udara (AAU) mengunjungi Lanud Roesmin Nurjadin (RSN), Pekanbaru, Riau, pada Jum’at 24 November 2017.

Sebanyak 111 orang Taruna dan 9 Taruni didampingi para pelatih dan intruktur, dan dipimpin langsung oleh Gubernur AAU Marsda TNI Sri Mulyo Handoko, S.I.P.,M.A.P., disambut langsung oleh Danlanud Rsn Marsma TNI T.B.H. Age Wiraksono, S.I.P., M.A., didampingi pejabat Lanud di Apron Baseops Lanud Rsn.

Selama kunjungan, para Taruna dan Taruni AAU berkesempatan untuk meninjau Skadron Udara 12 dan 16, kemudian melihat static show dari pesawat tempur Hawk 100/200, pesawat tempur F-16, persenjataan Paskhas, terjun payung serta demonstrasi pembebasan sandera dari prajurit Yonko 462 Paskhas.

Dalam kesempatan ini Danlanud Rsn menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan yang dilakukan oleh rombongan dari Akademi Angkatan Udara, seraya berharap, meskipun kunjungannya cukup singkat, para Taruna dan Taruni dapat menyerap dan mengambil banyak pengetahuan selama berada di Lanud Rsn.

“Pesan saya selalu jaga nurani, dan mari kita bersama-sama membangun bangsa dan negara ini”, ujar Danlanud kepada para Taruna dan Taruni AAU. (tni-au.mil.id)

  28 Responses to “Taruna-Taruni AAU Kunjungi Lanud RSN”

  1. Pertamax

  2. 111 taruna + 9 taruni = 120 siswa

    Yang mau jadi penerbang tempur sepertiganya yaitu 40 orang.

    Dari 40 orang, yang 2/3 * 40 = 26 orang jadi penerbang light fighter / coin. Dari 26 orang yang tewas kecelakaan 2 orang, tinggal 24 pilot light fighter.

    Sisanya yaitu 14 orang bakal lolos ke medium fighter.

    Dari 14 orang pilot medium fighter, tewas kecelakaan 2 orang, tinggal 12 pilot medium fighter.

    Dari 12 pilot medium fighter, 4 orang bakal lolos ke heavy fighter dan tewas kecelakaan 1 atau 2 orang, tinggal 2 atau 3 orang pilot heavy fighter.

    Jadi untuk angkatan ini perlu tambahan :

    24 / 2 = 12 light fighter / coin.

    12 – 4 = 8 pilot, 4 medium fighter single seat dan 2 medium fighter double seat = 4 + 2 = 6 medium fighter.

    4 – 1 = 3 pilot, 1 double seat heavy fighter dan 1 single seat heavy fighter.

    Per tahun butuh tambahan pesawat :
    12 setara mix antara FA-50 dan Super Tucano
    6 setara F16
    2 setara Sukhoi

    Terus untuk 120 – 40 = 80 siswa lainnya

    30 siswa untuk pilot helikopter
    30 / 3 shift = 10 helikopter

    80 – 30 = 50 siswa lainnya untuk pilot pesawat angkut. 2 tewas kecelakaan.
    50 – 2 = 48
    Ada 3 crew per pesawat angkut.
    48 / 3 = 16 pesawat angkut.

    Per 5 tahun butuh tambahan pesawat :
    12 x 5 = 48 light fighter dan 12 coin.
    6 x 5 = 30 medium fighter.
    2 x 5 = 10 heavy fighter.
    10 helikopter.
    16 pesawat angkut.

    • wew … kejam amat hitungannya, faktor pengurang nya dianggap gugur non perang

    • Kok bisa ngasih asumsi seleksi 2 pilot tewas, Datanya dari mana?? Kalo emang kayak gitu berarti tiap tahun minimal ada 2 pilot yg mati. Maintenance TNI AU berarti buruk sekali. Kan tiap tahun AAU mewisuda 120 kadet. Bung TN buat asumsi yg benar coba Bung.

      • Berapa kecelakaan pesawat TNI yang terjadi di 2015 – 2017 ? Lebih dari satu bukan ? Berapa pilot yang tewas ?

        Semua pesawat terbang itu high risk.

        Maintenance bagus ataupun buruk sama saja high risk.

        Maintenance bagus namun kena faktor alam seperti ditabrak burung, kemasukan lebah (pernah ada pesawat yang jatuh gara2 ada lebah masuk ke celah sensor), kena turbulensi (micro burst dari atas atau wind shield dari samping) saat mendarat , kemasukan debu vulkanis, dsb.

        Maintenance buruk menambah tinggi resiko tewasnya.

        Suka atau tidak suka, hitungan statistik itu memang kejam dan semua calon penerbang, pramugari ataupun penumpang pesawat sudah tahu resiko pilihannya. Seperti uang logam yang dilempar ke atas punya kemungkinan antara gambar dan angka adalah fifty-fifty maka saat naik ke pesawat kemungkinan antara bisa keluar dari pesawat dalam keadaan hidup atau mati itu fifty-fifty.

    • Tn phd memang gitu hitungannya, itu makanya tn phd tidak prnah mau jadi pilot, karna menurut hitungannya, lbh baik hemat nyawa drpada jd pilot gripen kalleeeee

      Hahhaahaaaa

    • Itungan ngaco kalo yg ini. Lifetime pespur itu sekitar 15-25 tahun (buat negara kaya). 35-40 tahun (buat negara Indonesia. Itu juga berlaku di heli dan pesawat angkut (bahkan Herki aja bisa 60 tahun !!). Intinya pembelian alutsista disesuaikan dg esensial force yg ada dan pelatihan pilot tergantung dari jumlah pespur yg ada (bisa pake simulator kalo pespurnya dikit). Yang jelas melatih seseorang menjadi seorang pilot tempur di semua negara itu sekitar 5 tahun bahkan walopun di USAF/USNV/USMC sekalipun. Jadi kalo ada kehilangan 1 pilot aja walopun dia hidup, kalo dia cacat itu adalah sebuah kerugian aset militer yg sangat besar.

      Lain halnya kalo semua Alutsista udara digerakkan secara kontroler (UAV) atau model AI buat otaknya seperti QF-16 maka kita gak perlu takut kehilangan pilot yg mati bukan karena tugas negara.

      • Terserah mau marah apa tidak.

        Statistik itu menyakitkan.

        Antara jatuh dan selamat itu fifty-fifty.

        • Bung tn, mumpung artikel akhir2 ini ga ada yg bagus dan seri, mbok ya di posting mari kita berhitungnya..?.. biar lbh rame lg, klo begini terus, bs ditinggal fans nie,…

        • @Tn.phd,artikel apaan? Artikel ayo mari berhitung seri keberapa???

        • klo jatuh/selamat fifty-fifty ska sukhoi hampir habis dong?

          2014 lengkap 16 unit
          2015 sisa 8, jatuh 8
          2016 sisa 4, jatuh 4
          2017 sisa 2, jatuh 2
          2018 sisa 1, jatuh 1

          • wah kak ubed on neh….!!!.
            kalo lagi terbang jatuh yaa wajar…yang engak wajar itu lagi dihangar jatuh….itu baru aneh…apalagi jatuhnya kenegara lain…!!!
            kecelakaan yang engak bisa di itung mungkin hanya kalkulasi atau sepekulasi….kaloh kecelakaan bisa diitung yaa engak mau pilot terbang….
            🙂 😀

          • keselamatan terbang bisa dibuat statistiknya, misal udah banyak pilot sukhoi yang mengantongi 1000 jam terbang.

            skuadron 11 sejak pertamakali menerima 4 sukhoi tahun 2003 pastinya telah mencatatkan total puluhan ribu jam terbang su-27 & 30, ribuan siklus takeoff/landing tanpa kecelakaan

            jatuh/selamat 50-50 artinya setiap 2x takeoff ada 1 jatuh, ngeri banget

  3. Lebih baik banyak penerbang daripada banyak pesawat. Otomatis rolling pengguna pesawat jadi lebih banyak. Kalo banyakan pespur malah kalo grounded masih tetap perlu biaya maintenance, tapi beban pilot jadi banyak.

  4. Hitungan Bung TN luar biasa….50:50 risk yang bakal akan terjadi….kalau nilai risk 50 apa bisa di kurangi di bawah 50 levelnya? pesawat jatuh atau di tembak jatuh pasti high risk, tapi adakah peluang lain untuk selamat andai kata high risk itu terjadi? hanya doa saja pasti peluangnya….jadi semua pilot tempur wajib banyak berdoa, agar selamat apabila muncul high risk pesawat jatuh atau di tembak jatuh.

    • Hitungan saya di atas yaitu dari antara 120 penerbang yang tewas hanya 8 orang itu sudah hitungan minimal.

      8 / 120 = 6,67 % saja yang gugur.

      Jadi walaupun kemungkinan hidup dan mati itu 50:50 jika angka kematian hanya 6,67% itu sudah sangat rendah.

      • 6,67% nilai terendah, jika peluang kejadian kecelakaan terbang sulit di hindari, tetapi alangkah baiknya di targetkan zero accident, nilai peluang tertinggi untuk peningkatan keselamatan terbang. Mungkin harus banyak planning sambil di bayangkan tentang model high risk itu seperti apa.

  5. kunjungan perdana menteri denmark ke indonesia ,..
    ni alamat dapat apa yaa,..???

 Leave a Reply