Des 112014
 

Presiden AS Barack Obama. Foto: Saul Loeb/AFP

WASHINGTON – Publikasi laporan Komite Intelijen Senat tentang teknik interogasi CIA memantik reaksi keras dari berbagai belahan dunia. Terutama dari masyarakat Amerika Serikat (AS) sendiri. Kekejian CIA terhadap para tersangka teror pascainsiden 11 September 2011 (9/11) itu jauh lebih buruk daripada bayangan banyak orang.

“Beberapa praktik masa lalu (CIA) adalah kebrutalan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, (semua itu) melahirkan siksaan pada batin saya. Kita bukanlah (bangsa) seperti itu,” kata Presiden Barack Obama dalam wawancara dengan stasiun televisi berbahasa Spanyol Telemundo. Pemimpin 53 tahun itu menyesalkan aksi brutal CIA pada masa pemerintahan George W. Bush tersebut.

Sejak sekitar sepekan terakhir, Gedung Putih “demam” terkait rencana Komite Intelijen Senat untuk memublikasikan laporan setebal kira-kira 500 halaman tersebut. Sebagian besar politikus Partai Republik menganggap publikasi itu tidak perlu. Pasalnya, selama bertahun-tahun, Departemen Kehakiman telah melakukan investigasi yang sama dan menyimpulkan bahwa CIA tidak melakukan aksi kriminal.

“Saya rasa, (publikasi) ini adalah ide yang sangat buruk. Mitra-mitra asing kita telah memperingatkan bahwa ini hanya akan menimbulkan kerusuhan dan kematian,” tandas Mike Rogers, chairman Komite Intelijen House of Representatives (DPR), Senin lalu (8/12). Tapi, dia tidak bisa mencegah Dianne Feinstein, chairwoman Komite Intelijen Senat, mengumumkan hasil investigasi panel Partai Demokrat tersebut.

Sejauh ini, satu-satunya politikus Republik yang secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap publikasi kebrutalan CIA itu hanya John McCain. Sebab, senator asal Negara Bagian Arizona tersebut pernah menjadi korban penyiksaan aparat ketika menjadi tawanan perang di Vietnam. “Kita berharap dengan menyiksa (lawan) akan mendapatkan keamanan. Tapi, kita berharap terlalu banyak,” tandasnya.

Claire McCaskill, anggota Senat AS dari Demokrat, mengatakan bahwa publikasi tersebut penting. Apalagi, menurut dia, tidak ada yang baru dari publikasi itu. “Laporan tersebut hanya memaparkan apa yang selama ini sudah diketahui masyarakat internasional. Yakni, AS melakukan penyiksaan (terhadap tersangka teror). Tapi, ini akan berdampak baik bagi kehidupan demokrasi kita,” tandasnya.

Bahkan, Obama pun mendukung publikasi fakta yang terkumpul lewat penyelidikan selama beberapa tahun tersebut. “Publikasi ini penting. Kita akan belajar banyak dari sana dan masyarakat (AS) akan paham mengapa saya melarang praktik kontroversial tersebut,” kata presiden kelahiran Hawaii itu tentang hasil investigasi kekejian CIA tersebut.

Dengan menerapkan teknik interogasi kontroversial semacam itu, CIA sukses mengubah sel-sel penjara menjadi kamar penyiksaan. Setidaknya, itu dialami para tersangka teror yang ditangkap pascainsiden 9 September 2001 alias 9/11. Yakni, pada kurun waktu 2002 sampai 2006. Padahal, praktik tersebut tidak pernah membuat Negeri Paman Sam menjadi lebih aman.

“CIA telah memperdaya para petinggi politik terkait praktik yang mereka lakukan di situs-situs hitam terhadap para tersangka teror. CIA juga menipu masyarakat AS tentang efektivitas teknik-teknik kontroversial tersebut,” lapor Komite Intelijen Senat.

Media juga menyebut situs-situs hitam CIA yang tersebar di banyak negara itu sebagai penjara rahasia. (www.jpnn.com)

Publikasikan Penyiksaan CIA, AS Siaga
Amankan Kantor Perwakilan dan Pangkalan di Seluruh Dunia

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) siaga. Selasa pagi waktu setempat (9/12), Komite Intelijen Senat mengumumkan hasil investigasi terhadap Badan Pusat Intelijen (CIA) terkait dengan teknik interogasi pasca serangan 11 September 2001 alias 9/11. Laporan paling dinanti publik internasional itu bakal memantik beragam reaksi.

Tidak hanya meningkatkan pengamanan di dalam negeri, pemerintahan Presiden Barack Obama juga melipatgandakan penjagaan di seluruh kedutaan besar AS dan pangkalan militernya di seantero jagat. Sejak sepekan terakhir, Washington mengantisipasi melonjaknya level ancaman keamanan terkait dengan publikasi laporan setebal 480 halaman tersebut.

“Banyak indikasi bahwa publikasi laporan ini akan meningkatkan risiko keamanan di seluruh fasilitas dan warga AS yang tersebar di seluruh penjuru dunia,” kata Josh Earnest, salah seorang Jubir Gedung Putih, pada Senin waktu setempat (8/12). Untuk meminimalkan dampak pengumuman tersebut, AS menyiagakan seluruh petugas keamanan di dalam dan luar negeri.

Kolonel Steve Warren, Jubir Pentagon yang juga petinggi angkatan darat (AD), menyatakan, publikasi laporan tersebut berpotensi memicu kerusuhan di beberapa wilayah. Sebab, inti laporan itu berkaitan erat dengan perilaku menyimpang CIA terhadap para tersangka teror.

“Militer sudah menginstruksikan seluruh personel untuk waspada. Keamanan masyarakat menjadi prioritas,” paparnya.

Pada era mantan Presiden George W. Bush, pemerintah memberikan wewenang terhadap CIA untuk menahan dan menginterogasi tersangka teror. Sayangnya, lembaga tersebut melakukan banyak penyimpangan. Perlakuan CIA terhadap para tersangka teror, terutama anggota kelompok militan Al Qaeda, tidak sesuai dengan instruksi Pentagon.

Ketika itu, CIA menggunakan berbagai teknik interogasi yang kontroversial. Di antaranya, waterboarding dan sleep deprivation. Lewat teknik waterboarding, seorang tahanan akan merasakan sensasi tenggelam saat diinterogasi. Biasanya, sebuah kain diletakkan di wajah seorang tahanan dan petugas menyiramkan air ke kain tersebut. Tahanan bakal susah bernapas seperti sedang tenggelam.

Sementara itu, teknik sleep deprivation adalah metode interogasi dengan cara membuat tahanan depresi. Selama beberapa hari sebelum interogasi dilakukan, petugas akan melarang tahanan tidur. Lantas, saat si tahanan diizinkan tidur, petugas bakal langsung membangunkannya dengan paksaan. Dalam kondisi setengah sadar itulah, interogasi berlangsung.

Sejatinya, Partai Demokrat yang memimpin panel investigasi menghasilkan sekitar 6.000 lembar laporan. Tetapi, laporan itu dimampatkan menjadi 480 halaman dengan mengeliminasi beberapa bagian detail yang berpotensi memicu kerusuhan. Dalam laporan tersebut, panel investigasi sengaja menuliskan nama petugas yang terlibat dalam bentuk inisial.

Selain itu, CIA mempraktikkan program penjara rahasia yang melibatkan beberapa negara. Kabarnya, di penjara-penjara rahasia itu, CIA menyiksa para tersangka teror yang mereka yakini sebagai militan Al Qaeda.

Dalam laporannya, panel Demokrat tidak menyebut nama negara yang terlibat demi keamanan negara yang bersangkutan. “Kita (AS) menyiksa sejumlah orang,” kata Obama terkait dengan laporan CIA tersebut.

Dia mengakui penggunaan kekerasan dan teknik interogasi kontroversial dalam sesi interogasi. Dia lantas menegaskan bahwa AS tidak perlu mengulangi lagi praktik tidak benar semacam itu. Sebab, semua bertentangan dengan nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Itu juga tidak membuat AS lebih aman.

Selama sekitar sepekan terakhir, para petinggi Gedung Putih sibuk membahas perlu atau tidaknya publikasi laporan tentang CIA tersebut kepada masyarakat luas. Sebab, reaksi dunia tidak akan terelakkan. Jumat lalu (5/12) Menteri Luar Negeri AS John Kerry meminta Dianne Feinstein, chairwoman Komite Intelijen Senat, mempertimbangkan waktu publikasi demi meminimalkan dampak pengumuman.

“Ini akan mengubah nilai-nilai sosial dan konstitusional AS. Tapi, kita tetap harus memublikasikannya. Siapa pun yang membaca laporan ini pasti tidak akan membiarkan hal-hal tersebut terjadi lagi di masa mendatang,” papar Feinstein. Terpisah, Bush menyatakan bahwa laporan tersebut tidak akan mengubah pandangannya terhadap para petinggi CIA yang diklaim sebagai patriot bangsa. (www.jpnn.com)

Bagikan:
 Posted by on Desember 11, 2014